Sengketa

Cerpen Luzi Diamanda

"PERSOALANNYA bulan harta, Anakku. Tapi hak. Tanah ini adalah milik kita yang sah, apapun yang terjadi kita harus mempertahan kannya."

"Benar soal hak, tapi haruskah untuk itu kita saling bermusuhan. Haruskah karena itu kita saling dendam. Mak yang mengajari dulu, mengalah bukan berarti kalah. Tapi kenapa sekarang Mak tak mau mengalah?"

Perempuan tua yang dipanggil Mak oleh anak perawannya tersebut hanya diam. Dadanya yang cuma dibalut kutang tua, memperlihatkan dengan jelas susunan tulang-tulang di dadanya turun naik, seperti menahan sesak yang tak kunjung lepas.

"Muni, kau masih terlalu muda untuk memahami arti sebidang tanah bagi kita. Kelak bila kau dewasa, menjadi ibu, kemudian menjadi tua seperti Mak-mu ini, kau juga akan bersikap sama. Ingat Muni, sejauh-jauh pergi merantau, tanah kampung tetap punya arti."

Setelah itu diam. Tak ada yang ingin mulai berujar. Sayup-sayup suara jengkrik memecah malam. Sedangkan cahaya kunang-kunang kelap-kelip, menyelinap masuk lewat dinding tadir.

Muni, gadis yang baru masuk dalam kehidupan desa setelah lebih enam tahun ikut bako-nya di kota, tak mampu memejamkan mata, setelah percakapan itu. Betapa desa telah sarat dengan keganji lan, juga Mak-nya. Dulu wanita itu amat patuh, lugu dan pendiam, layaknya seorang wanita desa. Tapi kini? Betapa Mak menjadi keras hati dan pantang menyerah.

Enam tahun di kota, sampai Muni menamatkan SMA, betapa lamanya jarak itu. Jarak yang telah mampu mengubah segalanya, juga wajah desa, yang saat di kota amat dia rindukan. Tak ada lagi jalan setapak menuju kali, tempat dulu dia bersuka ria. Tak lagi ada anak perawan dengan tudung lebar menampi padi di pinggir sawah. Tak juga ada lenguh kerbau, suara itik serta bau lumpur yang menyengat. Jalan setapak telah berubah menjadi jalan aspal. Sawah telah menjadi rumah-rumah.

Yang tak berubah hanyalah pondok tempat Muni, adik-adiknya serta Mak menghabiskan hari-hari mereka. Pondok beratap rumbia, berlan tai papan dengan dinding tadir, berukuran enam kali enam meter. Lalu serumpun talang di pekarangan samping kanan, yang nampaknya makin rimbun saja.

Dari balik dinding kamar tidur, Muni menangkap suara gesekan daun-daun talang, lemah tapi mendayu. Seperti suara anak perawan yang berdendang lirih, menangisi kematian sang tunangan. Dulu, talang itu kerap dia tebang untuk mendapatkan satu ruas buat celengan. Atau jika bulan maulud tiba, talang itu akan jadi korban, dijadikan wadah membuat lemang.

Ketika seminggu lalu kembali Muni menginjakkan kaki di desa, dia lihat talang itu berpagar kawat duri. Rimbunan daunnya meliuk- liuk ke pondok mereka, membuat suasana kelam jadi sendu. Kala Muni pergi, talang itu hanya serumpun kecil, tapi kini sudah merupakan sebuah lingkaran dengan rumpun besar.

Di bawah talang itu pula kemarin dia lihat Mak Adang-nya mengacung-acungkan parang.

RUMPUN talang itu sudah ada sejak lama, jauh sebelum Muni lahir. Dan rumpun talang itu telah disepakati menjadi batas tanah mere ka, tanah Mak dan Mak Adang-nya. Sedangkan batas tanah Mak dan Etek-nya adalah batang mangga besar di samping kiri pondok mere ka. Tanah pusaka tinggi yang telah dibagi-bagi itu menjadi sumber kehidupan mereka; Mak, Mak Adang dan Etek-nya.

Di atas tanah yang luasnya 500 meter itu ada pohon kelapa, garda munggu dan merica. Ada juga tanaman muda berupa ubi dan cabe. Dalam resah, Muni ingin menatap keluar, menatap ke arah rumpun talang. Tapi bulan yang belum lagi keluar, membuat mata Muni tak menampak apa-apa, selain gelap. Padahal Muni ingin sekali meli hat, malam ini, pesona apa gerangan yang ada di rumpun talang itu, sehingga Mak dan Mak Adang begitu kuat memperebutkannya.

"MUNI, kau belum tidur 'kan? Keluarlah, Mak ingin bicara."

Panggilan Mak memutus angannya. Perlahan Muni turun dan berjalan menemui Mak. Mak dengan sirih di mulut, tembakau di tangan, tengah menatap jauh ke luar, ke balik dinding tadir. Dalam remang cahaya lampu damar kerut wajah Mak semakin jelas. Betapa tuanya wajah Mak. Padahal Muni merasa yakin, saat dia berangkat dulu wajah Mak masih mulus.

Tiba-tiba ada sesal menyelip, memutar tali rasanya. Kenapa dulu dia harus pergi. Tapi segera sesal itu sirna kala ingat bahwa dengan kepergiannya berarti keadaan berubah.

Ya, dengan sebidang tanah, apa yang bisa dilakukan Mak. Sementara Abak sudah lama pergi menghadap Illahi. Tak hanya Muni, masih ada tiga lagi adik-adiknya yang harus ditanggung Mak. Bagaimana dia bisa mendesak Mak untuk menyekolahkan, sedang untuk makan mereka saja mereka harus berbagi.

"Jangan terpaku di situ, mendekatlah kemari anakku."

Muni kaget, tak menyangka Mak memperhatikannya.

"Duduklah. Malam ini perasaan Mak rasanya tak tenang. Kau harus mengetahui seluruhnya, secara tuntas. Kau yang akan melanjutkan segalanya. Kau paham?"

Muni mengangguk. Ada rasa aneh yang menjalari urat nadinya, terus ke dada. Sebuah firasat. Tapi Muni melawannya.

"Kau tahu, kenapa Mak Adangmu berkeras hendak menebang talang itu?" Mak memulai percakapan. Muni hanya menggeleng.

"Mak Adangmu merasa bahwa tanah milik kita berlebih tujuh meter dari tanah miliknya. Padahal, dalam adat kita di Minangkabau ini, seharusnya anak laki-laki tak dapat warisan. Tapi karena Etekmu yang di Jakarta sudah kaya raya, dia menghibahkan tanah bagiannya buat Mak Adangmu. Tapi akhir-akhir ini Mak Adangmu selalu ribut menuntut kekurangan tanahnya dari tanah kita."

