TRILOGI PALUNG KESUMAT

 


(LELAKI 12 PURNAMA)

 

Kau datang dari masa lalu, dari 480 purnama, masih putih abu-abu. Kemudian, ketika 120 purnama lalu kau mencari ku, aku bahkan hampir tak mengingat rasa itu. Karena hidup terus berputar dan hati berotasi.

"Jalan ku berliku dan tak ingin ku bagi. Biar jadi milik ku."  Hanya itu kata ku dan aku pun mengerti  pastinya kau tak sendiri.

Kita berpisah di ujung senja. Lalu bisu dan kembali saling lupa. Purnama ke purnama terus berganti. Aku pun mencoba menautkan hati pada hati lain, tapi tetap saja menuai luka. Aku tetap sendirian memikul segala beban.

Mungkin aku memang tidak diberi tulang rusuk agar bisa dilindungi, dijaga dan dikasihi. Tapi diberi tulang punggung yang kuat, bahu yang kekar, agar bisa merengkuh beban.

Tangis ku telah lama hilang dan aku menjelma kunang-kunang, membuat cahaya untuk jalan ku sendiri. Jangan tanya betapa pahit betapa sakit.

Tiada ada yang menawarkan pelita hanya bara yang menghanguskan jantung. Lalu aku pun berlari membawa hati sambil terus mengajari tujuh naga terbang dan mandiri. Hati ku beku dan rasa ku mati.

Suatu pagi, mungkin 20 purnama lalu, aku merasa kaku, ketika membaca begitu banyak kata duka cita di lini masa mu. Dia, yang kau beri tulang rusuk dan kau jaga dengan sangat baik, pergi, pergi ke rumah abadi. Aku bahkan tak berani sekedar berucap duka. Aku hanya ingat pergi dan lari, bukan mendekati.

"Cinta hanya sekali sesudah itu imitasi, makanya aku terus mencari," kalimat itu mengiang, terucap dari mu, lama sekali, dalam jumpa 120 purnama itu dan saat tulang rusuk itu setia mendampingi mu.

Lalu entah mengapa, kau datang ke kota ku, berkabar dan mengajak sekedar bertemu. Baru saja, belum 2 purnama. Bahkan ketika di depan pintu mall itu kau menunggu, kita hanya sempat berjalan ke tempat parkir, karena teman-teman mu sudah menunggu.

"Sungguh, aku telah berniat tidak akan menghubungimu. Kutimbang-timbang dan terus berjalan di kota mu. Tapi begitulah, terpencet juga nomor mu. Selalu begitu. Kesadaran ku tak ingin menjumpai mu tapi bawah sadar ku menuntun jari untuk menghubungimu." Kalimat mu mengusik kenang masa lalu.

Waktu bergulir begitu saja dan aku juga tidak berpikir tentang kita. Tugas ku masih ada. Itu yang utama. Rantau telah memakan jiwa raga dan hanya ada kata kerja dan kerja. Naga ku masih ada yang belum bisa terbang

Sampai alam mengarahkan ku kembali pada mu. Ke kota mu untuk sebuah rencana kerja, kita malah bertemu. Begitu cepat. Dan tiba-tiba aku menemukan rasa yang dulu.

"Temani aku. Mari menua bersama," lirih suara mu.

"Beri aku waktu 12 purnama. Aku harus menyelesaikan tugas ku. Kau pun harus menyelesaikan tugas mu, terhadap jiwa yang karena kita mereka ada. Jangan buat hati mereka luka," kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut ku.

Semua mengalir. Kau jadi orang paling setia mengantar dari satu tempat ke tempat lain, sampai saatnya tiba, aku harus kembali.

"Aku tunggu 12 purnama itu," tiba-tiba telinga ku menangkap kalimat mu, di ujung senja, saat aku harus kembali ke kota ku.

"Jaga saja hati ku. Selesaikan tugas mu. Aku tidak mau memakan hak piatu, karena aku adalah ibu. Aku juga tak mau kau memakan hak anak ku." aku pun berlalu.

Ketika bus membawa ku pergi aku ingat percakapan konyol kita.

"Jika ada yang ingin merawat hati mu dan jalan berdampingan, apa yang kau mau?" entah mengapa kau bertanya.

"Dia harus mampu mengambil alih beban ku."

"Aku bisa. Apa lagi?"

"Dia harus punya bahu yang kekar untuk bisa ku sandari "

"Bahu ku kekar. Apalagi?"

"Dia harus sejajar dengan ku untuk mendampingi, bukan ikut membebani."

"Aku bisa. Apalagi?"

"Tentunya dia juga harus seperti ku, tak menua secara raga meski sudah menua secara usia."

"Aku tidak terlihat tua kan? Masih sama dengan mu." Dan percakapan konyol itu berakhir dengan tawa lepas kita.

 

Bus terus melaju dan kali ini aku coba berkata pada hati: jika memang ada pelabuhan yang mendamaikan, kenapa harus lari?

Aku berpikir untuk membiarkan alam bekerja atas restu Illahi. Jika takdirnya adalah jalan ku mengapa harus ragu? Tapi tak perlu terburu-buru. 12 purnama biarlah berlalu. (Bersambung)

Menua Berdua di Kaki Merapi

"Tubuh ku tak tahan panas, tapi juga alergi  dingin dan debu, kerap kali bergantung pada obat. Karena itu aku ingin menua di kaki Merapi, udaranya sejuk sepanjang hari," bicara di samping mu aku hanya berkesah pada diri.

Kulihat tatap mu tak mengerti. Sejenak mengerling lalu fokus kembali pada setir mobil, membunyikan musik dan diam, menatap lurus ke jalan.

"Sebuah pondok dari bambu pun jadi, tapi dengan halaman penuh batang mangga, matoa, cempedak hingga rambutan. Halaman samping ada kolam ikan dan halaman belakang kandang ayam serta angsa putih yang berlarian. Indah bukan?"

Kau mengangguk. Ah, selalu begitu, sejak dulu, sejak putih abu-abu, aku adalah pengendali kisah.

"Bisakah kau mewujudkan mimpi ku?"

"Bisa sayang..." hanya itu ucap mu.

Sejenak bisu dan aku melihat kemewahan dalam kesederhanaan mimpi itu. Mimpi yang lama terpendam dan tak yakin kulaksanakan. Sampai kau menemukan aku dan aku tersesat ke tempat mu, sangat dekat dengan kaki Merapi. Rumah mu dengan dua gadis cantik sebagai penghuni.

