Sebuah Novel: Lelaki 12 Purnama

Oleh: Luzi Diaman

                                                            

 Kau Dari Masa Lalu

Kau datang dari masa lalu, dari 480 purnama, masih putih abu-abu.

Kemudian, ketika 120 purnama lalu kau mencari ku, aku bahkan hampir tak mengingat rasa itu. Karena hidup terus berputar dan hati berotasi.

"Jalan ku berliku dan tak ingin ku bagi. Biar jadi milik ku."  Hanya itu kata ku dan aku pun mengerti  pastinya kau tak sendiri.

Kita berpisah di ujung senja. Lalu bisu dan kembali saling lupa. Purnama ke purnama terus berganti. Aku pun mencoba menautkan hati pada hati lain, tapi tetap saja menuai luka. Aku tetap sendirian memikul segala beban.

Mungkin aku memang tidak diberi tulang rusuk agar bisa dilindungi, dijaga dan dikasihi. Tapi diberi tulang punggung yang kuat, bahu yang kekar, agar bisa merengkuh beban.

Tangis ku telah lama hilang dan aku menjelma kunang-kunang, membuat cahaya untuk jalan ku sendiri. Jangan tanya betapa pahit betapa sakit.

Tiada ada yang menawarkan pelita hanya bara yang menghanguskan jantung. Lalu aku pun berlari membawa hati sambil terus mengajari tujuh naga terbang dan mandiri. Hati ku beku dan rasa ku mati.

Suatu pagi, mungkin 20 purnama lalu, aku merasa kaku, ketika membaca begitu banyak kata duka cita di lini masa mu. Dia, yang kau beri tulang rusuk dan kau jaga dengan sangat baik, pergi, pergi ke rumah abadi. Aku bahkan tak berani sekedar berucap duka. Aku hanya ingat pergi dan lari, bukan mendekati.

"Cinta hanya sekali sesudah itu imitasi, makanya aku terus mencari," kalimat itu mengiang, terucap dari mu, lama sekali, dalam jumpa 120 purnama itu dan saat tulang rusuk itu setia mendampingi mu.

Lalu entah mengapa, kau datang ke kota ku, berkabar dan mengajak sekedar bertemu. Baru saja, belum 2 purnama. Bahkan ketika di depan pintu mall itu kau menunggu, kita hanya sempat berjalan ke tempat parkir, karena teman-teman mu sudah menunggu.

"Sungguh, aku telah berniat tidak akan menghubungimu. Kutimbang-timbang dan terus berjalan di kota mu. Tapi begitulah, terpencet juga nomor mu. Selalu begitu. Kesadaran ku tak ingin menjumpai mu tapi bawah sadar ku menuntun jari untuk menghubungimu." Kalimat mu mengusik kenang masa lalu.

Waktu bergulir begitu saja dan aku juga tidak berpikir tentang kita. Tugas ku masih ada. Itu yang utama. Rantau telah memakan jiwa raga dan hanya ada kata kerja dan kerja. Naga ku masih ada yang belum bisa terbang

Sampai alam mengarahkan ku kembali pada mu. Ke kota mu untuk sebuah rencana kerja, kita malah bertemu. Begitu cepat. Dan tiba-tiba aku menemukan rasa yang dulu.

"Temani aku. Mari menua bersama," lirih suara mu.

"Beri aku waktu 12 purnama. Aku harus menyelesaikan tugas ku. Kau pun harus menyelesaikan tugas mu, terhadap jiwa yang karena kita mereka ada. Jangan buat hati mereka luka," kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut ku.

Semua mengalir. Kau jadi orang paling setia mengantar dari satu tempat ke tempat lain, sampai saatnya tiba, aku harus kembali.

"Aku tunggu 12 purnama itu," tiba-tiba telinga ku menangkap kalimat mu, di ujung senja, saat aku harus kembali ke kota ku.

"Jaga saja hati ku. Selesaikan tugas mu. Aku tidak mau memakan hak piatu, karena aku adalah ibu. Aku juga tak mau kau memakan hak anak ku." aku pun berlalu.

Ketika bus membawa ku pergi aku ingat percakapan konyol kita.

"Jika ada yang ingin merawat hati mu dan jalan berdampingan, apa yang kau mau?" entah mengapa kau bertanya.

"Dia harus mampu mengambil alih beban ku."

"Aku bisa. Apa lagi?"

"Dia harus punya bahu yang kekar untuk bisa ku sandari "

"Bahu ku kekar. Apalagi?"

"Dia harus sejajar dengan ku untuk mendampingi, bukan ikut membebani."

"Aku bisa. Apalagi?"

"Tentunya dia juga harus seperti ku, tak menua secara raga meski sudah menua secara usia."

"Aku tidak terlihat tua kan? Masih sama dengan mu." Dan percakapan konyol itu berakhir dengan tawa lepas kita.

Bus terus melaju dan kali ini aku coba berkata pada hati: jika memang ada pelabuhan yang mendamaikan, kenapa harus lari?

Aku berpikir untuk membiarkan alam bekerja atas restu Illahi. Jika takdirnya adalah jalan ku mengapa harus ragu? Tapi tak perlu terburu-buru. 12 purnama biarlah berlalu. ***

 ----------------------------- 

Menua Berdua di Kaki Merapi

"Tubuh ku tak tahan panas, tapi juga alergi  dingin dan debu, kerap kali bergantung pada obat. Karena itu aku ingin menua di kaki Merapi, udaranya sejuk sepanjang hari," bicara di samping mu aku hanya berkesah pada diri.

Kulihat tatap mu tak mengerti. Sejenak mengerling lalu fokus kembali pada setir mobil, membunyikan musik dan diam, menatap lurus ke jalan.

"Sebuah pondok dari bambu pun jadi, tapi dengan halaman penuh batang mangga, matoa, cempedak hingga rambutan. Halaman samping ada kolam ikan dan halaman belakang kandang ayam serta angsa putih yang berlarian. Indah bukan?"

Kau mengangguk. Ah, selalu begitu, sejak dulu, sejak putih abu-abu, aku adalah pengendali kisah.

"Bisakah kau mewujudkan mimpi ku?"

"Bisa sayang..." hanya itu ucap mu.

Sejenak bisu dan aku melihat kemewahan dalam kesederhanaan mimpi itu. Mimpi yang lama terpendam dan tak yakin kulaksanakan. Sampai kau menemukan aku dan aku tersesat ke tempat mu, sangat dekat dengan kaki Merapi. Rumah mu dengan dua gadis cantik sebagai penghuni.

Takdir atau jalan mimpi kah yang menuntun? Kenapa rumah mu di sini, dekat kaki Merapi? Berpuluh tahun mimpi itu ku simpan dalam sanubari. Tiba-tiba saja hadir mu membawa ku ke sini. Merapi bercahaya, pantulan mentari senja mempesonakannya. Sejuk udara, sungguh, aku suka. Pelan, aku hirup aroma rumput dan ilalang, dari semak di kiri kanan jalan, berliku, menakjubkan mata.

"Mengapa harus 12 Purnama?" Tiba-tiba telinga ku menangkap sayup kalimat itu. Kau masih fokus pada stir mobil dan jalan meliuk berliku. Sedikit salah, jurang menunggu.

"Kau belum mengerti aku," dalam satu helaan, nafas ku sembur ke arah jalanan.

Dalam diam aku mengingat-ingat, dulu ini juga jalan ku. Berkelana ke puncak Merapi sambil membaca puisi dengan laki-laki yang kemudian mematahkan hati. Cinta yang kuberi utuh dibalas pengkhianatan. Sejak itu aku melupakan Merapi. Tetapi kenapa saat ini aku kembali ke sini?

