SIRANTAN

Cerbung Luzi Diamanda

SEJAK kepergiannya yang tragis di ujung senja dari negeri yang awalnya membawa harapan, hanya satu yang  dia bawa, kekosongan. Bukan cinta apalagi harapan. Sekejap hatinya membeku, ngilu.

Seorang Pria dewasa, 45 tahun, kaya raya, telah membunuh hati gadis yang 19 tahun pun belum, ketika dengan caranya pria itu menolak perjodohan, membawa kekasih hatinya kehadapan gadis itu dan berkata: inilah istriku, sebentar lagi, bukan kamu.

Gadis itu sejenak diam, terpana, tergugu, sebelum menghilang, tanpa pamit apalagi masuk ke dalam, ke tempat keluarga sedang membincangkan pernikahannya dengan pria itu. Inilah puncak dari segala kekusutan hidup, keputusasaan, dalam kemelut keluarga sejak dia paham apa arti perih.

Sudah lama gadis itu tak berpikir tentang sebuah bahu untuk bersandar, tidak juga diujung senja itu. Seperti kucing yang melata dijalanan, hanya naluri untuk hidup yang membuatnya bertahan. Segala cara adalah teknik untuk hidup, untuk makan, untuk tetap berpijak di tanah dan bukan terkubur di bawahnya.

Dia belajar membunuh kenangan, membunuh rumah dengan dua pokok cempaka di halaman, membunuh kampung tempat kelahiran, bersama cinta yang tertinggal didalamnya, dari segala pikiran. Hanya ini cara untuk bertahan.

Lalu kucing jalanan itu membuang diri ke dalam sebuah pelarian yang ternyata tak gampang. Diperlakukan seperti orang buangan, dicaci dan direndahkan, karena dia adalah perempuan.

Pelarian yang salah tapi harus dilakukan, kesumat telah menutup segala pikiran, hanya ada satu tujuan: melakukan perlawanan. Maka pelan-pelan kucing itu bermetamorfosis menjadi harimau, tapi masih menyimpan auman, belum mengeluarkannya.

Tuhan memberinya sebuah senjata yang ampuh agar bisa bertahan, secara moril mau pun materil dalam rimba raya hidup yang amat tragis. Kemampuan bermimpi dengan akal bukan hanya dengan hati dan akal itu menuntun jari jari untuk menuliskannya dengan indah, menjadi fiksi, cerita.

Maka gadis kampung dari rumpun rumbia itu memilih hilang dari negeri asal, tumpah darah, melalang buana di ibukota propinsi, dengan hati perih, dengan kaki melepuh, dengan gaya kumal, karena pergi hanya dengan baju di badan. Tapi terus membawa mimpi, bahwa kelak dia akan sampai pada cahaya.

Dan mimpinya yang terus dibangun menjelma tulisan indah satu persatu menghiasi halaman surat kabar, memberinya uang, dari honor. Gadis itu memulai langkah baru, dari titik nol, meski belum bisa memastikan kemana akan berlabuh.

Kesumat terus menuntun untuk tidak pulang, tidak ke kampung halaman, dimana gadis itu tau pasti, sebuah hati terus menanti, sebuah cinta dari seorang laki-laki, sebuah hati yang patah ketika dia pergi. Tragedi perjodohan membuat gadis itu pilu dan mengambil kesimpulan, tak perlu ada hati. ***


SIRANTAN

Panas di ubun-ubun memerihkan raga, hingga ke kaki yang cuma bersandal jepit. Gadis itu berjalan pelan, tertatih dan airmatanya mengering begitu tiba di pipi yang memerah, matahari menyengat dan menguapkan dengan sekejap. Tersisa perih.

Dia tak lagi sanggup menghitung langkah. Berjalan kaki di pinggir pantai Padang yang masih masih menyisakan anyir ikan. Dunia terasa kelam, legam, menjelaga ke jantung hati. Meruntuhkan harap, membakari segala kasih dalam jiwa. Dunia, ooo harta kenapa kau palun sengsara jiwa raga.

Dari awal langkah dia tapak di Jalan Raden Saleh hingga berbelok ke jalan Pemuda, 5 kilometer telah dilalui, awalnya sambil bernyanyi nyanyi kecil meriangkan hati. Nyanyi hilang seiring peluh yang mengucur, dari kening ke dada, menembus sukma, menggumpal darah luka. Nyanyian cacing bak jarum menusuki usus, nyeri.

