Anak Laki-laki Ibu

BERUNTUNGLAH dua kakak laki-laki saya, Binuang dan Bintang, serta adik laki-laki saya, Bugih. Mereka memiliki raut wajah ibu, bulat dan seolah selalu tersenyum. Tak cuma itu, kulit mereka pun kuning langsat, yang jelas-jelas turunan ibu. Celakalah nasib saya, menyalin raut wajah bapak. Padahal, jika dibanding, pasti tak kalah tampan dari mereka. Dan pendapat saya ini, selalu menghantui, sampai saya tamat Sekolah Dasar.
Nyata-nyata ibu membedakan kami. Yang terbaik dari baju-baju atau sepatu, adalah buat saudara saya. Yang terenak dari segala maka nan, adalah juga buat mereka. Saya harus puas menerima sisa. Ternyata itu juga belum cukup, segala yang terberat dari urusan rumah tangga, mulai dari menimba air, mengepel lantai atau menya pu halaman, adalah tugas saya. Dan tak sekali pun saya pernah melihat saudara-saudara saya kena maki ibu, apalagi kena pukul. Sedang saya? Duh, terlambat bangun pagi saja sarapannya adalah caci maki ibu. Bikin kesalahan sedi kit dapat jewer telinga. Malah pernah ibu mengurung saya dalam wc, seharian, karena saya memecahkan guci antik kesayangannya.
"Anak celaka, kenapa kau selalu membawa sial di atas rumah ini?"
Ibu saya lihat begitu garang dan matanya seperti berapi, menghan guskan tubuh ceking saya. Dalam gigil dan ketakmengertian, saya diam. Ibu kemudian menghujani saya dengan cambukan lidi sebelum akhirnya wajib mendekam dalam wc. Saya ingin bertanya, tapi mulut saya kelu. Saya ingin meratap, tapi hati saya hampa. Saya hanya diam dan merenung, menghabiskan hari dalam kurungan ciptaan ibu.
Pernah saya kabur dari rumah, pergi ke tempat nenek. Saya berharap ibu akan kehilangan dan kalang kabut mencari saya. Ternyata tidak, dua hari saya dibiarkan lepas begitu saja. Akhirnya nenek menyuruh saya pulang. Dan dapat dibayangkan, hadiah apa yang saya terima di rumah. Pukulan gagang sapu dan hardikan ibu. Ketika saya lihat paha saya merah-merah bekas pukulan ibu, saya tak tahu perasaan saya. Iri, sedih dan dendam. Saya lihat saudara saya asik main gasing di halaman, sementara saya mati-matian menahan nyeri di tubuh.
Mulanya saya ingin mengadu pada bapak, tapi sebelum hasrat itu terjadi, saya ditimpa kebingungan. Orang-orang selalu mengatakan kalau wajah saya mirip wajah bapak, panjang dan kulit sawo matang. Sementara bapak yang saya anggap bapak, tak sedikit pun berwajah mirip saya. Dan bapak juga tak pernah berakrab-akrab dengan saya, selain melempar senyum masam jika saya lewat di dekatnya. Dan saya sungguh iri, melihat Bugih yang tiap hari bergelayutan manja di lengan bapak.
Lengkaplah kesengsaraan saya, lengkaplah kesendirian saya. Jika libur datang, saya wajib menunggu rumah, padahal nilai rapor, sayalah yang paling tinggi. Ibu, bapak dan saudara saya, biasanya akan berpergian ke luar kota.
Anehnya, saya tak pernah benci pada ibu. Jauh di dasar lubuk hati saya, saya begitu mencintai ibu. Saya ingin bertanya pada ibu, apa kesalahan saya. Jika saya salah, saya mau memperbaikinya. Atau apa yang ibu inginkan dari saya, agar saya juga dikasihi seperti saudara saya, pasti saya lakukan. Tapi itu hanya angan saya. Dan saya tak pernah hendak melindas kasih saya pada ibu dengan dendam yang membara. Dan saya sungguh heran, kenapa saya mati-matian menyayangi ibu.
Dalam suasana demikian, saya juga kerap menemukan hal yang mengharukan. Kadang-kadang, dalam tidur saya yang hampir lelap, saya rasakan ada usapan tangan. Kemudian desah napas yang berat dan ciuman di kening. Kala saya intip, ternyata ibu yang melaku kan itu semua. Atau jika saya tak menangis karena pukulan ibu, kerap saya lihat ibu tertegun, melempar sapu dan menghilang. Tapi selintas saya dapat tangkap kalau mata ibu berkaca-kaca. Dalam misteri itulah saya ke rumah nenek. Kata ibu, akan lebih baik bagi saya kalau tinggal dengan nenek dan melanjutkan sekolah di sana.
"Reno, kau tahu siapa ayahmu?"
Suatu hari, ketika saya sudah kelas dua SMP, saya dikejutkan oleh pertanyaan itu. Saya menatap Rimbo, yang adalah sahabat karib sekaligus saudara sepupu saya.
"Ayah saya, ya bapak yang sekarang. Kok tanya kamu aneh?"
Dan Rimbo terbahak, sampai bahunya terguncang-guncang. Saya tambah tak mengerti.
"Ayah kamu, Binuang dan Bintang, bukan dia, Reno. Apa tak pernah hatimu bertanya jika selama ini perlakuan yang kamu terima tak sewajarnya?"
Saya terhenyak dan bulat-bulat menatap Rimbo. Saya ingin menampar mulutnya, tapi juga ingin mendengar cerita yang lebih jauh lagi.
"Lalu, siapa ayahku, Rimbo?"
Rimbo tertunduk, tak menjawab. Dia berlari dan meninggalkan saya yang terbengong di bawah pohon jambu. Sejak itu saya selalu ingat perbedaan kasih yang saya dapat dengan Bugih. Dan saya memakluminya sendiri. Tapi ketika otak saya coba menganalisa perbedaan perlakuan ibu terhadap saya dengan Binuang dan Bintang, sungguh saya tak bisa maklum. Kalau Rimbo benar, kenapa ibu berlaku demikian kejam?
Ketika saya menanyai nenek, tak saya dapat jawaban yang memuaskan, selain sebuah kepastian bahwa bapak yang sekarang memang bukan ayah saya. Tapi di mana ayah? Tak ada jawaban, nenek hanya menghujani saya dengan airmata. Ini makin membingungkan saya. Ingin saya balik ke ibu, lalu minta penjelasan. Tapi hati saya mengatakan jangan.