Takdir atau jalan mimpi kah yang menuntun? Kenapa rumah mu di sini, dekat kaki Merapi? Berpuluh tahun mimpi itu ku simpan dalam sanubari. Tiba-tiba saja hadir mu membawa ku ke sini. Merapi bercahaya, pantulan mentari senja mempesonakannya. Sejuk udara, sungguh, aku suka. Pelan, aku hirup aroma rumput dan ilalang, dari semak di kiri kanan jalan, berliku, menakjubkan mata.

"Mengapa harus 12 Purnama?" Tiba-tiba telinga ku menangkap sayup kalimat itu. Kau masih fokus pada stir mobil dan jalan meliuk berliku. Sedikit salah, jurang menunggu.

"Kau belum mengerti aku," dalam satu helaan, nafas ku sembur ke arah jalanan.

Dalam diam aku mengingat-ingat, dulu ini juga jalan ku. Berkelana ke puncak Merapi sambil membaca puisi dengan laki-laki yang kemudian mematahkan hati. Cinta yang kuberi utuh dibalas pengkhianatan. Sejak itu aku melupakan Merapi. Tetapi kenapa saat ini aku kembali ke sini?

"Aku adalah pemilik sah hidup ku. Terbiasa menjadi hero membuat ku begitu ego. Jika aku telah memutuskan tiada yang bisa menghalangi. Rambu-rambu ku hanya Tuhan. Jika yang ku putuskan tidak melanggar laranganNya, aku tetap berjalan lurus ke depan, ke keputusan yang dibuat hati ku," aku terus berucap dan mulai memperlihatkan asliku, tidak tunduk, bahkan juga pada cinta.

"Sayang ku tak pernah habis, Sejak dulu. Cinta yang kupendamkan kini dihadapan. Kenapa harus ragu?" kau bertutur, seperti angin, mendesis di telinga ku.

"Hidup kita berbeda. Kau terikat pada banyak hal untuk sebuah keputusan. Terikat pada apa kata mereka. Itu akan jadi renjana."

"Akan ku wujudkan rumah di kaki Merapi itu. Tangan ku masih kuat untuk meneruka tanah. Kaki ku masih tegap untuk mengejar angsa. Aku pun tak peduli apa kata mereka, jika itu yang kau suka." Kalimat mu mengalir begitu saja dari bibirmu.

Kita kembali tertawa dan aku menatap Merapi dengan begitu bahagia. Melihat rona cinta berpendaran di sana. Melihat kau tersenyum aku ngakak sekuatnya, lepas.

"Pecahlah sudah," kata ku.

"Siapa yang peduli? Siapa yang bisa menghalangi? Aku hanya ingin kau mengerti betapa cinta ini terus tumbuh, melebihi masa lalu. Sekarang pun aku sanggup menghalalkan mu.'

"Aku tak mau melukai hati anak-anak mu dan hati anak-anak ku. Tunggulah 12 purnama itu, untuk mereka menyiapkan hati, sambil pelan tapi pasti memberi kabar, akan ada hati lain dalam hidup mereka."

"Tak ada kulupakan tentang masa lalu. Aku ingat sedetilnya kisah kita, sebelum kau pergi meninggalkan ku. Saat waktunya tiba dan aku sudah mandiri untuk meminang mu, kau sudah milik orang lain. Aku luka tapi aku diam, karena cinta hanya ingin melihat mu bahagia."

"Kau tau kenapa aku pergi?" Kulihat gelengan kepala mu.

"Tak usah ingat kisah lalu. Kini tetaplah bersama ku. Jangan pergi lagi. Mari menua berdua di kaki Merapi. Aku wujudkan mimpi mu, perempuan  kecintaan ku," dan aku menatap mu, sejenak.

"Kau membuat ku bahagia. Membuat tawa merekah lagi. Tapi tetap, harus 12 purnama menanti."

"Selama itu?"

"Mana yang lebih lama dari 480 purnama?'

 

"Sayang, kau selalu punya jawab.

"Karena aku bukan perempuan biasa."

"Karena itu aku makin cinta."

"Eh iya, jika muka ku telah berkerut sesuai usia ku, kalau pinggang ku sudah sakit-sakit karena usia ku atau rambut ku memutih sesuai usia ku, apa kau masih mau?"

"Ah, kau selalu aneh-aneh. Tapi aku suka itu, perempuan ku.”**

Kembalinya Jiwa

Embun mulai turun, menggigilkan raga, di kota mu yang basah dan nyaman. Aku menghirup ke jiwa, aroma damai, sedamai rasa yang tetiba terlindungi. Ku melirik sejenak ke samping, ke sosok mu yang kokoh, berdada bidang dan bahu kekar.

Tiba-tiba aku terkejut dan reflek menarik tangan, kala jari jemari mu yang kuat menggenggam erat jemari ku, saat hendak menyebrang jalan, menuju tempat menjual soto Padang.

"Kenapa? Biarkan aku membimbing mu, mulai hari ini dan selamanya," kau menatap ku yang tertegun, tertegak di pinggir jalan.

"Gak terbiasa, aku adalah pembimbing bukan dibimbing, sampai saat ini masih begitu dalam jiwa," aku menunduk, sebelum kau sadar bahwa mata ku basah.

"Kau perempuan, mulailah seperti perempuan ku, dalam lindungan dan penjagaan ku. Jiwa ku mencintai mu, dari dulu, meski raga sempat berpuluh tahun, dengan perempuan ku juga. Semua karena takdir," tutur mu melenakan ku.

Tanpa sadar dalam jiwa aku mendendangkan reffren lagunya Reza Artamevia:

"Cinta ‘kan membawamu,

kembali disini, menuai rindu, membasuh perih

Bawa serta dirimu,

dirimu yang dulu, mencintaiku, apa adanya."

"Ayo, menyebrang, itu di depan ada soto Padang. Udah malam, kamu dari siang tadi belum makan," dan tangan mu kembali meraih jemariku, menuntun ke seberang jalan. Tiba-tiba aku merasa nyaman dan tak menolaknya.

 

"Andailah bisa, andai kau mau, besok ku halalkan diri mu," kata mu saat kita baru saja duduk di kursi restoran soto Padang, berhadapan.

"Jangan, tetap harus menunggu 12 purnama, sabar itu baik," dan aku nyengir, lalu tersenyum lebar.

"Kamu tetap cantik, seperti dulu. Senyum mu tak pernah membuat bosan," aku sedang menyuap soto dan reflek menatap mu, kalimat itu, betapa indahnya.

"Kau tau kenapa aku suka tertawa dan bukan sekedar senyum? Karena aku suka lesung Pipit ku sendiri. Aku suka gigi ku yang rapi," dan aku ngakak, lalu tersedak, soto itu memerihkan tenggorokan.