"Maaf Dek, gak bisa ambil honor hari ini, orang keuangan sakit," suara pelan satpam sebuah media di Jalan Pemuda itu seperti guruh, mengguguh, segala sendi. Meski tak banyak, honor itu bisalah buat makan satu minggu. Lunglai dia keluar pintu kaca, mendorongnya, keluar dan tak kuasa menoleh agak sejenak, ke belakang.

Pada titik dimana lapar tak bisa lagi menahan waras pikiran, gadis itu sejenak ingat kampung halaman, sejenak saja. Perih oleh penghinaan perjodohan yang gagal menguatkan kesumat.

Dia ingat wajah sumringah sang ibu, saat mengatakan betapa kaya lelaki yang akan menjadi suaminya. Sejenak gadis itu merasa bersalah, mengingat betapa hati sang ibu kini tentu sedang tercabik cabik. Tapi hanya sejenak, seperkian detik, sebelum rasa sakit menggugurkan segala rasa.

Pelan dia ingat seseorang, saudara yang belum dua bulan dia kenal, sejak perjodohan itu mulai dibicarakan. Lelaki baya yang menyebutnya kemenakan, memeluknya dengan kasih, ketika rundingan menghadirkan seluruh keluarga besar, sebelum gadis itu dibawa ke rumah calon suami.

"Beruntungnya kamu kemenakanku, sebentar lagi jadi istri pedagang kaya, tinggal di rumah besar, singgah singgahlah di rumah Mamak," kata lelaki itu sambil mengelus rambutnya penuh sayang.

Gadis itu ingat, rumah lelaki yang menyebut dirinya Mamak tak berapa jauh dari tempat dia tegak, di pantai Purus, dengan ombak yang terus menggerus pantai, kini deburannya juga menggerus hatinya. Pelan dia berbalik, melangkah pelan beranjak ke tempat tujuan.

Rumah kokoh bercat putih dengan pagar besi hitam yang runcingnya berwarna keemasan, meragukan niatnya, sejenak, untuk masuk. Tapi rasa lapar, haus dan lelah, mengalahkan takut. Pelan dia buka pagar, masuk dan mengucap salam.

Pintu pun terbuka. Wajah yang begitu ramah, tangan yang penuh kasih saat memeluknya dirundingan  perjodohan, sirna seketika. Betapa garang dan kaku wajah kelaki dihadapannya. Betapa kuat tangannya tergenggam, seperti mengumpulkan kebencian, membentak, memaki dan mengusirnya seperti anjing jalanan.

"Anak tak tau diuntung, mempermalukan keluarga. Mengapa kau datang ke sini? Harga diri apa yang kau pertahankan? Jangankan pacar, berbini dua pun laki laki tidak jadi soal. Kau makan harga diri kau sebagai perempuan itu. Pergi kau dan hidup dijalanan dengan harga diri kau," kata lelaki itu, sambil menunjuk arah pintu pagar.

Gadis itu tak lagi bisa menangis, raungan tak menjeritkan suara,  hanya menusuk ke sanubari, menorehkan tambahan luka. Sebelum sempat dia berbalik, pintu di depanya dihempaskan, bersama tubuh sang Mamak yang hilang dibaliknya.

Pelan dia mundur, turun dari teras dengan cara yang sama, seolah ingin mengatakan,  ini wajah ku ini dada ku, yang masih tetap pada tempatnya karena harga diri. Kalian kurcaci, yang merasa halal melukai aku, untuk satu kata saja, kaya. Dan secepatnya dia berbalik, dengan kepala tegak, keluar pagar dan melangkah kembali, mungkin masih ke tempat pulang, ke tempat menompang. Satu keluarga yang dia kenal saat ikut les mengetik.***


SIRANTAN

Gadis itu, Sirantan, berdiri di depan kaca, mematut matut wajah sendiri. Kaca yang retak pada dua sisi tetapi masih merekam dan memantulkan wajahnya tanpa goresan, wajah bulat telur yang sempurna. Dia tatap dagu, tak terlalu runcing tapi sangat cukup berada di bawah hidung yang pas dan cantik diantara dua pipi, meski tak terlalu mancung.