MISTERI ini baru pecah ketika saya sudah kelas dua SMA. Saat itu, datang seorang laki-laki ke sekolah saya, mengaku adik ayah. Dan kenyataan yang saya dapat, membuat saya linglung.
"Reno, benar kamu ini?"
Lelaki itu segera merangkul saya, memeluk saya dan matanya berkaca-kaca.
"Om siapa?"
"Aku ...aku, aku Om Pram. Adik ayahmu."
"Lalu siapa ayah saya dan di mana beliau?"
Om Pram tak menjawab. Dia hanya mengajak saya pergi. Dan memasuki gerbang besi yang kokoh, bersuasana sepi dan angker, saya mengerti, kalau saya kini di ambang pintu sebuah penjara. Kenapa harus kemari?
Setelah berbasa-basi dan mengisi buku utama, Om Pram membawa saya masuk. Di depan sebuah pintu sel, saya tertegun. Di dalam, seorang lelaki kurus, berewokan, duduk termangu. Bukan keadaannya yang membuat jantung saya seperti berhenti berdetak. Tapi wajah itu wajah itu. Meskipun tak terurus, saya yakin benar, wajah itu adalah wajah saya. Ketika dia menoleh dan mendekat, saya terpaku. Airmata tumpah ke pipinya yang cekung. Dengan lemah dia menggapai.
"Inilah ayahmu, Reno."
Ucapan yang sudah saya duga itu, ternyata mampu juga melambungkan saya. Kenyataan ini membuat saya hanya berdiam diri, kelu dan terpaku.
"Reno, kamu sudah besar, Nak. Bagaimana keadaanmu?"
Saya tak membalas ucapan ayah, juga tak menghindar ketika ayah mengelus pipi saya. Tapi saya tak menangis, hanya melalap wajah itu nanap-nanap dengan mata saya.
"Reno, om mengerti penderitaanmu selama ini. Om juga mengerti kalau kau mendapat perlakuan yang berbeda dari ibumu. Tapi dia tak sepenuhnya salah, Reno. Kenyataan hiduplah yang membuat ibumu bersikap demikian."
Berceritalah Om Pram, bagaimana sesungguhnya ayah dan ibu dulu amat berbahagia. Perkawinan yang membuat banyak orang iri. Ibu yang manis dan ayah yang tampan, dilimpahi rezeki melimpah pula. Ayah yang bertangan dingin, kata orang. Karena apa saja yang dilakukan ayah, pasti sukses. Sampai dua kakak saya lahir. Di daerah kami, agaknya ibulah yang paling beruntung.
Tapi ketika ibu hamil lagi, yakni hamil saya, musibah itu datang. Sedikit demi sedikit usaha ayah merugi. Sampai akhirnya bangkrut, pas ketika saya delapan bulan dalam kandungan. Ibu yang berbiasa serba ada, jadi shock. Mereka selalu berteng kar. Tapi untung, saya akhirnya lahir dengan selamat. Tapi itu tak meredakan suasana, karena kami mulai dililit kemiskinan. Tiap hari yang terdengar hanya teriak marah ibu atau bunyi alat-alat rumah tangga yang dibanting. Dan dalam kekalutan, ayah malah makin memperburuk keadaan. Ayah bukannya berusaha, tapi malah mabuk- mabukan.
"Ayahmu benar-benar frustasi, Reno. Sementara kalian tetapi butuh biaya untuk hidup. Sejak saat itu, sejak kau masih dalam kandungan, penderitaan itu sesungguhnya sudah kau rasakan. Kau terlantar dan hidup karena belas kasihan banyak tetangga," kata Om Pram.
"Lalu, kenapa ayah masuk penjara?"
Om Pram menatap saya diam. Sejenak dia tergugu, tapi kemudian cerita lama itu terbongkar juga.
"Ibumu masih cantik dan memikat. Dia tak terbiasa menderita. Dalam kesengsaraan, dia mengambil jalan pintas. Reno, ibumu menjual diri, untuk menghidupi kalian, adik beradik."
Hati saya tersentak, bukan oleh dendam. Tapi oleh rasa malu dan muak yang entah dari mana tiba-tiba menyelinap, masuk dan tertanam di sanubari saya. Dan rasa kasih pada ibu tiba-tiba sirna, entah kemana. Om Pram kembali berkata :
"Suatu hari, agaknya ayahmu sampai pada puncak putus asanya. Dia mendatangi ibu yang tengah berduaan dengan lelaki lain. Ayahmu menghunus pisau dan membunuh laki-laki itu."
Kerongkongan saya makin kelat. Hitam saya lihat bermain-main diruang mata saya. Tapi saya ingin mendengar cerita Om Pram terus, sampai tuntas.
"Reno, kau begitu dibenci ibumu. Menurutnya, kaulah pembawa sial itu. Ayahmu bangkrut saat kau mulai ada dalam rahim ibumu dan berakhir dengan masuknya ayahmu ke penjara. Jadi kau harus maklum, kalau kau bernasib malang. Tapi kau tak boleh dendam Reno, karena jau di lubuk hatinya, pasti ibumu mengasihimu."
Saya tak begitu mendengar kata Om Pram. Juga tak begitu menangkap ketika mengatakan ayah dan ibu resmi bercerai setelah ayah masuk penjara dan ibu kawin lagi dengan bapak yang sekarang. Kalaupun secara ekonomi rumahtangga ibu baik lagi, tapi dia tak mampu melupakan kalau saya adalah anak yang membawa kesialan. Dan sesungguhnya, dendam ibu pada bapaklah yang membias pada perla kuan ibu terhadap saya. Sejak saat itu saya tinggal dengan Om Pram dan secara teratur mengunjungi ayah. Dalam keterasingannya, ayah tak pernah habis menyesali diri.
KINI SAYA, berkat keinginan Om Pram, berhasil juga jadi orang. Saya telah menyandang gelar dokter dan dapat tempat cukup terhor mat di tengah masyarakat. Ada yang berubah dalaam hati saya. Ketika kecil dulu, saat makian dan pukulan ibu adalah santapan rutin saya, tapi saya tak pernah merasa dendam. Saya justru mengasihi ibu, mencintainya secara tulus. Berusaha menyenangkan hati ibu.