Kau cemas dan menepuk nepuk punggung ku agar tersedaknya hilang. Menatap mu dengan mata yang berair oleh perih cabe di kerongkongan, aku menemukan tidak ada ragu di mata mu, seperti dulu, saat putih abu-abu.

"Jiwa ku kembali," dan kau menatap ku nanap, aku terkesiap. Melengos, minum air hangat di gelas, agar kerongkongan ku nyaman, agar degup jantung ku kembali normal.

"Aku selalu berpikir, kau masih milik orang lain. Sejak ibu anak-anak meninggal, aku serasa kehilangan harap. Tiba-tiba ditinggal tulang rusuk ku, aku ngamang. Setelah waktu berlalu, aku kembali memikirkan mu, sama seperti 480 purnama lalu. Jiwa ku perih, merasa tak mungkin meraih mu," kau terus bicara sambil memutar-mutar sendok di mangkok soto.

"Hhmmm..." hanya itu jawab ku.

"Sayang, aku bahagia, kembalinya jiwa ku, kamu, membuat hati ku riang. Mungkin takdir ku adalah jalan mu. Jangan pergi lagi dari ku. 12 purnama seperti mau mu akan kutunggu. Berjanjilah, setelah kembali ke kota mu kau tidak melupakan ku," dan tangan mu kembali meraih jemari ku di ujung ucap. Aku menariknya. Malu.

"Jawab dulu, baru ku lepas," kau makin mengeratkan pegangan itu.

"Ya..ya, aku janji, aku juga menanti 12 purnama lagi," dan pelan, genggaman kau lepas. Aku menatap sekeliling, untung restoran ini sudah lengang, karena sudah makin larut cahaya malam.

"Cepat makan, perjalanan masih jauh, kau harus mengantar ku. Masih 2 jam lagi. Tapi maaf, nanti kau kembali ke sini sendiri," ucapku saat menyelesaikan suap terakhir.

"Untuk mu apa yang aku tak bisa," senyum mu melenakan bersama ucap itu. Aku tiba-tiba serasa menjelma gadis remaja, seperti kala kau menyatakan cinta, di bawah pohon kenanga, sudah 480 purnama.

 

"Kau tau kenapa aku pergi? Karena diri mu, untuk menyelamatkan mu dari teror keluarga ku, karena mereka menganggap kamu menganggu hidup ku, mereka menganggap kau tak sepadan dengan ku. Aku pergi demi cinta itu," aku menunduk, mengenang kenang, harta dan kasta yang mengekang.

"Banyak yang tak kuceritakan. Tak mau melukai mu. Perih itu biar untuk ku. Tapi kau pergi itulah yang terperih. Setengah aku serasa mati," dan percakapan mulai ke masa lalu, ke zaman putih abu-abu, kalau usia masih 17 tahun.

"Udah ah, nanti ceritanya, ayok berangkat cinto," dan kau pun ikut berdiri, saat aku tegak untuk melupakan percakapan itu.**

Kau dan Jejak Itu

Aku berjalan di pasir yang bersih, membiarkan kaki merasai nikmat karunia alam. Sesekali ombak memecah dan buihnya mengejar, membasahi ujung jeans, pakaian kebesaran ku. Kau kerap tertinggal di belakang dan aku tak menangkap suara mu.

Aku sedang menikmati hawa dunia. Debur ombak, semilir angin, biru langit dan jejak ambai-ambai sepanjang pantai. Luapan suka cita membayangi wajah, seperti kata mu. Padahal belum tidur nyenyak, setelah semalam kau antar, dari kota mu. Pagi ini kau sudah di sini, membawai aku aroma cinta dari dulu.

"Aku tak pernah puas memandang wajah mu, memandang senyum mu," dan langkah ku terhenti, oleh kata itu. Seperti angin yang mendesirkan cemara, kata mu mendesirkan jiwa.

"Hhmmm... Jangan merayu," dan aku kembali menikmati pasir itu.

"Sungguh. Kau tak pernah berobah. Menghadaplah ke sini agar ku bisa mengabadikan indah wajah mu," dan aku memalingkan wajah, merelakan senyum dilumat kamera mu.

"Kau menarik hidup ku kembali. Aku selalu tertawa sejak kau jemput di rumah masa lalu itu. Aku senja tapi tidak peduli senja. Biarkan kisah mengatur semuanya," aku berlalu.

Aku menatap jejak kecil melingkar indah di bawah kaki, berbentuk lingkaran dan amat rapi. Binatang kecil yang dinamai ambai-ambai di kampung ku itu, melukis dengan seksama, entah bagaimana caranya. Aku terkesima.

Buih ombak memecah dan menyapu jejak itu, lukisan alam itu. Aku tergugu. Kenapa takdir kadang terlihat kejam sekali? Ambai-ambai itu ikut tersapu. Aku perih. Aku pedih. Ingat jalan ku. Betapa banyak gelombang telah menghantamnya?

 

Tiba-tiba binatang kecil itu muncul kembali, membuat jejak lagi. Dia tak peduli badannya yang ringkih, pipih dan letih. Dia terus mengukir pasir. Aku tersedak oleh isak. Merunduk dan menatap lubang kecil, dimana ambai-smbai itu menghilang. Aroma laut menampar hidung, segar dan sedikit amis. Sedetik, ku hapus air yang jatuh di sudut mata. Kau tak boleh melihatnya.

"Kok diam?" suara mu sudah di sisi ku dan kau pun ikut menatap ke pasir, ke jejak indah itu. Tapi kita pastilah memandangnya dengan berbeda.

Aku membatin, jalan ku pun seperti diri mu, wahai binatang pantai yang cantik. Sekuat gelombang menerjang sekuat itu kita kembali pulang, menyusun kekuatan dan jadi pemenang. Kita tak pernah patah, tak pernah menyerah.

"Sayang, kok diam?" Kau kembali mengulang tanya.

"Apa yang kau ingin dari ku?" entah mengapa, kata itu meluncur saja dari mulut ku.

"Menghalalkan mu, melindungi, menjaga dan mengasihi mu. Menikmati senja bersama, berumah di kaki Merapi seperti yang kau suka. Berlarian sepanjang pantai atau ladang, memberi makan itik dan ayam, dengan tetap menjaga buah hati yang satu per satu mendewasa. Jangan pergi lagi. Tinggallah bersama ku," dan aku nanap menatap wajah mu, wajah yang ku sia-siakan dulu, merasakan cinta mu, cinta yang kuabaikan dulu.

"Tetap harus menunggu 12 purnama," dan aku merasai letih dalam suara ku.