"Dan Mak tak setuju bukan?" Muni menyela.

"Jelas, Nak. Sudah dapat bagian saja seharusnya dia sudah malu. Mamak macam apa dia yang membawa harta kemenakannya ke rumah anak istrinya. Tapi agaknya Mak Adangmu memang telah kehilangan rasa malu. Malah sekarang mengusik bagian tanah adik perempuannya."

Muni diam, diam yang menyimpan tanya. Di sini, di negerinya ini, yang punya sistem matrialinial, harta memang jatuh pada anak perempuan. Apalagi jika harta itu merupakan pusaka tinggi. Mamak juga punya peran sebagai pelindung kemenakan dan harta juga untuk kemenakan, terutama kemenakan perempuan jika mereka sudah dewasa.

Kalau ada seorang anak laki-laki yang dewasa dan sudah punya anak istri mengambil harta pusaka atau sekedar menggarap harta pusaka tersebut, ini adalah aib besar. Aib yang benar-benar memalukan.

Seorang laki-laki memang berpantang hidup dari pusaka tinggi, berpantang membawa hasil garapan tanah pusaka tinggi ke rumah anak istri. Jika itu dia lakukan juga, orang sekampung akan mencibirnya.

"Mak Adangmu itu sudah kena pakasiah bininyo."

Nada suara Mak mengiris. Muni merasakan kuduknya meremang.

"Kau lihat si Udin, teman Mak Adangmu itu. Dia itu justru membela kemenakannya, menyekolahkannya, sampai semua jadi orang. Dia 'kan juga punya anak bini. Bukan macam Mak Adangmu, membawa hasil tanah pusaka ke rumah bininya. Benar-benar mamak yang tak tahu diadat."

Muni masih diam. Barangkali, diam adalah emas untuk saat ini. Dia takut bicara, takut kalau nanti sampai kelepasan bicara. ya, baru seberapalah pengetahuannya tentang adat, tentang bagi membagi harta pusaka, tentang kewajiban mamak. Dia masih buta, makanya tak ingin membantah.

"Kau tahu kenapa talang itu yang jadi persoalan."

Muni hanya menggeleng.

"Karena talang itu persis berada di batas tanah kita dan tanah dia. Jadi Mak Adangmu berusaha menebangnya agar mudah menyerobot tanah kita. Karena talang itu sebagai sepadan, jika talang itu ditebang, sepadan tanah ini akan kabur. Mungkin saja setelah itu Mak Adangmu akan menanam rumpun talang baru, jauh menjorok masuk ke tanah kita, dan menyatakan kalau itu yang jadi sepadan."

Tiba-tiba rasa keadilan bermain di hati Muni. Tanpa mempersoalkan adat mengenai pembagian pusaka, Muni justru melihat tak ada salahnya kalau Mak mau bersabar, mau berlunak hati sedikit. Apalah artinya tanah yang tujuh meter.

"Mak, kalau benar bagian kita lebih, apa salahnya kalau Mak Adang menuntut. Bukankah lebih baik dibagi dua saja, persoalannya akan cepat selesai."

Mata Mak berkilat, tanpa Muni bisa memaknakannya. Salahkah bicaranya. Dada Mak yang memang sudah tipis, turun naik, seperti sesak napas.

"Tidak Muni. Tanah ini adalah pertahanan kita yang terakhir. Tempat hidup mati kita. Mak Adangmu laki-laki, seharusnya dia pergi meninggalkan tanah ini untuk kemenakannya dan mencari usaha lain untuk kehidupan anak istrinya. Tak ada dalam adat kita, anak laki-laki beroleh harta pusaka. Pusaka tinggi lagi."

"Tapi Mak, sengketa ini tak ada ujung pangkalnya. Kenapa kita tak mengalah saja. Bukankah Mak yang mengatakan kalau mengalah bukan berarti kalah. Mak, orang sabar dikasihi Tuhan, itu kata Mak bukan? Mak, kalau Mak sabar, Mak akan masuk sorga."

"Benar Muni, tapi sabar ada batasnya. Betapa sejak kematian Abakmu teror demi teror telah dilancarkan Mak Adangmu. Bukankah selama ini dia basibagak saja? Buah kelapa seenaknya dia turun kan, begitu juga buah merica yang esok mau dipanen tiba-tiba malamnya lenyap saja. Siapa lagi yang punya kerja kalau bukan dia. Tapi kali ini tidak, Nak. Kesemena-menaannya harus kita balas. Kau paham?"

Muni hanya menatap Mak dengan pandangan tak mengerti. Betapa sulit dia mencerma jalan pikiran Mak. Karena tanah tiga setengah meter, Mak mau berkeras kepala macam ini. Sekaligus Muni bingung dengan jalan pikiran Mak Adang, kenapa dia begitu ngotot dengan kelebihan tanah Mak. Bukankah Mak saudaranya juga.

Kalau dia jadi Mak, dia akan sukarela membagi dua tanah yang berlebih itu. Atau kalau dia jadi Mak Adang, dia akan biarkan tanah berlebih itu. Dan rumpun talang biarkan saja terus hidup subur atau dimusnahkan benar. Apa sulitnya?

"Muni, dari sengketa ini, yang paling Mak pertahankan adalah harga diri. Apa artinya hidup bila dengan keperkasaannya selaku laki-laki dan mamak anakku satu-satunya, lalu dia seenaknya berbuat pada kita. Tak ada yang berani menyanggah selama ini. Tapi tidak kini. Kali ini akan Mak buktikan bahwa tak selamanya kita lemah. Ingat Muni, kita sudah terlalu lama ditindas. Apakah harus maaf juga yang kita tawarkan."

"Bagaimana kalau Mak Adang kalap dan menebang talang itu tanpa setahu Mak?" Muni mengajuk kesungguhan Mak.

"Itu tak akan terjadi, Anakku. Begitu dia berani melakukannya, dia akan segera tahu siapa Makmu ini."

Muni tertunduk. Mata Mak berkilat penuh dendam. Sinarnya terasa membakar dada Muni. Sinar yang belum pernah dia saksikan selama ini. Muni hanya tahu, Mak punya kesabaran, kelembutan dan kasih sayang berlimpah. Sinar mata Mak biasanya penuh kasih yang tulus. Kenapa kini berubah? Muni menggeleng tak mengerti. Benarkah penindasan yang selama ini diterimanya dari Mak Adang telah membakar dada Mak dan biasnya sampai di mata Mak.

