PERKABUNGAN PAGI

Cerpen: Luzi Diamanda

SINAR mentari meredup, pelan tapi pasti bergerak menuju peraduaannya. Warna merah di kaki langit telah lama pudar. Semilir bayu membawa wangi padi, yang menguning, kemilau, sejenak tadi. Tiba-tiba sawah-sawah ini seperti memakan matahari, hilang, kelam dan sunyi. Suara jengkrik mulai menggelitik, samar, lalu kalah oleh nyanyian ular sendok, ketika malam sempurna kelam.

Di sini, di sudut kota ini, dalam kesegaran alam yang tenang, berdiri sebuah bangunan berbentuk L, bercat putih dan dikelilingi pagar hitam. Sejenak tadi juga seperti raksasa, bayangannya memantul diantara pepohonan, tertimpa mentari sore. Tapi sunyi, seolah mati. Sejauh mata memandang, terbentang persawahan, sedang bunting dan menguning. Di kejauhan, sayup terlihat sebuah rel kereta api yang dalam waktu tertentu mendesis-desis, berderak-derak, seolah lagu pilu, bersiponggang ke dinding-dinding bangunan.

Halaman yang maha lapang tempat bersemayam aneka ragam pepohonan, ada jambu biji, mangga, belimbing dan rambutan tidak mampu menghalau lengang, apalagi di belakang ada pohon yang rindang dan diantaranya ada kuburan, diam, hening, seperti monumen beton ditengah kedamaian alam. Sempurna, bangunan ini memiliki kearoganan tetapi juga ketegasan. Ia menyembunyikan sesuatu, ia melarung banyak kisah dalam bisu yang meregang ngilu.

Lihatlah, Isah, perempuan tua yang telah duduk dalam pelukan kayu di luar bangunan sejak sore tadi, tidak ingin bergerak, meski malam telah melamurkan matanaya, tak lagi menatap apa-apa. Seolah bersemedi, segala hal yang tertangkap indranya ia terima dengan perlahan, seperti nafas harapan yang memudar.

Sejak senja menyapa, penglihatannya yang kabur terfokus tepat pada pintu gerbang bangunan, seperti menunggu, seperti mencari, tetapi tidak ada apa-apa di sana selain ayunan gelombang buah padi yang digerakkan oleh angin sepoi-sepoi. Keinginannya untuk menghirup manisnya kemboja, seperti saat ketika ia masih tinggal di desa, dihancurkan oleh bau lumpur yang menyengat. Ada air titik dari matanya, pelan turun kekeriput pipi dan Isah membiarkan air itu jatuh, satu-satu, membasahi kain sarung yang mulai hilang ragi. Di sini, tempat yang tidak pernah dibayangkannya ketika ia masih muda, tapi ia harus melalui hari-harinya yang panjang.

Bangunan angkuh ini telah menelan semua mimpi, harapan, dan keinginan, bahagia dilanjut usia, dikelilingi anak-anak dan cucu-cucu. Seketika lebur, hancur, berserakan sepanjang ingatannya mampu mencerna kisah lalu. Dia terluka dan sangat perih. Perlahan, Isah mengusap dadanya yang kurus melalui kebaya yang telah usang tetapi cukup bersih. Seolah mencoba menghilangkan rasa sakit, di hati yang lara, tersimpan dibalik tulang dada yang terlihat nyata.

"Ayolah Sah, jangan sedih. Mari masuk ke dalam, malam sudah sempurna datang."
Tiur, wanita tua yang mulai renta dan tubuhnya mulai membungkuk, terhuyung-huyung menuju Isah dengan bantuan tongkat kayunya yang terbuat dari cabang pohong jambu biji.

"Aku tidak tau, Yur. Apa yang bisa kulakukan? Bagaimana aku bisa meringankan kesedihan? Aku berakhir ditempat ini, di kampung halamanku sendiri. Rasa sakit telah menghancurkan hariku."

Tiur, yang berniat untuk membawa Isah masuk, tertegun dan tertunduk. Apa perbedaan antara dia dan Isah? Dibuang ketempat yang asing. Dia berada di dunia yang bahkan tidak pernah ditemuinya dalam mimpi. Kerinduanlah yang menyebabkan rasa sakit. Hasrat yang menuntun kepada penyesalan berkepanjangan itu disebabkan oleh nasib atau takdir, tak lagi dia paham. Kerinduan yang menyentak itu mendorong hati menjadi sebuah kekosongan yang luas, ruang hampa. Semua perjalanan menjadi tidak berarti, kerja keras dan pengorbanan, ditelan kesia-siaan waktu.