Tapi sejak cerita tentang kesialan yang menimpa keluarga saya, sampai masuk penjaranya ayah, saya merasakan ada yang terbalik. Tiba-tiba saya benci dengan ibu. Bagi saya, ibu tak lebih hanya seorang wanita tamak yang tak pandai mensyukuri nikmat. Dan ayah yang sudah bebas saat saya baru di bangku pertama kuliah, berkali-kali menyarankan agar saya mendatangi ibu. Menurut ayah, ibu tak bersalahan. Seluruh tragedi keluarga kami, terjadi karena kesalahan dan ketidak-mampuannya.
Ketika saya dengar kabar bahwa ibu kini hidup menderita, setelah ayah tiri saya meninggal dan dua kakak serta satu adik saya tak membalas budi, hati saya juga tak tergetar.
"Pulanglah Reno, maafkan ibumu. Kini dia sungguh sengsara. Kau 'kan tahu, kakak-kakakmu dan adikmu, setelah berumah tangga, tak satupun yang mau memperhatikan ibu. Dendam hanya akan melahirkan sebuah kesengsaraan, percayalah itu, Reno."
Begitu selalu bapak berkata pada saya. Saya hanya diam. Jauh di lubuk hati saya, ada sesal panjang, sesal terhadap tragedi demi tragedi ini. Tapi kesakitan oleh pukulan ibu, justru baru terasa sekarang. Luka hati karena makian ibu, juga baru menganga sekar ang.
Kalau ingat bahwa saya adalah juga anak laki-laki ibu, untuk itu patut perbakti padanya, hati saya tergetar juga. Dan sungguh, saya ingin datang, bersujud serta membawa ibu keluar dari pender itaannya. Tapi saya tak mampu memilah hati saya, hingga kini dan saya tetap terombang ambing dalam pilihan yang tak pasti.(*)








Gugur
________________________________________
Cerpen Luzi Diamanda
RUANG TENGAH itu masih menyisakan bau khas kembang pengantin. Pelaminan pun masih berdiri kokoh membelit dindin-dinding beton. Mestinya di sini masih ramai, penuh tawa ria, diselingi lelucon "porno" ibu-ibu tua. Dan si anak dara akan tertunduk malu-malu. Tapi tidak. Bau kembang sayup-sayup ditelan bau lain. Menyebarkan kengerian. Bau anyir darah. Lihatlah, bercak-bercaknya masih bersisa, mulai mengering. Lihat juga ke kamar, sang anak dara telentang. Matanya yang menatap langit-langit, tak lagi bercahaya. Binar kehidupan di mata itu seperti pudar, tertelan prahara pahit. Tubuhnya pun makin menyusut, memperjelas tulang-belulang. Sang ibu, duduk bersimpuh di sisi pembaringan. Pelan-pelan mengusap rambut sang anak. Mata tuanya yang mulai mengabur, tak henti- henti menderaikan air.
"Gita, inilah takdir hidup. Kita tinggal menjalani apa yang telah disuratkan. Bangkitlah Nak, esok masih ada harapan buatmu."
Sang anak, tak bergeming. Tak juga hendak menepiskan tangan ibunya yang mengusap-usap rambutnya. Seperti mati, Gita beku. Sesungguhnyalah dia ingin sirna, sesirnanya dari muka bumi. Dan airmata yang terasa perih kala semburat dari bolanya yang kabur, kembali menderas. Meski tak hendak menangis, toh si ibu tak kuasa menahannya. Belahan jiwanya, kini harus menanggung siksa, karena dera kehidupan yang maha hebat. Dia pandang kamar itu, kamar pengantin yang belum dijamah. Bunga-bunga segar, mulai layu. Malah ada yang telah mengering, gugur dari jambangan. Warna merah jambu kelambu, tak membiaskan keceriaan.
Malam merangkak pelan
Di langit tak ada bintang
Gelap, di mana-mana
Begitu juga hatiku
Ibu, maafkan.
Aku hendak berlalu
Air susumu, adalah darah dagingku
Kasih sayangmu adalah pelitaku
Tapi aku harus pergi ibu, pergi membawa lara panjang.
Anakmu, Sagita Widuri.
Raung panjang memenuhi pagi. Sang ibu yang telah dihimpit duka berhari-hari, tersungkur kini. Dia raup bau tubuh sang anak yang tertinggal di kasur, memulunnya dalam satu hentakan. Anaknya, si anak dara yang tak jadi, di mana kini?
"Inikah yang kau maui? Tak ada yang bersisa, tak ada. Kenapa tak kau musnahkan seluruhnya? Bunuh aku, bunuh aku," teriak wanita itu memenuhi pagi.
Di matanya, terbayang tubuh kurus sang anak dengan wajah pucat, tak bercahaya. Ke mana langkah hendak dia bawa? Menganga dalam angan wanita tua itu jurang dalam, menelan tubuh anak terkasihnya itu.
"Ibu, tenanglah. Kita akan cari Gita, sampai dapat." Suara anak lelaki menenangkannya. Lalu ada tangan kekar memeluknya. Dan kembali tangis tumpah.
"Inilah yang diingini bapakmu, inilah! Tiar, jika adikmu tak bertemu, aku juga akan pergi. Tinggallah segala tirani di sini, di rumah ini."
"Baik ibu, aku aka cari Gita. Percayalah, dia pasti akan kembali. Dia amat mengasihi ibu." Masih tersisa isaknya, pelan. Di ruang mata si ibu terbayang Gita, memohon pertolongan:
"Ibu, tolonglah Gita, tolonglah. Kenapa ibu tak bisa menggagalkan rencana ayah?"
"Anakku, percayalah. Apa yang dilakukan ayah, seluruhnya demi kebahagiaanmu. Tak mungkin ayah menjerumuskan anaknya. Dia amat mengasihimu, Gita."
"Ibu, yang mau menikah adalah Gita. Ini masa depan Gita. Jika sejak awal Gita sudah tak suka, bagaimana jadinya?"
"Belajarlah menyukai sesuatu, meski belum kau kenal. Demikian juga calon suamimu. Ibu yakin, kau akan bahagia di sisinya."