"Kau satu-satunya anak perempuan Mak dan untuk kau pula warisan ini kelak. Mak harap kau punya sikap yang sama, mempertahankan hak. Kau paham, Anakku?" Muni hanya diam.

MAK ADANG adalah laki-laki yang baik, meski sedikit kasar. Itu yang diingat Muni, kenangannya sepuluh tahun yang lalu. Kala itu Muni baru delapan tahun.

Dengan menggendong Muni di punggungnya, Mak Adang akan berlari- kari keci di pematang sawah, mengejar kerbau milik mereka. Atau dengan senang hati Mak Adang akan mengajarinya menombang udang yang banyak bersembunyi di balik batu sungai.

Juga masih diingat Muni, bagaimana dia menjerit-jerit ketakutan waktu Mak Adang melemparnya dengan belut. Mak juga kerap memarahi Mak Adang, karena tanpa rasa bersalah Mak Adang akan membawanya bertanggang semalaman, menunggui buah durian.

Ketika Muni dikejar anjing, Mak Adang pula yang segera turun tangan. Malah Mak Adang pula yang kemudian dikejar anjing itu, sehingga Mak Adang ditabrak sepeda Pak Husin yang dikenal sebagai juragan rumput.

Tapi itu dulu. Benarkah kini Mak Adang telah berubah. Sepuluh tahun memang bukan waktu yang pendek.

Menurut Mak, berkali-kali sudah sengketa antara dia dan Mak Adang diselesaikan ninik mamak di mesjid, tapi tak pernah menjumpai titik temu. Selalu saja, beberapa hari setelah itu akan terdengar lagi ribut-ribut, antara Mak dan Mak Adangnya.

Muni tak bisa menerima jalan pikiran Mak, juga Mak Adang. Percuma Muni mengatakan pada Mak, kalau sebagai anak perempuan satu- satunya dia tidak ingin warisan. Dia tidak ingin memiliki tanah hasil dari sengketa. Kalau bisa, malah Muni ingin membawa warisan pulang, ke desa ini, setelah mencari penghidupan di kota lain.

Dalam renungannya, kadang Muni merasa menyesal dengan modernisasi yang kini melanda desanya. Pertikaian antara Mak dan Mak Adang pun berawal dari modernisasi ini. Dulu, kala desanya belum terja mah jalan aspal, tak ada yang meributkan soal tanah. Semua ten teram dalam haknya masing-masing.

Tapi begitu jalan raya membelah desa Muni, segalanya berubah. Tak ada lagi derak roda pedati atau derit sepeda unta warga desa. Sekarang raungan sepeda motor dan suara mesin mobil adalah sebuah keakraban baru.

Karena itu pula tanah yang selama ini nyaris tak berharga, jadi rebutan. Masyarakat desa berlomba-lomba membagi tanah warisan, lalu menyertifikatkannya. Ada yang menjual kepada para pendatang. Padahal setahu Muni, tanah warisan pusaka tinggi tak boleh dijual. Itu merupakan pantangan. Tanah warisan tinggi hanya boleh dimanfaatkan untuk kesejahteraan anak kemenakan.

Dan apa yang telah melanda warga desa, menjalar pula pada Mak Adang. Dia ingin menyertifikatkan tanah bagiannya, karena ada yang sudah menawar. Dengan bertambahnya luas tanah, itu berarti bertambah pula jumlah uang yang akan masuk kantong Mak Adang.

Bagi Mak, menjual tanah pusaka tinggi sudah menyalahi aturan, apalagi kini mamak anak-anaknya yang seharusnya membela dan melindunginya, malah ikut merongrong dan selalu membuat hidup Mak tidak tenang.

"KEMBALILAH tidur, Nak. Kau telah paham sikap Mak. Tak banyak yang Mak harapkan selain pembelaanmu terhadap pendirian Mak. Karena segalanya ini Mak lakukan demimu, demi adik-adikmu," ujar Mak.

Muni kembali ke kamar dan telentang di atas balai-balai yang hanya beralaskan kasur tipis. Di sinilah dia dan adik-adiknya harus saling berbagi tempat, agar dapat tidur nyenyak. Muni mengeluh. Kenapa begitu susah Mak diberi pengertian? Atau benar seperti kata Mak, bahwa dia yang belum tahu apa-apa.

Kala malam merangkak semakin larut, sayup-sayup desau daun talang terdengar riuh di telinga Muni. Lalu suara berisik, kemudian diam. Tapi sejenak, kembali desau itu makin keras. Muni tak hendak bangun, mungkin di luar sedang badai, pikirnya. Muni menarik selimut, lalu memejamkan mata.

Dan kantuk itu berubah menjadi kekagetan luar biasa, kala malam dipecahkan oleh lolong kesakitan. Arahnya seperti dari rumpun talang. Tak lama kemudian, malam hingar bingar oleh hiruk suara orang kampung. Lunglai Muni keluar, setelah tak menjumpai Mak dalam kamar. Dia menyaksikan, kegelapan malam benderang oleh cahaya lampu petro mak.

Tiba-tiba malam kembali dipecah oleh suara jerit. Kali ini jerit Muni. Di sana, di antara serakan batang-batang talang, terkapar tubuh Mak Adang, penuh darah. Sementara dalam jarak tiga depa berdiri Mak, dengan tangan masih memegang talang yang ujungnya diruncingkan. Talang itu berlumuran darah.***

* Pakasiah bininyo = guna-guna istrinya
* Bako = keluarga dari pihak ayah
* Basibagak = tidak peduli








Gugur Cerpen Luzi Diamanda

RUANG TENGAH itu masih menyisakan bau khas kembang pengantin. Pelaminan pun masih berdiri kokoh membelit dindin-dinding beton. Mestinya di sini masih ramai, penuh tawa ria, diselingi lelucon "porno" ibu-ibu tua. Dan si anak dara akan tertunduk malu-malu. Tapi tidak. Bau kembang sayup-sayup ditelan bau lain. Menyebarkan kengerian. Bau anyir darah. Lihatlah, bercak-bercaknya masih bersisa, mulai mengering.

Lihat juga ke kamar, sang anak dara telentang. Matanya yang menatap langit-langit, tak lagi bercahaya. Binar kehidupan di mata itu seperti pudar, tertelan prahara pahit. Tubuhnya pun makin menyusut, memperjelas tulang-belulang.

Sang ibu, duduk bersimpuh di sisi pembaringan. Pelan-pelan mengu sap rambut sang anak. Mata tuanya yang mulai mengabur, tak henti- henti menderaikan air.

"Gita, inilah takdir hidup. Kita tinggal menjalani apa yang telah disuratkan. Bangkitlah Nak, esok masih ada harapan buatmu."