"Aku adalah pemilik sah hidup ku. Terbiasa menjadi hero membuat ku begitu ego. Jika aku telah memutuskan tiada yang bisa menghalangi. Rambu-rambu ku hanya Tuhan. Jika yang ku putuskan tidak melanggar laranganNya, aku tetap berjalan lurus ke depan, ke keputusan yang dibuat hati ku," aku terus berucap dan mulai memperlihatkan asliku, tidak tunduk, bahkan juga pada cinta.

"Sayang ku tak pernah habis, Sejak dulu. Cinta yang kupendamkan kini dihadapan. Kenapa harus ragu?" kau bertutur, seperti angin, mendesis di telinga ku.

"Hidup kita berbeda. Kau terikat pada banyak hal untuk sebuah keputusan. Terikat pada apa kata mereka. Itu akan jadi renjana."

"Akan ku wujudkan rumah di kaki Merapi itu. Tangan ku masih kuat untuk meneruka tanah. Kaki ku masih tegap untuk mengejar angsa. Aku pun tak peduli apa kata mereka, jika itu yang kau suka." Kalimat mu mengalir begitu saja dari bibirmu.

Kita kembali tertawa dan aku menatap Merapi dengan begitu bahagia. Melihat rona cinta berpendaran di sana. Melihat kau tersenyum aku ngakak sekuatnya, lepas.

"Pecahlah sudah," kata ku.

"Siapa yang peduli? Siapa yang bisa menghalangi? Aku hanya ingin kau mengerti betapa cinta ini terus tumbuh, melebihi masa lalu. Sekarang pun aku sanggup menghalalkan mu.'

"Aku tak mau melukai hati anak-anak mu dan hati anak-anak ku. Tunggulah 12 purnama itu, untuk mereka menyiapkan hati, sambil pelan tapi pasti memberi kabar, akan ada hati lain dalam hidup mereka."

"Tak ada kulupakan tentang masa lalu. Aku ingat sedetilnya kisah kita, sebelum kau pergi meninggalkan ku. Saat waktunya tiba dan aku sudah mandiri untuk meminang mu, kau sudah milik orang lain. Aku luka tapi aku diam, karena cinta hanya ingin melihat mu bahagia."

"Kau tau kenapa aku pergi?" Kulihat gelengan kepala mu.

"Tak usah ingat kisah lalu. Kini tetaplah bersama ku. Jangan pergi lagi. Mari menua berdua di kaki Merapi. Aku wujudkan mimpi mu, perempuan  kecintaan ku," dan aku menatap mu, sejenak.

"Kau membuat ku bahagia. Membuat tawa merekah lagi. Tapi tetap, harus 12 purnama menanti."

"Selama itu?"

"Mana yang lebih lama dari 480 purnama?'

"Sayang, kau selalu punya jawab.

"Karena aku bukan perempuan biasa."

"Karena itu aku makin cinta."

"Eh iya, jika muka ku telah berkerut sesuai usia ku, kalau pinggang ku sudah sakit-sakit karena usia ku atau rambut ku memutih sesuai usia ku, apa kau masih mau?"

"Ah, kau selalu aneh-aneh. Tapi aku suka itu, perempuan ku."***

----------------------------------- 

Kembalinya Jiwa

Embun mulai turun, menggigilkan raga, di kota mu yang basah dan nyaman. Aku menghirup ke jiwa, aroma damai, sedamai rasa yang tetiba terlindungi. Ku melirik sejenak ke samping, ke sosok mu yang kokoh, berdada bidang dan bahu kekar.

Tiba-tiba aku terkejut dan reflek menarik tangan, kala jari jemari mu yang kuat menggenggam erat jemari ku, saat hendak menyebrang jalan, menuju tempat menjual soto Padang.

"Kenapa? Biarkan aku membimbing mu, mulai hari ini dan selamanya," kau menatap ku yang tertegun, tertegak di pinggir jalan.

"Gak terbiasa, aku adalah pembimbing bukan dibimbing, sampai saat ini masih begitu dalam jiwa," aku menunduk, sebelum kau sadar bahwa mata ku basah.

"Kau perempuan, mulailah seperti perempuan ku, dalam lindungan dan penjagaan ku. Jiwa ku mencintai mu, dari dulu, meski raga sempat berpuluh tahun, dengan perempuan ku juga. Semua karena takdir," tutur mu melenakan ku.

Tanpa sadar dalam jiwa aku mendendangkan reffren lagunya Reza Artamevia:

"Cinta ‘kan membawamu,
kembali disini, menuai rindu, membasuh perih
Bawa serta dirimu,
dirimu yang dulu, mencintaiku, apa adanya."

"Ayo, menyebrang, itu di depan ada soto Padang. Udah malam, kamu dari siang tadi belum makan," dan tangan mu kembali meraih jemariku, menuntun ke seberang jalan. Tiba-tiba aku merasa nyaman dan tak menolaknya.

"Andailah bisa, andai kau mau, besok ku halalkan diri mu," kata mu saat kita baru saja duduk di kursi restoran soto Padang, berhadapan.

"Jangan, tetap harus menunggu 12 purnama, sabar itu baik," dan aku nyengir, lalu tersenyum lebar.

"Kamu tetap cantik, seperti dulu. Senyum mu tak pernah membuat bosan," aku sedang menyuap soto dan reflek menatap mu, kalimat itu, betapa indahnya.

"Kau tau kenapa aku suka tertawa dan bukan sekedar senyum? Karena aku suka lesung Pipit ku sendiri. Aku suka gigi ku yang rapi," dan aku ngakak, lalu tersedak, soto itu memerihkan tenggorokan.

Kau cemas dan menepuk nepuk punggung ku agar tersedaknya hilang. Menatap mu dengan mata yang berair oleh perih cabe di kerongkongan, aku menemukan tidak ada ragu di mata mu, seperti dulu, saat putih abu-abu.

"Jiwa ku kembali," dan kau menatap ku nanap, aku terkesiap. Melengos, minum air hangat di gelas, agar kerongkongan ku nyaman, agar degup jantung ku kembali normal.

"Aku selalu berpikir, kau masih milik orang lain. Sejak ibu anak-anak meninggal, aku serasa kehilangan harap. Tiba-tiba ditinggal tulang rusuk ku, aku ngamang. Setelah waktu berlalu, aku kembali memikirkan mu, sama seperti 480 purnama lalu. Jiwa ku perih, merasa tak mungkin meraih mu," kau terus bicara sambil memutar-mutar sendok di mangkok soto.

"Hhmmm..." hanya itu jawab ku.

"Sayang, aku bahagia, kembalinya jiwa ku, kamu, membuat hati ku riang. Mungkin takdir ku adalah jalan mu. Jangan pergi lagi dari ku. 12 purnama seperti mau mu akan kutunggu. Berjanjilah, setelah kembali ke kota mu kau tidak melupakan ku," dan tangan mu kembali meraih jemari ku di ujung ucap. Aku menariknya. Malu.

"Jawab dulu, baru ku lepas," kau makin mengeratkan pegangan itu.

"Ya..ya, aku janji, aku juga menanti 12 purnama lagi," dan pelan, genggaman kau lepas. Aku menatap sekeliling, untung restoran ini sudah lengang, karena sudah makin larut cahaya malam.

