Leman

Cerpen Luzi Diamanda

DI SINI, malam yang bergulir dirasakan laki-laki itu sama saja dengan malam-malam yang kemarin dan kemarin; gelap dan sepi. Lelaki tua, dengan mata yang mulai rabun, memandang bayang-bayang dirinya yang tercetak di dinding lewat biasan cahaya lampu damar. Ruangan tiga meter persegi, tempat pengasingan diri yang hampir lima tahun dia akrabi, tak menjanjikan sesuatu yang baru. Ke mana mata dia arahkan selalu membentur yang itu ke itu juga. Dinding dari bilah bambu, atap rumbia dan lantai papan yang telah berlo bang di sana sini.

Perlahan lelaki itu menggeser duduknya, merapat ke dinding, menyandarkan kepala dan mulai menggulung daun nipah. Kemudian dia hirup rokok daun itu, pelan-pelan. Juga tak ada apa-apa dia rasakan. Dalam hembusan asap kelabu, lelaki tua itu seperti melihat kembali kaca dirinya, kaca kenangannya dan kaca kerin duannya. Lelaki itu mendesah.

Dalam usia 65 tahun lebih, saat ini, alangkah banyak waktu ter sia. Terbayang masa muda, saat dia masih tampil sebagai pemuda paling gagah di desanya. Anak kesayangan orangtua yang memiliki sehektar sawah, berhektar ladang. Terbayang juga gadis-gadis manis, dengan bedak beras di wajah, lewat diam-diam di depannya, melirik selintas. Dia amat mengerti kalau gadis itu ingin dia sapa.

TERBAYANG Rukmi, kembang desa yang jadi rebutan. Berwajah bulat dengan mata bersih. Bibir Rukmi yang merupakan perpaduan antara senyum dan ejekan, jadi inceran lelaki di desanya. Terbayang juga saat dia bersanding dengan Rukmi setelah melewati sebuah perjuan gan yang dahsyat. Terbayang juga tangis Rukmi saat dia menyata kan: "Cerai."

Itu masa lalu, masa lalu Leman, lelaki tua itu. Dia nanap dalam kenangan. Dia ingin rengkuh, malam ini, segalanya. Dan sayup- sayup suara riuh anak-anak pulang mengaji, mengelilingi kampung dengan obor di tangan mampu melepaskan kenanganitu sejenak. Beringsut dia dekati pintu pondok, duduk berselonjor dan menanti anak-anak dengan obor di tangan, yang pasti akan lewat di depan pondoknya.

Adalah duka yang amat menusuk, ketika lebih seratus anak-anak lewat, memegang obor dan berteriak Allahu Akbar. Dalam bayangan matanya yang mulai rabun, dia lihat juga anak lelakinya, Nurdin, tengah memegang obor. Saat dia ingin berteriak memanggil, tiba- tiba saja bayangan itu hilang, berganti dengan Nurdin yang meman dang beringas.

"Rukmi, aku rindu masa lalu kita. Aku juga rindu anak-anak. Sudahkah engkau kini memiliki cucu?" Lelaki tua itu bergumam sendiri, antara terdengar dan tidak.

Rukmi, istri yang amat setia itu, yang selalu sabar dalam deraan derita seberat apapun, ternyata harus menerima sebuah balasan yang amat menyakitkan. Dia campakkan Rukmi dengan enam anaknya, saat Lasmi, janda desa sebelah mampu meluluhkan kelelakiannya.

Tak dia gubris tangis Rukmi. Tak dia gubris ratap Rukmi, juga tak dia gubris sembahan Rukmi, yang mohon agar dia jangan diceraikan. Malah, kala itu, anaknya Nurdin, si sulung mengomandoi adik- adiknya, menghalangi pintu agar sang ayah tak jadi turun. Tapi itu tak ada artinya. Dengan sebuah hardikan, redalah semua. Lalu dia tinggalkan rumah itu, untuk kemudian menikah dengan Lasmi.

Leman memang mereguk madu cinta dengan Lasmi. Untuk itu dia rela hektar demi hektar sawahnya tergadai demi Lasmi dan anak-anaknya. Habis itu, sawah pun dia jual. Demi Lasmi. Rayuan Lasmi, tutur lembut Lasmi dan layanan Lasmi sebagai seorang istri telah memba bakbelurkan seluruh kesadaran yang ada pada dinding kalbunya.

Demi Lasmi juga kemudian dia tega mengusir Nurdin yang datang minta belanja. Setelah pengusiran itu, dia lihat tiap hari Rukmi, jandanya, keluar masuk kampung mencari telur ayam, untuk kemudian dijual lagi di pasar. Juga Nurdin yang menyabit rumput untuk kerbau kepala desa, dan Teti si bungsunya berjualan goreng tiap pagi. Dia butakan hati, telinga dan mata. Dia terlelap dalam rayu Lasmi, dia terlena dalam peluk Lasmi.

Dan Lasmi amat lihai melihat geraknya. Baru saja tergerak dia hendak memanggil Nurdin, sekedar memberi belanja sekolah misaln ya, maka Lasmi akan datang dengan manis mulutnya, minta belikan baju, terompa ataupun keperluan rumahtangga lainnya.