Sang anak, tak bergeming. Tak juga hendak menepiskan tangan ibunya yang mengusap-usap rambutnya. Seperti mati, Gita beku. Sesungguhnyalah dia ingin sirna, sesirnanya dari muka bumi. Dan airmata yang terasa perih kala semburat dari bolanya yang kabur, kembali menderas. Meski tak hendak menangis, toh si ibu tak kuasa menahannya. Belahan jiwanya, kini harus menanggung siksa, karena dera kehidupan yang maha hebat. Dia pandang kamar itu, kamar pengantin yang belum dijamah.

Bunga-bunga segar, mulai layu. Malah ada yang telah mengering, gugur dari jambangan. Warna merah jambu kelambu, tak membiaskan keceriaan.

Malam merangkak pelan

Di langit tak ada bintang

Gelap, di mana-mana

Begitu juga hatiku

Ibu, maafkan.

Aku hendak berlalu

Air susumu, adalah darah dagingku

Kasih sayangmu adalah pelitaku

Tapi aku harus pergi ibu, pergi membawa lara panjang.

Anakmu, Sagita Widuri.

Raung panjang memenuhi pagi. Sang ibu yang telah dihimpit duka berhari-hari, tersungkur kini. Dia raup bau tubuh sang anak yang tertinggal di kasur, memulunnya dalam satu hentakan. Anaknya, si anak dara yang tak jadi, di mana kini?

"Inikah yang kau maui? Tak ada yang bersisa, tak ada. Kenapa tak kau musnahkan seluruhnya? Bunuh aku, bunuh aku," teriak wanita itu memenuhi pagi.

Di matanya, terbayang tubuh kurus sang anak dengan wajah pucat, tak bercahaya. Ke mana langkah hendak dia bawa? Menganga dalam angan wanita tua itu jurang dalam, menelan tubuh anak terkasihnya itu.

"Ibu, tenanglah. Kita akan cari Gita, sampai dapat."

Suara anak lelaki menenangkannya. Lalu ada tangan kekar memelukn ya. Dan kembali tangis tumpah.

"Inilah yang diingini bapakmu, inilah! Tiar, jika adikmu tak bertemu, aku juga akan pergi. Tinggallah segala tirani di sini, di rumah ini."

"Baik ibu, aku aka cari Gita. Percayalah, dia pasti akan kembali. Dia amat mengasihi ibu."

Masih tersisa isaknya, pelan. Di ruang mata si ibu terbayang Gita, memohon pertolongan: "Ibu, tolonglah Gita, tolonglah. Kenapa ibu tak bisa menggagalkan rencana ayah?"

"Anakku, percayalah. Apa yang dilakukan ayah, seluruhnya demi kebahagiaanmu. Tak mungkin ayah menjerumuskan anaknya. Dia amat mengasihimu, Gita."

"Ibu, yang mau menikah adalah Gita. Ini masa depan Gita. Jika sejak awal Gita sudah tak suka, bagaimana jadinya?"

"Belajarlah menyukai sesuatu, meski belum kau kenal. Demikian juga calon suamimu. Ibu yakin, kau akan bahagia di sisinya."

"Ibu, Gita mencintai Tedi. Gita hanya ingin dia jadi pendamping Gita, selamanya."

"Nak, tak selamanya kata hati sama dengan kenyataan. Ibu menger ti, tapi percayalah. Suatu saat kelak, kau akan melupakannya."

Terbayang pula Tedi yang tegap, dengan kuliat kecoklatan. Matanya mencorong tajam, mata yang amat disukai Gita.

DI KAMAR lain, seorang lelaki duduk bersandar. Asap rokok memenu hi ruang, meninggalkan bau sangit. Dia tak peduli. Matanya nanar, gerahamnya gemeretuk.

Dialah Komar. Tampak di matanya Gita, sang anak gadis menangis pilu, memeluk bantal, kala malam pengantinnya. Betapa putus asa wajahnya, matanya, seluruh yang ada di tubuhnya. Setelah itu, hari-hari sepi. Gita bak mayat, beku dan bisu. Terbayang juga istrinya, yang memohon-mohon, menyembah ke kakin ya.

"Gita anak perempuan kita satu-satunya. Tegakah kau menghancurkan masa depannya? Kalaupun dia ikut katamu, itu karena takut. Pak, setelah ini hari-hari akan menjadi lama bagi Gita, hari-hari akan dijalaninya dengan kosong. Demi ayahnya, dia korbankan perasaan, kebahagiaan dan harapan-harapannya. Tegakah kau?"

"Anak, adalah hakku. Di rumah ini, aku raja. Tak satu pun yang boleh menentang, kau dengar?"

Dalam sekali hentak, tubuh istrinya terlempar ke belakang. Dengan sekali hentak dia hempaskan pintu, dan itu adalah vonis. Berarti tak satupun yang boleh diubah, oleh siapapun.

Tampak pula masa lalunya, masa lalu yang pahit. Komar kecil, berjualan goreng pisang. Tanpa alas kaki, dengan baju kumal, dia berteriak-teriak. Masuk gang keluar gang, masuk kampung ke luar kampung.

Di sekolah, tak jarang dia jadi bahan ejekan. Karena tubuhnya yang amis, tak mandi. Atau juga ejekan Maman, anak kepala desa yang selalu memanggilnya dengan si goreng. Kepahitan demi kepahi tan dia telan sendiri, pelan-pelan meninggalkan kesumat panjang. Bapaknya, hanya tukang kayu. Penghasilan bapaknya tak cukup untuk makan, apalagi untuk jajan beli baju. Ibulah yang kemudian turun tangan, menjadi penyelamat ekonomi keluarga. Dengan tekad bulat, dia manfaatkan halaman rumah yang diteduhi batang nagka, sebagai tempat memasak dan memajang goreng pisang. Itupun belum cukup. Sebagai anak sulung Komar harus turun tangan, memajukan usaha ibunya. Maka tiap pagi, sebelum berangkat sekolah dan tiap sore jika hendak mengaji, dia junjung nampan goreng di kepala.

Jika lewat di belokan jalan arah ujung desanya, Komar kerap nanar menatap bangunan di depannya. Sebuah rumah bercat putih, dengan pagar besi dan dua buah Honda nongkrong di halamannya. Dia bayangkan, dialah kini pemilik rumah itu.

Berbaju harum dengan warna cerah, bersepatu kulit dan tas tangan. Pagi-pagi, ada seorang pembantu membawakan minuman, sementara istrinya yang cantik, sibuk mencat kuku jari. Itu yang sering dia lihat, dalam film-film televisi di kantor kepala desanya. Tapi Komar segera berangkat, kecewa. Angannya harus pupus kala seorang ibu memanggilnya, hendak membeli goreng.