"Cepat makan, perjalanan masih jauh, kau harus mengantar ku. Masih 2 jam lagi. Tapi maaf, nanti kau kembali ke sini sendiri," ucapku saat menyelesaikan suap terakhir.

"Untuk mu apa yang aku tak bisa," senyum mu melenakan bersama ucap itu. Aku tiba-tiba serasa menjelma gadis remaja, seperti kala kau menyatakan cinta, di bawah pohon kenanga, sudah 480 purnama.

"Kau tau kenapa aku pergi? Karena diri mu, untuk menyelamatkan mu dari teror keluarga ku, karena mereka menganggap kamu menganggu hidup ku, mereka menganggap kau tak sepadan dengan ku. Aku pergi demi cinta itu," aku menunduk, mengenang kenang, harta dan kasta yang mengekang.

"Banyak yang tak kuceritakan. Tak mau melukai mu. Perih itu biar untuk ku. Tapi kau pergi itulah yang terperih. Setengah aku serasa mati," dan percakapan mulai ke masa lalu, ke zaman putih abu-abu, kalau usia masih 17 tahun.

"Udah ah, nanti ceritanya, ayok berangkat cinto," dan kau pun ikut berdiri, saat aku tegak untuk melupakan percakapan itu.**

-------------------

Kau dan Jejak Itu

Aku berjalan di pasir yang bersih, membiarkan kaki merasai nikmat karunia alam. Sesekali ombak memecah dan buihnya mengejar, membasahi ujung jeans, pakaian kebesaran ku. Kau kerap tertinggal di belakang dan aku tak menangkap suara mu.

Aku sedang menikmati hawa dunia. Debur ombak, semilir angin, biru langit dan jejak ambai-ambai sepanjang pantai. Luapan suka cita membayangi wajah, seperti kata mu. Padahal belum tidur nyenyak, setelah semalam kau antar, dari kota mu. Pagi ini kau sudah di sini, membawai aku aroma cinta dari dulu.

"Aku tak pernah puas memandang wajah mu, memandang senyum mu," dan langkah ku terhenti, oleh kata itu. Seperti angin yang mendesirkan cemara, kata mu mendesirkan jiwa.

"Hhmmm... Jangan merayu," dan aku kembali menikmati pasir itu.

"Sungguh. Kau tak pernah berobah. Menghadaplah ke sini agar ku bisa mengabadikan indah wajah mu," dan aku memalingkan wajah, merelakan senyum dilumat kamera mu.

"Kau menarik hidup ku kembali. Aku selalu tertawa sejak kau jemput di rumah masa lalu itu. Aku senja tapi tidak peduli senja. Biarkan kisah mengatur semuanya," aku berlalu.

Aku menatap jejak kecil melingkar indah di bawah kaki, berbentuk lingkaran dan amat rapi. Binatang kecil yang dinamai ambai-ambai di kampung ku itu, melukis dengan seksama, entah bagaimana caranya. Aku terkesima.

Buih ombak memecah dan menyapu jejak itu, lukisan alam itu. Aku tergugu. Kenapa takdir kadang terlihat kejam sekali? Ambai-ambai itu ikut tersapu. Aku perih. Aku pedih. Ingat jalan ku. Betapa banyak gelombang telah menghantamnya?

Tiba-tiba binatang kecil itu muncul kembali, membuat jejak lagi. Dia tak peduli badannya yang ringkih, pipih dan letih. Dia terus mengukir pasir. Aku tersedak oleh isak. Merunduk dan menatap lubang kecil, dimana ambai-smbai itu menghilang. Aroma laut menampar hidung, segar dan sedikit amis. Sedetik, ku hapus air yang jatuh di sudut mata. Kau tak boleh melihatnya.

"Kok diam?" suara mu sudah di sisi ku dan kau pun ikut menatap ke pasir, ke jejak indah itu. Tapi kita pastilah memandangnya dengan berbeda.

Aku membatin, jalan ku pun seperti diri mu, wahai binatang pantai yang cantik. Sekuat gelombang menerjang sekuat itu kita kembali pulang, menyusun kekuatan dan jadi pemenang. Kita tak pernah patah, tak pernah menyerah.

"Sayang, kok diam?" Kau kembali mengulang tanya.

"Apa yang kau ingin dari ku?" entah mengapa, kata itu meluncur saja dari mulut ku.

"Menghalalkan mu, melindungi, menjaga dan mengasihi mu. Menikmati senja bersama, berumah di kaki Merapi seperti yang kau suka. Berlarian sepanjang pantai atau ladang, memberi makan itik dan ayam, dengan tetap menjaga buah hati yang satu per satu mendewasa. Jangan pergi lagi. Tinggallah bersama ku," dan aku nanap menatap wajah mu, wajah yang ku sia-siakan dulu, merasakan cinta mu, cinta yang kuabaikan dulu.

"Tetap harus menunggu 12 purnama," dan aku merasai letih dalam suara ku.

"Mengapa harus selama itu?"

"Karena kita telah senja, jangan sampai ada lagi luka. Jika alam memberi restu, kau adalah tempat ku berhenti, tempat ku melukis senja dengan indah, tempat mimpi ku berlabuh. Dan itu harus sempurna. 12 purnama cukup untuk mengeja hati. Apakah kita setia pada janji," dan aku melangkah lagi.

"Aku akan menunggu, akan menjaga hati, jangan ragu. Berjanjilah tidak lagi lari," sendunya suara mu

"Yeiiii... ," dan aku pun datang usil, tak menjawab hanya menjauh dan berlari.

"Cinto, jangan kejar, tunggu aku saja, di sana. Jika aku berbalik, itu artinya oke 12 purnama," dan aku pun mengejar ambai-ambai, tapi tak pernah dapat.

Senja lama lagi dan aku tak akan menanti sunset mulai turun. Akhirnya, naluri membawa ku berbalik dan berlari kepada mu.

"Mungkin takdir mu adalah jalan ku. Aku kembali dan siap menanti, 12 purnama lagi," kau tertawa, indah sekali.

"Anak-anak ku lebih siap dari anak-anak mu, karena mereka terbiasa hanya dengan ibu. Aku mengajari lebih terbuka, mandiri dan tak berbasa basi. Anak-anak mu terbiasa dalam lindungan kasih sayang lengkap, punya ayah ibu dengan peran yang sempurna. Ayahnya pencari nafkah dan ibunya pengurus yang luar biasa. Mereka akan lebih mudah terluka. Mereka yang harus kau siapkan selama 12 purnama itu, bukan aku," seperti bergumam aku terus bicara.

"Iya, kamu benar," kata mu.

Aku melihat ke jiwa ku yang terluka tentu lebih terluka lagi jiwa anak-anak ku. Bagaimana aku merasa telah menempuh jalan yang salah, karena aku tak sabar menerima luka. Tapi untuk apa dalam ikatan jika terus ada dusta, ada luka dan aku harus menyiapkan punggung untuk membawa beban, bukan hanya anak-anak, tapi juga dia yang sudah menyayat hati ku terus menerus?

Telah ku cabut rasa dan ku pilih jalan, pergi jauh dari kampung halaman, melupakan semuanya, menjalani liku ini sendirian. Rantau adalah pelabuhan dan aku menjelma kunang-kunang, membuat cahaya dari sayap sendiri, agar malam tetap bisa dilalui dengan terang.