"Ibu, Gita mencintai Tedi. Gita hanya ingin dia jadi pendamping Gita, selamanya."
"Nak, tak selamanya kata hati sama dengan kenyataan. Ibu mengerti, tapi percayalah. Suatu saat kelak, kau akan melupakannya." Terbayang pula Tedi yang tegap, dengan kulit kecoklatan. Matanya mencorong tajam, mata yang amat disukai Gita.
DI KAMAR lain, seorang lelaki duduk bersandar. Asap rokok memenuhi ruang, meninggalkan bau sangit. Dia tak peduli. Matanya nanar, gerahamnya gemeretuk. Dialah Komar. Tampak di matanya Gita, sang anak gadis menangis pilu, memeluk bantal, kala malam pengantinnya. Betapa putus asa wajahnya, matanya, seluruh yang ada di tubuhnya. Setelah itu, hari-hari sepi. Gita bak mayat, beku dan bisu. Terbayang juga istrinya, yang memohon-mohon, menyembah ke kakinya.
"Gita anak perempuan kita satu-satunya. Tegakah kau menghancurkan masa depannya? Kalaupun dia ikut katamu, itu karena takut. Pak, setelah ini hari-hari akan menjadi lama bagi Gita, hari-hari akan dijalaninya dengan kosong. Demi ayahnya, dia korbankan perasaan, kebahagiaan dan harapan-harapannya. Tegakah kau?"
"Anak, adalah hakku. Di rumah ini, aku raja. Tak satu pun yang boleh menentang, kau dengar?" Dalam sekali hentak, tubuh istrinya terlempar ke belakang. Dengan sekali hentak dia hempaskan pintu, dan itu adalah vonis. Berarti tak satupun yang boleh diubah, oleh siapapun.
Tampak pula masa lalunya, masa lalu yang pahit. Komar kecil, berjualan goreng pisang. Tanpa alas kaki, dengan baju kumal, dia berteriak-teriak. Masuk gang keluar gang, masuk kampung ke luar kampung. Di sekolah, tak jarang dia jadi bahan ejekan. Karena tubuhnya yang amis, tak mandi. Atau juga ejekan Maman, anak kepala desa yang selalu memanggilnya dengan si goreng. Kepahitan demi kepahitan dia telan sendiri, pelan-pelan meninggalkan kesumat panjang.
Bapaknya, hanya tukang kayu. Penghasilan bapaknya tak cukup untuk makan, apalagi untuk jajan beli baju. Ibulah yang kemudian turun tangan, menjadi penyelamat ekonomi keluarga. Dengan tekad bulat, dia manfaatkan halaman rumah yang diteduhi batang nagka, sebagai tempat memasak dan memajang goreng pisang. Itupun belum cukup. Sebagai anak sulung Komar harus turun tangan, memajukan usaha ibunya. Maka tiap pagi, sebelum berangkat sekolah dan tiap sore jika hendak mengaji, dia junjung nampan goreng di kepala.
Jika lewat di belokan jalan arah ujung desanya, Komar kerap nanar menatap bangunan di depannya. Sebuah rumah bercat putih, dengan pagar besi dan dua buah sepeda motor nongkrong di halamannya. Dia bayangkan, dialah kini pemilik rumah itu. Berbaju harum dengan warna cerah, bersepatu kulit dan tas tangan. Pagi-pagi, ada seorang pembantu membawakan minuman, sementara istrinya yang cantik, sibuk mencat kuku jari. Itu yang sering dia lihat, dalam film-film televisi di kantor kepala desanya. Tapi Komar segera berangkat, kecewa. Angannya harus pupus kala seorang ibu memanggilnya, hendak membeli goreng. Angan itu melecut tekadnya agar tak malu dan putus asa. Dia terima ejekan sebagai kelumrahan. Meski dadanya bergolak, dia hanya tertunduk, dengan mata rebak. Untung dia dikaruniai otak cemerlang. Sekolahnya tak pernah terlantar. Malah, berkat kekerasan hatinya, dia jadi sarjana. Meski untuk itu dia harus rela, jadi calo di bioskop.
Setelah itu, kesumatnya tak padam. Rumah papan tak berlantai, dia tukar dengan rumah batu. Adik-adiknya dia belikan sepeda, lambang keberadaan di desanya. Dia belikan sang bapak bertumpak sawah, mengalirkan padi tiap tahun. Dia belikan sang ibu emas permata yang melilit badan. Itulah lambang kejayaan. Dan dialah raja kini, menguasai daerah yang pernah menghinanya. Jika pulang dari rantau, dia akan disambut dengan hormat berlebi han. Rekan-rekan yang dulu mengejek, kerap datang minta bantuan. Dia akan senang menghamburkan uang, atas nama bantuan. Itulah pembalasan atas ejekan yang dia terima, dulu.
Tak ada yang tahu, dari mana uang itu mengalir ke kantongnya. Jangankan ibu atau bapak, istri dan dua anaknyapun tak tahu pasti. Mereka hanya tahu, Komar bekerja sebagai pegawai negeri di kantor Bea Cukai. Kesumatnya dia bayar dengan banyak dusta. Tak hanya bapak, ibu, anak dan istri, tapi banyak orang telah dia kelabui. Sebagai pegawai negeri, berapalah gajinya? Tapi dia lihai, licik bak belut. Dengan kedudukannya, ternyata dia bisa melindungi beberapa barang yang hendak diselendupkan. Itulah ladangnya, mengalirkan rupiah demi rupiah, ke kantongnya.
Lihatlah rumahnya yang megah, hasil kerja kerasnya. Lihat pula dua mobil dan kekayaan lainnya. Siapa sangka jika tukang jual goreng itu bisa jaya? Dia bahagia, sekaligus didera rasa takut. Kesumatnya akan hidup, akan kemiskinan, telah terbayar lunas. Tapi akankah bertahan apa yang dia dapatkan kini, selamanya? Kerap, kala malam matanya tak terpicing. Gemerincing borgol, sayup-sayup sampai di telinga. Jika itu terjadi, kiamatlah hidupnya. Apa yang telah dia dapatkan dengan banyak pengorbanan, akan sia-sia? Harapannya tumbuh pada Tiar, anak sulungnya. Dia berhrap Tiar jadi pengusaha, selagi dia masih punya kuku mencari mobal. Dan jika Tiar sukses, dia segera minta pensiun, sebelum belangnya terbongkar. Apalagi Tiar, anak sulungnya juga sarjana ekonomi. Tapi Tiar memilih jalan lain, jalanyang jadi kata hatinya. Tiar memilih mengabdi di desa.