Angan itu melecut tekadnya agar tak malu dan putus asa. Dia terima ejekan sebagai kelumrahan. Meski dadanya bergolak, dia hanya tertunduk, dengan mata rebak.

Untung dia dikaruniai otak cemerlang. Sekolahnya tak pernah terlantar. Malah, berkat kekerasan hatinya, dia jadi sarjana. Meski untuk itu dia harus rela, jadi calo di bioskop.

Setelah itu, kesumatnya tak padam. Rumah papan tak berlantai, dia tukar dengan rumah batu. Adik-adiknya dia belikan sepeda, lambang keberadaan di desanya. Dia belikan sang bapak bertumpak sawah, mengalirkan padi tiap tahun. Dia belikan sang ibu emas permata yang melilit badan. Itulah lambang kejayaan. Dan dialah raja kini, menguasai daerah yang pernah menghinanya.

Jika pulang dari rantau, dia akan disambut dengan hormat berlebi han. Rekan-rekan yang dulu mengejek, kerap datang minta bantuan. Dia akan senang menghamburkan uang, atas nama bantuan. Itulah pembalasan atas ejekan yang dia terima, dulu.

Tak ada yang tahu, dari mana uang itu mengalir ke kantongnya. Jangankan ibu atau bapak, istri dan dua anaknyapun tak tahu pasti. Mereka hanya tahu, Komar bekerja sebagai pegawai negeri di kantor Bea Cukai.

Kesumatnya dia bayar dengan banyak dusta. Tak hanya bapak, ibu, anak dan istri, tapi banyak orang telah dia kelabui.

Sebagai pegawai negeri, berapalah gajinya? Tapi dia lihai, licik bak belut. Dengan kedudukannya, ternyata dia bisa melindungi beberapa barang yang hendak diselendupkan. Itulah ladangnya, mengalirkan rupiah demi rupiah, ke kantongnya.

Lihatlah rumahnya yang megah, hasil kerja kerasnya. Lihat pula dua mobil dan kekayaan lainnya. Siapa sangka jika tukang jual goreng itu bisa jaya? Dia bahagia, sekaligus didera rasa takut. Kesumatnya akan hidup, akan kemiskinan, telah terbayar lunas. Tapi akankah bertahan apa yang dia dapatkan kini, selamanya? Kerap, kala malam matanya tak terpicing. Gemerincing borgol, sayup-sayup sampai di telinga. Jika itu terjadi, kiamatlah hi dupnya. Apa yang telah dia dapatkan dengan banyak pengorbanan, akan sia-sia? Harapannya tumbuh pada Tiar, anak sulungnya. Dia berhrap Tiar jadi pengusaha, selagi dia masih punya kuku mencari mobal. Dan jika Tiar sukses, dia segera minta pensiun, sebelum belangnya terbongkar.

Apalagi Tiar, anak sulungnya juga sarjana ekonomi. Tapi Tiar memilih jalan lain, jalanyang jadi kata hatinya. Tiar memilih mengabdi di desa.

Anak gadisnya yang cantik, mewarisi seluruh kecantikan sang ibu, adalah harapan terakhirnya. Dia sadar jika tutur lembut sang anak, ditambah jiwanya yang bersih dan tak banyak membantah, menjadi sebuah daya tarik, bagi banyak kaum lelaki. Dia amat mengerti, jika banyak rekannya, sesama pengusaha melirik anaknya.

Ada memang yang karena dasarnya buaya. Tetapi ada juga yang hendak menjadikan anaknya sebagai menantu.

Ketika Gita telah tingkat IV Fakultas Hukum, Komar pun mulai melirik sang rekan, mana yang punya anak lajang. Bagi Komar, tak selesaipun kuliah Gita tak apa, bukankah kelak dia akan jadi nyonya dari salah seorang pengusha kaya?

Tatkala Murad melamar Gita, untuk menantu, kontan Komar terlam bung. Siapa tak kenal Murad? Pengusaha degan berpuluh perusahaan. kekayaannya tak lagi jutaan, tapi telah hitung miliaran. Anak lelakinya cuma satu, jelas dia kelak pewaris harta itu.

Bagai dapat durian runtuh seribu pohon, Komar meluap-luap bahagianya. Hari itu juga dia bawa anak gadisnya, dan diperkenalkan pada anak Murad. Mukjizat bagi Komar, karena anak Murad ternyata amat setuju.

Berundinglah mereka, mencari hari baik bulan baik, melangsungkan pesta pernikahan sang anak. Ketika semuanya telah selesai, baru lah dia bawa berunding sang istri. Bagi Komar, ini sebuah kejutan buat si istri. Dia yakin, sang istri akan bagia dan sang anak pun tentu bersuka cita.

Alangkah kagetnya Komar ketika mengetahui sang gadis menolak pilihannya, karena telah punya pilihan sendiri. Geram dan sakit, itu perasaan Komar. Sejak itu, sang anak masuk pingitan. Apapun yang terjadi, pilihannya tetap. Gita harus menjadi menantu Somad.

DALAM waktu yang sama, Gita tercenung di bawah pohon kelapa, di tepi sebuah pantai. Gemetar badannya, menahan dingin angin, tak dia pedulikan. Ombak yang bergulung, lalu menghempas, adalah juga jiwanya.

Dia tak meratap, juga tak mengeluh. Pandangannya yang lurus ke lautan adalah pandang putus asa. Di sana, bermain-main seluruh kenangan, memupus hapuskan seluruh hasratnya.

Di tak cuma anak dara yang tak jadi, tapi sekaligus manusia yang terkikis kepercayaa. Jika dulu dia begitu mengagungkan Tedi, mencintainya dan rela berkorban untuknya, tiba-tiba di matanya kini Tedi menjadi kerdil. Dia manusia tak bermoral, yang hanya mementingkan diri sendiri.

Jika selama ini Gita yakin kalau mencintai berarti siap berkorban diri untuk kebahagiaan sumber cinta, kini tak lagi. Bagi Gita cinta adalah bentuk lain kemunafikan. Dengan alasan cinta manusia memenuhi hasrat batinnya sendiri. Cinta hanya alasan, bukan lagi sumber kehidupan.