"Mengapa harus selama itu?"

"Karena kita telah senja, jangan sampai ada lagi luka. Jika alam memberi restu, kau adalah tempat ku berhenti, tempat ku melukis senja dengan indah, tempat mimpi ku berlabuh. Dan itu harus sempurna. 12 purnama cukup untuk mengeja hati. Apakah kita setia pada janji," dan aku melangkah lagi.

"Aku akan menunggu, akan menjaga hati, jangan ragu. Berjanjilah tidak lagi lari," sendunya suara mu

"Yeiiii... ," dan aku pun datang usil, tak menjawab hanya menjauh dan berlari.

"Cinto, jangan kejar, tunggu aku saja, di sana. Jika aku berbalik, itu artinya oke 12 purnama," dan aku pun mengejar ambai-ambai, tapi tak pernah dapat.

Senja lama lagi dan aku tak akan menanti sunset mulai turun. Akhirnya, naluri membawa ku berbalik dan berlari kepada mu.

"Mungkin takdir mu adalah jalan ku. Aku kembali dan siap menanti, 12 purnama lagi," kau tertawa, indah sekali.

 

"Anak-anak ku lebih siap dari anak-anak mu, karena mereka terbiasa hanya dengan ibu. Aku mengajari lebih terbuka, mandiri dan tak berbasa basi. Anak-anak mu terbiasa dalam lindungan kasih sayang lengkap, punya ayah ibu dengan peran yang sempurna. Ayahnya pencari nafkah dan ibunya pengurus yang luar biasa. Mereka akan lebih mudah terluka. Mereka yang harus kau siapkan selama 12 purnama itu, bukan aku," seperti bergumam aku terus bicara.

"Iya, kamu benar," kata mu.

Aku melihat ke jiwa ku yang terluka tentu lebih terluka lagi jiwa anak-anak ku. Bagaimana aku merasa telah menempuh jalan yang salah, karena aku tak sabar menerima luka. Tapi untuk apa dalam ikatan jika terus ada dusta, ada luka dan aku harus menyiapkan punggung untuk membawa beban, bukan hanya anak-anak, tapi juga dia yang sudah menyayat hati ku terus menerus?

Telah ku cabut rasa dan ku pilih jalan, pergi jauh dari kampung halaman, melupakan semuanya, menjalani liku ini sendirian. Rantau adalah pelabuhan dan aku menjelma kunang-kunang, membuat cahaya dari sayap sendiri, agar malam tetap bisa dilalui dengan terang.

"Kau harus paham, tidak ada perempuan yang mau sendirian. Alam kita, negeri kita, telah menghukumnya. Kata janda amat menakutkan. Lalu banyak perempuan bertahan, meski jiwa raganya hancur dalam pernikahan. Aku tidak peduli dan memilih jalan ku dengan sadar. Bahkan jika dalam 12 purnama ini ada yang mengusik tenang ku dan merendahkan karena kata janda itu, aku pun akan pergi dari mu. Janda bukan dosa. Hanya hidup saja yang tidak berpihak padanya," aku mulai meracau.

"Kok jadi serius? Aku mengenal mu bukan hari ini, sudah lama sekali. Kau perempuan hebat, kuat. Dan aku tidak akan mengusik sedikit pun yang telah lalu," kurasai bijak kata mu.

"Kau indah...," dan kembali ku tertawai waktu.

"Kau cahaya. Aku hanya bisa menyodorkan pelita, sementara kau  kemilau itu. Tapi aku janji, pelita ini ku jaga dan tiada kan padam. Setialah pada ku," kau menatap ku lekat. Aku merasakan aliran darah ku memompa kencang.

"Bisakah ku rengkuh, utuh, seluruh, janji mu?"

"Jiwa, kau jiwa ku, bagaimana aku bisa melepaskan mu lagi? Aku hanya berdoa waktu ku cukup untuk bisa menanti mu, merasai bahagia jadi pelindung mu. Aku mencintai mu dan kini rasa itu lebih kuat," tutur mu membuai hati ku.

"Aku juga akan menunggu, aku ingin merasakan sesaat jadi perempuan utuh, jadi tulang rusuk yang dijaga dan dilindungi. Sesungguhnya, aku juga letih," dan aku membiarkan tamparan ombak membasahi badan, agar air mata ku lumat.

 

Tiba-tiba aku berobah cengeng. "Cintailah aku, jangan pernah pergi lagi," tapi hanya dalam hati saja ku berkata.**

Kembali Hero, Menyentak Rindu ke Ngilu

Menembus hujan, aku membiarkan airnya memerihkan muka, terbawa angin Mio yang melaju 60 Km/jam. Sengaja tak memasang kaca helm, agar perih itu bisa kunikmati. Perih raga, tak seberapa. Membiarkan kuyup menjadi teman. Hanya laptop, tempat mencari makan, yang ku lindungi dengan sempurna. Tegap di punggung dalam balutan plastik ransel dongker yang kokoh.

Mio tua ini, sudah lebih 10 tahun menemani dan dia tidak bandel, meski bodynya berantakan, karena beberapa kali bertabrakan. Bahkan kini, tangan kanan ku tak bisa sempurna, karena ada tulangnya yang retak, ketika sebuah mobil jazz putih menyambar Mio, 7 tahun lalu. Kami terpelanting berlawanan arah. Body Mio ku hancur dan tangan ku patah. Kami pun sama-sama di rehab, Mio di bengkel aku di rumah sakit, tapi fisik kami tak lagi sempurna, seperti dulu.

"Buah hati ku, belahan jiwa..." aku berdendang bersama hujan bersama kelam. Dendang kesukaan.

Sekejap melintas rindu, hanya sekejap saja, seperti sekelebat air yang menerpa tubuh, dari truk yang seenaknya berjalan kencang. Rindu tentang janji 12 purnama. Tentang kamu.

Kembali ke kota ku adalah kembali ke Hero. Belum tuntas, belum tunai, tugas. Tiga naga masih belum terbang sempurna. Meski satu naga diantaranya sudah terbang tinggi tapi dia masih sendiri. Aku masih harus melindungi.

"Bagaimana bisa harus 12 purnama? Kenapa tidak berbagi beban dengan ku, sekarang saja, sebelum purnama terus berlalu?" Percakapan ringan sebelum bus membawa ku pergi, dari kota mu.

Aku pun menghitung-hitung angka. Karena harus begitu. Sejak dulu. Meski dalam hati saja. Sanggupkah diri mu? Naga-naga ku, masih butuh banyak angka. Aku tak mau merampas angka yang menjadi hak anak mu. Kau, seperti aku, bukan pengusaha.

