PALUNG KESUMAT


                                         Foto Ilustrasi Internet



Cerbung: Luzi Diamanda

MALAM baru saja turun, bahkan azan Magrib berlalu belum lagi seperanjakkan duduk. Tapi gulita sudah begitu pekat menyungkup wajah desa, oleh ketiadaan lampu penerang yang bernama lampu jalan. Modernisasi memang belum sampai ke sini ke desa permai yang bernama Kultup ini. Hanya sesekali ada kelip lindap dari rimbunan semak di kiri kanana jalan setapak, kuning dan licin jika hujan.

Itulah cahaya sayap kunang-kunang, meski lindap mampu menerangi jalannya sendiri. Tetapi anak-anak akan lari dan bersembunyi jika melihat cahaya ini, karena secara turun temurun diceritakan bahwa cahaya kunang-kunang itu adalah cahaya kuku orang yang sudah meninggal dan mereka mencari kanak-kanak yang berkeliaran jika matahari telah tidur.

Senyap membuhulkan ketakutan menjadi ngeri, sehingga sepi oleh malam dan dedaunan dari cabang cabang pohon manggis hutan atau pinang, menyempurnakan suasana desa seperti mati. Bahkan gigilan anjing yang tercebur ke rawa dan susah payah menggapai tepi sawah, terdengar nyata, keras dan menyanyat hati. Lalu sahut bersaut dengan anjing lainnya, lolong yang sambung bersambung, menyempurnakan malam sebagai sebuah ketakutan. Meski sesekali ada cahaya dari suluh daun kelapa pertanda pemuda yang meronda mulai menuju ‘lapau’ kopi, tempat mereka berkumpul dan bercerita.

Desa yang bernama Kultup ini terletak beberapa kilometer saja dari ujung lidah air laut, tempat para nelayan dan petani tinggal secara bersama, adalah desa yang damai. Jika tak malam, pastilah kicauan burung atau cericitan anak tupai sahut bersahut, dari lambaian daun kelapa yang memenuhi desa. Desa yang menyembunyikan kecantikan beberapa gadisnya, desa yang meniadakan kesumat oleh ketenangannya.

Tapi malam ini beda. Gelap yang menyungkup, dingin yang merasuk oleh hujan yang hendak turun, tiba-tiba pecah oleh sorak, oleh pekik, pekik perempuan yang melolong panjang, menyampaikan sumpah serapah dan caci maki.....

Sontak, desa terang benderang, warga berlarian dengan nyala suluh di tangan, berkumpul pada titik dimana rarau tadi muncul. Sejenak saja, puluhan orang sudah mengelilingi seorang perempuan yang raraunya hilang berganti isak, pelan tapi memilukan. Perempuan itu mendekap kedua lututnya dan menyembunyikan wajah dibalik rambut panjang yang terjuntai hingga ke tanah.

Mereka sibuk dengan perempuan tersebut, membujuk, menanyai dan juga ada yang memberi minum, hingga mata mereka tak menangkap sesosok tubuh mungil, menggigil, tersandar ke batang pohon nangka, terletak di sudut kanan halaman rumah. Matanya nanap melihat ke sosok yang memangka lutut, lalu ganti berganti melihat cahaya api. Giginya gemeretuk, entah karena dingin atau takut. Dia terlupakan, padahal, sungguh jiwanya sedang butuh belaian, raganya butuh pelukan.

Bocah perempuan berwajah bulat dengan dua mata mencorong indah dan bibirnya, ya bibirnya yang seolah tersenyum sinis, meninggalkan kesan angkuh. Posisinya membuat leluasa untuk mencatat diam-diam, apa yang sedang menimpa perempuan yang ternyata bernama Maryam, yang tadi melolong panjang.

“Maryam, ada apa? Apa yang terjadi?”

Sebuah tangan mencoba mengurai rambutnya agar mereka yang berkeliling bisa melihat wajah penuh air mata tersebut. Tapi Maryam hanya diam, isakannya makin pelan.
Hening kembali pecah, ketika tiba-tiba dari atas rumah terdengar suara saling hardik, kemudian suara tangan beradu dengan meja. Lalu ada sosok-sosok berlarian turun dengan cepat, pergi menghilang ke dalam kelam. Terakhir seorang laki-laki keluar berkacak pinggang.