Cinta sang ayah bagi Gita juga perampasan akan hak-haknya. Dia besarnya Gita, dia penuhi seluruh kebutuhan hidup dan dia letak kan Gita pada sebuah derajat terhormat, tujuan cuma hendak menuai hasil. Kelak, apa yang dia tanam haruslah berbuah. Tujuan membela sang anak, tak lagi demi kebahagiaaan dan masa depan sang anak, hanya demi menaikkan derajat sang bapak. Malah tak jarang anak hanya jadi tumbal, akan sebuah hasrat orang tua yang tak tuntas.

Gita merasakan kerongkongannya kelat. Di sini dulu dia mohon agar Tedi maklum akan keadaan dirinya. Memang Gita mencintai Tedi, tapi dia harus mengabdi pada bapak. Sumber hidupnya adalah bapak, maka wajar jika pengabdiannya juga pada bapak.

"Gita, aku paham. Tapi pernahkah kau pikir, jika karena itu kau telah membabakbelurkan kehidupan seorang lelaki? Jika kau terima lamaran itu, sama artinya kau membunuh aku."

Dia tatap Tedi, mata elang itu jadi sayu. Tapi Gita tak mungkin mundur. "Ted, mengertilah posisiku. Cinta tidak segalanya bukan? Hanya sekali ini aku memperlihatkan pengabdian pada bapak. Kau selalu katakan hanya ingin aku bahagia. Maka lepaslah aku dengan suka rela, aku akan bahagia."

"Tidak Gita, tidak. Aku tak akan melepasmu. Kau ingat sumpahku? Hanya aku yang boleh memilikimu. Gita, kenapa kau tak mau mengi kutiku?"

Tiba-tiba Gita yang lembut dan penurut, berobah jadi Gita yang tegar. Dia tolak mentah-mentak kala Tedi mengajaknya kawin lari. Bagi Gita itu adalah pengkhianatan terhadap orang tua dan dia takut akan karmanya.

Dia tahu jika bapak terluka karena Tiar. Haruskah dia tambah luka itu? Gita ingin seperti ibu, yang tabah menerima takdir. Ibu ternyata bahagia, karena kepasrahannya.

Gita juga telah melihat, betapa banyak kawan-kawannya yang gagal dalam rumah tangga, hanya karena memperturutkan hati. Kawin lari karena cinta, akhirnya bercerai juga. Bagi Gita, itu adalah karma.

Berdarah hati ibu bapak merek, karena terluka. Di atasnya masih bisakah dibangun sebuah mahligai? Gita tak yakin. "Ted, jika kau mencintai aku, lepaslah aku. Jika kau paks, itu sama dengan menyiksaku. Dalam penyiksaan, yakinkah kau akan bisa bahagia?"

"Tapi kau tak berusaha agar akulah yangjadi pendampingmu. Kau tak pernah melunakan hati bapak."

"Seluruh jalan telah kucoba. Ibu juga ikut melunakkan hatinya. Tapi bapak kokoh, pendirian dan pilihannya tak boleh dibantah." "Jika kau menikah dengan orang lain, darah akan tercecer di muka bumi."

Tedi membalik dan pergi. Gita menangis sendiri. Itulah akhir pertemuannya dengan Tedi. Setelah itu dia siap sebagai calon pengantin, meski bukan Tedi suaminya.

Binar mata bapak adalah pelipur duka Gita. Ketawa khas bapak yang menggelegar adalah obat lukanya. Ibu yang setiap menghibur, menjadi sebuah kebahagiaan lain bagi Gita. Rumah itu penuh canda, penuh tawa dan semuanya tampil penuh pesona, menanti hari perka winan Gita.

Malam telah jadi milik Gita yang abadi. Pada malam dia kadukan lara. Tapi Gita berdoa, kuatlah dia pada jalan yang telah dia putuskan.

Gita merasakan perutnya melilit-lilit. Bayangan tadi pelan punah. Hari menjelang malam. Gita tak peduli. Jalan terbaik menurutnya, ternyata adalah jalan yang kelak akan menggoreskan luka, teramat panjang. Terbayang kembali saat dia bersanding di pelaminan. Bapak dan ibu tertawa-tawa, menyambut tamu. Dia juga tersipu malu, di samping sang mempelelai.

Tiba-tiba Gita pucat ketika Tedi muncul, membawa kado kecil. Karena putih hatikah? Perlahan dia salami Gita, lalu berbisik, "Kau hanya untukku..."

Tak ada yang menduga, tak ada pula yang bisa mencegah. Tiba-tiba mempelai pria menunduk, memegang perut. Darah merah merembes dari sana. Tedi terpaku, masih memegang pisau berlumur darah. Gita menjerit dan kemudian kelam.

PAGI itu Gita terjaga dari mimpi panjang. Dia lihat putih seke liling. Ibu bersimpuh di sisi pembaringan, pucat dan cekung. Bapak tertunduk lemah, memegangi kepalanya. Tiar masih bisa menyisakan senyum.

"Gita, masih ada ibu, bapak dan aku. Kenapa kau siksa dirimu? Tiga hari yang lalu kau ditemukan pingsan di pinggir pantai. Demi ibu, kau mau bangun bukan?"

Tiar yang kekar kini luluh, menangis. Ibu meraupnya dalam peluk ketat dan bapak tertunduk dalam, di ujung kakinya. Gita hanya diam mata itu masih seperti kemarin-kemarin, kosong dan hampa.(*)

Padang, akhir Maret 1990.






Anak Laki-laki Ibu Cerpen Luzi Diamanda

BERUNTUNGLAH dua kakak laki-laki saya, Binuang dan Bintang, serta adik laki-laki saya, Bugih. Mereka memiliki raut wajah ibu, bulat dan seolah selalu tersenyum. Tak cuma itu, kulit mereka pun kuning langsat, yang jelas-jelas turunan ibu. Celakalah nasib saya, menyalin raut wajah bapak. Padahal, jika dibanding, pasti tak kalah tampan dari mereka. Dan pendapat saya ini, selalu menghantui, sampai saya tamat Sekolah Dasar.

Nyata-nyata ibu membedakan kami. Yang terbaik dari baju-baju atau sepatu, adalah buat saudara saya. Yang terenak dari segala maka nan, adalah juga buat mereka. Saya harus puas menerima sisa.

Ternyata itu juga belum cukup, segala yang terberat dari urusan rumah tangga, mulai dari menimba air, mengepel lantai atau menya pu halaman, adalah tugas saya.

Dan tak sekali pun saya pernah melihat saudara-saudara saya kena maki ibu, apalagi kena pukul. Sedang saya? Duh, terlambat bangun pagi saja sarapannya adalah caci maki ibu. Bikin kesalahan sedi kit dapat jewer telinga. Malah pernah ibu mengurung saya dalam wc, seharian, karena saya memecahkan guci antik kesayangannya.