"Selamat jalan. Hati-hati. Berjanjilah setia sampai 12 purnama," kau melepas ku dan aku masih menggenggam rindu. Tawa ku masih merekah. Aku tiba-tiba menjadi perempuan, menanti pangeran membawanya pergi. Indahnya khayali.

"Ya, aku janji. Kau juga," dan aku menutup jendela bus, agar kau tak bisa menatap dan bicara lagi. Di kota mu yang basah, kita berpisah.

 

"Brakk....," Mio ku masuk lobang, tak terlihat oleh genangan air, memutus tentang mu, tentang rindu. Hujan mulai reda, tapi dimana-mana air. Inilah kota ku kota banjir, Kota Pekanbaru. Tapi kota ini juga kucintai, karena telah memberikan hidup dan kehidupan.

Tiba-tiba, di atas fly over, 5 kilometer menjelang rumah, Mio ku jalan berjoget, stangnya mulai mengatur ku bukan stang yang ku atur. Aku terkesiap, lobang tadi pastinya membocorkan ban Mio terkasih ini. Membiarkannya menuruni fly over, sebelum menepi dan menatap nanap. Benar. Bannya telah kempes.

Ini kota keras tiada kan ada yang menepi, sekedar membantu menolak hingga bertemu tempel ban. Kota yang nyeri, masing-masing ditelan kehidupan sendiri. Perempuan yang berdiri sendiri dalam hujan kadang malah menakutkan. Kerap begal melakukan hal yang sama, untuk pancingan. Orang-orang berlalu, dengan kencang.

"Tuhan, aku takut begal, ini gulita dan hujan. Izinkan aku menyelesaikan tugas. Biar letih biar lelah, selamatkan aku sampai ke rumah, bertemu gadis-gadis ku," aku membatin dan membiarkan air mata bercampur hujan. Hak ku untuk menangis. Di kota ini sekarang, banyak sekali begal. Ekonomi yang sulit karena Covid menyuburkan tumbuhnya begal.

Sebagai wartawan, setiap hari aku mengupdate berita, tentang begal. Perempuan-perempuan yang jadi korban. Bukan hanya harta, nyawa juga taruhannya. Tadi sore pun aku masih mengedit berita, seorang mahasiswi kehilangan nyawa karena begal dengan kejam menarik tas dan menendang motornya. Gadis itu berdarah-darah, dengan kepala pecah.

"Buah hati ku belahan jiwa..." aku kembali berdendang lirih, mencari kekuatan badan, menghilangkan rasa takut, sambil mendorong Mio kecintaan. Dendang yang terus menjadi teman, saat perih, saat sedih. Pekerjaan memang menyebabkan aku kerap pulang malam.

Bahu kanan yang pernah patah mulai sakit. Laptop ini terasa makin berat. Mendorong Mio dengan pelan, aku sejenak lupa janji 12 purnama. Aku hanya ingat pulang. Hero itu, menuntun Mio malam-malam, menyentakkan rindu jadi ngilu.

Mengejar mimpinya, mengejar harapannya, agar para naga mandiri sempurna dan hidup lebih baik dari dirinya, Hero itu melupakan patah. Melupakan rindu yang baru saja singgah.

Duduk jongkok di depan tambal ban, asam lambung pun naik. Rumah, betapa indah. Dan tak bisa ditahan. Di riol pinggir jalan, aku muntahan semua. Perih, pedih, ulu jantung dan tenggorokan. Aku bukan Hero, hanya perempuan yang letih, tersapih dari kehidupan yang harusnya dimiliki.

 

Aku membiarkan isak, membiarkan tangis, hujan akan menutupnya, tukang tambal itu tiada kan melihat. Tiba-tiba lelah, lelah sekali dan kaki kanan ku serasa kram. Mungkin dingin hujan penyebabnya. Melirik jam, pukul 23.30 WIB. Sebentar lagi hari berganti.

"Udah Bu," remaja tanggung, tukang tambal ban itu, kulihat menggigil, berdiri di antara Mio ku dan becaknya, tempat kompresor terletak. Dia hanya tukang tambal jalanan, tanpa atap tanpa tempat.

"Berapa?"

"Rp 15 ribu."

Aku pun memberi Rp 25 ribu. Aku ingat anak ku.

"Banyak sekali Bu."

"Tak apa. Belilah teh hangat di kedai depan itu. Nanti masuk angin, kamu bisa sakit."

"Iya Bu." Dan dia menundukkan badan, dalam, tanda berterima kasih. Aku lupa letih. Harusnya anak ini di kehangatan rumah, bukan di pinggir jalan ini. Usianya mungkin belum cukup 15 tahun.

"Terima kasih Tuhan, kau beri aku kekuatan dan anak-anak ku lebih baik nasibnya dari remaja tukang tambal ban ini," aku berteriak, keras, bersama suara Mio yang melaju kencang.

"Hai jiwa, apa masih yakin dengan janji 12 purnama?" Aku hanya ingat ngilu bukan rindu.**

Tangis Mu, Akan kah Memperpendek 12 Purnama Itu

Pagi yang terik di kota ku. Siang nanti tentunya matahari akan garang. Tragedi Mio pecah ban dan asam lambung  semalam masih menggigilkan raga. Aku malas bangkit dari tempat tidur. Ini hari tak terlalu sibuk. Minggu. Usai subuh aku membukai tirai jendela, agar mata bebas memandang ke jalan raya, persis di depan rumah.

Pemandangan yang suka membuat ku tertawa, selalu, setiap akhir pekan. Pasangan-pasangan menuju senja, mungkin seperti aku, dalam balutan training olah raga, berjalan pelan, beriringan. Dari kamar tentu amat jelas. Tapi kaca film di jendela ini tidak akan mampu menembus pandangan dari luar, untuk melihat ku.

Pagi ini pun begitu. Aku menghitung. 1, 2, 3 ... dan terus, sudah 7. Ada yang ku kenal, karena warga komplek yang sama. Sesekali pasangan itu saling pandang, lalu tertawa bersama. Di belakangnya, pasangan lebih muda, saling berpegangan erat. Aku tertawa kecil. Entah apa maknanya. Sudah Beratus purnama aku melupakan hal yang sama.

 

"Sayang, mengapa harus 12 purnama? Semalam hati ku terguncang, kau, perempuan ku memang kuat. Tapi mengapa harus lari dari bahu ku yang siap kau sandari? Tangis mu semalam kutangkao meski hanya dari balik android. Cerita tentang Mio itu menusuk jantung ku. Jangan tunggu 12 purnama untuk kau mau menjadi  tulang rusuk ku," pesan whatsapp mu mengusik asyik ku.