“Tidak ada yang berhak mengusir keluarga saya dari sini atau kita saling menghabisi. Pulang saja kalian,” katanya.

“Sabar Tam, ada apa?” seorang tetua kampung, sambil mengangsur langkah maju ke depan.

“Tak ada, pulang sajalah semua,” ujarnya.

Lalu dengan sigap tangannya memangku sosok perempuan yang memangku lutut tadi dan secara bersamaan matanya menangkap bocah perempuan kecil yang tersandar kecut.

“Sini nak, ayo naik, taka apa-apa, segalanya sudah selesai,” ujar Tambiluk, nama lelaki itu, sambil dengan sigap membimbing tangan bocah itu. Mereka menaiki tangga yang berjumlah tujuh undakan dan Tambiluk menghempaskan pintu dengan sangat keras, meninggalkan orang-orang yang terlongo, memandang heran, sebelum akhirnya bubar satu persatu. Desa Kultup kembali gelap gulita.

Di atas rumah Tambiluk, istrinya Maryam dan anak perempuannya yang masih bocah duduk mengelilimgi lampu teplok, sumber penerang. Tambiluk mengambilkan segelas air putih untuk sang istri, meminumkannya beberapa teguk dan meminumkannya juga para bocah perempuan tadi.

“Taka apa-apa, Surie, tak apa-apa, semua telah berlalu, jangan cemas, sini,” kata Tambiluk sambil memeluk bocah perempuan yang dia panggil Surie.

Dan malam terus menggulita. Tak sepi di rumah ini, isak satu-satu masih terdengar dari ruang tengah. Surie bergelung bersama seekor kucing jantan muda dwi warna, putih abu-abu, di sudut meja kayu, tempat dimana dia meletakan beberapa ranting kayu dan dedaunan, untuk permainannya jika matahari sudah terang dan masuk ke rumah dalam bentuk cahaya. Dengkuran kecil Suri berbaur dengan suara dari dada kucing, mengaliri irama satu kesatuan, seperti persaudaraan dan kesetiaan, meski bukan satu ras.

Tersendak oleh suara hentakan di atap pertanda seekor musang sedang lewat dan melompat, Surie mencuri pandang dari sudut mata ke tikar pandan yang sedepa ada dihadapannya, tempat tadi sang ibu duduk dan sesunggukan. Tikar itu sudah kosong. Surie merapatkan telinga ke lantai dan dia mendengar seperti bisikan, pelan-pelan, dari kamar orang tuanya. Tak ada lagi isak.

“Kita harus pergi..,” itu suara ibu.

“Kemana? Kita tak punya apa-apa, kita di sini saja, jangan takut, tak akan ada lagi yang berani mengusik kita, nyawa pun aku berikan untuk kenyamanan kalian,” itu suara ayah.

Suri dalam kekecilan otak dan nalarnya tak paham apa-apa, karena memang dia tak paham apa-apa. Tapi kata per kata yang ditangkap telinga bisa dia eja secara jelas, dalam hati dan jiwa, sebelum rarau panjang sang ibu mengusik malam, beberapa waktu tadi.

“Untuk apa kau pertahankan pernikahanmu? Anak-anak mu lihat, melarat. Sebaiknya kalian berpisah, jelas pula kau tanggungan keluarga,” suara seorang laki-laki terdengar penuh tekanan. Dari balik gorden kamar depan, Surie bisa melihat, yang bicara laki-laki dengan kepala penuh uban, tinggi besar dan giginya ompong.

“Saya tidak mau, dia ayah anak-anak saya. Kami sudah punya 3 anak,” suara ibu pelan dan Surie melihat ibunya hanya berani menantap ke bawah, ke kaki meja.

“Kalau begitu kalian pindah saja,” seorang perempuan gemuk, tapi cantik, secantik wajah ibu, terdengar bicara. “Ada tuh si Alek yang mau dengan kau, hartanya banyak,” timpalnya lagi.

