Palung Kesumat (sebuah cerita)

“Jangan beri anak-anak luka jiwa, karena luka itu terbawa sepanjang jalan hidup, mengendap tapi tak hilang dan mengiris perih setiap otak membalik kenangan…” #Diamanda

MALAM baru saja turun, bahkan azan Magrib berlalu belum lagi seperanjakkan duduk. Tapi gulita sudah begitu pekat menyungkup wajah desa, oleh ketiadaan lampu penerang yang bernama lampu jalan. Modernisasi memang belum sampai ke sini. Hanya ada sesekali kelip lindap dari rimbunan semak di kiri kanana jalan setapak, kuning dan licin jika hujan. Ya, cahaya sayap kunang-kunang. Tetapi anak-anak akan lari dan bersembunyi jika melihat cahaya ini, karena secara turun temurun diceritakan sebagai cahaya kuku orang yang sudah meninggal dan mereka mencari kanak-kanak atau remaja yang berkeliaran jika matahari telah tidur.

Senyap membuhulkan ketakutan menjadi ngeri, sehingga sepi oleh malam dan dedaunan dari cabang cabang pohon manggis hutan atau pinang, menyempurnakan suasana desa seperti mati. Bahkan gigilan anjing yang tercebur ke rawa dan susah payah menggapai tepi sawah, terdengar nyata, keras dan menyanyat hati. Lalu sahut bersaut dengan anjing lainnya, lolong yang sambung bersambung, menyempurnakan malam sebagai sebuah ketakutan. Meski sesekali ada cahaya dari suluh daun kelapa pertanda pemuda yang meronda mulai menuju ‘lapau’ kopi, tempat mereka berkumpul dan bercerita.

Ya, desa yang bernama Kultup, terletak beberapa kilometer saja dari ujung lidah air laut, tempat para nelayan dan petani tinggal secara bersama, adalah desa yang damai. Jika tak malam, pastilah kicauan burung atau cericitan anak tupai sahut bersahut, dari lambaian daun kelapa yang memenuhi desa. Desa yang menyembunyikan kecantikan beberapa gadisnya, desa yang meniadakan kesumat oleh ketenangannya.

Tapi malam ini beda. Gelap yang menyungkup, dingin yang merasuk oleh hujan yang hendak turun, tiba-tiba pecah oleh sorak, oleh pekik, pekik perempuan yang melolong panjang, menyampaikan sumpah serapah dan caci maki.. Sontak, desa terang benderang, warga berlarian dengan nyala suluh di tangan, berkumpul pada titik dimana rarau tadi muncul. Sejenak saja, puluhan orang sudah mengelilingi seorang perempuan yang raraunya hilang berganti isak, pelan tapi memilukan. Perempuan itu mendekap kedua lututnya dan menyembunyikan wajah dibalik rambut panjang yang terjuntai hingga ke tanah.

Mereka sibuk dengan perempuan tersebut, membujuk, menanyai dan juga ada yang memberi minum, hingga mata mereka tak menangkap sesosok tubuh mungil, menggigil, tersandar ke batang pohon nangka, terletak di sudut kanan halaman rumah. Matanya nanap melihat ke sosok yang memangka lutut, lalu ganti berganti melihat cahaya api. Giginya gemeretuk, entah karena dingin atau takut. Dia terlupakan, padahal, sungguh jiwanya sedang butuh belaian, raganya butuh pelukan. Bocah perempuan berwajah bulat dengan dua mata mencorong indah dan bibirnya, ya bibirnya yang seolah tersenyum sinis, meninggalkan kesan angkuh. Posisinya membuat leluasa untuk mencatat diam-diam, apa yang sedang menimpa perempuan yang ternyata bernama Maryam.

“Maryam, ada apa? Apa yang terjadi?”

Sebuah tangan mencoba mengurai rambutnya agar mereka yang berkeliling bisa melihat wajah penuh air mata tersebut. Tapi Maryam hanya diam, isakannya makin pelan.
Hening kembali pecah, ketika tiba-tiba dari atas rumah terdengar suara saling hardik, kemudian suara tangan beradu dengan meja. Lalu ada sosok-sosok berlarian turun dengan cepat, pergi menghilang ke dalam kelam. Terakhir seorang laki-laki keluar berkacak pinggang.

“Tidak ada yang berhak mengusir keluarga saya dari sini atau kita saling menghabisi. Pulang saja kalian,” katanya.

“Sabar Tam, ada apa?” seorang tetua kampung, sambil mengangsur langkah maju ke depan.
“Tak ada, pulang sajalah semua,” ujarnya.

Lalu dengan sigap tangannya memangku sosok perempuan yang memangku lutut tadi dan secara bersamaan matanya menangkap bocah perempuan kecil yang tersandar kecut.
“Sini nak, ayo naik, taka apa-apa, segalanya sudah selesai,” ujar Tambiluk, nama lelaki itu, sambil dengan sigap membimbing tangan bocah itu. Mereka menaiki tangga yang berjumlah tujuh undakan dan Tambiluk menghempaskan pintu dengan sangat keras, meninggalkan orang-orang yang terlongo, memandang heran, sebelum akhirnya bubar satu persatu. Desa Kultup kembali gelap gulita.