"Anak celaka, kenapa kau selalu membawa sial di atas rumah ini?"

Ibu saya lihat begitu garang dan matanya seperti berapi, menghan guskan tubuh ceking saya. Dalam gigil dan ketakmengertian, saya diam. Ibu kemudian menghujani saya dengan cambukan lidi sebelum akhirnya wajib mendekam dalam wc.

Saya ingin bertanya, tapi mulut saya kelu. Saya ingin meratap, tapi hati saya hampa. Saya hanya diam dan merenung, menghabiskan hari dalam kurungan ciptaan ibu.

Pernah saya kabur dari rumah, pergi ke tempat nenek. Saya berhar ap ibu akan kehilangan dan kalang kabut mencari saya. Ternyata tidak, dua hari saya dibiarkan lepas begitu saja. Akhirnya nenek menyuruh saya pulang. Dan dapat dibayangkan, hadiah apa yang saya terima di rumah. Pukulan gagang sapu dan hardikan ibu.

Ketika saya lihat paha saya merah-merah bekas pukulan ibu, saya tak tahu perasaan saya. Iri, sedih dan dendam. Saya lihat saudara saya asik main gasing di halaman, sementara saya mati-matian menahan nyeri di tubuh.

Mulanya saya ingin mengadu pada bapak, tapi sebelum hasrat itu terjadi, saya ditimpa kebingungan. Orang-orang selalu mengatakan kalau wajah saya mirip wajah bapak, panjang dan kulit sawo matang. Sementara bapak yang saya anggap bapak, tak sedikit pun berwajah mirip saya.

Dan bapak juga tak pernah berakrab-akrab dengan saya, selain melempar senyum masam jika saya lewat di dekatnya. Dan saya sungguh iri, melihat Bugih yang tiap hari bergelayutan manja di lengan bapak.

Lengkaplah kesengsaraan saya, lengkaplah kesendirian saya. Jika libur datang, saya wajib menunggu rumah, padahal nilai rapor, sayalah yang paling tinggi. Ibu, bapak dan saudara saya, biasanya akan berpergian ke luar kota.

Anehnya, saya tak pernah benci pada ibu. Jauh di dasar lubuk hati saya, saya begitu mencintai ibu. Saya ingin bertanya pada ibu, apa kesalahan saya. Jika saya salah, saya mau memperbaikinya. Atau apa yang ibu inginkan dari saya, agar saya juga dikasihi seperti saudara saya, pasti saya lakukan. Tapi itu hanya angan saya. Dan saya tak pernah hendak melindas kasih saya pada ibu dengan dendam yang membara. Dan saya sungguh heran, kenapa saya mati-matian menyayangi ibu.

Dalam suasana demikian, saya juga kerap menemukan hal yang mengharukan. Kadang-kadang, dalam tidur saya yang hampir lelap, saya rasakan ada usapan tangan. Kemudian desah napas yang berat dan ciuman di kening. Kala saya intip, ternyata ibu yang melaku kan itu semua. Atau jika saya tak menangis karena pukulan ibu, kerap saya lihat ibu tertegun, melempar sapu dan menghilang. Tapi selintas saya dapat tangkap kalau mata ibu berkaca-kaca.

Dalam misteri itulah saya ke rumah nenek. Kata ibu, akan lebih baik bagi saya kalau tinggal dengan nenek dan melanjutkan sekolah di sana.

"Reno, kau tahu siapa ayahmu?"

Suatu hari, ketika saya sudah kelas dua SMP, saya dikejutkan oleh pertanyaan itu. Saya menatap Rimbo, yang adalah sahabat karib sekaligus saudara sepupu saya.

"Ayah saya, ya bapak yang sekarang. Kok tanya kamu aneh?"

Dan Rimbo terbahak, sampai bahunya terguncang-guncang. Saya tambah tak mengerti.

"Ayah kamu, Binuang dan Bintang, bukan dia, Reno. Apa tak pernah hatimu bertanya jika selama ini perlakuan yang kamu terima tak sewajarnya?"

Saya terhenyak dan bulat-bulat menatap Rimbo. Saya ingin menampar mulutnya, tapi juga ingin mendengar cerita yang lebih jauh lagi.

"Lalu, siapa ayahku, Rimbo?"

Rimbo tertunduk, tak menjawab. Dia berlari dan meninggalkan saya yang terbengong di bawah pohon jambu.

Sejak itu saya selalu ingat perbedaan kasih yang saya dapat dengan Bugih. Dan saya memakluminya sendiri. Tapi ketika otak saya coba menganalisa perbedaan perlakuan ibu terhadap saya dengan Binuang dan Bintang, sungguh saya tak bisa maklum. Kalau Rimbo benar, kenapa ibu berlaku demikian kejam?

Ketika saya menanya inenek, tak saya dapat jawaban yang memuaskan, selain sebuah kepastian bahwa bapak yang sekarang memang bukan ayah saya. Tapi di mana ayah? Tak ada jawaban, nenek hanya menghujani saya dengan airmata. Ini makin membingungkan saya. Ingin saya balik ke ibu, lalu minta penjelasan. Tapi hati saya mengatakan jangan.

MISTERI ini baru pecah ketika saya sudah kelas dua SMA. Saat itu, datang seorang laki-laki ke sekolah saya, mengaku adik ayah. Dan kenyataan yang saya dapat, membuat saya linglung.

"Reno, benar kamu ini?"

Lelaki itu segera merangkul saya, memeluk saya dan matanya berkaca-kaca.

"Om siapa?"

"Aku ...aku, aku Om Pram. Adik ayahmu."

"Lalu siapa ayah saya dan di mana beliau?"

Om Pram tak menjawab. Dia hanya mengajak saya pergi. Dan memasuki gerbang besi yang kokoh, bersuasana sepi dan angker, saya mengerti, kalau saya kini di ambang pintu sebuah penjara. Kenapa harus kemari?

Setelah berbasa-basi dan mengisi buku utama, Om Pram membawa saya masuk. Di depan sebuah pintu sel, saya tertegun. Di dalam, seorang lelaki kurus, berewokan, duduk termangu.

Bukan keadaannya yang membuat jantung saya seperti berhenti berdetak. Tapi wajah itu wajah itu. Meskipun tak terurus, saya yakin benar, wajah itu adalah wajah saya.

Ketika dia menoleh dan mendekat, saya terpaku. Airmata tumpah ke pipinya yang cekung. Dengan lemah dia menggapai.

"Inilah ayahmu, Reno."

Ucapan yang sudah saya duga itu, ternyata mampu juga melambungkan saya. Kenyataan ini membuat saya hanya berdiam diri, kelu dan terpaku.

