Postingan

PALUNG KESUMAT

Gambar
Foto Ilustrasi Internet



Cerbung: Luzi Diamanda

MALAM baru saja turun, bahkan azan Magrib berlalu belum lagi seperanjakkan duduk. Tapi gulita sudah begitu pekat menyungkup wajah desa, oleh ketiadaan lampu penerang yang bernama lampu jalan. Modernisasi memang belum sampai ke sini ke desa permai yang bernama Kultup ini. Hanya sesekali ada kelip lindap dari rimbunan semak di kiri kanana jalan setapak, kuning dan licin jika hujan.

Itulah cahaya sayap kunang-kunang, meski lindap mampu menerangi jalannya sendiri. Tetapi anak-anak akan lari dan bersembunyi jika melihat cahaya ini, karena secara turun temurun diceritakan bahwa cahaya kunang-kunang itu adalah cahaya kuku orang yang sudah meninggal dan mereka mencari kanak-kanak yang berkeliaran jika matahari telah tidur.

Senyap membuhulkan ketakutan menjadi ngeri, sehingga sepi oleh malam dan dedaunan dari cabang cabang pohon manggis hutan atau pinang, menyempurnakan suasana desa seperti mati. Bahkan gigil…

PERKABUNGAN PAGI

Gambar
Cerpen: Luzi Diamanda
SINAR mentari meredup, pelan tapi pasti bergerak menuju peraduaannya. Warna merah di kaki langit telah lama pudar. Semilir bayu membawa wangi padi, yang menguning, kemilau, sejenak tadi. Tiba-tiba sawah-sawah ini seperti memakan matahari, hilang, kelam dan sunyi. Suara jengkrik mulai menggelitik, samar, lalu kalah oleh nyanyian ular sendok, ketika malam sempurna kelam.

Di sini, di sudut kota ini, dalam kesegaran alam yang tenang, berdiri sebuah bangunan berbentuk L, bercat putih dan dikelilingi pagar hitam. Sejenak tadi juga seperti raksasa, bayangannya memantul diantara pepohonan, tertimpa mentari sore. Tapi sunyi, seolah mati. Sejauh mata memandang, terbentang persawahan, sedang bunting dan menguning. Di kejauhan, sayup terlihat sebuah rel kereta api yang dalam waktu tertentu mendesis-desis, berderak-derak, seolah lagu pilu, bersiponggang ke dinding-dinding bangunan.

Halaman yang maha lapang tempat bersemayam aneka ragam pepohonan, ada jambu biji, mangga, beli…

Palung Kesumat

Gambar
Petikan Cerbung (1)
“Jangan beri anak-anak luka jiwa, karena luka itu terbawa sepanjang jalan hidup, mengendap tapi tak hilang dan mengiris perih setiap otak membalik kenangan…” #Diamanda

Gerimis baru saja usai. Tanah basah. Titik air masih terlihat di ujung daun ilalang, juga bunga kembang sepatu yang banyak di halaman rumah, di sudut kanan, dekat jalan setapak, jalan dimana orang-orang lalu lalang. Burung-burung mulai kerkicau dan sepasang anjing sedang bergurau, saling mengaum, berlarian dan kemudian diam. Ini hari kedelapan setelah peristiwa malam yang menggemparkan, saat ibu Suri meraung dan merarau.

Suri turun ke tanah, membuat garis-garis dengan pecahan porselen. Ketika garis-garis tersebut akhirnya saling terambung membentuk kotak-kotak, Suri menatap dan tersenyum, menyadari garis-garis tersebut lurus dan tepat. Dia hendak main ‘sedapak’ meski hanya sendirian. Lalu Suri pun mulai melompat-lompat di kotak-kotak yang dia buat, sambil memindah-mindahkan pecahan porselen tadi, d…

Ini Maret Kita, Mama

Gambar
Aku dan Almarhumah Mama

ANDAI bisa mengukir langit, kan kuukir wajahmu di sana, sambil menggumamkan do'a, sorga jualah yang diberikan Allah, tempat abadimu. Tapi tiada bisa, cukup di jiwa saja kuukir wajahmu, tanpa jeda, meski hampa, lara, kau telah tiada.

Ini harusnya jadi Maret mu yang ke 80, dan kita, dulu, menunggu itu. Karena kau dan aku ingin melihat, betapa wajah cantikmu masih tetap cantik di senjakala itu. Tapi kau tak sabar Mama dan waktu mu telah tiba, kau pergi satu tahun dua bulan sebelum 80 datang.

Orang-orang menarik ku lalu memaksa ku menjauh dari jasad mu yang baru saja ruh meninggalkannya, karena rarauku menghirukan komplek kita. Kau pergi dalam peluk ku ketika kubisik dua kalimat Syahadat di telingamu, yang mulai bernafas satu-satu. Orang-orang juga menarik ku dan membawaku masuk kamar, ketika aku semaput ketika menyiram tubuhmu, terbujur kaku. Ini mandi terakhirmu. Aku pun lunglai, tiada daya, ketika tanah merah telah sempurna menimbunmu.

Lalu hari-hari berlal…
Seorang laki-laki, seorang suami, dapat menjadikan seorang perempuan, seorang istri, sebagai wanita sejati.. tetapi seorang laki-laki, seorang suami juga dapat menjadikan seorang perempuan, seorang istri, sebagai wanita tak berhati....

Anak Laki-Laki Ibu (Cerpen Luzi Diamana)

Gambar
Foto Ilustrasi dari Internet

BERUNTUNGLAH dua kakak laki-laki saya, Binuang dan Bintang, serta adik laki-laki saya, Bugih. Mereka memiliki raut wajah ibu, bulat dan seolah selalu tersenyum. Tak cuma itu, kulit mereka pun kuning langsat, yang jelas-jelas turunan ibu. Celakalah nasib saya, menyalin raut wajah bapak. Padahal, jika dibanding, pasti tak kalah tampan dari mereka. Dan pendapat saya ini, selalu menghantui, sampai saya tamat Sekolah Dasar.

Nyata-nyata ibu membedakan kami. Yang terbaik dari baju-baju atau sepatu, adalah buat saudara saya. Yang terenak dari segala makanan, adalah juga buat mereka. Saya harus puas menerima sisa. Ternyata itu juga belum cukup, segala yang terberat dari urusan rumah tangga, mulai dari menimba air, mengepel lantai atau menyapu halaman, adalah tugas saya. Dan tak sekali pun saya pernah melihat saudara-saudara saya kena maki ibu, apalagi kena pukul. Sedang saya? Duh, terlambat bangun pagi saja sarapannya adalah caci maki ibu. Bikin kesala…

Jiwa Retak

Gambar
Pagi berkabut Jiwaku retak             Gejolak teredam amarah Telah aku teruka jalan panjang             Hendak membawa engkau ke gerbang                         Dimana matahari adalah engkau                                     Melebihi bintang-bintang                                                                                Yang mungkin kini telah ada bersamaku
Aku palun luka dalam diam             Aku peluk lara dalam hening                         Aku tergugu                                     Apakah salah jua aku?
Jangan berharap yang tak akan mampu kita raih             Jangan meminta yang tak akan mampu aku hadirkan                         Jika ini kurang bagimu                                     Ambillah nyawaku                                                 Kalau itu mampu memberi apa yang engkau mau Jangan takar cinta ku Karena gunung dan lautan pun tak akan bisa menandingi Segalanya demimu, untukmu Meski berujung segalanya untuk kita…..
11 April 2011