"Uda 'kan ingin Lasmi selalu nampak cantik. Sekarang ini lagi mode baju kebaya encim dengan dasar brokat. Tolong Uda belikan lengkap dengan kain dan selendangnya, paling lama besok ya, Da." Itu selalu ucapan pertama Lasmi jika ingin minta sesuatu. Disam bung lagi dengan kata, "Kan, demi Uda. Jika saya tampil cantik yang bangga kan Uda juga." Dan Leman pun luluh seluluhnya.

Kala itu umurnya baru 35 tahun, Nurdin si sulung berumur 15 tahun dan Teti si bungsu berusia 6 tahun. Lasmi baru 28 tahun dan Rukmi 33 tahun. Jika malam datang, Lasmi, tanpa diminta akan segera membarut kakinya dengan minyak gosok atau memijit punggungnya dengan tangan yang halus. Padahal itu tak pernah dia dapatkan dari Rukmi.

Kenangan yang tersisa akan Rukmi saat dia bersama Lasmi hanyalah tentang keapekan bau Rukmi, setelah seharian mengerjakan peker jaan rumahtangga. Rukmi yang lelap tertidur begitu menyentuh kasur dan kerinduannya terhadap anak-anak mampu hilang karena kenangan akan kenakalan Nurdin, kecengengan Teti dan keributan yang selalu terjadi tiap malam.

Dan Leman yang merupakan lelaki satu-satunya dalam keluarga menjadi amat berkuasa terhadap adik perempuannya. Segala harta, dengan ancaman dan kekerasan jatuh ke tangannya. Tak ada yang berani menghalanginya. Lima tahun menikah dengan Leman, Lasmi telah memiliki sebuah rumah paling megah di desanya, sebuah heler padi, sebuah Honda dan emas yang tak sedikit. Malah adik-adik Lasmi pun tampil berubah. Mereka seakan jadi penguasa di desa. Tak ada yang berani membantah.

Dalam waktu tidak cukup 20 tahun, seluruh harta Leman telah bertukar nama dengan Lasmi. Anak-anak Lasmi, yang adalah anak tiri Leman, berjumlah tiga orang, juga mengorbit menjadi anak- anak muda dengan segala kebrutalannya. Semua itu atas kekayaan Leman yang berpindah ke tangan Lasmi.

Saat itulah agaknya Leman mulai meraba sesuatu yang tak beres, perihal hubungannya dengan Lasmi. Tak ada lagi panggilan Uda? yang amat manis. Tak ada lagi pijitan, apalagi rayuan menjelang tidur. Lasmi tampil menjadi bintang di desanya, juga desa-desa sekitarnya. Lasmi dengan hartanya menjadi orang yang paling disegani. Dan bentengnya amat ampuh, adik lelaki Lasmi yang selalu menamakan diri pareman.

Saat Leman merasa penglihatannya mulai kabur, mulai merasakan rematik menggerogotinya dan uban memutih di kepala, baru dia merasa sebuah keanehan besar. Lasmi tak lagi tampil membelanya. Lasmi tak lagi merengek manja. Malah, Lasmi telah berlaku keras, menyuruh ia tidur di kamar belakang. Tak lagi peduli pada bajunya yang tak berseterika, juga tak peduli pada rokok yang telah tiada di kantong Leman.

Perubahan drastis itu membuahkan sebuah kesadaran, tetapi sungguh terlambat. Lasmi telah memerasnya. Setelah segala kekayaan jatuh ke tangan Lasmi, Leman tak lebih; hanya dianggap sebagai sampah. Hardikan Lasmi adalah makanan rutin, pandangan sinis adik-adik Lasmi adalah santapan pagi. Malah anak Lasmi yang dengan susah payah dia besarkan dan dia biayai, selalu memanggilnya dengan: gaek.

Leman hanya bisa mengurut dada. Pernah dia berontak, tapi Lasmi malah mengusirnya. Padahal dia tak lagi memiliki apa-apa, lalu ke mana dia harus pergi? Dia tak berani ke rumah Rukmi, juga tak berani ke rumah kemenakannya. Biarlah dia tahan sakit di rumah Lasmi asal dia masih bisa makan, istirahat dan dapat belanja untuk beli rokok.

Keangkuhannya musnah, harga dirinya telah dirampas dan dia rela menjalani itu demi hidup. Tapi saat umurnya memasuki usia 60 tahun, saat Lasmi baru saja pulang dari Mekah, setelah menunaikan ibadah haji, dia tak lagi sanggup bertahan.

Semula Leman masih punya harapan, dengan gelar haji, Lasmi akan beruah sikap. Dia ingin Lasmi tampil sebagai Lasmi-nya yang dulu, tapi keinginan itu hanya angan yang mustahil terwujud. Lasmi malah makin mencampakkannya, makin melupakannya.

