Rabu, 29 Juni 2022

 

Kau datang dari masa lalu, dari 480 purnama, masih putih abu-abu. Kemudian, ketika 120 purnama lalu kau mencari ku, aku bahkan hampir tak mengingat rasa itu. Karena hidup terus berputar dan hati berotasi.

"Jalan ku berliku dan tak ingin ku bagi. Biar jadi milik ku."  Hanya itu kata ku dan aku pun mengerti  pastinya kau tak sendiri.

Kita berpisah di ujung senja. Lalu bisu dan kembali saling lupa. Purnama ke purnama terus berganti. Aku pun mencoba menautkan hati pada hati lain, tapi tetap saja menuai luka. Aku tetap sendirian memikul segala beban.

Mungkin aku memang tidak diberi tulang rusuk agar bisa dilindungi, dijaga dan dikasihi. Tapi diberi tulang punggung yang kuat, bahu yang kekar, agar bisa merengkuh beban.

Tangis ku telah lama hilang dan aku menjelma kunang-kunang, membuat cahaya untuk jalan ku sendiri. Jangan tanya betapa pahit betapa sakit.

Tiada ada yang menawarkan pelita hanya bara yang menghanguskan jantung. Lalu aku pun berlari membawa hati sambil terus mengajari tujuh naga terbang dan mandiri. Hati ku beku dan rasa ku mati.

Suatu pagi, mungkin 20 purnama lalu, aku merasa kaku, ketika membaca begitu banyak kata duka cita di lini masa mu. Dia, yang kau beri tulang rusuk dan kau jaga dengan sangat baik, pergi, pergi ke rumah abadi. Aku bahkan tak berani sekedar berucap duka. Aku hanya ingat pergi dan lari, bukan mendekati.

"Cinta hanya sekali sesudah itu imitasi, makanya aku terus mencari," kalimat itu mengiang, terucap dari mu, lama sekali, dalam jumpa 120 purnama itu dan saat tulang rusuk itu setia mendampingi mu.

Lalu entah mengapa, kau datang ke kota ku, berkabar dan mengajak sekedar bertemu. Baru saja, belum 2 purnama. Bahkan ketika di depan pintu mall itu kau menunggu, kita hanya sempat berjalan ke tempat parkir, karena teman-teman mu sudah menunggu.

"Sungguh, aku telah berniat tidak akan menghubungimu. Kutimbang-timbang dan terus berjalan di kota mu. Tapi begitulah, terpencet juga nomor mu. Selalu begitu. Kesadaran ku tak ingin menjumpai mu tapi bawah sadar ku menuntun jari untuk menghubungimu." Kalimat mu mengusik kenang masa lalu.

Waktu bergulir begitu saja dan aku juga tidak berpikir tentang kita. Tugas ku masih ada. Itu yang utama. Rantau telah memakan jiwa raga dan hanya ada kata kerja dan kerja. Naga ku masih ada yang belum bisa terbang

Sampai alam mengarahkan ku kembali pada mu. Ke kota mu untuk sebuah rencana kerja, kita malah bertemu. Begitu cepat. Dan tiba-tiba aku menemukan rasa yang dulu.

"Temani aku. Mari menua bersama," lirih suara mu.

"Beri aku waktu 12 purnama. Aku harus menyelesaikan tugas ku. Kau pun harus menyelesaikan tugas mu, terhadap jiwa yang karena kita mereka ada. Jangan buat hati mereka luka," kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut ku.

Semua mengalir. Kau jadi orang paling setia mengantar dari satu tempat ke tempat lain, sampai saatnya tiba, aku harus kembali.

"Aku tunggu 12 purnama itu," tiba-tiba telinga ku menangkap kalimat mu, di ujung senja, saat aku harus kembali ke kota ku.

"Jaga saja hati ku. Selesaikan tugas mu. Aku tidak mau memakan hak piatu, karena aku adalah ibu. Aku juga tak mau kau memakan hak anak ku." aku pun berlalu.

Ketika bus membawa ku pergi aku ingat percakapan konyol kita.

"Jika ada yang ingin merawat hati mu dan jalan berdampingan, apa yang kau mau?" entah mengapa kau bertanya.

"Dia harus mampu mengambil alih beban ku."

"Aku bisa. Apa lagi?"

"Dia harus punya bahu yang kekar untuk bisa ku sandari "

"Bahu ku kekar. Apalagi?"