"Kau harus paham, tidak ada perempuan yang mau sendirian. Alam kita, negeri kita, telah menghukumnya. Kata janda amat menakutkan. Lalu banyak perempuan bertahan, meski jiwa raganya hancur dalam pernikahan. Aku tidak peduli dan memilih jalan ku dengan sadar. Bahkan jika dalam 12 purnama ini ada yang mengusik tenang ku dan merendahkan karena kata janda itu, aku pun akan pergi dari mu. Janda bukan dosa. Hanya hidup saja yang tidak berpihak padanya," aku mulai meracau.

"Kok jadi serius? Aku mengenal mu bukan hari ini, sudah lama sekali. Kau perempuan hebat, kuat. Dan aku tidak akan mengusik sedikit pun yang telah lalu," kurasai bijak kata mu.

"Kau indah...," dan kembali ku tertawai waktu.

"Kau cahaya. Aku hanya bisa menyodorkan pelita, sementara kau  kemilau itu. Tapi aku janji, pelita ini ku jaga dan tiada kan padam. Setialah pada ku," kau menatap ku lekat. Aku merasakan aliran darah ku memompa kencang.

"Bisakah ku rengkuh, utuh, seluruh, janji mu?"

"Jiwa, kau jiwa ku, bagaimana aku bisa melepaskan mu lagi? Aku hanya berdoa waktu ku cukup untuk bisa menanti mu, merasai bahagia jadi pelindung mu. Aku mencintai mu dan kini rasa itu lebih kuat," tutur mu membuai hati ku.

"Aku juga akan menunggu, aku ingin merasakan sesaat jadi perempuan utuh, jadi tulang rusuk yang dijaga dan dilindungi. Sesungguhnya, aku juga letih," dan aku membiarkan tamparan ombak membasahi badan, agar air mata ku lumat.

Tiba-tiba aku berobah cengeng. "Cintailah aku, jangan pernah pergi lagi," tapi hanya dalam hati saja ku berkata.**

---------------------------- 

Kembali Hero, Menyentak Rindu ke Ngilu

Menembus hujan, aku membiarkan airnya memerihkan muka, terbawa angin Mio yang melaju 60 Km/jam. Sengaja tak memasang kaca helm, agar perih itu bisa kunikmati. Perih raga, tak seberapa. Membiarkan kuyup menjadi teman. Hanya laptop, tempat mencari makan, yang ku lindungi dengan sempurna. Tegap di punggung dalam balutan plastik ransel dongker yang kokoh.

Mio tua ini, sudah lebih 10 tahun menemani dan dia tidak bandel, meski bodynya berantakan, karena beberapa kali bertabrakan. Bahkan kini, tangan kanan ku tak bisa sempurna, karena ada tulangnya yang retak, ketika sebuah mobil jazz putih menyambar Mio, 7 tahun lalu. Kami terpelanting berlawanan arah. Body Mio ku hancur dan tangan ku patah. Kami pun sama-sama di rehab, Mio di bengkel aku di rumah sakit, tapi fisik kami tak lagi sempurna, seperti dulu.

"Buah hati ku, belahan jiwa..." aku berdendang bersama hujan bersama kelam. Dendang kesukaan.

Sekejap melintas rindu, hanya sekejap saja, seperti sekelebat air yang menerpa tubuh, dari truk yang seenaknya berjalan kencang. Rindu tentang janji 12 purnama. Tentang kamu.

Kembali ke kota ku adalah kembali ke Hero. Belum tuntas, belum tunai, tugas. Tiga naga masih belum terbang sempurna. Meski satu naga diantaranya sudah terbang tinggi tapi dia masih sendiri. Aku masih harus melindungi.

"Bagaimana bisa harus 12 purnama? Kenapa tidak berbagi beban dengan ku, sekarang saja, sebelum purnama terus berlalu?" Percakapan ringan sebelum bus membawa ku pergi, dari kota mu.

Aku pun menghitung-hitung angka. Karena harus begitu. Sejak dulu. Meski dalam hati saja. Sanggupkah diri mu? Naga-naga ku, masih butuh banyak angka. Aku tak mau merampas angka yang menjadi hak anak mu. Kau, seperti aku, bukan pengusaha.

"Selamat jalan. Hati-hati. Berjanjilah setia sampai 12 purnama," kau melepas ku dan aku masih menggenggam rindu. Tawa ku masih merekah. Aku tiba-tiba menjadi perempuan, menanti pangeran membawanya pergi. Indahnya khayali.

"Ya, aku janji. Kau juga," dan aku menutup jendela bus, agar kau tak bisa menatap dan bicara lagi. Di kota mu yang basah, kita berpisah.

"Brakk....," Mio ku masuk lobang, tak terlihat oleh genangan air, memutus tentang mu, tentang rindu. Hujan mulai reda, tapi dimana-mana air. Inilah kota ku kota banjir, Kota Pekanbaru. Tapi kota ini juga kucintai, karena telah memberikan hidup dan kehidupan.

Tiba-tiba, di atas fly over, 5 kilometer menjelang rumah, Mio ku jalan berjoget, stangnya mulai mengatur ku bukan stang yang ku atur. Aku terkesiap, lobang tadi pastinya membocorkan ban Mio terkasih ini. Membiarkannya menuruni fly over, sebelum menepi dan menatap nanap. Benar. Bannya telah kempes.

Ini kota keras tiada kan ada yang menepi, sekedar membantu menolak hingga bertemu tempel ban. Kota yang nyeri, masing-masing ditelan kehidupan sendiri. Perempuan yang berdiri sendiri dalam hujan kadang malah menakutkan. Kerap begal melakukan hal yang sama, untuk pancingan. Orang-orang berlalu, dengan kencang.

"Tuhan, aku takut begal, ini gulita dan hujan. Izinkan aku menyelesaikan tugas. Biar letih biar lelah, selamatkan aku sampai ke rumah, bertemu gadis-gadis ku," aku membatin dan membiarkan air mata bercampur hujan. Hak ku untuk menangis. Di kota ini sekarang, banyak sekali begal. Ekonomi yang sulit karena Covid menyuburkan tumbuhnya begal.

Sebagai wartawan, setiap hari aku mengupdate berita, tentang begal. Perempuan-perempuan yang jadi korban. Bukan hanya harta, nyawa juga taruhannya. Tadi sore pun aku masih mengedit berita, seorang mahasiswi kehilangan nyawa karena begal dengan kejam menarik tas dan menendang motornya. Gadis itu berdarah-darah, dengan kepala pecah.

"Buah hati ku belahan jiwa..." aku kembali berdendang lirih, mencari kekuatan badan, menghilangkan rasa takut, sambil mendorong Mio kecintaan. Dendang yang terus menjadi teman, saat perih, saat sedih. Pekerjaan memang menyebabkan aku kerap pulang malam.

Bahu kanan yang pernah patah mulai sakit. Laptop ini terasa makin berat. Mendorong Mio dengan pelan, aku sejenak lupa janji 12 purnama. Aku hanya ingat pulang. Hero itu, menuntun Mio malam-malam, menyentakkan rindu jadi ngilu.

Mengejar mimpinya, mengejar harapannya, agar para naga mandiri sempurna dan hidup lebih baik dari dirinya, Hero itu melupakan patah. Melupakan rindu yang baru saja singgah.

Duduk jongkok di depan tambal ban, asam lambung pun naik. Rumah, betapa indah. Dan tak bisa ditahan. Di riol pinggir jalan, aku muntahan semua. Perih, pedih, ulu jantung dan tenggorokan. Aku bukan Hero, hanya perempuan yang letih, tersapih dari kehidupan yang harusnya dimiliki.