“Kakak jahat, kalau kakak yang disuruh pisah bagaimana?” jawab ibu.

“Suami ku kan kaya, mana mungkin aku disuruh pisah, rumah ini, rumah di depan, sama sebuah heller penggiling padi, itu kan suamiku yang bangun,” jawab si gemuk, Surie memanggilnya Ibuk.

“Kau keras kepala, hidup menyusahkan keluarga, makan minum dari hasil sawah ladang keluarga, tapi kau patuh juga sama suami mu yang tak berguna itu,” laki-laki pertama tadi kembali men impali.

Tiba-tiba Surie melihat ibunya tegak, matanya nyala dan berkacak pinggang, mulai meracau tak jelas, sambil menunjuk-nunjuk orang dihadapannya, ada sekitar 4 orang. Diperlakukan seperti itu, laki-laki kedua, berbadan tegap, tinggi dan berkopiah, juga tegak, sambil menggebrak meja.

“Kau benar-benar tak tahu diuntung, wajahmu saja yang cantik, hati mu pekak. Sekarang turun kau dari rumah ini, suruh suami mu membawa kau dan anak-anak mu pergi, jangan jejak rumah ini lagi,” sambil menunjuk-nunjuk wajah ibu.

Saat itulah ibu merarau panjang, menyepak meja hingga lampu teplok jatuh dan lari ke halaman rumah sambil meraung-raung. Surie ikut pelan-pelan, menyatukan badan dengan dinding papan, agar tak terlihat oleh mereka dan duduk di bawah batang nangka. Tak jelas wajah ibunya tapi rarauannya sangat terasa, mengusik jiwa dan batin Suri yang bingung, yang linglung, oleh takut yang tiba-tiba menyergapnya, takut ibu kenapa-napa. Sampai akhirnya ayah datang dan membawa naik ke atas rumah.***

GERIMIS baru saja usai. Tanah basah. Titik air masih terlihat di ujung daun ilalang, juga bunga kembang sepatu yang banyak di halaman rumah, di sudut kanan, dekat jalan setapak, jalan dimana orang-orang lalu lalang. Burung-burung mulai kerkicau dan sepasang anjing sedang bergurau, saling mengaum, berlarian dan kemudian diam. Ini hari kedelapan setelah peristiwa malam yang menggemparkan, saat ibu Surie meraung dan merarau.

Surie turun ke tanah, membuat garis-garis dengan pecahan porselen. Ketika garis-garis tersebut akhirnya saling terambung membentuk kotak-kotak, Suri menatap dan tersenyum, menyadari garis-garis tersebut lurus dan tepat. Dia hendak main ‘sedapak’ meski hanya sendirian. Lalu Surie pun mulai melompat-lompat di kotak-kotak yang dia buat, sambil memindah-mindahkan pecahan porselen tadi, dari satu kotak ke kotak lainnya. Kadang Suri bergumam, seolah-olah dia tidak sendirian. Kadang dia tertawa, serasa menjadi pemenang dari permainan tunggal tersebut.

Meski membelakangi jalan, telinga kecil Surie mendengar riangnya tawa kanak-kanak perempuan. Secara refleks Surie menoleh dan melihat tiga kanak-kanak sebaya sedang berjalan pelan, tangan mereka memegang ubi jalar yang sudah direbus. Mereka tertegun sejenak melihat ke arah Surie dan serentak membawa tangan kecil mereka ke arah belakang, maksudnya agar ubi tadi tak terlihat Surie. Terlambat, Surie sudah melihatnya. Tapi Surie tak peduli.

“Hallo teman-teman, main sedapak yukk…” Surie melambai ke arah bocah-bocah tersebut. Mereka saling berpandangan dan serentak menggeleng.

“Kami mau pulang, kata Tek Ipot kami harus terus jalan pulang, gak boleh mampir..” salah seorang dari bocah tadi menjawab, dia terlihat lebih besar, dengan rambut sebahu yang kaku dan kakinya terlihat hitam-hitam, bekas korengan.