"Dia harus sejajar dengan ku untuk mendampingi, bukan ikut membebani."

"Aku bisa. Apalagi?"

"Tentunya dia juga harus seperti ku, tak menua secara raga meski sudah menua secara usia."

"Aku tidak terlihat tua kan? Masih sama dengan mu." Dan percakapan konyol itu berakhir dengan tawa lepas kita.

 

Bus terus melaju dan kali ini aku coba berkata pada hati: jika memang ada pelabuhan yang mendamaikan, kenapa harus lari?

Aku berpikir untuk membiarkan alam bekerja atas restu Illahi. Jika takdirnya adalah jalan ku mengapa harus ragu? Tapi tak perlu terburu-buru. 12 purnama biarlah berlalu. (Bersambung)

Menua Berdua di Kaki Merapi

"Tubuh ku tak tahan panas, tapi juga alergi  dingin dan debu, kerap kali bergantung pada obat. Karena itu aku ingin menua di kaki Merapi, udaranya sejuk sepanjang hari," bicara di samping mu aku hanya berkesah pada diri.

Kulihat tatap mu tak mengerti. Sejenak mengerling lalu fokus kembali pada setir mobil, membunyikan musik dan diam, menatap lurus ke jalan.

"Sebuah pondok dari bambu pun jadi, tapi dengan halaman penuh batang mangga, matoa, cempedak hingga rambutan. Halaman samping ada kolam ikan dan halaman belakang kandang ayam serta angsa putih yang berlarian. Indah bukan?"

Kau mengangguk. Ah, selalu begitu, sejak dulu, sejak putih abu-abu, aku adalah pengendali kisah.

"Bisakah kau mewujudkan mimpi ku?"

"Bisa sayang..." hanya itu ucap mu.

Sejenak bisu dan aku melihat kemewahan dalam kesederhanaan mimpi itu. Mimpi yang lama terpendam dan tak yakin kulaksanakan. Sampai kau menemukan aku dan aku tersesat ke tempat mu, sangat dekat dengan kaki Merapi. Rumah mu dengan dua gadis cantik sebagai penghuni.

Takdir atau jalan mimpi kah yang menuntun? Kenapa rumah mu di sini, dekat kaki Merapi? Berpuluh tahun mimpi itu ku simpan dalam sanubari. Tiba-tiba saja hadir mu membawa ku ke sini. Merapi bercahaya, pantulan mentari senja mempesonakannya. Sejuk udara, sungguh, aku suka. Pelan, aku hirup aroma rumput dan ilalang, dari semak di kiri kanan jalan, berliku, menakjubkan mata.

"Mengapa harus 12 Purnama?" Tiba-tiba telinga ku menangkap sayup kalimat itu. Kau masih fokus pada stir mobil dan jalan meliuk berliku. Sedikit salah, jurang menunggu.

"Kau belum mengerti aku," dalam satu helaan, nafas ku sembur ke arah jalanan.

Dalam diam aku mengingat-ingat, dulu ini juga jalan ku. Berkelana ke puncak Merapi sambil membaca puisi dengan laki-laki yang kemudian mematahkan hati. Cinta yang kuberi utuh dibalas pengkhianatan. Sejak itu aku melupakan Merapi. Tetapi kenapa saat ini aku kembali ke sini?

"Aku adalah pemilik sah hidup ku. Terbiasa menjadi hero membuat ku begitu ego. Jika aku telah memutuskan tiada yang bisa menghalangi. Rambu-rambu ku hanya Tuhan. Jika yang ku putuskan tidak melanggar laranganNya, aku tetap berjalan lurus ke depan, ke keputusan yang dibuat hati ku," aku terus berucap dan mulai memperlihatkan asliku, tidak tunduk, bahkan juga pada cinta.

"Sayang ku tak pernah habis, Sejak dulu. Cinta yang kupendamkan kini dihadapan. Kenapa harus ragu?" kau bertutur, seperti angin, mendesis di telinga ku.

"Hidup kita berbeda. Kau terikat pada banyak hal untuk sebuah keputusan. Terikat pada apa kata mereka. Itu akan jadi renjana."

"Akan ku wujudkan rumah di kaki Merapi itu. Tangan ku masih kuat untuk meneruka tanah. Kaki ku masih tegap untuk mengejar angsa. Aku pun tak peduli apa kata mereka, jika itu yang kau suka." Kalimat mu mengalir begitu saja dari bibirmu.