Aku membiarkan isak, membiarkan tangis, hujan akan menutupnya, tukang tambal itu tiada kan melihat. Tiba-tiba lelah, lelah sekali dan kaki kanan ku serasa kram. Mungkin dingin hujan penyebabnya. Melirik jam, pukul 23.30 WIB. Sebentar lagi hari berganti.

"Udah Bu," remaja tanggung, tukang tambal ban itu, kulihat menggigil, berdiri di antara Mio ku dan becaknya, tempat kompresor terletak. Dia hanya tukang tambal jalanan, tanpa atap tanpa tempat.

"Berapa?"

"Rp 15 ribu."

Aku pun memberi Rp 25 ribu. Aku ingat anak ku.

"Banyak sekali Bu."

"Tak apa. Belilah teh hangat di kedai depan itu. Nanti masuk angin, kamu bisa sakit."

"Iya Bu." Dan dia menundukkan badan, dalam, tanda berterima kasih. Aku lupa letih. Harusnya anak ini di kehangatan rumah, bukan di pinggir jalan ini. Usianya mungkin belum cukup 15 tahun.

"Terima kasih Tuhan, kau beri aku kekuatan dan anak-anak ku lebih baik nasibnya dari remaja tukang tambal ban ini," aku berteriak, keras, bersama suara Mio yang melaju kencang.

"Hai jiwa, apa masih yakin dengan janji 12 purnama?" Aku hanya ingat ngilu bukan rindu.**

---------- ---------

Tangis Mu, Akan kah Memperpendek 12 Purnama Itu

Pagi yang terik di kota ku. Siang nanti tentunya matahari akan garang. Tragedi Mio pecah ban dan asam lambung  semalam masih menggigilkan raga. Aku malas bangkit dari tempat tidur. Ini hari tak terlalu sibuk. Minggu. Usai subuh aku membukai tirai jendela, agar mata bebas memandang ke jalan raya, persis di depan rumah.

Pemandangan yang suka membuat ku tertawa, selalu, setiap akhir pekan. Pasangan-pasangan menuju senja, mungkin seperti aku, dalam balutan training olah raga, berjalan pelan, beriringan. Dari kamar tentu amat jelas. Tapi kaca film di jendela ini tidak akan mampu menembus pandangan dari luar, untuk melihat ku.

Pagi ini pun begitu. Aku menghitung. 1, 2, 3 ... dan terus, sudah 7. Ada yang ku kenal, karena warga komplek yang sama. Sesekali pasangan itu saling pandang, lalu tertawa bersama. Di belakangnya, pasangan lebih muda, saling berpegangan erat. Aku tertawa kecil. Entah apa maknanya. Sudah Beratus purnama aku melupakan hal yang sama.

"Sayang, mengapa harus 12 purnama? Semalam hati ku terguncang, kau, perempuan ku memang kuat. Tapi mengapa harus lari dari bahu ku yang siap kau sandari? Tangis mu semalam kutangkao meski hanya dari balik android. Cerita tentang Mio itu menusuk jantung ku. Jangan tunggu 12 purnama untuk kau mau menjadi  tulang rusuk ku," pesan whatsapp mu mengusik asyik ku.

Aku terjeda dari igau jiwa, membolak balik pesan-pesan kita. Tentang cinta yang tertunda, tentang pokok cempaka hingga jalan kereta. Tentang tragedi, tangis dan air mata. Tetiba aku hampa. Aku, perempuan yang merdeka, menapaki jalan terbiasa suka-suka, apakah bisa kembali berdua?

Aku ingat tentang membuatkan kopi pagi, memasak dan mencuci lalu mengantar si lelaki ke pintu depan saat hendak berangkat kerja. Mencium tangannya kala pulang dan memikirkan, apa hidangan yang terenak untuk makan malam. Aku tertawa sendiri. Itu biasa saja, peran istri, suatu kali teman ku pernah berkata. Aku? Rasanya sudah sangat lupa.

"Mari berbagi beban. Aku hanya ingin melihat tawa bahagia mu. Kau tulus bukan, mau bersama ku? Katakan, apa ragu mu," pesan itu terus sambung bersambung.

"Ini terlalu cepat. Persiapkan pelan-pelan agar tak ada yang terluka. Datanglah, ziarahi dulu makam ibu anak-anak mu. Bicara dengan dia, meski hanya nisan semata, tapi ruhnya akan mendengar mu. Minta izin kau alihkan cinta. Minta izin anak-anak akan ada yang ikut menjaga. Minta izin bahwa hati mu tetap ada untuknya, meski ada cinta lain yang akan mengisinya. Kau yang harus mempersiapkan diri, bukan aku," pesan mu pun berbalas.

Setelah terkirim aku tergugu. Isi pesan ku, mengurai rindu. Satu satu, nyaris buhulnya ungkai. Terbiasa berpikir untuk kebahagiaan para naga, terbiasa memberi perintah karena dalam karir aku kepala, aku seperti membaca perintah, untuk mu, dalam pesan ku. Kenapa tidak bicara aku, jiwa ku dan lelah ku?

"Aku terbiasa luka, tak lagi sakit oleh luka. Anak ku makanannya luka tak perlu kukuatkan hatinya karena telah baja," aku terus saja mengetik pesan, meski hati bilang jangan.

Lama terjeda dan aku kembali menatap ke jalan raya. Daun matoa berserakan, ini musim gugurnya. Masih pukul 7.00 WIB dan pasangan yang tadi kembali muncul, dari arah yang terbalik. Mungkin hendak pulang. Aku mengumpati hati sendiri, kenapa tak iri? Kenapa tak bermimpi? Seperti pemandangan pagi ini?

"Ma, WiFi mati, ada kuliah online pagi ini," telinga ku menangkap suara bungsu, dari kamar tengah.

"Ma, token udah bunyi. Makan kucing dan ikan habis," suara kakaknya dari kamar depan.

"Ya....," dan aku bergegas turun. Menyambar jilbab dan kunci Mio dari atas meja kerja.

Aku adalah ibu yang terlalu protektif. Entahlah. Banyak kejadian mengerikan tentang kekerasan seksual, perkosaan hingga begal payudara setiap hari ku edit, berita dari wartawan pos kriminal. Dari dulu-dulu selalu begitu. Aku pun melindungi gadis ku, dengan membiarkan diri mengurus seluruh keperluan mereka, yang akan berhubungan dengan keluar rumah.

Aku juga mengantar jemput mereka, bahkan hingga bangku kuliah. Aku melakukan dengan bahagia, semuanya. Aku merasakan, jauh di lubuk hati mereka ada yang kosong. Mereka tetap rindu sosok ayah. Aku tak mau mereka goyah. Biar aku saja yang payah.

Tiba-tiba android ku berbunyi nyaring. Kulirik, nama mu muncul di sana. Terus menuju teras depan, aku mengangkatnya. Kau video call.

Tuhan, apa ini? Jantungku tiba-tiba memompa cepat, tak tau arah. Di sana, dalam android ku, kau duduk di balik stir mobil mu, memegang tisu dan terisak-isak. Aku ternganga, membiarkan waktu, tanpa mampu berkata sepatah pun jua. Beberapa detik berlalu.

"Maafkan aku, terlalu cengeng sebagai lelaki. Tapi aku tak bisa menahan hati. Aku semalam sebenarnya sudah dari makam almarhumah istri," kau bicara dengan airmata yang kulihat jelas.

"Oh...," hanya itu jawab ku. Tiba-tiba merasa bersalah, kenapa tadi aku bicara begitu? Kenapa tadi aku minta dia ke sana? Ternyata dia sudah melakukannya. Bicara ku tentu mengiris hatinya.