"Reno, kamu sudah besar, Nak. Bagaimana keadaanmu?"

Saya tak membalas ucapan ayah, juga tak menghindar ketika ayah mengelus pipi saya. Tapi saya tak menangis, hanya melalap wajah itu nanap-nanap dengan mata saya.

"Reno, om mengerti penderitaanmu selama ini. Om juga mengerti kalau kau mendapat perlakuan yang berbeda dari ibumu. Tapi dia tak sepenuhnya salah, Reno. Kenyataan hiduplah yang membuat ibumu bersikap demikian."

Berceritalah Om Pram, bagaimana sesungguhnya ayah dan ibu dulu amat berbahagia. Perkawinan yang membuat banyak orang iri. Ibu yang manis dan ayah yang tampan, dilimpahi rezeki melimpah pula.

Ayah yang bertangan dingin, kata orang. Karena apa saja yang dilakukan ayah, pasti sukses. Sampai dua kakak saya lahir. Di daerah kami, agaknya ibulah yang paling beruntung.

Tapi ketika ibu hamil lagi, yakni hamil saya, musibah itu datang. Sedikit demi sedikit usaha ayah merugi. Sampai akhirnya bangkrut, pas ketika saya delapan bulan dalam kandungan.

Ibu yang berbiasa serba ada, jadi shock. Mereka selalu berteng kar. Tapi untung, saya akhirnya lahir dengan selamat. Tapi itu tak meredakan suasana, karena kami mulai dililit kemiskinan. Tiap hari yang terdengar hanya teriak marah ibu atau bunyi alat-alat rumah tangga yang dibanting. Dan dalam kekalutan, ayah malah makin memperburuk keadaan. Ayah bukannya berusaha, tapi malah mabuk- mabukan.

"Ayahmu benar-benar frustasi, Reno. Sementara kalian tetapi butuh biaya untuk hidup. Sejak saat itu, sejak kau masih dalam kandun gan, penderitaan itu sesungguhnya sudah kau rasakan. Kau terlan tar dan hidup karena belas kasihan banyak tetangga," kata Om Pram.

"Lalu, kenapa ayah masuk penjara?"

Om Pram menatap saya diam. Sejenak dia tergugu, tapi kemudian cerita lama itu terbongkar juga.

"Ibumu masih cantik dan memikat. Dia tak terbiasa menderita. Dalam kesengsaraan, dia mengambil jalan pintas. Reno, ibumu men jual diri, untuk menghidupi kalian, adik beradik."

Hati saya tersentak, bukan oleh dendam. Tapi oleh rasa malu dan muak yang entah dari mana tiba-tiba menyelinap, masuk dan tertanam di sanubari saya. Dan rasa kasih pada ibu tiba-tiba sirna, entah kemana. Om Pram kembali berkata : "Suatu hari, agaknya ayahmu sampai pada puncak putus asanya. Dia mendatangi ibu yang tengah berduaan dengan lelaki lain. Ayahmu menghunus pisau dan membunuh laki-laki itu."

Kerongkongan saya makin kelat. Hitam saya lihat bermain-main diruang mata saya. Tapi saya ingin mendengar cerita Om Pram terus, sampai tuntas.

"Reno, kau begitu dibenci ibumu. Menurutnya, kaulah pembawa sial itu. Ayahmu bangkrut saat kau mulai ada dalam rahim ibumu dan berakhir dengan masuknya ayahmu ke penjara. Jadi kau harus mak lum, kalau kau bernasib malang. Tapi kau tak boleh dendam Reno, karena jau di lubuk hatinya, pasti ibumu mengasihimu."

Saya tak begitu mendengar kata Om Pram. Juga tak begitu menangkap ketika mengatakan ayah dan ibu resmi bercerai setelah ayah masuk penjara dan ibu kawin lagi dengan bapak yang sekarang. Kalaupun secara ekonomi rumahtangga ibu baik lagi, tapi dia tak mampu melupakan kalau saya adalah anak yang membawa kesialan. Dan sesungguhnya, dendam ibu pada bapaklah yang membias pada perla kuan ibu terhadap saya.

Sejak saat itu saya tinggal dengan Om Pram dan secara teratur mengunjungi ayah. Dalam keterasingannya, ayah tak pernah habis menyesali diri.

KINI SAYA, berkat keinginan Om Pram, berhasil juga jadi orang. Saya telah menyandang gelar dokter dan dapat tempat cukup terhor mat di tengah masyarakat.

Ada yang berubah dalaam hati saya. Ketika kecil dulu, saat makian dan pukulan ibu adalah santapan rutin saya, tapi saya tak pernah merasa dendam. Saya justru mengasihi ibu, mencintainya secara tulus. Berusaha menyenangkan hati ibu.

Tapi sejak cerita tentang kesialan yang menimpa keluarga saya, sampai masuk penjaranya ayah, saya merasakan ada yang terbalik. Tiba-tiba saya benci dengan ibu. Bagi saya, ibu tak lebih hanya seorang wanita tamak yang tak pandai mensyukuri nikmat.

Dan ayah yang sudah bebas saat saya baru di bangku pertama kuliah, berkali-kali menyarankan agar saya mendatangi ibu. Menurut ayah, ibu tak bersalahan. Seluruh tragedi keluarga kami, terjadi karena kesalahan dan ketidak-mampuannya.

Ketika saya dengar kabar bahwa ibu kini hidup menderita, setelah ayah tiri saya meninggal dan dua kakak serta satu adik saya tak membalas budi, hati saya juga tak tergetar.

"Pulanglah Reno, maafkan ibumu. Kini dia sungguh sengsara. Kau 'kan tahu, kakak-kakakmu dan adikmu, setelah berumah tangga, tak satupun yang mau memperhatikan ibu. Dendam hanya akan melahirkan sebuah kesengsaraan, percayalah itu, Reno."

Begitu selalu bapak berkata pada saya. Saya hanya diam. Jauh di lubuk hati saya, ada sesal panjang, sesal terhadap tragedi demi tragedi ini. Tapi kesakitan oleh pukulan ibu, justru baru terasa sekarang. Luka hati karena makian ibu, juga baru menganga sekar ang.

Kalau ingat bahwa saya adalah juga anak laki-laki ibu, untuk itu patut perbakti padanya, hati saya tergetar juga. Dan sungguh, saya ingin datang, bersujud serta membawa ibu keluar dari pender itaannya.

Tapi saya tak mampu memilah hati saya, hingga kini dan saya tetap terombang ambing dalam pilihan yang tak pasti.(*)

Komentar

Postingan Populer