"Las, aku 'kan suamimu. Harta yang ada pada kau sekarang adalah hartaku. Kenapa sekarang kau berisikap antipati? Kau hanya men ganggapku sebagai sampah, sebagai parasit?" Begitu dia pernah coba menuturkan sakit yang mendesak hati. Tapi apa jawab yang dia dapatkan.

Lasmi dengan tatap garang, berkacak pinggang, mengeluarkan kata- kata bagai lembing beracun yang memerihkan jantung tuanya.

"Jika kau merasa harta ini adalah hartamu, ambil saja. Bawa ke rumah Rukmi jandamu. Kalau tak betah di rumah ini, pergi saja, pulang ke rumah keponakanmu. Sudah diberi makan saja syukur, sekarang mau macam-macam lagi. Dasar lelaki tak tahu diri." Setelah mengucapkan kata-kata itu, Lasmi menghempaskan pintu dan berlalu. Torehan luka itu kian dalam, meruyak hati lelakinya.

Meski begitu, dia coba tahankan, karena dia tak punya tempat lain lagi untuk pulang. Tapi itu hanya sekejap. Saat tbc kemudian menghampiri dirinya dan derak batuk yang tak henti-henti menyik sanya, di saat itu tampil adik Lasmi dengan perlakuan kasarnya. Dia diusir, bajunya dicampakkan. Masih juga dia bertahan.

Agaknya tali kasih adalah ikatan abadi antara dia dan Tari, sang adik. Itu pulalah kemudian yang menyelamatkannya. Adik perempuan satu-satunya, yang selama ini terlupakan, membawanya pulang. Pulang kembali ke rumah pusaka orang tua mereka.

Rumah yang dulu paling megah di desa mereka itu hampir roboh. Dia tak lagi punya apa-apa, selain setitik airmata, menyesali segala keteledorannya. Tapi penyesalan itu tak lagi punya makna.

Tari, dengan sisa kasihnya sebagai seorang adik merawatnya. Tapi sakit itu tak jua kunjung reda, malah makin menjadi-jadi. Pernah sekali dia menemui Rukmi, tapi wanita itu amat tegar dan angkuh. Dia tak lagi peduli pada Leman, malah untuk menatap Leman pun dia tak sudi. Teti, anak bungsunya yang dulu selalu bergayut manja, satu-satunya yang masih menemani Rukmi, juga tak mau menatapnya.

Leman turun dari rumah Rukmi dengan segala dukanya. Milik satu- satunya dan teman setianya kini, adalah airmata yang tak mampu mencuci matanya yang pelan-pelan kian mengabur.

Ketika Tari, karena sakit kemudian meninggalkannya untuk selama- lamanya, kesendirian itu makin menggigit ulu jantungnya. Rumah warisan itu pun akhirnya ambruk, dihantam pohon kelapa. Sejak itu mulailah pengembaraan lain dalam hidup Leman. Dia mendirikan pondok kecil di dekat mesjid. Di situ dia menyesali hari-harinya yang telah terbuang.

Kakinya yang mulai lumpuh, matanya yang mulai rabun, adalah harta terakhirnya yang masih dimiliki, selain nyawa. Untung masih ada yang kasihan. Ada saja orang yang mengantarkan beras atau uang sekadarnya. Hidup seperti itu telah lima tahun berjalan, dan dia rasakan dirinya makin rapuh.

Tak ada lagi Lasmi menamani tidurnya, hanya mimpi tentang Rukmi. Berjuta maaf dia mohonkan. Kerinduannya yang terakhir adalah menatap Rukmi dan enam anaknya. Minta maaf pada mereka, kemudian dia akan pasrah, sampai maut datang menjemput.

LEMAN terpana, menatap rombongan anak-anak kampung yang bersuara riuh, lewat depan pondoknya. Ketika rombongan itu kian jauh, Leman menatap hampa dan memasang telinga baik-baik, menyerap suara anak-anak yang kian lama kian sayup, lalu senyap. Leman kembali menggeser duduknya, semakin merapatkan punggung ke dind ing. Dia rasakan hari tuanya adalah sebuah siksaan yang maha berat. Adakah semua itu, karena tingkahnya yang tak bertanggung jawab.

Kerinduan aneh yang datang tanpa dapat dia cegah, makin menggila. Wajah Rukmi yang dulu, selalu berhias senyum lunak dan enak di matanya. Dan wajah Nurdin dan anaknya yang lain, menggoda hasrat dan kerinduan yang tak pernah pupus.

Dari mata yang mulai rabun itu menitik airmata. Betapa pahit karma yang harus dia terima. Dia tak tahu bagaimana Rukmi kini, dia tak tahu di mana Nurdin kini, dia juga tak tahu apakah telah ada cucu penerus keturunannya. Yang dia tahu rindu itu makin menggigit, sepi itu makin menggila. Rasanya dia tidak kuat mena han gelegak rindu. Tiba-tiba telinganya tak lagi mendengar apa- apa. Dia ingin melupakan segalanya. Pelan tapi pasti, kepala laki-laki itu terkulai. Dia tertidur, meski belum ada keinginan untuk tidur; selamanya.o

* Catatan:

* Uda = Kakak

* Encim = Kakak perempuan

Komentar

Postingan Populer