"Kamu tidak salah, itu harus dilakukannya," kata hati ku yang lain. Detik-detik terus berlalu dan kau masih dalam tangis mu. Duduk di jok Mio aku membeku.

"Aku katakan pada nisannya, 25 tahun perkawinan dengan mu aku setia. Meski ada sudut hati yang tetap terisi perempuan lain, hanya dalam hati saja. Aku menjaga mu, anak-anak, dengan segala tanggungjawab. Tak pernah aku melukai, mengkhianati. Kini, kau telah di rumah abadi, izinkan aku memberikan rusuk ini pada pengganti, pada perempuan lain, dari masa lalu ku. Maafkan, dulu, aku tak berani bercerita tentang dia," kau bicara, pelan, sesekali dengan isak.

"Menangis lah jika itu membuat mu lega," ah, ku kutuki kembali diri. Masih saja aku berpikir tentang orang lain, bukan hati ku. Tak ada cemburu atau rasa terabaikan.

"Aku menangis ingat anak-anak yang telah kehilangan ibu. Aku menangis, ingat diri mu. Mungkinkah takdir ku akan jadi jalan mu? Sambut lah tangan ku, kita beriringan menuju senja. Jangan tunggu 12 purnama," kau berucap, mulai tenang.

"Tetap harus 12 purnama," jawab ku, memperlihatkan keras kepala.

"Kau mengenal ku sudah sangat lama, Beratus purnama, apa yang masih meragukan hati mu? Sejak aku menjadi duda karena ditinggal mati, belum ada perempuan lain yang ku lirik sebagai pengganti. Dalam hati, hanya kamu," kau terus bicara.

"Aku tak percaya kau sanggup menanggung beban ku," begitu saja kalimat itu meluncur. Aku tepuk mulut ku. Ah, kenapa berucap yang akan melukai mu?

Kau tertegun, nanap menatap ku, dari android itu. Aku melihat nafas mu mengencang dan buku tangan mu menonjol, kau menggenggam stir itu dengan kuat, mungkin hati mu tertusuk ucap ku.

"Sayang, aku memang tidak kaya. Soal tanggungjawab bukan hanya soal uang tapi soal hati. Sebentar lagi aku juga masuk masa pensiun. Seperti kata mu, mungkin kita bisa buka gerai kuliner atau bertanam strawbery. Beternak ayam hingga itik, agar dua rumah terbiayai. Istirahatlah dari pulang malam mu. Tubuh mu makin menua, saatnya jeda. Percayalah pada janji ku, atas nama cinta," tutur mu membuat ku kepala ku mengangguk angguk saja.

"Hhmmm...,' mulut ku hanya mendehem.

"Aku bahagia sekali ketika dalam jumpa semalam kau sandari bahu ku dengan kepala mu. Perempuan ini, yang amat kuat, kini ada di bahu ku. Sayang, ayo, menua bersama. Mari berumah di kaki Merapi," tangis mu sudah hilang.

"Entahlah, aku terbiasa sunyi. Aku terbiasa senyap. Aku adalah kupu-kupu yang telah bermetamorfosa naga. Tak pernah merasa rapuh. Tetaplah tunggu 12 purnama, agar naga itu pelan tapi pasti kembali kupu-kupu, agar kekuatannya tak membuatnya angkuh dan menolak semua uluran cinta. Kau dari masa lalu, makanya sedikit demi sedikit aku kembali membuka hati. Tapi itu pun belum pasti. Sudah ah, aku mau beli paket data," tutur ku.

"Kau misteri, selalu misteri. Aku menanti dengan segala cinta. Hati-hati, jaga sehat agar 12 purnama lagi kita bersama," kau menatap ku, lekat.

"Kau tetap mempesona, padahal belum mandi," canda mu.

"Hahaha...udah, aku pergi," aku pun mematikan HP sambil menghidupkan Mio kecintaan. **

----------

Kau Jemput ke Rumah yang Membuat Patah

Janji 12 purnama terucap ketika darah hati yang mulai kering, menetes lagi. Luka yang terlupa, muncul lagi, lebih sakit. Serasa mengelupasi kulit ari, dari ujung kaki, terus melalui nadi, hingga jantung hati. Ambruk, aku terpuruk. Aku remuk.

Menarik koper merah cantik, ransel biru di punggung, aku memasuki halaman itu, halaman yang pelan kugerus dari ingat. Ini dulu tempat menjemur padi. Rumah tua yang kusam. Dulu terindah dari sekitar. Rumah papan yang asri, merona kasih, kini hening, kering dan beberapa catnya sudah tiada. Lebih 200 purnama lalu aku turun dari rumah ini, rumah dekat kaki merapi, berderai air mata dan lelaki yang telah merebut seluruh hati ku itu hanya diam, tidak berkata apa-apa, tidak berucap maaf, tidak mengejar.

Aku patah. Perempuan yang kalah. Pengorbanan, kerja keras dan penjagaan untuk sebuah keutuhan, berderai, menikam jiwa, merenggut dalam sekejap semua mimpi. Aku berjalan lurus, tidak lagi melihat ke belakang, ke pintu dimana lelaki itu tegak. Aku membiarkan tangis dan Isak, sepanjang perjalan, dalam gigil, di lepas subuh, di kota yang serasa membuat ku mati.

Dari rumah itu, aku berjalan, membiarkan kaki perih, menuju terminal, mungkin 3 kilometer lebih. Perempuan cantik, menangis di jalanan dalam sinar matahari yang baru akan naik, betapa banyak yang menatap aneh. Punggungnya menggendong ransel cukup berat. Tanpa jaket di embun yang mengaburkan pandang.

Kala itu, di akhir pekan dan lengang. Sebuah kejutan yang ingin ku hadiahi karena kerinduan, membawa ku ke sini, dari kota dimana rezeki kucari, juga untuk lelaki ini, bukan cuma buah hati kami. Datang subuh, diam-diam memasuki kamarnya, karena aku punya kunci sendiri,  sungguh, aku hanya ingin memeluk tubuhnya yang terlelap. Tiba-tiba, saat azan dari mesjid memenuhi desa, bunyi SMS masuk dari HP di atas lemari. Naluri ku menuntun tangan mengambilnya.

"Ud, aku udah di Jakarta. Ini udah di hotel. Bangun, ayo bangun....," bunyi SMS itu. Aku terkesiap, nanap.

Ud, Uda, panggilan dari kampung kami untuk kakak laki-laki atau suami, yang bahkan aku pun tidak memanggilnya demikian, pada lelaki yang tidak menyadari bahwa aku sudah ada di kamarnya. Lelaki, yang untuk dia aku rela menempuh jarak ratusan kilometer tiap akhir pekan, hanya untuk bertemu, melepas rindu. Untuknya, aku rela membanting tulang, agar bisa membeli rumah dan membuka usaha di sini dan kami berkumpul lagi.

Dan nama itu, nama pengirim itu, serasa membuat ku mati berdiri. Nama yang bertahun-tahun telah menjadi duri.
Nama yang kerap aku pergoki menelpon atau sekedar berkirim salam lewat orang lain. Nama yang tak sengaja ku jumpai dalam sisa robekan buku harian lelaki ini, ketika aku berkemas di rumah kosnya, saat baru saja dengan rela aku mengikatkan diri padanya, atas nama cinta.

"Baru bangun..," spontan aku membalas SMS itu.

"Ud, makasih, udah antar aku ke bandara. Aku hanya 7 hari di sini. Usai seminar kembali. Jemput ya. Rindu..," balasannya masuk. Jantung ku serasa berhenti.