Anak gadisnya yang cantik, mewarisi seluruh kecantikan sang ibu, adalah harapan terakhirnya. Dia sadar jika tutur lembut sang anak, ditambah jiwanya yang bersih dan tak banyak membantah, menjadi sebuah daya tarik, bagi banyak kaum lelaki. Dia amat mengerti, jika banyak rekannya, sesama pengusaha melirik anaknya. Ada memang yang karena dasarnya buaya. Tetapi ada juga yang hendak menjadikan anaknya sebagai menantu. Ketika Gita telah tingkat IV Fakultas Hukum, Komar pun mulai melirik sang rekan, mana yang punya anak lajang. Bagi Komar, tak selesaipun kuliah Gita tak apa, bukankah kelak dia akan jadi nyonya dari salah seorang pengusaha kaya?
Tatkala Murad melamar Gita, untuk menantu, kontan Komar terlambung. Siapa tak kenal Murad? Pengusaha degan berpuluh perusahaan. kekayaannya tak lagi jutaan, tapi telah hitung miliaran. Anak lelakinya cuma satu, jelas dia kelak pewaris harta itu. Bagai dapat durian runtuh seribu pohon, Komar meluap-luap bahagianya. Hari itu juga dia bawa anak gadisnya, dan diperkenalkan pada anak Murad. Mukjizat bagi Komar, karena anak Murad ternyata amat setuju.
Berundinglah mereka, mencari hari baik bulan baik, melangsungkan pesta pernikahan sang anak. Ketika semuanya telah selesai, baru lah dia bawa berunding sang istri. Bagi Komar, ini sebuah kejutan buat si istri. Dia yakin, sang istri akan bagia dan sang anak pun tentu bersuka cita. Alangkah kagetnya Komar ketika mengetahui sang gadis menolak pilihannya, karena telah punya pilihan sendiri. Geram dan sakit, itu perasaan Komar. Sejak itu, sang anak masuk pingitan. Apapun yang terjadi, pilihannya tetap. Gita harus menjadi menantu Somad.
DALAM waktu yang sama, Gita tercenung di bawah pohon kelapa, di tepi sebuah pantai. Gemetar badannya, menahan dingin angin, tak dia pedulikan. Ombak yang bergulung, lalu menghempas, adalah juga jiwanya. Dia tak meratap, juga tak mengeluh. Pandangannya yang lurus ke lautan adalah pandang putus asa. Di sana, bermain-main seluruh kenangan, memupus hapuskan seluruh hasratnya.
Di tak cuma anak dara yang tak jadi, tapi sekaligus manusia yang terkikis kepercayaa. Jika dulu dia begitu mengagungkan Tedi, mencintainya dan rela berkorban untuknya, tiba-tiba di matanya kini Tedi menjadi kerdil. Dia manusia tak bermoral, yang hanya mementingkan diri sendiri. Jika selama ini Gita yakin kalau mencintai berarti siap berkorban diri untuk kebahagiaan sumber cinta, kini tak lagi. Bagi Gita cinta adalah bentuk lain kemunafikan. Dengan alasan cinta manusia memenuhi hasrat batinnya sendiri. Cinta hanya alasan, bukan lagi sumber kehidupan.
Cinta sang ayah bagi Gita juga perampasan akan hak-haknya. Dia besarnya Gita, dia penuhi seluruh kebutuhan hidup dan dia letak kan Gita pada sebuah derajat terhormat, tujuan cuma hendak menuai hasil. Kelak, apa yang dia tanam haruslah berbuah. Tujuan membela sang anak, tak lagi demi kebahagiaaan dan masa depan sang anak, hanya demi menaikkan derajat sang bapak. Malah tak jarang anak hanya jadi tumbal, akan sebuah hasrat orang tua yang tak tuntas. Gita merasakan kerongkongannya kelat. Di sini dulu dia mohon agar Tedi maklum akan keadaan dirinya. Memang Gita mencintai Tedi, tapi dia harus mengabdi pada bapak. Sumber hidupnya adalah bapak, maka wajar jika pengabdiannya juga pada bapak.
"Gita, aku paham. Tapi pernahkah kau pikir, jika karena itu kau telah membabakbelurkan kehidupan seorang lelaki? Jika kau terima lamaran itu, sama artinya kau membunuh aku."
Dia tatap Tedi, mata elang itu jadi sayu. Tapi Gita tak mungkin mundur. "Ted, mengertilah posisiku. Cinta tidak segalanya bukan? Hanya sekali ini aku memperlihatkan pengabdian pada bapak. Kau selalu katakan hanya ingin aku bahagia. Maka lepaslah aku dengan suka rela, aku akan bahagia."
"Tidak Gita, tidak. Aku tak akan melepasmu. Kau ingat sumpahku? Hanya aku yang boleh memilikimu. Gita, kenapa kau tak mau mengi kutiku?"
Tiba-tiba Gita yang lembut dan penurut, berobah jadi Gita yang tegar. Dia tolak mentah-mentak kala Tedi mengajaknya kawin lari. Bagi Gita itu adalah pengkhianatan terhadap orang tua dan dia takut akan karmanya. Dia tahu jika bapak terluka karena Tiar. Haruskah dia tambah luka itu? Gita ingin seperti ibu, yang tabah menerima takdir. Ibu ternyata bahagia, karena kepasrahannya.
Gita juga telah melihat, betapa banyak kawan-kawannya yang gagal dalam rumah tangga, hanya karena memperturutkan hati. Kawin lari karena cinta, akhirnya bercerai juga. Bagi Gita, itu adalah karma. Berdarah hati ibu bapak merek, karena terluka. Di atasnya masih bisakah dibangun sebuah mahligai? Gita tak yakin. "Ted, jika kau mencintai aku, lepaslah aku. Jika kau paksa, itu sama dengan menyiksaku. Dalam penyiksaan, yakinkah kau akan bisa bahagia?"
"Tapi kau tak berusaha agar akulah yangjadi pendampingmu. Kau tak pernah melunakan hati bapak."
