Postingan

Sebuah Novel: Lelaki 12 Purnama

Gambar
Oleh: Luzi Diaman                                                                             Kau Dari Masa Lalu Kau datang dari masa lalu, dari 480 purnama, masih putih abu-abu. Kemudian, ketika 120 purnama lalu kau mencari ku, aku bahkan hampir tak mengingat rasa itu. Karena hidup terus berputar dan hati berotasi. "Jalan ku berliku dan tak ingin ku bagi. Biar jadi milik ku."  Hanya itu kata ku dan aku pun mengerti  pastinya kau tak sendiri. Kita berpisah di ujung senja. Lalu bisu dan kembali saling lupa. Purnama ke purnama terus berganti. Aku pun mencoba menautkan hati pada hati lain, tapi tetap saja menuai luka. Aku tetap sendirian memikul segala beban. Mungkin aku memang tidak diberi tulang rusuk agar bisa dilindungi, dijaga dan dikasihi. Tapi diberi tulang punggung yang kuat, bahu yang kekar, agar bisa merengkuh beban. Tangis ku telah lama hilang dan aku menjelma kunang-kunang, membuat cahaya untuk jalan ku sendiri. Jangan tanya betapa pahit betapa sakit. Tiada ada yang

Rohingya, Kenapa Tak Kau Beri Mereka Maut Mu?

Gambar
kenapa tak Kau beri mereka kematian ketika ujung maut bertahan di jam, hari atau pun bulan melautkan ruh, pelayaran panjang ataukah kesia-siaan? petaka, bala ataukah derita tak lagi ada ujung pangkalnya tatap itu, tatap nestapa, diam itu, diam dahaga bahkan riapan mata pada angin yang mendesaukan neraka dunia menahan mereka di kepungan alam bukan lautan yang menindasi raga hingga hilang rasa tapi manusia, ketika hiba tak lagi mengaliri nadi semua hilang dalam dokumen-dokumen yang diminta nyawa atau kah saudara, tak ada arti ketika mereka terus dijauhi, dihalaui, dari dermaga oooooo..ombak yang menjadi raja lautan kenapa tak kau telan mereka dalam sekali gulungan hingga raga hilang bersama luka? oooooo..badai yang menjadi penguasa gelombang kenapa tak kau benam mereka bersama pilu? Ah..Rabb..kenapa tak Kau beri mereka mautMu? ataukah ini ujian pada rasa, pada persaudaraan, pada kepedulian? Manusia telah mematikan hatiNya Rabb, pada secarik kertas tanda jati diri negeriku, negeri ya

SIRANTAN

Gambar
Cerbung Luzi Diamanda SEJAK kepergiannya yang tragis di ujung senja dari negeri yang awalnya membawa harapan, hanya satu yang  dia bawa, kekosongan. Bukan cinta apalagi harapan. Sekejap hatinya membeku, ngilu. Seorang Pria dewasa, 45 tahun, kaya raya, telah membunuh hati gadis yang 19 tahun pun belum, ketika dengan caranya pria itu menolak perjodohan, membawa kekasih hatinya kehadapan gadis itu dan berkata: inilah istriku, sebentar lagi, bukan kamu. Gadis itu sejenak diam, terpana, tergugu, sebelum menghilang, tanpa pamit apalagi masuk ke dalam, ke tempat keluarga sedang membincangkan pernikahannya dengan pria itu. Inilah puncak dari segala kekusutan hidup, keputusasaan, dalam kemelut keluarga sejak dia paham apa arti perih. Sudah lama gadis itu tak berpikir tentang sebuah bahu untuk bersandar, tidak juga diujung senja itu. Seperti kucing yang melata dijalanan, hanya naluri untuk hidup yang membuatnya bertahan. Segala cara adalah teknik untuk hidup, untuk makan, untuk tetap

PALUNG KESUMAT

Gambar
                                         Foto Ilustrasi Internet Cerbung: Luzi Diamanda MALAM baru saja turun, bahkan azan Magrib berlalu belum lagi seperanjakkan duduk. Tapi gulita sudah begitu pekat menyungkup wajah desa, oleh ketiadaan lampu penerang yang bernama lampu jalan. Modernisasi memang belum sampai ke sini ke desa permai yang bernama Kultup ini. Hanya sesekali ada kelip lindap dari rimbunan semak di kiri kanana jalan setapak, kuning dan licin jika hujan. Itulah cahaya sayap kunang-kunang, meski lindap mampu menerangi jalannya sendiri. Tetapi anak-anak akan lari dan bersembunyi jika melihat cahaya ini, karena secara turun temurun diceritakan bahwa cahaya kunang-kunang itu adalah cahaya kuku orang yang sudah meninggal dan mereka mencari kanak-kanak yang berkeliaran jika matahari telah tidur. Senyap membuhulkan ketakutan menjadi ngeri, sehingga sepi oleh malam dan dedaunan dari cabang cabang pohon manggis hutan atau pinang, menyempurnakan suasana desa seperti mati. Bahk

PERKABUNGAN PAGI

Gambar
Cerpen: Luzi Diamanda SINAR mentari meredup, pelan tapi pasti bergerak menuju peraduaannya. Warna merah di kaki langit telah lama pudar. Semilir bayu membawa wangi padi, yang menguning, kemilau, sejenak tadi. Tiba-tiba sawah-sawah ini seperti memakan matahari, hilang, kelam dan sunyi. Suara jengkrik mulai menggelitik, samar, lalu kalah oleh nyanyian ular sendok, ketika malam sempurna kelam. Di sini, di sudut kota ini, dalam kesegaran alam yang tenang, berdiri sebuah bangunan berbentuk L, bercat putih dan dikelilingi pagar hitam. Sejenak tadi juga seperti raksasa, bayangannya memantul diantara pepohonan, tertimpa mentari sore. Tapi sunyi, seolah mati. Sejauh mata memandang, terbentang persawahan, sedang bunting dan menguning. Di kejauhan, sayup terlihat sebuah rel kereta api yang dalam waktu tertentu mendesis-desis, berderak-derak, seolah lagu pilu, bersiponggang ke dinding-dinding bangunan. Halaman yang maha lapang tempat bersemayam aneka ragam pepohonan, ada jambu biji