Ketika embun mulai menyebarkan dingin melalui bangku kayu, Isah dan Tiur masih tidak bergerak, seperti patung kisah rindu yang membeku. Sinar listrik sudut bangunan mempelihatkan dua siluet dengan seragam perawat mendatangi mereka.
"Sudah malam, nek. Mari masuk ke dalam. Nanti masuk angin."

Mereka memegang tangan Isah dan Tiur, pelan, dengan rasa kasih yang tersisa mereka menuntun keduanya masuk ke dalam untuk bergabung dengan yang lain di meja makan.

"Malam ini merupakan malam yang istimewa. Ini merupakan ulang tahun nenek Pasah yang ke 68. Sore tadi kue ulang tahun datang dari anaknya yang berada di Jakarta. Sekarang kita akan berterima kasih dan berdo’a bersama, lalu kita akan meniup lilin dan memotong kue," kata salah satu perawat sambil tangannya dengan lincah menyusun lilin di atas tart warna merah jambu di atas meja kayu.

Kalimat riang para perawat tidak mendapatkan respon. Kepala putih, yang setengahnya tertutupi syal, tertunduk. Lembut tapi jelas, terdengar isak tangis datang dari kursi paling ujung dan semakin bertambah keras, seiring detak jam dinding yang terdengar nyaring, karena engselnya tak lagi licin, karat telah merenggut kesejukan detakan itu, sejak lama dulu, masa puluhan tahun menggerus baru.

"Nek Pasah, nenek tidak bahagia dihari ulang tahun ini? Nenek menangis. Kue yang dikirim putra nenek tidak akan membawa keberuntungan, jika terkena air mata,” masih dengan suara sejuk perawat itu coba membujuk.

"Kau tidak mengerti perasaan ku. Apa gunanya ini semua? aku rindu rumah, cucu-cucu ku. Aku ingin menggenggam cucuku, putraku telah membuangku, sungguh tidak ada hati dia," Pasah mengoceh, menggerutu. Baginya, hidup tidak adil. Ini  balasan untuk kasih sayang yang telah ia berikan kepada putranya, setelah membesarkannya. Balasan untuk malam-malam panjang yang dia habiskan dalam tidur yang tidak pernah tenang adalah diasingkan ke dunia yang sepi dan penuh luka.

Pasah tidak akan bisa menerima alasan yang diberikan putranya sehingga mengirimnya ke tempat ini, agar ada seseorang akan mempedulikannya, agar ia aman, agar ia akan bahagia di hari tuanya dengan teman sebaya. Bagi Pasah, itu semua hanyalah alasan yang digunakan putranya untuk memisahkan Pasah dari cucu-cucunya yang juga merupakan darah dagingnya sendiri.

"Baiklah, Nek, aku mengerti. Tapi nenek memiliki banyak teman di sini. Nenek harus tenang. Jangan mengutuk putra mu, Nek. Sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi padanya."

Pasah tetaplah memiliki hati seorang ibu. Ketika sesuatu yang buruk diingatkan akan terjadi pada putranya, ia merasakan luka itu sebelum putranya. Luka dan kepahitan telah terlupakan dan digantikan dengan kesedihan dan kasih sayang. Ibu seperti apa yang akan membiarkan anaknya sendiri terluka oleh waktu. Akan lebih baik untuknya, seorang ibu, menderita bersama luka itu. Kutukannya tertelan oleh kasih sayang.

Pasah terdiam, sama seperti yang lainnya. Hanya mata tua mereka yang mulai berkaca-kaca melihat ke arah kue ulang tahun dengan lilin yang menyala. Tanpa aba-aba, rencana untuk meniup lilin dan memotong kue, terbengkalai. Seorang perawat berinisiatif mematikan lilin dan memotong kue itu sendiri. Dia meletakkan kue itu di piring kecil untuk diopor ke semua orang. Setelah mereka berdoa bersama, para perawat menuntun mereka ke kamar masing-masing, mematikan lampu, dan menutup pintu. Hari ini, perjalanan takdir mereka diakhiri dengan tidur, nyenyak maupun tidak, tidak ada yang tau.