Sirantan tersenyum, menarik sedikit bibir kiri ke atas, membukanya sedikit  tetapi telah cukup menampakkan gigi yang tersusun rapi, indah. Senyum khas, senyum yang selalu dikatakan banyak orang sebagai lambang keangkuhan, tetapi tiada yang paham itulah senyum penuh  misteri, nyeri. Senyum yang tercipta saat masa remaja menyuratkan jalannya tidak sempurna, berbeda, oleh tragedi.

"Ini senyum penuh luka, senyum ngilu, senyum gadis yang teraniaya. Senyum yang menyembunyikan betapa jiwa membawa banyak sengsara," batinnya.

Lalu terus ke mata, mata yang sempurna meluruhkan pertahanan lawan jenis. Gadis itu menatap nanap bola matanya, yang entah mengapa berwarna pirang coklat, bukan hitam seperti kebanyakan dimiliki masyarakat desa. Mata yang seolah lindap tapi tajam ketika bersitatap. Mata yang memancarkan cahaya luka dan kesumat, tetapi juga menjadi magnit yang meruntuhkan,  yang meluruhkan. Orang orang selalu menyebutnya cantik,  cantik khas gadis desa.

"Tatap mu itu seperti tatap dari dunia lelembut, menyaru, merayu. Tapi juga seperti tatap tukang sihir, jadi jangan pernah menatap lawan jenis mu terlalu lama," kata seorang dukun, tempat dia pernah dibawa, saat tragedi di ruang ICU Rumah Sakit hampir saja merenggut nyawa seorang Co As atau calon dokter.

Gadis itu merasa ada yang jatuh di sudut mata, tapi hari-hari yang berat setelah pelarian membuat sekejap dia menahan geraham, menggeleng dan air mata yang harusnya turun dan bisa meredakan sedikit nyeri, menghilang. Di matanya dalam cermin, melintas prahara itu, prahara malam berdarah, terjadi ketika belum 16 tahun terlahir ke dunia ini.

Berawal kala rasa sakit di bawah perut bagian kanan  yang membuatnya meraung-raung dan dokter menyimpulkan, Sirantan harus operasi malam itu juga, usus buntu sudah parah, bisa membusuk jika tidak diangkat. Dia pun harus merasakan dinginnya ruang operasi, meski perih disayat pisau bedah telah dinetralisir bius total. Saat terakhir yang dia ingat hanyalah seluruh baju yang melekat dibuka dan tubuh polosnya cuma diselumuti kain bewarna biru muda. Kemudian senyap.

Entah jam ke berapa setelah kembali ke ruang ICU  tak lagi bisa dia cerna, saat antara sadar dan tiada Sirantan merasakan ada yang mengelus tubuhnya, dimulai dari ujung kaki. Sirantan juga seperti mendengar suara lirih berbisik di telinganya. 'Tenanglah sayang, kau tak akan kesakitan, teruslah tidur."

Tetapi dinihari yang hening pecah oleh pekik dan rarau. Kesadaran yang pelan pelan muncul, memulihkan ingatan. Dia melihat sang ayah dipegangi banyak orang dan CoAs yang tadi dia lihat dalam kamar operasi dan mereka sempat bersitatap sebelum kesadarannya hilang, kini tergelatak, mulutnya mengeluarkan darah. Tiba tiba kesadaran Sirantan kembali hilang.

Ketika waktu memberi nikmat akan hidup, gadis itu mulai pulih, duduk di kamar rumah sakit. Tapi kini jiwanyanyalah yang sakit, berdarah, darah yang akan dia bawa selamanya, sepanjang hidup.

Kabar itu bak sembilu menusuk hati, menyanyat nyayat nadi. Co As itu mengerayangi dirinya saat belum sadar betul, ketika tubuhnya cuma tertutup selimut rumah sakit. Sang ayah yang mengetahuinya memukul telak wajah sang CoAs, terjatuh dan berdarah, tapi nyawanya tak pergi.

Ada sesal, kenapa kejadian itu tak disembunyikan saja, agar jiwanya terjaga. Tapi waktu tak berpihak. Keluarga meminta dokter melakukan tes keperawanan, memastikan dia tak apa apa. Tak ada yang peduli, tak ada yang mengerti, hatinya menjerit, menangis meratap, oleh rasa malu, tercampak dan dihinakan. Tak ada yang bertanya kenapa air matanya terus menetes seusai tes itu. Tak ada yang bertanya pendapatnya, meski tubuh itu miliknya. Sungguh, Sirantan ingin mati.

