Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2009

SENGKETA

Gambar
"PERSOALANNYA bulan harta, Anakku. Tapi hak. Tanah ini adalah milik kita yang sah, apapun yang terjadi kita harus mempertahan kannya."

"Benar soal hak, tapi haruskah untuk itu kita saling bermusuhan. Haruskah karena itu kita saling dendam. Mak yang mengajari dulu, mengalah bukan berarti kalah. Tapi kenapa sekarang Mak tak mau mengalah?"

Perempuan tua yang dipanggil Mak oleh anak perawannya tersebut hanya diam. Dadanya yang cuma dibalut kutang tua, memperlihatkan dengan jelas susunan tulang-tulang di dadanya turun naik, seperti menahan sesak yang tak kunjung lepas.

"Muni, kau masih terlalu muda untuk memahami arti sebidang tanah bagi kita. Kelak bila kau dewasa, menjadi ibu, kemudian menjadi tua seperti Mak-mu ini, kau juga akan bersikap sama. Ingat Muni, sejauh-jauh pergi merantau, tanah kampung tetap punya arti."

Setelah itu diam. Tak ada yang ingin mulai berujar. Sayup-sayup suara jengkrik memecah malam. Sedangkan cahaya kunang-kunang kelap-kelip, menyelina…
Gambar
Lok dan Bulan 
Cerpen Luzi Diamanda

BULAN setengah lingkaran hilang timbul ditelan awan. Angin lembut menggesek daun-daunan, meraup malam dalam kesenyapan. Suara jengkrik dari bawah tanah, menjadi irama lain kesenyapan. Sedang bayang-bayang pohon asam tertimpa bulan, melengkapinya, meraup malam dalam keasingan.

Dalam keasingan malam, seorang wanita 50-an, duduk termangu di tonggak batang kelapa depan pondoknya, menatap lekat bulan seten gah lingkaran. Ada binar aneh di matanya, binar yang jadi misteri ketika hilang timbul bulan membuat malam kelam dan temaram.

Bibirnya berukir senyum, tapi bukan kegembiraan. Ketika semilir angin berubah dalam sekejap jadi kencang, dan membawa awan menu tup bulan, senyumnya jadi tawa. Selalu setelah melepaskan suara yang kuat, memecah hening malam, bibirnya komat-kamit, layaknya dukun membaca mantera.

"Loookkk..."

"Loookkk..."

Komat-kamit sang wanita terhenti, dia berpaling sesaat, ke bela kang, kemudian diam dan kembali menengadah, menyen…