"Sah, kau sudah tidur?"

Saat jam dinding menunjukkan pukul 2 dinihari, suara Tiur, yang berbagi kamar dengan Isah, memecah keheningan.

"Tidak, kenapa?"

"Aku merasa kasian dengan Pasah. Bagaimana bisa putranya hanya mengirimkan kue itu dan tidak datang sendiri?"

"Itu tidak berbeda dengan kita, Yur. Anakmu, anakku, anak teman-teman kita, kapan mereka datang untuk melihat kita? sekali setahun saja, itu pun saat hari Raya dalam perjalanan libur mereka bersama keluarga, bukan untuk kita."

"Ketika aku berpikir tentang masa lalu, aku merasa sangat pahit. Aku harus bekerja sangat keras agar putra dan putri ku bisa menjadi sesuatu setelah ayah mereka meninggal. Aku mencuci baju orang, aku menggiling cabe di pasar, aku bekerja sebagai buruh di pabrik kayu manis. Siapa yang akan berfikir semua usaha ku akan dibalas dengan luka?"

Isah mungkin sedang berbicara atau mengeluh pada dirinya sendiri. Bagaimanapun juga, Tiur tidak ingin menjawab. Dalam diam, di cahaya malam yang redup, Tiur melihat tangannya. Mereka berkerut, kasar, dan pembulu darahnya seperti akan meledak.

Pikirannya kembali ke masa lalu. Tiur merupakan gadis tercantik di desa. Semua lelaki menginginkannya. Terlebih lagi, Tiur merupakan anak tunggal dari keluarga kaya. Sawah mereka yang banyak dan ratusan pohon kelapa membawa uang untuk keluarganya. Tiur akan menikahi Usman, lelaki tampan anak kepala desa, yang merupakan pedagang kaki lima yang sukses di Jakarta. Bagi gadis-gadis di desa Tiur, menikahi lelaki yang telah berhasil di kota merupakan sebuah mimpi. Itu adalah cara bagaimana mereka bisa merubah nasib. Mereka akan meninggalkan desa dan pindah ke kota, ke kehidupan cemerlang yang penuh dengan gemerlap.

Pernikahannya merupakan sumber kebahagiaan dan itu adalah harga diri Tiur diantara gadis-gadis lainnya. Usman telah memilihnya setelah melihat beberapa gadis yang dikenalkan kepadanya oleh orang tua mereka. Ini merupakan kemenangan Tiur, kemenangan atas harapan dan mimpi mereka. Setelah pernikahan, Usman membawa Tiur pergi dari desa. Air mata pedih ibunya dan kesedihan ayahnya akan kepergian Tiur membuatnya mengasihani mereka sejenak, hanya sejenak. Tapi Tiur bersembunyi dibalik takdirnya, bahwa kebanyakan gadis dari desa harus mengikuti apa yang suami mereka kata kan dan ikut kemana pun mereka pergi.

Tapi tidak ada yang tahu apa yang ada di masa depan. Kebahagiaan Tiur hanya bertahan sampai kelahiran anak ketiga. Ketika ia hamil anak keempat, Usman berselingkuh dengan wanita dari tanah Jawa. Mereka menikah dan meninggalkan Tiur bersama takdirnya. Alasan Usman adalah Tiur terbiasa dengan kehidupan desa dan tidak bisa beradaptasi dengan kota. Tiur yang waktunya habis oleh anaknya, yang lahir satu setelah yang lainnya lahir, seperti tumbuhan paku, 2 dalam 3 tahun, bagi Usman telah lusuh dan orang desa berbau masam yang tidak menarik dan tidak bisa di bawa kemana-mana.

Tiur kembali pulang ke desa, membawa sakit dalam hati, kehamilannya, ketiga anaknya, dan tidak ada uang. Setidaknya di desa ia masih punya rumah yang ditinggalkan orang tuanya, sawah dan beberapa ratus meter tanah. Tiur tidak pernah mengira bahwa waktu yang berubah akan memusnahkan semua harapannnya. Sawah-sawahnya telah digantikan dengan dinding beton perumahan. Ladangnya telah terjual, dan rumah para pembeli sekarang berdiri di sana. Pohon-pohon kelapa sekarat. Daun-daunnya telah kering karena tidak dijaga.