"Ud, mau oleh-oleh apa? Ah, cinta yang tak pernah mati aja ya, cinta yang  ada sejak SMA. Jangan pernah balik ke Pekanbaru ya..," sambung bersambung SMS itu. Ya, belum ada WA, android, kala itu baru ada SMS untuk berkirim pesan.

Dunia ku seketika runtuh. Tapi rasa ingin tau membuat aku tetap tegak berdiri. Lalu membuka semua pesan dari perempuan yang samar telah ku kenal, perempuan yang menjadi cinta lelaki ini waktu remaja, waktu SMA. Perempuan yang dengan penuh air muta kuminta dia lupakan, dulu, saat rajin berkirim salam. Perempuan yang juga sudah mengikat tali pernikahan dengan laki-laki lain.

"Ud, peluk mu masih seperti dulu. Tatap mu masih seperti dulu. Terima kasih untuk segala keindahan, untuk segala cinta..," dan aku hilang rasa, berteriak di pagi buta itu dan melempar HP ke tubuh lelaki yang sangat ku yakini amat setia ini.

Dia tergagap, terbangun, kaget. Dan sumpah serapah ku pecah pagi itu. Dia melongo, tak menyangka. Coba menenangkan. Tiba-tiba HP itu berdering dan nama yang kulihat, nama perempuan itu lagi. Berkali-kali. Dia tak mengangkat dan saat aku hendak mengambil HP itu, keangkuhan lelakinya muncul, sesuatu terjadi. Dia menampar, kuat, sangat kuat, perih sekali, di pipi ku yang penuh air mata.

Dia coba memeluk, mungkin oleh sesal. Aku  menjauh dan seketika air mata kering. Segalanya akan berakhir hari ini, aku membatin.

"Aku kesepian di sini, kamu jauh," kalimatnya lebih sakit dari tamparan tadi. Ku lirik kaca lemari dan melihat bekas jari, memerah di pipi.

"Pilih aku atau dia..," gumam ku.

"Pilih kamu. Dia kan punya suami..," kata dari mulutnya membuat jantung ku serasa mau berhenti berdetak.

"Kamu memang anjing. Aku jauh banting tulang untuk.mu, untuk anak mu. Kau khianati aku. Silahkan bersamanya. Kita bertemu di pengadilan agama..." aku kembali menggendong ransel, berbalik ke arah pintu. Sakit sekali.

"Tolong, jangan bilang ke suaminya. Nanti aku bisa dibunuh...," ucapan itu serasa menikam jantung. Bukan minta maaf, lelaki yang begitu kucintai ini hanya memikir diri sendiri.

Penghinaan terhadap status dan rasa keperempuanan ku, membuat aku yang merasa terbunuh. Aku rela jauh, mengambil alih segala tanggungjawab, merencanakan sebuah masa dimana kami akan bersama, tapi balasnya khianat ini. Kalimatnya adalah pengakuan yang jujur. Mereka telah berkhianat terhadap pasangan masing-masing.

Aku turuni tangga yang hanya satu, ransel di punggung terasa begitu berat. Sepagi ini tidak ada angkot. Kesadaran akan anak-anak seketika mengeringkan air mata. Tangis ini bisa membuat ku salah jalan jika terus kuturutkan. Rasa sakit dikhianati, rasa sakit karena tamparan di pipi, penghinaan terhadap rasa keperempuanan ku, rasanya aku mau mati, mau bunuh diri. Di kota ini banyak jurang, terpikir untuk melompat saja.

"Aku sudah mati, terbunuh oleh tragedi tadi. Tapi anak-anak ku tak boleh mati..," aku bergumam, membeli satu aqua dan sapu tangan, lalu mengompres bekas tamparan. Mengompres mata yang bengkak.

Di Aur kuning aku pun membeli jilbab, meski aku belum berjilbab. Aku ingin menutup bekas tamparan ini, sebelum mencari bus untuk pulang. Jilbab yang kemudian tak pernah ku lepas lagi, hingga hari ini.

Tiba-tiba seekor angsa datang dari arah samping rumah,  mengejar dan membuyarkan semua kenang. 200 purnama lebih telah berlalu, sejak tamparan itu.

Pintu depan sedikit terbuka. Aku mengucap salam dan mengetuk, tak ada jawaban. Menolak pintu dan masuk, lengang.  Tadi, sudah ku kabari bahwa aku datang dan minta ditunggu. Bahkan, ketika travel mulai masuk kota ini juga  sudah kukabari. Dia tak ada.

Lalu HP berdering. "Tunggu ya, paling 30 menit. Nanggung, main domino di kedai kopi," suara itu membuat ku merutuk.

Aku hanya singgah di sini sebelum pulang ke kampung sendiri. Ada surat-surat yang harus dia tandatangani. Apa pun kisah kami, dia tetap harus jadi wali nikah anak perempuan ku. Tali darah tak bisa ditukar. Air mata ku kembali jatuh. Mengapa aku ke sini lagi? Mengapa tidak berkirim lewat pos saja? Mungkin sisa cinta yang membawa kaki.

Duduk di sofa yang penuh debu, aku memutuskan pergi, tapi tidak lagi jalan kaki, seperti dulu. Aku menelpon laki-laki yang satu purnama lalu menjumpai ku, di kota ku. Lelaki itu juga di.kota ini.

"Jemput aku...," dan tak sampai 10 menit dia datang.

Turun dari mobil dia mendekati ku yang sudah tegak di depan pintu. Tanpa suara mengambil koper ku.

"Ayo....," katanya.

Duduk di sampingnya yang menyetir, aku mulai meracau. Menyumpahi diri, menyumpahi keadaan.

"Sudahlah... ayo cari makan," kalimat yang kemudian membuat ku diam.

"Aku mau soto Padang. Aku mau makan makanan berkuah," kata ku.

Dan dia membimbing tangan ku menyebrang untuk makan soto. Aku membatin, kenapa tak ku terima uluran tangan laki-laki ini, yang menawarkan kasih tak bertepi? Aku telah lelah.

"Tunggu aku 12 purnama," pelan tapi pasti aku berucap, sebagai jawab atas uluran kasihnya, selama ini . Aku menatap wajahnya lekat dan ku lihat kebahagiaan di sana.

"Aku tunggu....," dan aku menyuap soto, seiring jawaban itu **

------------

Debur yang Hancur

Perempuan itu menatap ke luar jendela mobil, pada hutan, ngarai, gunung dan jalan berliku yang indah. Menghirup dalam-dalam udara yang basah. Sudah pukul 20.00 WIB, negeri hujan ini sejuk alami, tak perlu AC mobil. Dia larut. Ini dulu jalan kenangan. Jalan yang kerap dia lalui, bersama laki-laki yang telah merebut seluruh hati. Bukan cinta pertama tapi perempuan itu merasa, itulah cinta terakhirnya.

"Sayang, kenapa harus 12 purnama? Gak bisa dipotong setengahnya?"

Aku tergagap, tergugu, suara itu memutus masa lalu. Aku naikkan kaca mobil dan berpaling, pada lelaki yang sedang sangat hati-hati menyetir. Naluri menuntun, jangan salah ucap, yang akan menganggu konsentrasi. Kiri kanan jalan ini jurang.

"Kita harus persiapkan baik-baik, terutama hati anak-anak. Aku ingin bahagia bukan lagi prahara. Kita makin senja," dan senyum lebar memperlihatkan lesung pipit, ku berikan pada mu

"Janji ya, janji setia sampai 12 purnama. Jangan pergi lagi."