“Kami dilarang dekat-dekat kamu Surie, kata mamak gak boleh,” lanjut yang lain.

“Kenapa?” polos Surie bertanya.

“Ibu mu kata mamak ku mulai gila..” yang paling pendek diantara ketiganya menjawab, tanpa merasa berdosa, kepolosan kanak-kanak, yang mulutnya bercuap apa saja yang dia dengarkan di telinga.

Duarrr…parrr..deegg. Surie terhenyak, dalam jiwa, meski masih tertegak. Matanya nanap, tapi mulutnya kelu, tak bisa menjawab. Teliganya masih mendengar cekikikan tiga bocah sebayanya tadi sebelum hilang di kerumanan batang bunga sirantan. Surie tercenung, menatapi pecahan porselen yang ada di tangan kirinya. Kata-kata itu seperti dengingan lebah, bernyanyi-nyanyi sumbang di gendang telinganya.

“Kata mamak ku ibu mu mulai gila’ kalimat yang membuat Surie tertikam, meski dia tak paham. Ada air mata jatuh dan Surie pun meraung.

“Hei ada apa, mengapa kamu menangis,” kata ayah, sambil menghampiri Surie dan meninggalkan daun kelapa kering yang sedang dia sisir dari kayunya. Daun kelapa yang akan membuat tungku mereka bisa nyala dan kayunya menjadi alat untuk memasak di dapur.

“Kata Nanak, mamaknya bilang Ibu mulai gila…” Surie tersedu-sedu, sehingga tak melihat wajah ayah yang menegang dan giginya gemeretuk.

“Ya sudah, ayo naik,” ayah membopong badan kecil Surie dan membawa menaiki tangga, untuk sampai ke atas rumah. Pertama kali Surie menghitung tangga dari batu itu, jumlahnya sembilan, bukan tujuh, dari tanah hingga paling atas. Ayah menurunkannya di tangga dapur, tempat Ibu sedang mengukur kelapa.

“Keluargamu memang tak bisa didiamkan lagi. Kurang ajar semua, jahanam,” suara ayah menggelegar di telinga Surie, ibu terhenti tangannya dari mengukur kelapa.

“Ada apalagi ayah? Biarkan saja mereka,” kata Ibu.

“Anak mereka saja bisa bilang kalau kau gila,” ujar ayah.

Ibu tertunduk dan Surie melihat airmata menetes dari wajahnya. Ayah diam, Surie bungkam. Bisa apa dia? Surie sejenak bisa mencerna, dia salah kata, harusnya tak menyampaikan ke ayah ucapan Nanak tadi, masalahnya jadi panjang, jadi rumit. Tapi sudah terlanjur. Surie menunduk dan meringkuk, menyudut ke bagian atas tangga dan bersandar di tonggak pintu.

Ada sesal masuk ke hatinya, mengapa tak pandai menyimpan kata yang akan membangkitkan amarah ayah. Tapi pada sisi lain hatinya bingung, dia hanya paham sedikit saja dari masalah ini, tapi tak mampu mengurainya.

Tiba-tiba ayah mencabut golok yang terselip di dinding tadir, dekat jendela kecil di atas tungku dapur. Sejenak dia sudah hilang, seperti terbang. Ibu tegak dan berlari menyusul. Surie bengong, tapi berdiri dan diam-diam berlari di belakang ibu. Melewati kebun ubi, melewati kebun talas dan terlihat ayah berhenti di depan sebuah rumah semi permanen, berwarna kuning.

“Ooiiii kalian yang di atas rumah, turun ke halaman, hadapi aku, aku bunuh kalian semua. Jangan gaanggu keluargaku, kalian dengar itu? Jangan ganggu keluargaku,” ayah berteriak-teriak, sampai kain sarungnya lepas.