Begitu ia kembali ke desa, setiap hari Tiur menyaksikan anak-anak dari komplek perumahan bermain dimana sawahnya dulu berada. Mereka imut, memiliki baju-baju bagus dan selalu bersih. Anaknya sendiri kekurangan gizi dan kotor. Tetapi itulah hidup. Tiur merupakan penyelundup di atas tanah yang dimiliki orang tuanya sendiri. Ketika harapannya telah hilang, ternyata kompleks perumahan bisa memberikan penghidupan. Pada salah satu rumah, Tiur menguatkan dirinya sendiri dengan menjadi seorang pembantu.

Tiur melupakan tentang masa lalu dan tradisi desanya. Untuk menjadi seorang pencuci, apalagi pembantu, merupakan penghinaan luar biasa dan bukan kebiasaan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Di sini, di tanah tumpah darahnya di negeri Minangkabau, semiskin apapun seorang wanita, dia setidaknya memiliki harta yang cukup untuk makan, dari warisan tanah dan sawah itu.

Tapi apa arti 100 pohon kelapa yang sekarat dan sawah yang ditumbuhi tanaman liar ketika semuanya diukur dengan uang. Hasil dari sawah dan pohon-pohon kelapa tidak akan cukup untuk makan 3 kali sehari, apalagi sekolah anak-anak. Tiur, yang menginginkan anaknya bersekolah dan menjadi orang, dengan keinginannya untuk balas dendam ke Usman, bertekad menjadikan hidup mereka sukses dan dia telah melanggar tradisi, menjadi seorang pembantu.

Tiur, wanita desa dari Minagkabau, dimana wanita memiliki posisi tertinggi dalam budaya dan masyarakat karena mereka memiliki hak atas harta keluarga, percaya bahwa hal paling penting saat ini adalah bekerja untuk uang demi anaknya. Tapi pada akhirnya, takdir lebih menentukan daripada mimpi dan harapan. Tiur memiliki empat anak dan dia hanyalah seorang pembantu pada akhirnya anaknya memilih jalan mereka sendiri-sendiri.

Anak tertua, laki-laki, meninggalkan rumah di umur 14, dan Tiur tidak pernah mendengar kabar darinya lagi. Anak ke dua, laki-laki juga, bekerja di pabrik roti. Gajinya hampir tidak cukup untuk kebutuhannya sendiri. Anak ketiga meninggal di umur 8 tahun. Hanya anak bungsu yang tinggal di desa dengan Tiur. Dia mewarisi kemalangan Tiur. Suaminya meninggalkannya dengan dua anak, jadi ia mengikuti langkah Tiur dan menjadi wanita pencuci di komplek perumahan.

Suatu hari, seorang pekerja sosial datang untuk melihat Tiur yang sudah tidak sehat di desanya sendiri. Karena tidak ada yang bisa merawat, anak perempuan Tiur setuju ibunya dibawa ke panti jompo. Dia pikir ibunya pasti akan membaik. Setidaknya, ia akan makan 3 kali sehari. Di rumah, makan 2 kali sehari belum tentu bisa.

"Yur, kau tidur?"   Isah mengagetkan Tiur dari pikirannya.

"Tidak, aku tidak ngantuk."

"Yur, ketika kita masih kecil, kita berfikir kita ini beruntung, benar?"

"Aku tidak tau."

"Kau tau kita melakukannya, Yur. Semiskin apapun kita, kita masih memiliki sesuatu. Setidaknya sawah dan gubuk untuk tinggal. Tapi sekarang kita telah dibuang, Yur."
"Jangan dipikirkan, Sah. Itu semua di masa lalu. Dimana sawah itu sekarang? Bahkan jika kita masih memilikinya, mereka akan menjadi hutan sekarang. Dan gubuk untuk tinggal, apakah kau ingin mati sendirian di sana?"

"Anak kita mengirim kita kesini karena mereka miskin, iyakan, Yur?"