"Seluruh jalan telah kucoba. Ibu juga ikut melunakkan hatinya. Tapi bapak kokoh, pendirian dan pilihannya tak boleh dibantah." "Jika kau menikah dengan orang lain, darah akan tercecer di muka bumi."
Tedi membalik dan pergi. Gita menangis sendiri. Itulah akhir pertemuannya dengan Tedi. Setelah itu dia siap sebagai calon pengantin, meski bukan Tedi suaminya. Binar mata bapak adalah pelipur duka Gita. Ketawa khas bapak yang menggelegar adalah obat lukanya. Ibu yang setiap menghibur, menjadi sebuah kebahagiaan lain bagi Gita. Rumah itu penuh canda, penuh tawa dan semuanya tampil penuh pesona, menanti hari perka winan Gita.
Malam telah jadi milik Gita yang abadi. Pada malam dia kadukan lara. Tapi Gita berdoa, kuatlah dia pada jalan yang telah dia putuskan. Gita merasakan perutnya melilit-lilit. Bayangan tadi pelan punah. Hari menjelang malam. Gita tak peduli. Jalan terbaik menurutnya, ternyata adalah jalan yang kelak akan menggoreskan luka, teramat panjang. Terbayang kembali saat dia bersanding di pelaminan. Bapak dan ibu tertawa-tawa, menyambut tamu. Dia juga tersipu malu, di samping sang mempelelai.
Tiba-tiba Gita pucat ketika Tedi muncul, membawa kado kecil. Karena putih hatikah? Perlahan dia salami Gita, lalu berbisik, "Kau hanya untukku..."
Tak ada yang menduga, tak ada pula yang bisa mencegah. Tiba-tiba mempelai pria menunduk, memegang perut. Darah merah merembes dari sana. Tedi terpaku, masih memegang pisau berlumur darah. Gita menjerit dan kemudian kelam.
PAGI itu Gita terjaga dari mimpi panjang. Dia lihat putih seke liling. Ibu bersimpuh di sisi pembaringan, pucat dan cekung. Bapak tertunduk lemah, memegangi kepalanya. Tiar masih bisa menyisakan senyum.
"Gita, masih ada ibu, bapak dan aku. Kenapa kau siksa dirimu? Tiga hari yang lalu kau ditemukan pingsan di pinggir pantai. Demi ibu, kau mau bangun bukan?"
Tiar yang kekar kini luluh, menangis. Ibu meraupnya dalam peluk ketat dan bapak tertunduk dalam, di ujung kakinya. Gita hanya diam mata itu masih seperti kemarin-kemarin, kosong dan hampa.(*)
Padang, akhir Maret 1990.





Kadar
________________________________________
Cerpen Luzi Diamanda
"BAH, mereka-mereka itu memang bangsat, manusia berjiwa kerdil. Mereka sembunyikan kebusukan diri dengan melempar kesinisan terhadap orang lain. Mereka berpura-pura suci, lalu menyebar aib tentang orang lain. Anjing kurap, setan dekil, kalian sebenarnya siapa, he? Perangilah nafsu batil kalian, baru sebarkan tentang kesucian dan sorga pada orang lain."
Tiba-tiba ada air jatuh, tepat di tengah kertas yang ada tulisan di atasnya. Merebak, makin besar dan makin meninggalkan bayangan. Makin lama air itu makin banyak, hingga akhirnya kerta tersebut setengah lumat. Kata-kata kasar yang tertera dengan spidol merah itu mulai mengembang, kabur dan susah untuk dibaca. Kemudian terdengar isak tertahan. Lamat-lamat, tapi terasa begitu keras dalam malam sepi macam ini. Kala isak terhenti, ada bantingan keras, seperti piring pecah. Diam sejenak, berlanjut lagi, hingga malam jagi hingar-bingar.
Suara bantingan lenyap. Sepi. Dalam kamar yang kini tampak seperti kapal pecah, Ning terduduk lemas. Tangannya menopang dagu, mata menerawang. Keliarann yang sejenak membuat kamar hiruk pikuk, sungguh tak berbekas. Ning lelah.
***
GORESAN garis-garis di atas kanvas dengan warna-warna berani, mendominasi dinding-dinding di ruang pameran. Merah, hijau, kuning ungu dan hitam, berpadu serasi. Selintas kelihatan keras, tapi perlawanannya adalah gejolak hidup. Di sudut, dekat lukisan merak yang menantang, Ning terpaku. Matanya tak hendak terpicing. Dia raup diam-diam dalam sanubari gejolak yang timbul karena lukisan itu. Betapa menyalanya sang merak, di tengah alam yang mengungkung.
Tiba-tiba Ning tersentak. Seorang laki-laki, 30-an tahun, sudah berdiri di belakangnya. Ning amat kenal dia dan dia juga amat kenal Ning. Kawan lama. Malah boleh terbilang kawan akrab. Tapi kali ini tatapannya terasa begitu lain, asing dan penuh tanya. Tawa yang tadi menggantung di bibir Ning, lenyap dengan terpaksa. Ketika akhirnya laki-laki tersebut berlalu, Ning terluka. Tak ada tegur sapa, hanya sebuah tarikan sinis di sudut bibirnya. Ning berpaling ke belakang, tempat dia tadi meninggalkan Edo, sang suami. Kembali hatinya robek, laki-laki yang telah meninggalkan sesungging senyum sinis buat Ning, begitu akrab dalam baur tawa bersama Edo.
Ning mencoba melupakan keduanya. Beranjak pada lukisan lain. Ada laut dengan bianglala senja. Seorang nelayan terkantuk-kantuk di atas sampannya. Tapi kini tak tak lagi sepenuhnya Ning bisa menikmati lukisan itu. Nalurinya mengatakan agar segera pergi saja. Ketika Edo melambai, Ning mengangkat bahu, menunjuk ke luar. Pulang.
****
DALAM gelap ruang pertunjukan, Ning masih duduk menunduk, seperti menyembunyikan muka dari tatap orang lain. Padahal, kalaupun kepala dia tegakkan, tak ada yang bakal tahu pasti bahwa itu Ning. Angan yang dia bawa ke dari rumah, menyaksikan pertunjukan teater dengan sepenuhnya, sirna seketika. Kala kaki Ning melangkah masuk, saat lampu masih menyala, tiba-tiba saja ada yang mendongak. Tatapannya segera lain, saat mata mereka bertemu. Ada yang menusuk dada Ning, perih dan sakit. Tatap itu berisi tuduhan dan betapa sinisnya.