Aku terjeda dari igau jiwa, membolak balik pesan-pesan kita. Tentang cinta yang tertunda, tentang pokok cempaka hingga jalan kereta. Tentang tragedi, tangis dan air mata. Tetiba aku hampa. Aku, perempuan yang merdeka, menapaki jalan terbiasa suka-suka, apakah bisa kembali berdua?

Aku ingat tentang membuatkan kopi pagi, memasak dan mencuci lalu mengantar si lelaki ke pintu depan saat hendak berangkat kerja. Mencium tangannya kala pulang dan memikirkan, apa hidangan yang terenak untuk makan malam. Aku tertawa sendiri. Itu biasa saja, peran istri, suatu kali teman ku pernah berkata. Aku? Rasanya sudah sangat lupa.

"Mari berbagi beban. Aku hanya ingin melihat tawa bahagia mu. Kau tulus bukan, mau bersama ku? Katakan, apa ragu mu," pesan itu terus sambung bersambung.

"Ini terlalu cepat. Persiapkan pelan-pelan agar tak ada yang terluka. Datanglah, ziarahi dulu makam ibu anak-anak mu. Bicara dengan dia, meski hanya nisan semata, tapi ruhnya akan mendengar mu. Minta izin kau alihkan cinta. Minta izin anak-anak akan ada yang ikut menjaga. Minta izin bahwa hati mu tetap ada untuknya, meski ada cinta lain yang akan mengisinya. Kau yang harus mempersiapkan diri, bukan aku," pesan mu pun berbalas.

Setelah terkirim aku tergugu. Isi pesan ku, mengurai rindu. Satu satu, nyaris buhulnya ungkai. Terbiasa berpikir untuk kebahagiaan para naga, terbiasa memberi perintah karena dalam karir aku kepala, aku seperti membaca perintah, untuk mu, dalam pesan ku. Kenapa tidak bicara aku, jiwa ku dan lelah ku?

"Aku terbiasa luka, tak lagi sakit oleh luka. Anak ku makanannya luka tak perlu kukuatkan hatinya karena telah baja," aku terus saja mengetik pesan, meski hati bilang jangan.

Lama terjeda dan aku kembali menatap ke jalan raya. Daun matoa berserakan, ini musim gugurnya. Masih pukul 7.00 WIB dan pasangan yang tadi kembali muncul, dari arah yang terbalik. Mungkin hendak pulang. Aku mengumpati hati sendiri, kenapa tak iri? Kenapa tak bermimpi? Seperti pemandangan pagi ini?

"Ma, WiFi mati, ada kuliah online pagi ini," telinga ku menangkap suara bungsu, dari kamar tengah.

"Ma, token udah bunyi. Makan kucing dan ikan habis," suara kakaknya dari kamar depan.

 

"Ya....," dan aku bergegas turun. Menyambar jilbab dan kunci Mio dari atas meja kerja.

Aku adalah ibu yang terlalu protektif. Entahlah. Banyak kejadian mengerikan tentang kekerasan seksual, perkosaan hingga begal payudara setiap hari ku edit, berita dari wartawan pos kriminal. Dari dulu-dulu selalu begitu. Aku pun melindungi gadis ku, dengan membiarkan diri mengurus seluruh keperluan mereka, yang akan berhubungan dengan keluar rumah.

Aku juga mengantar jemput mereka, bahkan hingga bangku kuliah. Aku melakukan dengan bahagia, semuanya. Aku merasakan, jauh di lubuk hati mereka ada yang kosong. Mereka tetap rindu sosok ayah. Aku tak mau mereka goyah. Biar aku saja yang payah.

Tiba-tiba android ku berbunyi nyaring. Kulirik, nama mu muncul di sana. Terus menuju teras depan, aku mengangkatnya. Kau video call.

Tuhan, apa ini? Jantungku tiba-tiba memompa cepat, tak tau arah. Di sana, dalam android ku, kau duduk di balik stir mobil mu, memegang tisu dan terisak-isak. Aku ternganga, membiarkan waktu, tanpa mampu berkata sepatah pun jua. Beberapa detik berlalu.

"Maafkan aku, terlalu cengeng sebagai lelaki. Tapi aku tak bisa menahan hati. Aku semalam sebenarnya sudah dari makam almarhumah istri," kau bicara dengan airmata yang kulihat jelas.

"Oh...," hanya itu jawab ku. Tiba-tiba merasa bersalah, kenapa tadi aku bicara begitu? Kenapa tadi aku minta dia ke sana? Ternyata dia sudah melakukannya. Bicara ku tentu mengiris hatinya.

"Kamu tidak salah, itu harus dilakukannya," kata hati ku yang lain. Detik-detik terus berlalu dan kau masih dalam tangis mu. Duduk di jok Mio aku membeku.

"Aku katakan pada nisannya, 25 tahun perkawinan dengan mu aku setia. Meski ada sudut hati yang tetap terisi perempuan lain, hanya dalam hati saja. Aku menjaga mu, anak-anak, dengan segala tanggungjawab. Tak pernah aku melukai, mengkhianati. Kini, kau telah di rumah abadi, izinkan aku memberikan rusuk ini pada pengganti, pada perempuan lain, dari masa lalu ku. Maafkan, dulu, aku tak berani bercerita tentang dia," kau bicara, pelan, sesekali dengan isak.

"Menangis lah jika itu membuat mu lega," ah, ku kutuki kembali diri. Masih saja aku berpikir tentang orang lain, bukan hati ku. Tak ada cemburu atau rasa terabaikan.

"Aku menangis ingat anak-anak yang telah kehilangan ibu. Aku menangis, ingat diri mu. Mungkinkah takdir ku akan jadi jalan mu? Sambut lah tangan ku, kita beriringan menuju senja. Jangan tunggu 12 purnama," kau berucap, mulai tenang.

"Tetap harus 12 purnama," jawab ku, memperlihatkan keras kepala.

 

"Kau mengenal ku sudah sangat lama, Beratus purnama, apa yang masih meragukan hati mu? Sejak aku menjadi duda karena ditinggal mati, belum ada perempuan lain yang ku lirik sebagai pengganti. Dalam hati, hanya kamu," kau terus bicara.

"Aku tak percaya kau sanggup menanggung beban ku," begitu saja kalimat itu meluncur. Aku tepuk mulut ku. Ah, kenapa berucap yang akan melukai mu?

Kau tertegun, nanap menatap ku, dari android itu. Aku melihat nafas mu mengencang dan buku tangan mu menonjol, kau menggenggam stir itu dengan kuat, mungkin hati mu tertusuk ucap ku.