Berapa kali sudah kau mengulang kalimat yang sama, sejak perjumpaan di halaman rumah yang membuat patah?

"Ya, janji."

Hawa sejuk mulai berkurang, kabut dan embun menghilang. Mobil sudah memasuki daerah lain yang berbeda. Daerah yang lebih panas dan membuat gerah. Penjual durian berjejer dan harumnya buah itu masuk ke mobil. Sampai di depan INS Kayu Tanam,  sekolah berhalaman luas, aku terkesiap. Di sini, betapa banyak kenang tertinggal, karena sekolah ini kerap digunakan untuk pertemuan para sastrawan.

Menggigit bibir kuat-kuat, ku rasakan asin. Biar saja berdarah seperti darah jiwa yang tercecer sepanjang jalan ini, kenangan yang nyeri bersama debur yang hancur, berkeping dan mati. Lalu aku melihat siluet perempuan muda, cantik , berwajah lelah, membawa perut yang membuncit, sendirian, dalam kota yang harus ditaklukkan, untuk menafkahi.

Kembali ke kota setelah tragedi di kamar yang berakhir dengan jejak jari tangan di muka, jiwa raga ku ambruk. Aku runtuh dan terpuruk. Tak terhitung tangis, lara, lara sekali. Akhirnya, berakhir di rumah sakit. Asma yang berpuluh tahun diam, kambuh. Nafas pun tak kuat dihembus, tanpa bantuan selang-selang itu. Sampai di suatu pagi yang mulai membaik

"Ibu hamil, sudah 3 bulan, sudah mulai berdetak jantungnya. Selamat," dokter muda itu menyalami dan aku serasa patung.

"Dok, aku pakai spiral, kok bisa?"

"Tuhan Maha Kuasa Bu, dia lebih tau "

Tinggal sendirian di kamar VIP ini, AC serasa mati. Panas dan meriang. Terpikir kan, anak ini harus ku buang. Aku telah kalah. Tapi naluri keibuan ku betkata: pelihara dia, sesakit apa pun jiwa raga. Kesadaran yang kemudian mengalahkan segala ego, segala keangkuhan. Akhirnya aku menekan nomor lelaki, yang telah dengan tega memberi tamparan ke wajah ku, wajah ibu anak-anaknya.

"Aku hamil, sudah 3 bulan." nada suara ku datar

"Oh, baguslah." aku tak menangkap dari suara itu reaksi hati mu.

"Pindahlah ke sini. Temani aku. Akan ku persiapkan kamar sekaligus ruang kerja untuk mu. Kubelikan semua peralatan yang kamu perlu. Komputer, kamera, print dan apa saja yang akan membantu kerja mu." begitu saja kalimat itu ke luar dari mulut ku.  Lupa sumpah untuk berpisah.

Aku menepati janji. Kamar ku buat pintu khusus dari samping, karena aku tau kebiasaannya pulang larut, agar tak menganggu anak-anak. Demikian juga dengan peralatan kerja. Bahkan kamar sengaja ku cat warna biru langit, biar sejuk di mata. Dia menepati janji. Datang. Dan aku telah melupakan perempuan yang berkirim SMS di subuh itu, melupakan tamparan itu.

Tapi di hari ketiga, ketika senja merona jingga, laki-laki itu duduk di jok motor di teras rumah. Aku yang hendak membuka pinta tertegun. Dia sedang bicara dan nama itu, nama yang telah menghancurkan ku beberapa waktu lalu, dia sebut. Aku terduduk di kursi tamu. Letih.

Lalu aku jalan memutar, ke luar dari pintu samping dan tanpa sandal agar langkah tak berbunyi, untuk bisa berdiri tegak di belakangnya tanpa dia sadar. Mendengarkan segala ceritanya dengan perempuan itu via HP.

"Aku juga rindu, mau pulang. Tunggu beberapa hari lagi. Gak ada duit buat ongkos. Segan minta sekarang. Dia lagi hamil," kalimat itu, seperti godam palu, memukul hancur dada ku.

"Kenapa kamu tega?" suara ku mengagetkannya. HP itu jatuh. Reflek aku sepak sekuatnya, membentur pagar dan berderai. Air mata ku jatuh.

Reaksinya adalah kesakitan ku yang luar biasa. Dia ambil tangan ku, seolah hendak membimbing, tapi dia mencengkram dengan kuat, bahkan kurasakan kuku jarinya memasuki daging tangan ku. Aku tahan sakit, tahan tangis, tahan memaki maki, anak-anak ada di dalam. Aku tak mau mereka syok.

Lalu seperti berbimbingan kami masuk kamar. Ku lirik, daging di atas jempol kiri ku terkelupas. Ada 3. Jejak kuku. Jiwa ku hilang, terbang.

Dalam kamar, sebelum dia berbicara, aku ambil uang Rp 300 ribu dari dompet. Mengambil satu HP dari lemari yang tidak aku pakai.

"Kembalilah ke kota mu, kepadanya. Ini untuk ongkos dan makan di jalan. Ini ganti HP yang hancur tadi. Masih ada travel sampai pukul 22.00 WIB nanti. Tak perlu menjelaskan apa-apa. Tak perlu pamit pada anak-anak."

Dia mengambil uang dan HP itu, kembali ke luar dari pintu samping, tak menyapa atau memanggil anak-anak yang sedang asyik nonton TV di ruang tamu. Sebelum dia hilang ditelan kelam, aku berkata letih.

"Setelah anak ini lahir, jatuhkan talak mu. Aku tidak nenuntut apa-apa. Jangan takut. Aku akan mengurus mereka semua. Kau merdeka "

Dia berlalu dan hilang bersama malam. Aku tak mau mengantarnya dengan motor. Biar saja dia jalan kaki ke jalan raya. Sekitar 1,5 kilo dari rumah ini. Rumah yang ku bangun dengan segala perjuangan.

Kepergiannya meruntuhkan segala pertahan. Remuk jiwa membuat perut ku sakit sekali. Aku serasa berputar-putar dan jatuh sebelum mencapai pintu ke luar. Terbangun, sudah di ruang serba putih. Kembali dengan selang oksigen dan infus. Dua kaki ku di naikkan tinggi.

"Bu, yang tenang. Tadi Ibu hampir saja pendarahan. Janinnya masih labil. Jangan banyak gerak." kata suster di samping ku.

"Iya. Tolong jaga janin ku, jangan sampai dia keluar," lirih ku berkata dan hanya naluri keibuan yang menuntun ku untuk mengatakan itu, aku sudah hilang rasa. Tiba-tiba rindu ku meluap, pada anak-anak, meski aku yakin dia aman dalam perlindungan Mama ku, neneknya, di rumah kami.

Aku lihat luka kuku di jari tangan ku. Sudah diberi Betadine warnanya merona orange. Aku lupa sakitnya karena jiwa ku lebih menderita.

"Hei, melamun, udah dekat. Mau makan dulu sebelum sampa rumah?" suara itu memutus kenang yang teramat pahit.

Sebelum menjawab, aku naikkan tangan kiri ke paha dan aku masih melihat bekas luka kuku di sana. Abadi hingga hari ini. Tak hilang. Jadi jejak sejarah pahit yang tetap ikut kemana aku pergi.

"Aku mau makan mie rebus." Lalu diam dan aku lunglai. **(bersambung).










































































 



















 






























 
    
    
    

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rohingya, Kenapa Tak Kau Beri Mereka Maut Mu?

PALUNG KESUMAT

SIRANTAN