Di atas rumah Tambiluk, istrinya Maryam dan anak perempuannya yang masih bocah duduk mengelilimgi lampu teplok, sumber penerang. Tambiluk mengambilkan segelas air putih untuk sang istri, meminumkannya beberapa teguk dan meminumkannya juga para bocah perempuan tadi.

“Taka apa-apa, Suri, tak apa-apa, semua telah berlalu, jangan cemas, sini,” kata Tambiluk sambil memeluk bocah perempuan yang dia panggil Suri.

Dan malam terus menggulita. Tak sepi di rumah ini, isak satu-satu masih terdengar dari ruang tengah. Suri bergelung bersama seekor kucing jantan muda dwi warna, putih abu-abu, di sudut meja kayu, tempat dimana dia meletakan beberapa ranting kayu dan dedaunan, untuk permainannya jika matahari sudah terang dan masuk ke rumah dalam bentuk cahaya. Dengkuran kecil Suri berbaur dengan suara dari dada kucing, mengaliri irama satu kesatuan, seperti persaudaraan dan kesetiaan, meski bukan satu ras.

Tersendak oleh suara hentakan di atap pertanda seekor musang sedang lewat dan melompat, Suri mencuri pandang dari sudut mata ke tikar pandan yang sedepa ada dihadapannya, tempat tadi sang ibu duduk dan sesunggukan. Tikar itu sudah kosong. Suri merapatkan telinga ke lantai dan dia mendengar seperti bisikan, pelan-pelan, dari kamar orang tuanya. Tak ada lagi isak.

“Kita harus pergi..,” itu suara ibu..

“Kemana? Kita tak punya apa-apa, kita di sini saja, jangan takut, tak akan ada lagi yang berani mengusik kita, nyawa pun aku berikan untuk kenyamanan kalian,” itu suara ayah.

Suri dalam kekecilan otak dan nalarnya tak paham apa-apa, karena memang dia tak paham apa-apa. Tapi kata per kata yang dkitangkap telinga bisa dia eja secara jelas, dalam hati dan jiwa, sebelum rarau panjang sang ibu mengusik malam, beberapa waktu tadi.

“Untuk apa kau pertahankan pernikahanmu? Anak-anak mu lihat, melarat. Sebaiknya kalian berpisah, jelas pula kau tanggungan keluarga,” suara seorang laki-laki terdengar penuh tekanan. Dari balik gorden kamar depan, Suri bisa melihat, yang bicara laki-laki dengan kepala penuh uban, tinggi besar dan giginya ompong.

“Saya tidak mau, dia ayah anak-anak saya. Kami sudah punya 3 anak,” suara ibu pelan dan Suri melihat ibunya hanya berani menantap ke bawah, ke kaki meja.

“Kalau begitu kalian pindah saja,” seorang perempuan gemuk, tapi cantik, secantik wajah ibu, terdengar bicara. “Ada tuh si Alek yang mau dengan kau, hartanya banyak,” timpalnya lagi.

“Kakak jahat, kalau kakak yang disuruh pisah bagaimana?” jawab ibu.
“Suami ku kan kaya, mana mungkin aku disuruh pisah, rumah ini, rumah di depan, sama sebuah heller penggiling padi, itu kan suamiku yang bangun,” jawab si gemuk, Suri memanggilnya Ibuk.

“Kau keras kepala, hidup menyusahkan keluarga, makan minum dari hasil sawah ladang keluarga, tapi kau patuh juga sama suami mu yang tak berguna itu,” laki-laki pertama tadi kembali men impali.

Tiba-tiba Suri melihat ibunya tegak, matanya nyala dan berkacak pinggang, mulai meracau tak jelas, sambil menunjuk-nunjuk orang dihadapannya, ada sekitar 4 orang. Diperlakukan seperti itu, laki-laki kedua, berbadan tegap, tinggi dan berkopiah, juga tegak, sambil menggebrak meja.

“Kau benar-benar tak tahu diuntung, wajahmu saja yang cantik, hati mu pekak. Sekarang turun kau dari rumah ini, suruh suami mu membawa kau dan anak-anak mu pergi, jangan jejak rumah ini lagi,” sambil menunjuk-nunjuk wajah ibu.

Saat itulah ibu merarau panjang, menyepak meja hingga lampu teplok jatuh dan lari ke halaman rumah sambil meraung-raung. Suri ikut pelan-pelan, menyatukan badan dengan dinding papan, agar tak terlihat oleh mereka dan duduk di bawah batang nangka. Tak jelas wajah ibunya tapi rarauannya sangat terasa, mengusik jiwa dan batin Suri yang bingung, yang linglung, oleh takut yang tiba-tiba menyergapnya, takut ibu kenapa-napa. Sampai akhirnya ayah datang dan membawa naik ke atas rumah.*** (Bersambung)

Komentar

Postingan Populer