Sekejap, wajah itu berpaling pada teman di sampingnya, berbisik dan terus begitu sampai empat kali, tiba-tiba saja kemudian keempatnya serempak menatap Ning. Dan dalam diam, kembali luka menganga di dada Ning. Ada api yang menjalar, memanaskan dada Ning. Tatap mereka, sung guh terasa lain. Ada tanya, ada curiga dan ada juga ketakmenger tian. Ning terpukul. Dia cari kekuatan dengan memegang lengan Edo, sang suami. Kehangatan yang menjalar dari sana, tak menyejukan hati Ning. Diam- diam dia lumat wajah Edo yang demikian dekat, mencari sesuatu. Tapi tak ada, selain kerinduan, kerinduan seorang Ning, pada Edo.
***
ADA tangisan yang mengantarkan bara ke dada Ning. Tangisan anak perempuan kecil, karena ditinggal ibu. Meski itu soal biasa, toh sebentar lagi dia akan diam, tapi kali ini Ning merasakannya amat luar biasa. Hentakan-hentakan yang memalu dada, seiring tangis itu, membuat Ning terkulai lemas. Kemudian diam. Ning terpaku, tak jadi melangkah ke luar. Segera dia rebahkan badan di atas kasur. Ada yang menjalar, mula-mula di kepala Ning. Berdenyut, terus ke dada, perut dan kaki. Ning menggigil. Sebuah rasa lain, rasa yang diliputi kerinduan, berbaur dengan kepedihan yang menyayat. Ning memukul dada, coba menghilangkan ngilu yang menyerang. Kala Ning terbebas dari rasa itu, dia terkulai, lemas.
"Buah hatiku, belahan jiwa..." Sayup-sayup bibir Ning bersenandung, sambil tangannya mengusap perut.
HUJAN yang turun makin deras, menggigilkan. Tak hanya raga tapi juga jiwa Ning. Dia terpaku, menatap titik-titik air. Lalu, perlahan, melangkah menyambutnya. Sekejap, basah kuyup semua. Tapi langkah kaki yang tersendat-sendat, terus berlalu. Pedih kuliat tertimpa hujan dirasakan Ning belum seberapa. Dia usap pipi, masih ada benjolan, bekas lima jari tangan. Dia usap, lalu menangis. Air hujan dan airmata pun bersatu.
Lalu lalang mobil, ketipak ladam kuda bendi atau cipratan air yang dengan sengaja dilakukan para sopir membuat kumal gaun Ning. Dan tatap aneh dari mata-mata yang kebetulan berpapasan atau dari rumah-rumah pinggir jalan, tak menggoda Ning untuk menghentikan langkah. Dia susuri hujan, seperti kemarin, ketika sebuah kecemburuan meletupkan marah Edo, Ning adalah korban yang tersudut. Telah dia tutup rapat pintu hati dari sibakan masa lalu, tapi kembali itu dibangkitkan. Ning terkulai, selalu begini dan begini juga.
SEPULUH tahun, memang tak singkat. Sejarah kehidupan putar berputar. Tapi bagi Ning, tak seperti roda, sekali di atas sekali di bawah. Seluruhnya hanyalah kelelahan dan kekalahan, setelah pasrah panjang yang tak berujung.
Ketika terlahir sebagai perempuan, gurat nasib adalah jelas untuk Ning. Kelak, akhirnya sampai pada ujung. Menjadi istri, menjadi ibu dan menjadi makhluk nomor dua. Yang lebih parah lagi, menjadi hamba. Seperti ibunya, kakak-kakaknya atau tante-tantenya atau perempuan-perempuan yang pernah Ning kenal.
Tapi jiwa Ning yang selalu bergolak, tak suka itu. Pikiran Ning penuh warna, tak dapat menerima itu. Pikiran yang datang dari masa lalu, pikiran yang datang dari keegoisan kaum laki-laki. Ning memang perempuan, tapi bukan makhluk nomor dua. Kelak dia akan jadi seorang istri, tapi bukan hamba.
Bagi Ning, persekutuan antara dua lawan jenis adalah persekutuan dua sifat, dua pikiran dan dua idealisme. Keduanya adalah mitra, tak ada yang tinggi dan tak ada yang rendah. Jika wanita tak kenal lelah, mengabdi seharian, demi keutuhan sebuah rumahtangga, kenapa laki-laki harus dibiarkan bebas? Harusnya saling berbagi, saling mengisi. Bantah membantah adalah juga denyut kehidupan.
Tapi tak mungkin, kultur telah tercipta, memojokkan kaum wanita, juga Ning, dalam sebuah keranda. Dia tetap wanita. Ketika pikiran-pikiran Ning lontarkan, dia menjadi sebuah lelucon, lelucon baru, baik dari kaumnya, apalagi bukan kaumnya. Tapi Ning tak patah. Kemudian, ketika Ning harus bersanding di pelaminan, mengukuhkan diri sebagai seorang istri, harap itu tak pernah pudar. Dia telah siapkan diri sebagai mitra.
Kala jiwa yang bergolak, pikiran yang penuh warna itu harus tandas pelan-pelan dalam kenyataan, Ning melabuhkan diri dalam pasrah panjang. Tapi tak lama. Jiwa dan pikiran itu butuh muara. Ketika harkat kewanitaannya dilukai, salahkah kalau kemudian Ning mundur diri? Jalan yang ditempuh jelas, dan Ning memilih; kembali sendiri. Menekuni karir, bergulat dalam keras hidup, melontarkan pikiran dan memenuhi apa yang selama ini hanya jadi gejolak hati, itulah kemudian hakikat hidup Ning. Sejenak dia puas.
Hidup terus berputar dan tak ada yang tahu pasti, ke mana arah putar itu akan membawa diri. Sesaat, mimpi yang jadi nyata, hilang oleh gerhana. Tiba-tiba suara-suara itu datang, suara- suara yang memedihkan. Tak hanya sakit untuk didengar tetapi juga pedih untuk didiamkan.