"Sayang, aku memang tidak kaya. Soal tanggungjawab bukan hanya soal uang tapi soal hati. Sebentar lagi aku juga masuk masa pensiun. Seperti kata mu, mungkin kita bisa buka gerai kuliner atau bertanam strawbery. Beternak ayam hingga itik, agar dua rumah terbiayai. Istirahatlah dari pulang malam mu. Tubuh mu makin menua, saatnya jeda. Percayalah pada janji ku, atas nama cinta," tutur mu membuat ku kepala ku mengangguk angguk saja.

"Hhmmm...,' mulut ku hanya mendehem.

"Aku bahagia sekali ketika dalam jumpa semalam kau sandari bahu ku dengan kepala mu. Perempuan ini, yang amat kuat, kini ada di bahu ku. Sayang, ayo, menua bersama. Mari berumah di kaki Merapi," tangis mu sudah hilang.

"Entahlah, aku terbiasa sunyi. Aku terbiasa senyap. Aku adalah kupu-kupu yang telah bermetamorfosa naga. Tak pernah merasa rapuh. Tetaplah tunggu 12 purnama, agar naga itu pelan tapi pasti kembali kupu-kupu, agar kekuatannya tak membuatnya angkuh dan menolak semua uluran cinta. Kau dari masa lalu, makanya sedikit demi sedikit aku kembali membuka hati. Tapi itu pun belum pasti. Sudah ah, aku mau beli paket data," tutur ku.

"Kau misteri, selalu misteri. Aku menanti dengan segala cinta. Hati-hati, jaga sehat agar 12 purnama lagi kita bersama," kau menatap ku, lekat.

"Kau tetap mempesona, padahal belum mandi," canda mu.

"Hahaha...udah, aku pergi," aku pun mematikan HP sambil menghidupkan Mio kecintaan.**

Kau Jemput ke Rumah yang Membuat Patah

Janji 12 purnama terucap ketika darah hati yang mulai kering, menetes lagi. Luka yang terlupa, muncul lagi, lebih sakit. Serasa mengelupasi kulit ari, dari ujung kaki, terus melalui nadi, hingga jantung hati. Ambruk, aku terpuruk. Aku remuk.

 

Menarik koper merah cantik, ransel biru di punggung, aku memasuki halaman itu, halaman yang pelan kugerus dari ingat. Ini dulu tempat menjemur padi. Rumah tua yang kusam. Dulu terindah dari sekitar. Rumah papan yang asri, merona kasih, kini hening, kering dan beberapa catnya sudah tiada. Lebih 200 purnama lalu aku turun dari rumah ini, rumah dekat kaki merapi, berderai air mata dan lelaki yang telah merebut seluruh hati ku itu hanya diam, tidak berkata apa-apa, tidak berucap maaf, tidak mengejar.

Aku patah. Perempuan yang kalah. Pengorbanan, kerja keras dan penjagaan untuk sebuah keutuhan, berderai, menikam jiwa, merenggut dalam sekejap semua mimpi. Aku berjalan lurus, tidak lagi melihat ke belakang, ke pintu dimana lelaki itu tegak. Aku membiarkan tangis dan Isak, sepanjang perjalan, dalam gigil, di lepas subuh, di kota yang serasa membuat ku mati.

Dari rumah itu, aku berjalan, membiarkan kaki perih, menuju terminal, mungkin 3 kilometer lebih. Perempuan cantik, menangis di jalanan dalam sinar matahari yang baru akan naik, betapa banyak yang menatap aneh. Punggungnya menggendong ransel cukup berat. Tanpa jaket di embun yang mengaburkan pandang.

Kala itu, di akhir pekan dan lengang. Sebuah kejutan yang ingin ku hadiahi karena kerinduan, membawa ku ke sini, dari kota dimana rezeki kucari, juga untuk lelaki ini, bukan cuma buah hati kami. Datang subuh, diam-diam memasuki kamarnya, karena aku punya kunci sendiri,  sungguh, aku hanya ingin memeluk tubuhnya yang terlelap. Tiba-tiba, saat azan dari mesjid memenuhi desa, bunyi SMS masuk dari HP di atas lemari. Naluri ku menuntun tangan mengambilnya.

"Ud, aku udah di Jakarta. Ini udah di hotel. Bangun, ayo bangun....," bunyi SMS itu. Aku terkesiap, nanap.

Ud, Uda, panggilan dari kampung kami untuk kakak laki-laki atau suami, yang bahkan aku pun tidak memanggilnya demikian, pada lelaki yang tidak menyadari bahwa aku sudah ada di kamarnya. Lelaki, yang untuk dia aku rela menempuh jarak ratusan kilometer tiap akhir pekan, hanya untuk bertemu, melepas rindu. Untuknya, aku rela membanting tulang, agar bisa membeli rumah dan membuka usaha di sini dan kami berkumpul lagi.

Dan nama itu, nama pengirim itu, serasa membuat ku mati berdiri. Nama yang bertahun-tahun telah menjadi duri.

Nama yang kerap aku pergoki menelpon atau sekedar berkirim salam lewat orang lain. Nama yang tak sengaja ku jumpai dalam sisa robekan buku harian lelaki ini, ketika aku berkemas di rumah kosnya, saat baru saja dengan rela aku mengikatkan diri padanya, atas nama cinta.

"Baru bangun..," spontan aku membalas SMS itu.

 

"Ud, makasih, udah antar aku ke bandara. Aku hanya 7 hari di sini. Usai seminar kembali. Jemput ya. Rindu..," balasannya masuk. Jantung ku serasa berhenti.

"Ud, mau oleh-oleh apa? Ah, cinta yang tak pernah mati aja ya, cinta yang  ada sejak SMA. Jangan pernah balik ke Pekanbaru ya..," sambung bersambung SMS itu. Ya, belum ada WA, android, kala itu baru ada SMS untuk berkirim pesan.

Dunia ku seketika runtuh. Tapi rasa ingin tau membuat aku tetap tegak berdiri. Lalu membuka semua pesan dari perempuan yang samar telah ku kenal, perempuan yang menjadi cinta lelaki ini waktu remaja, waktu SMA. Perempuan yang dengan penuh air muta kuminta dia lupakan, dulu, saat rajin berkirim salam. Perempuan yang juga sudah mengikat tali pernikahan dengan laki-laki lain.

"Ud, peluk mu masih seperti dulu. Tatap mu masih seperti dulu. Terima kasih untuk segala keindahan, untuk segala cinta..," dan aku hilang rasa, berteriak di pagi buta itu dan melempar HP ke tubuh lelaki yang sangat ku yakini amat setia ini.