Pelan gadis itu surut dari depan kaca, ketika ada ketukan di pintu, seseorang memanggil dan Sirantan keluar, matanya bertemu sepasang mata yang menatapnya nanar, seperti terhipnotis. Lelaki yang mungkin usianya tak berjarak terlalu jauh, rapi, wangi dan gagah. Berdiri di sisi Ubay, tempat dia menompangkan diri, dari segala keterluntaan ini.

"Mari kita ke ruang tamu. Ngobrol. Ini Sago, famili kak Ubay, ayo kenalan."

Sirantan diam, diam yang hening. Nalurinya berkata, akan ada sesuatu, tentang dirinya, sebentar lagi akan terjadi. Dia menatap lantai sambil berjalan, menatap semen yang mengkilat, karena sering digosok dengan ampas kelapa, memantulkan bayangnya sendiri, samar. Dadanya bergemuruh, buncah.**


SIRANTAN

"Sirantan, ini Sago adik angkat Bang Rasit. Sago lagi cari istri. Kemaren dia lihat kamu waktu jalan kaki di pinggir laut dengan wajah sedih. Jadi dia ikuti dari jauh. Rupanya kamu pulang ke sini. Ayo kenalan, mana tau jodoh," Ubay berkata lunak. Tapi di telinga Sirantan, gadis desa itu, seperti sembilu, mengiris gendang telinganya, menggaungkan tekanan ke anak telinganya, bahwa itu perintah, atau pergi dari rumah ini.

Saat Sago mengulurkan tangan, kaku Sirantan menerima dan laki laki itu menekankan telunjuknua ke telapak tangan Sirantan, sebuah sikap yang sungguh tak disukainya. Bagi Sirantan, itu semacam pelecehan, oleh seorang laki laki kepada perempuan. Sirantan menatap tajam ke arah mata Sago, memancarkan kemarahan dari jiwanya.  Pelan Sago menarik tangannya.

Ngilu kembali menjalari seluruh urat nadi. Sekilas membayang wajah lali laki yang dijodohkan dengannya, berambut ikal dengan belahan pada bagian kiri begitu jelas, disapu minyak rambut, terlihat licin dan mengkilat. 

Di mata Sirantan, itulah gaya dengan kemunafikan. Klimis, rapi, tapi hatinya busuk dan culas. Jika dia tidak suka perjodohan dengan Sirantan, kenapa tidak mengatakan pada ibunya atau pada ninik manak yang membuat perundingan? Kenapa seolah olah dia juga menerima?

Lalu melempar lembing ke jantung hati Sirantan, agar gadis desa itu terluka, terhina dan pergi dengan sendirinya, membawa malu, membawa ngilu. Dan dengan tanpa berdosa laki laki itu akan mrlempar semua salah pada Sirantan, bahwa dia, gadis desa yang papa, tak punya apa-apa, selain seraut wajah yang lumayan cantik, telah menolak perjodohan itu dengan pergi darinya. Sejenak jiwa Sirantan menggigil, hanya sejenak, pilu tiba-tiba menuntunnya untuk diam, tenang, duduk di kursi tamu  di depan Sago, seolah tak ada apa apa.

"Sirantan, menurut kakak tak baik juga gadis muda sepertimu hidup tak jelas, tanpa pegangan, tanpa penghasilan. Berkenalanlah dulu dengan Sago, jalan lah dengan dia, mana tau kalian jodoh," lembut suara Ubay dirasakan Sirantan seperti bara tempurung yang dilempar ke segenap tubuhnya, membakar, menghanguskan tapi tidak mematikan. Gadis itu megap-megap, sejenak serasa oksigen habis  dan tak bisa dia hirup untuk sekedar bernafas.

Sejenak dia tatap Sago. Laki laki itu mengangguk pelan, sambil melempar senyum terbaiknya ke arah Sirantan. Tanpa rasa, tiba tiba logikanya menyentakan, bahwa inilah cara Ubay mengusirnya dari rumah ini, mengumpankan Sago. Laki laki itu terlihat lugu, tidak jahat. Dari balik kemeja yang buahnya sengaja dibuka dibagian atas, Sirantan melihat kuning mengkilat rantai emas yang dijadikan kalung. Pergelangan tangannya juga dililit rantai emas, seakan ingin memberi tanda, dia orang berpunya.

"Baiklah, kita berkenalan dulu," seolah tanpa nyawa, jawaban itu meluncur begiti saja, jawaban yang lelah jawaban yang pasrah.

