Ini Maret Kita, Mama

ANDAI bisa mengukir langit, kan kuukir wajahmu di sana, sambil menggumamkan do'a, sorga jualah yang diberikan Allah, tempat abadimu. Tapi tiada bisa, cukup di jiwa saja kuukir wajahmu, tanpa jeda, meski hampa, lara, kau telah tiada.

Ini harusnya jadi Maret mu yang ke 80, dan kita, dulu, menunggu itu. Karena kau dan aku ingin melihat, betapa wajah cantikmu masih tetap cantik di senjakala itu. Tapi kau tak sabar Mama dan waktu mu telah tiba, kau pergi satu tahun dua bulan sebelum 80 datang.

Orang-orang menarik ku lalu memaksa ku menjauh dari jasad mu yang baru saja ruh meninggalkannya, karena rarauku menghirukan komplek kita. Kau pergi dalam peluk ku ketika kubisik dua kalimat Syahadat di telingamu, yang mulai bernafas satu-satu. Orang-orang juga menarik ku dan membawaku masuk kamar, ketika aku semaput ketika menyiram tubuhmu, terbujur kaku. Ini mandi terakhirmu. Aku pun lunglai, tiada daya, ketika tanah merah telah sempurna menimbunmu.

Lalu hari-hari berlalu dan aku nyaris terpuruk, hingga beberapa purnama telah lalu. Di sini, di rumahku, setelah itu, tiap sudut adalah bayangmu. Aku runtuh, bukan hanya oleh kehilanganmu, tapi oleh sesal, betapa tak sempurna aku mengurusmu. Betapa lengah aku akan perobahanmu. Lalu aku berlindung dibalik hidup yang berat: mencari nafkah dan mengurus anak2ku, cucumu.

Ini Maret kita Mama. Kita adalah Pisces dengan watak yang berbeda. Kau diam, menerima takdirmu pun dengan diam, menyerahkan segalanya pada alam. Kau pun pasrah, ketika aku dan adik adik tak bisa mengejar sarjana, oleh ketiadaan biaya. Aku pemberontak dan coba melawan takdirku, dengan terus bergerak, karena aku ingin semua cucu mu sarjana. Kita sering berselisih soal ini, karena ucapmu: "sudahlah, jangan siksa dirimu untuk ambisi sebagai ibu hebat, menyerahlah, biarkan takdir menentukan. Anak2 itu bisa mencari jalannya. "

Aku sanggah engkau Mama dan aku katakan: "aku akan menyerah jika fisik dan otak ku tiada daya lagi. Karena itu aku mohon, doakanlah selalu kesehatan dan kewarasanku. " Aku lihat sekilas air menggenang di matamu dan aku pergi, sebelum tangis ku pecah.

Dua tahun sebelum pulang ke rumah abadimu, kau berkata: "pulanglah, kita hidup di kampung. " Lalu aku minta tangguh: "sabar ya ma, jalan ku telah diujung, beberapa tahun lagi selesai, aku akan pulang pada mu. "

Itulah sesal terbesarku, karena aku tak membaca tanda-tanda. Kau tak cukup waktu untuk menunggu selama itu, tak cukup. Kau pergi ketika tanggungjawabku pada anak anak belum usai. Rarau ku tiada guna lagi, kau telah tiada. Janji ku tiada guna. Kau yang baik baik saja, sehat dan awet muda, sekejap lunglai oleh stroke yang melanda.

Anak2mu bersepakat kau bersama ku karena aku, sulungmu, satu2nya yang perempuan. Segala daya diupayakan dan kau sembuh, secara fisik. Menemani dan menuntunmu setiap hari untuk berlatih kembali bisa berjalan, aku merasa ada yang hilang, kau banyak diam. Aku pahami, kau sesungguhnya merindu pulang, ke rumah masa kecilku, rumahmu.

Aku percaya masih ada waktu dan kita bolak balik Pekanbaru-Pariaman sekali dua minggu, karena engkau ingin seperti itu. Perkerjaanku kocar kacir, ekonomi ku terjun bebas dan aku nyaris putus asa. Ketika itulah aku berpikir: inilah saatnya pulang, sambil otak ku berkata: mungkin menjual rumah dan buka usaha di kampung halaman lebih baik.

Tiba-tiba engkau melemah dan seminggu setelah keinginanku untuk pulang, kau pergi, pergi, pergi yang abadi. Entahlah, jalan Allah sungguh manusia tiada duga. Kau pun dimakamkan di sini, di kampung kedua ku, Pekanbaru.

Ini Maret kita Mama. Hanya selisih beberapa hari tanggal kelahiran kita. Pelan pelan kucoba menghibur diri bahwa Allah telah mengatur jalan ini untuk ku. Aku masih bertahan di kota ini, melanjutkan tanggungjawabku. Sebulan sekali aku ke tempatmu, sekedar membersihkan rumput atau pun melafazkan doa doa, damailah diri mu di bawah sana, sampai datang janji Allah, saat manusia dihisab dan sorgaNya menantimu.

Aku masih sering menangis, setiap ingat, kenapa aku tak bisa memenuhi inginmu. Lalu aku akan melarikan diri kemana jiwa ku bisa tentram, tempat dimana aku bisa menangis tanpa malu, sajadah. Setelah itu jiwaku tenang dan aku menggumam: maafkan aku Mama, mungkin ini cara Allah menegurku, ngilu hati sejak kepergianmu membuatku suka ke sini, ke tempat dimana aku bisa mengeluh dan bercerita, juga meminta. Aku hanya manusia, tiada mungkin tanpa salah, tanpa dosa.

Ini Maret kita mama dan aku akan merayakannya tanpamu. Betapa besar kehilangan mu menorehkan luka di jiwaku. Selamat malam mama, aku mengenang, malam ini tentulah malam engkau menahan segala rasa sakit, karena aku mendesak ingin ke luar dari rahimmu, menjumpai takdirku. Besok aku akan ke rumah abadimu. Biarkan aku menangis di nisanmu. ***

Komentar

Postingan Populer