Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2009

Gugur

Cerpen Luzi Diamanda

RUANG TENGAH itu masih menyisakan bau khas kembang pengantin. Pelaminan pun masih berdiri kokoh membelit dindin-dinding beton. Mestinya di sini masih ramai, penuh tawa ria, diselingi lelucon "porno" ibu-ibu tua. Dan si anak dara akan tertunduk malu-malu. Tapi tidak. Bau kembang sayup-sayup ditelan bau lain. Menyebarkan kengerian. Bau anyir darah. Lihatlah, bercak-bercaknya masih bersisa, mulai mengering.

Lihat juga ke kamar, sang anak dara telentang. Matanya yang menatap langit-langit, tak lagi bercahaya. Binar kehidupan di mata itu seperti pudar, tertelan prahara pahit. Tubuhnya pun makin menyusut, memperjelas tulang-belulang.

Sang ibu, duduk bersimpuh di sisi pembaringan. Pelan-pelan mengu sap rambut sang anak. Mata tuanya yang mulai mengabur, tak henti- henti menderaikan air.

"Gita, inilah takdir hidup. Kita tinggal menjalani apa yang telah disuratkan. Bangkitlah Nak, esok masih ada harapan buatmu."

Sang anak, tak be…

Sengketa

Cerpen Luzi Diamanda

"PERSOALANNYA bulan harta, Anakku. Tapi hak. Tanah ini adalah milik kita yang sah, apapun yang terjadi kita harus mempertahan kannya."

"Benar soal hak, tapi haruskah untuk itu kita saling bermusuhan. Haruskah karena itu kita saling dendam. Mak yang mengajari dulu, mengalah bukan berarti kalah. Tapi kenapa sekarang Mak tak mau mengalah?"

Perempuan tua yang dipanggil Mak oleh anak perawannya tersebut hanya diam. Dadanya yang cuma dibalut kutang tua, memperlihatkan dengan jelas susunan tulang-tulang di dadanya turun naik, seperti menahan sesak yang tak kunjung lepas.

"Muni, kau masih terlalu muda untuk memahami arti sebidang tanah bagi kita. Kelak bila kau dewasa, menjadi ibu, kemudian menjadi tua seperti Mak-mu ini, kau juga akan bersikap sama. Ingat Muni, sejauh-jauh pergi merantau, tanah kampung tetap punya arti."

Setelah itu diam. Tak ada yang ingin mulai berujar. Sayup-sayup suara jengkrik memecah malam. Sedangkan cahaya kunang-kunang ke…

Leman

Cerpen Luzi Diamanda

DI SINI, malam yang bergulir dirasakan laki-laki itu sama saja dengan malam-malam yang kemarin dan kemarin; gelap dan sepi. Lelaki tua, dengan mata yang mulai rabun, memandang bayang-bayang dirinya yang tercetak di dinding lewat biasan cahaya lampu damar. Ruangan tiga meter persegi, tempat pengasingan diri yang hampir lima tahun dia akrabi, tak menjanjikan sesuatu yang baru. Ke mana mata dia arahkan selalu membentur yang itu ke itu juga. Dinding dari bilah bambu, atap rumbia dan lantai papan yang telah berlo bang di sana sini.

Perlahan lelaki itu menggeser duduknya, merapat ke dinding, menyandarkan kepala dan mulai menggulung daun nipah. Kemudian dia hirup rokok daun itu, pelan-pelan. Juga tak ada apa-apa dia rasakan. Dalam hembusan asap kelabu, lelaki tua itu seperti melihat kembali kaca dirinya, kaca kenangannya dan kaca kerin duannya. Lelaki itu mendesah.

Dalam usia 65 tahun lebih, saat ini, alangkah banyak waktu ter sia. Terbayang masa muda, saat dia masih tampil…

Kadar

Cerpen Luzi Diamanda

"BAH, mereka-mereka itu memang bangsat, manusia berjiwa kerdil. Mereka sembunyikan kebusukan diri dengan melempar kesinisan terhadap orang lain. Mereka berpura-pura suci, lalu menyebar aib tentang orang lain. Anjing kurap, setan dekil, kalian sebenarnya siapa, he? Perangilah nafsu batil kalian, baru sebarkan tentang kesucian dan sorga pada orang lain."

Tiba-tiba ada air jatuh, tepat di tengah kertas yang ada tulisan di atasnya. Merebak, makin besar dan makin meninggalkan bayangan. Makin lama air itu makin banyak, hingga akhirnya kerta tersebut setengah lumat. Kata-kata kasar yang tertera dengan spidol merah itu mulai mengembang, kabur dan susah untuk dibaca.

Kemudian terdengar isak tertahan. Lamat-lamat, tapi terasa begitu keras dalam malam sepi macam ini. Kala isak terhenti, ada bantin gan keras, seperti piring pecah. Diam sejenak, berlanjut lagi, hingga malam jagi hingar-bingar.

Suara bantingan lenyap. Sepi. Dalam kamar yang kini tampak seperti kapal pecah…