"Jangan menyesali anakmu. Lihat Pasah. Kedua anaknya sukses. Aku dengar yang satu dokter dan satunya lagi seorang dosen. Tapi mereka tetap mengirimnya ke sini. Pasah bilang mereka, anak-anaknya,  tidak suka ada dia yang mencampuri urusan keluarga mereka, ya urusan keluarga anak-anaknya."

"Itu hanya sebuah alasan. Semua ibu ingin anaknya menjadi bahagia. Anak itu hanya tidak mengerti. Jika kita beri mereka nasehat, mereka bilang kita menjengkelkan."

"Yur, aku ingin mati didesa. Aku ingin dikubur di sana. Tapi siapa yang bisa aku beri tau? Padahal jarak desa kita dengan panti ini hanya 3 jam perjalanan.”

"Hentikan itu, Sah. Jangan berbicara yang tidak-tidak. Seperti yang lainnya, ketika kita meninggal, ada kuburan di belakang bangunan ini. Di sana kita akan dikubur."

"Aku telah merasakan hidup di sini selama tiga tahun tapi tidak pernah sekalipun anakku datang untuk melihat. Aku ingin melihat cucu ku sebelum meninggal. Aku ingin mendengar suara mereka. Aku ingin menceritakan tentang masa kecil ayah mereka. Mungkin anakku tidak pernah memberitahu istri dan anaknya bahwa mereka memiliki nenek yang merindukan dan ingin melihat mereka, huh, Yur?"

Tiur tidak merespon. Ucapan Isah menyebabkan rasa sakit yang luar biasa didadanya. Kenapa dia tidak bisa memberi pengetahuan dan harta kepada anaknya? Ketika jam menunjuk angka 3, dingin mulai menembus tulangnya, dan Tiur menutup matanya. Dia ingin tidur. Tiur yakin Isah telah tidur karena ia telah berhenti berbicara.

Dipagi hari, mereka akan melakukan rutinitas biasa. Setelah sholat Subuh, mereka akan olahraga bersama, lalu mendengarkan bacaan Al-Qur'an. Mereka akan sarapan dan kemudian pergi melakukan aktifitas masing-masing. Sekedar berjalan-jalan berkeliling komplek panti, menjadit atau pun menanam bunga di halaman belakang, sambil yang lain diam-diam menatap pusara yang tak jauh dari sana.

Tiur tak mengerti. Pagi itu, Isah tidak bergerak. Dia mengguncangnya, tapi Isah hanya berbaring di sana, di tempat tidurnya yang menyebarkan aroma pesing. Isah dingin, sedingin es. Teriakan panik Tiur membangunkan semua orang. Mereka beramai-ramai ke kamar. Seorang perawat terburu-buru melihat Isah.

"Nek Tiur, Nenek Isah telah pergi...." dan Tiur mengerang. Erangan itu seperti tangisan kesakitan Isah. Menusuk hati semua orang yang ada di sana.

"Kepada siapa harus kuberi tahu tentang kematian mu, Sah? Kita belum melakukan apa-apa untuk meringankan kerinduan yang kau bilang kepada ku semalam. Kenapa kau pergi? Kau tidak pernah memberi tau ku dimana anakmu tinggal Sah. Tidakkah mereka memberimu alamat mereka? Bangun Sah, bangun!" Tiur terus meracau.

"Tenang nek Tiur. Jika anak nenek Isah datang kemari, mereka akan mengetahui ibu mereka telah pergi."

Tiur jatuh terdiam dan merundukkan kepalanya. Haruskah ia mengutuk mereka? Kesendirian dan kerinduan Isah adalah miliknya juga. Lalu semua kepala tua yang tertunduk meninggalkan kamar, meninggalkan perawat untuk mengurus tubuh Isah.
Hari ini akan ada rutinitas lain. Pemakaman yang sederhana dengan pidato yang disampaikan oleh kepala panti. Mereka, satu persatu, penghuni panti akan meletakkan bunga di atas kuburan Isah dengan diam, bersama keheningan sejati, keheningan yang hakiki.***

Cerpen Ini Adalah Pemenang Pertama lomba menulis cerpen Program Bahasa Indonesia Universitas Deakin Melbourne dan Universitas Negeri Padang Pada Tahun 2000.

Catatan: Foto Ilustrasi dari Internet

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ikan Arwana Ditangkar Dalam Hutan Lindung di Pekanbaru

Palung Kesumat