Rumah itu tertutup rapat dan Surie melihat dari jauh, di kolong, bersembunyi di balik potongan pelepah rumbia, Nanak duduk, diam, seperti patung. Sekilas, dia juga menatap Surie. Matanya menyorotkan kemarahan. Surie undur, berbalik dan berjalan pelan, terus arah ke semak ubi, makin ke dalam dan sampai diperbatasan hutan. Ada pohon saga, dipenuhi perdu, pandan berduri. Di rumput, Surie melihat buah saga merah-merah bertebaran, tapi dia tak berniat memungut, seperti biasa. Hatinya kacau.

Surie duduk di pokok sebuah pinang dan menyandarkan kepala ke batang yang licin itu. Semak dan rimba menhyembunyikan panas dan menyuburkan angin, sehingga Surie merasa nyaman dan mengantuk. Tapi kepala kecilnya berputar-putar, mendengar lengkingan suara ayah yang membawa parang dan ibu yang memekik-mekik, menyuruh ayah pulang. Semua berbaur dan pelan matanya kabur, Surie tertidur.
“Surie bangun, ayo bangun…” sebuah tangan mengoyang-goyang badan Surie dan dia pun membuka mata.

“Oh, iya Pak Etek,” kata Surie, kepada lelaki baya yang membangunkannya. Lelaki itu menjunjung rumput di kepala yang dimasukan ke dalam daun kelapa yang sudah dianyam membentuk tong. Dia merungkuk sedikit, menarik tangan Surie dan melepaskannya ketika Surie sudah sempurna bangun.

“Pulang sana, nanti ayah mu mencari, kau ini mataharinya, pulang ya???’

“Iya Pak etek,” dan Surie pelang berjalan, meunuju arah datang, ke jalan setapak, sebelum hilang dirimbunan pokok ubi.

Pelan-pelan masuk rumah dari pintu belakang yang terbuat dari pelepah rumbia yang disusun, Surie tak menemukan ayah, hanya ada ibu yang sedang menangis, sambil memeluk Kinantan, adik laki-laki Surie paling kecil, masih berusia 6 bulan. Kinantan menyusu dan tak terganggu dengan tangisan ibu. Pelan, Surie melihat ibu membelai rambut Kinantan. Pelan Ibu berkata lirih; cepatlah besar Nantan, bangkitkanlah batang terandam. Jaga ibu dan kakak perempuanmu.

Suri mencari-cari dengan sudut mata adik satunya lagi, si anak tengah, Surai. Tapi dia tak menjumpai anak laki-laki 3 tahun itu, telinga Suri mendengar teriakan-teriakan Surai, rupanya dia lagi main kelereng di halaman samping dengan teman sebaya. Surai tak sedikit pun merasa apa yang kakaknya rasa.

Surie ingat, saat malam pengusiran ibu, Surai dan Kinantan sudah tidur, pulas, di kamar tengah, kamar orang tuanya. Surie masih bangun, karena biasanya Surie baru bisa tidur jika sudah dibacakan dongeng oleh sang ayah dan kamarnya sudah terpisah, Surie di kamar belakang. Malam itu memang belum waktunya ayah membacakan dongeng atau ibu menceritakan tentang Malin Kundang, Rambun Pamenan, Pinyaram tujuh atau pun Rajo Angek Garang. Cerita-cerita yang dilahap Surie dengan tenang dan dia hapal satu per satu, tetapi selalu tak pernah bosan, meski setiap hari diceritakan.

Surie juga masih kerap canggung di kamarnya, kamar besar, 4x4, dindingnya dari papan, tersusun rapi. Ada gambar-gambar tergantung di dinding, dari gambar wanita cantik hingga pemandangan. Lemari besar, tiga pintu, berdiri kokoh dan satu cermin antik, oval, juga tertempel erat didinding. Tempat tidurnya adalah tempat tidur besi, kokoh, dengan tonggak-tonggak penuh ukiran, berkelambu putih dan gelang-gelang yang terdapat di pagar tempat tidur tersebut akan berbunyi setiap Surie naik ke atasnya. Di dinding lampu teplok dengan kaca setengah pecah, jadi cahaya bagi Surie jika malam datang. ***(bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ikan Arwana Ditangkar Dalam Hutan Lindung di Pekanbaru

Palung Kesumat