Wanita yang sendiri, maju dalam karir, siapa yang bisa meyakini kalau itu milik sendiri? Suara-suara sumbang, sindiran-sindiran tajam dan tatapan-tatapan aneh, memporakporandakan segala keyakinan. Ning terkapar, ketika kata janda dihembuskan penuh benci oleh kaumnya, penuh birahi oleh lawan jenisnya.
Coba untuk tidak dipedulikan. Langkah kaki menyeruak di antara bilah-bilah kehidupan. Tapi kala semua tiba-tiba tutup mata, apa daya? Ning, kesendiriannya Ning, selaku makhluk masih punya rasa, apakah harus diam saja? Kerap, malam-malam, kala mengapung pikiran dan jiwanya. Tuhan beginikah hidup? Jiwa Ning bergetar. Diakah yang telah menyalahi takdir?
Kembali lelah panjang menemani malam demi malam, pagi demi pagi, siang demi siang terpuaskan oleh gejolak jiwa yang terus mencari atau oleh gejolak pikiran yang terus memberi. Untuk apa semua ini? Untuk apa diambil, kala badai sampai pada puncaknyaa, kadang adalah keputusan yang bersifat untung-untungan. Kesendirian, ter nyata tak selamanya menyenangkan. Dan dalam badai yang menderu, ketika sebuah uluran tangan datang menawarkan damai, mungkinkah itu ditolak? Sebuah kasih tak bertepi, sebuah kasih dengan pemahaman, datang dari Edo.
Gejolak jiwanya adalah gejolak jiwa Ning juga. Dan dia adalah mitra, tempat segala ide hendak dibagi, lalu dirumuskan dalam sebuah karya. Hadir di produk masa kini, Edo adalah juga orang yang menggugat keadaan. Wanita bukan hamba dan pria bukan dewa. Ning terbuai, karisma dan simpati yang menggetarkan. Tak pula dia gugat hati, kala harus mengukuhkan diri sebagai istri. Dan layar yang terkembang adalah layar kokoh, untuk lautan maha luas. Tak Ning ragukan cadiknya, tak Ning ragukan gelombang. Bukankah dia juga gelombang?
Hidup terus berputar dan kadang kita terlanda oleh putarannya. Begitu juga Ning. Adakah madu cuma manisnya sampai di bibir saja? Jika manisnya ternyata datang bersamaan dengan pahit empedu, apa daya? Pahit atau manis, akhirnya sama-sama menjadi sebuah kekala han, kalau kita tak berdaya mendayungnya mencapai pulau cita. Siapa duga kalau layar kokoh itu bisa sobek? Pertama, oleh Edo sendiri. Sebagai lelaki yang masih lajang, penuh keberanian melompati pagar untuk hidup bersama wanita yang pernah berdua dan kemudian sendiri lagi, akhirnya pertahanan itu luruh juga.
Ning merasakannya, meski Edo tak pernah berkata apa-apa. Ketika Edo menolak mengatakan siapa Ning sesungguhnya, Edo sudah menyimpan sebuah dusta. Cinta memang kerap terbawa emosi, tanpa mau menoleh agak sejenak, apa setelah itu yang akan terjadi. Dan cinta Edo, mengalahkan seluruh perintang, sebelum ini. Tapi seperti emosi yang bisa reda, jika pelampisannya sudah tuntas, demikian pula cinta. Kalaupun tak musnah, kadarnya tak lagi sekental dulu.
Pertanyaan tentang masa lalu yang tak perlu, kecemburuan yang tak perlu, kini muncul ke permukaan sebagai sebuah kendala yang tak pernah tuntas. Dia teror kebersamaan yang awalnya bak madu, dia retas benang kasih yang awalnya bak nira, kemudian dia bangun pelan-pelan jaring keretakan.
Retak itu makin makin lebar. Dan kembali kewanitaan Ning tergugat. Mitra yang dia harapkan, ternyata berbalik pada kadar semula, lebih mengarah pada hamba. Dan bantahan sudah tak lagi ada artinya, karena dia harus menerima. Dia tak lagi kawan seiring, tapi hanyalah seorang penunggu rumah. Dalam kegalauan, sungguh, Ning tak tahu rimba mana lagi yang harus ditebas.
Beban lain, ketika gugatan alam juga harus hadir. Ning, sebagai wanita yang rahimnya adalah tempat persemaian, mulai merasa kalau benih itu mulai hidup. Tatkala tuntutan baru hendak disusun, ketika keberadaan baru hendak digugat, benih itu datang, nyata dan tak mungkin ditolak lagi. Dalam gugatan demi gugatan, dalam gejolak demi gejolak, dalam tanya demi tanya, apa lagi yang harus dipertahankan? Ning, sendiri dan merasakan jentik-jentik benih dalam rahimnya sebagai sebuah tantangan lain. Dalam kegalauan, Ning tahu pasti dia tak ingin memisahkan benih ini, apalagi menguranginya kembali. Dia adalah nyata, dari bibit Edo dan bibitnya.
Demi sebuah kehidupan baru, jika benih ini kelak lahir, Ning kembali tata hatinya. Sungguh dia tak sanggup kalau kelak benih itu hadir, dewasa dan kemudian kembali menggugatnya sebagai ibu yang gagal. Ning, terlahir sebagai seorang wanita dan segalanya harus dia tahankan.
NING kembali menekuri lantai. Pecahan-pecahan kaca dan koran- koran yang berantakan, seperti memandangnya tak mengerti. Dia tak akan maklum, betapa sesungguhnya dia hanya lampiasan dari jiwa Ning yang tengah menjerit. Tak hanya kewanitaannya yang digugat, tapi keberadaannya di sisi Edo pun digugat.
Ning jeritkan lewat nafas yang berhembus keras, bahwa dia, seorang Ning, tetaplah seorang wanita yang telah kembali dari keduaan, kesendiriaan dan keduaan lagi. Itu cukup untuk sebuah status, tak bagus. Doa-doanya kepada Tuhan, kala sujud tengah malam, belum tuntas membukakan pintu. Tapi tak seperti masa lalu, kali ini tak mungkin membongkar sejarah lama, meninggalkan segalanya. Ning, seorang perempuan, harus arif untuk sebuah keutuhan. (*)

Komentar

Postingan Populer