Malamnya Sago datang lagi, membawakan Sirantan beberapa stel baju, lengkap dengan sepatu, tas dan make up. Tak lupa juga hadiah untuk Ubay dan Rasit, plus sate untuk makan malam mereka. Sirantan melihat mata Ubay berbinar binar, mengisyarakatkan, hadiah itulah yang ditunggunya.

Sejak hari itu, Sago dengan senang hati mengantar jemput Sirantan, kemana jalan hendak dia tempuh. Lebih sering duduk di rental komputer dan Sirantan melepas segala lara dengan kata, memencat huruf hutuf sesuka jiwa bercerita. Imajinasi liar dan impian yang hancur, lahirlah cerita cerita pilu yang jadi santapan ruang cerita remaja di koran minggu dan disukai. Tapi honornya tak seberapa. Tak cukup untuk jadi sandaran hidupnya. Terlintas bekerja, tapi bagaimana? Pelarian tanpa rencana ini telah membuatnya tak punya apa apa, ijazah dan berkas lainnya masih tersimpan di desa.

Suatu malam Sago membawanya menonton, film Rhoma Irama, Satria Bergitar. Kemudian makan martabak mesir di bofet Kubang, dekat Pasar Raya. Pulang agak malam, sudah pukul 23.00 WIB. Saat mengetuk pintu, Rasit yang membukakan. Berbasa basi sejenak, sebelum Sago hilang, pulang, neninggalkan deru RX King tunggangannya, yang memecah hening malam.

Rasit bukan masuk ke kamar depan, tempat istrinya Ubay dan bayi mereka tidur, tapi terus mengikuti Sirantan, menuju sudut dapur, tempat kamarnya yang kecil pengab dan panas berada. Lalu berkata, "Rantan, ada yang mau aku katakan. Sago serius mau menikahimu, tapi dia meragukan kegadisanmu, karena itu dia ingin memastikan bahwa kau masih perawan."

Sirantan nembalik dan wajahnya nyaris bersentuhan dengan wajah Rasit, yang hanya beberapa jengkal di belakangnya.
Otaknya bekerja cepat, karena  dalam kebersamaannya dengan Sago, laki laki itu belum pernah memintanya menjadi istri. Sirantan surut, nalurinya menuntun ke arah rak piringyang sudah sangat hapal bagi Sirantan, karena selama tinggal di rumah Ubay dialah yang memegang semua urusan dapur, seperti pembantu tapi tanpa gaji.

"Bagaimana cara membuktikan aku perawan atau tidak?" Mata Sirantan awas, melihat kemana arah kaki Rasit bergerak.

"Aku yang akan mengetes mu, Sago telah mempercayakan padaku. Masuk lah ke kamar, pelan pelan saja, jangan bersuara. Percayalah, kau akan menikmatinya. Tidurlah denganku," suara Rasit menghentak, mendentam, memalu segala kesadarannya. Langkah Rasit yang pelan mendekatinya, seperti langkah harimau yang siap menerkamnya, mengoyak-ngoyak tubuhnya, mencabik dan memakan jantung hatinya.

Reflek Sirantan membalik, meraih pisau dibagian atas rak piring tiga tingkat itu. Kembali membalik dan menghunusnya ke arah Rasit. "Berani abang maju kutusuk dengan pisau ini. Berbaliklah atau aku berteriak."

Rasit terdiam, langkahnya terhenti. "Dasar jalang. Kau akan merasakan akibatnya," kata Rasit sebelum hilang dibalik pintu.

Memasuki kamar 2x2 dengan dinding triplek, air mata Sirantan jatuh, satu satu. Lalu tangannya pelan bergerak, mengemasi seluruh barang yang dia punya, membungkus dengan kantong kresek. Hatinya tak lagi bisa mencerna, karmakah ini karena melawan kehendak orang tua, atau ada takdir lain yang sedang menunggu? Sesunggukan Sirantan duduk di depan pintu. Menjadikan badannya palang untuk pintu itu, takut Rasit kembali sambil Sirantan terus menghitung waktu, cepatlah fajar mendatangi bumi tempat Sirantan berpijak saat ini. Ya, dia harus pergi tapi bukan tengah malam ini.*** (bersambung)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ikan Arwana Ditangkar Dalam Hutan Lindung di Pekanbaru

Palung Kesumat