Dia tergagap, terbangun, kaget. Dan sumpah serapah ku pecah pagi itu. Dia melongo, tak menyangka. Coba menenangkan. Tiba-tiba HP itu berdering dan nama yang kulihat, nama perempuan itu lagi. Berkali-kali. Dia tak mengangkat dan saat aku hendak mengambil HP itu, keangkuhan lelakinya muncul, sesuatu terjadi. Dia menampar, kuat, sangat kuat, perih sekali, di pipi ku yang penuh air mata.

Dia coba memeluk, mungkin oleh sesal. Aku  menjauh dan seketika air mata kering. Segalanya akan berakhir hari ini, aku membatin.

"Aku kesepian di sini, kamu jauh," kalimatnya lebih sakit dari tamparan tadi. Ku lirik kaca lemari dan melihat bekas jari, memerah di pipi.

"Pilih aku atau dia..," gumam ku.

"Pilih kamu. Dia kan punya suami..," kata dari mulutnya membuat jantung ku serasa mau berhenti berdetak.

"Kamu memang anjing. Aku jauh banting tulang untuk.mu, untuk anak mu. Kau khianati aku. Silahkan bersamanya. Kita bertemu di pengadilan agama..." aku kembali menggendong ransel, berbalik ke arah pintu. Sakit sekali.

"Tolong, jangan bilang ke suaminya. Nanti aku bisa dibunuh...," ucapan itu serasa menikam jantung. Bukan minta maaf, lelaki yang begitu kucintai ini hanya memikir diri sendiri.

Penghinaan terhadap status dan rasa keperempuanan ku, membuat aku yang merasa terbunuh. Aku rela jauh, mengambil alih segala tanggungjawab, merencanakan sebuah masa dimana kami akan bersama, tapi balasnya khianat ini. Kalimatnya adalah pengakuan yang jujur. Mereka telah berkhianat terhadap pasangan masing-masing.

 

Aku turuni tangga yang hanya satu, ransel di punggung terasa begitu berat. Sepagi ini tidak ada angkot. Kesadaran akan anak-anak seketika mengeringkan air mata. Tangis ini bisa membuat ku salah jalan jika terus kuturutkan. Rasa sakit dikhianati, rasa sakit karena tamparan di pipi, penghinaan terhadap rasa keperempuanan ku, rasanya aku mau mati, mau bunuh diri. Di kota ini banyak jurang, terpikir untuk melompat saja.

"Aku sudah mati, terbunuh oleh tragedi tadi. Tapi anak-anak ku tak boleh mati..," aku bergumam, membeli satu aqua dan sapu tangan, lalu mengompres bekas tamparan. Mengompres mata yang bengkak.

Di Aur kuning aku pun membeli jilbab, meski aku belum berjilbab. Aku ingin menutup bekas tamparan ini, sebelum mencari bus untuk pulang. Jilbab yang kemudian tak pernah ku lepas lagi, hingga hari ini.

Tiba-tiba seekor angsa datang dari arah samping rumah,  mengejar dan membuyarkan semua kenang. 200 purnama lebih telah berlalu, sejak tamparan itu.

Pintu depan sedikit terbuka. Aku mengucap salam dan mengetuk, tak ada jawaban. Menolak pintu dan masuk, lengang.  Tadi, sudah ku kabari bahwa aku datang dan minta ditunggu. Bahkan, ketika travel mulai masuk kota ini juga  sudah kukabari. Dia tak ada.

Lalu HP berdering. "Tunggu ya, paling 30 menit. Nanggung, main domino di kedai kopi," suara itu membuat ku merutuk.

Aku hanya singgah di sini sebelum pulang ke kampung sendiri. Ada surat-surat yang harus dia tandatangani. Apa pun kisah kami, dia tetap harus jadi wali nikah anak perempuan ku. Tali darah tak bisa ditukar. Air mata ku kembali jatuh. Mengapa aku ke sini lagi? Mengapa tidak berkirim lewat pos saja? Mungkin sisa cinta yang membawa kaki.

Duduk di sofa yang penuh debu, aku memutuskan pergi, tapi tidak lagi jalan kaki, seperti dulu. Aku menelpon laki-laki yang satu purnama lalu menjumpai ku, di kota ku. Lelaki itu juga di.kota ini.

"Jemput aku...," dan tak sampai 10 menit dia datang.

Turun dari mobil dia mendekati ku yang sudah tegak di depan pintu. Tanpa suara mengambil koper ku.

"Ayo....," katanya.

Duduk di sampingnya yang menyetir, aku mulai meracau. Menyumpahi diri, menyumpahi keadaan.

"Sudahlah... ayo cari makan," kalimat yang kemudian membuat ku diam.

"Aku mau soto Padang. Aku mau makan makanan berkuah," kata ku.

Dan dia membimbing tangan ku menyebrang untuk makan soto. Aku membatin, kenapa tak ku terima uluran tangan laki-laki ini, yang menawarkan kasih tak bertepi? Aku telah lelah.

"Tunggu aku 12 purnama," pelan tapi pasti aku berucap, sebagai jawab atas uluran kasihnya, selama ini . Aku menatap wajahnya lekat dan ku lihat kebahagiaan di sana.

"Aku tunggu....," dan aku menyuap soto, seiring jawaban itu **

Debur yang Hancur

Perempuan itu menatap ke luar jendela mobil, pada hutan, ngarai, gunung dan jalan berliku yang indah. Menghirup dalam-dalam udara yang basah. Sudah pukul 20.00 WIB, negeri hujan ini sejuk alami, tak perlu AC mobil. Dia larut. Ini dulu jalan kenangan. Jalan yang kerap dia lalui, bersama laki-laki yang telah merebut seluruh hati. Bukan cinta pertama tapi perempuan itu merasa, itulah cinta terakhirnya.

"Sayang, kenapa harus 12 purnama? Gak bisa dipotong setengahnya?"

Aku tergagap, tergugu, suara itu memutus masa lalu. Aku naikkan kaca mobil dan berpaling, pada lelaki yang sedang sangat hati-hati menyetir. Naluri menuntun, jangan salah ucap, yang akan menganggu konsentrasi. Kiri kanan jalan ini jurang.

"Kita harus persiapkan baik-baik, terutama hati anak-anak. Aku ingin bahagia bukan lagi prahara. Kita makin senja," dan senyum lebar memperlihatkan lesung pipit, ku berikan pada mu

"Janji ya, janji setia sampai 12 purnama. Jangan pergi lagi."

Berapa kali sudah kau mengulang kalimat yang sama, sejak perjumpaan di halaman rumah yang membuat patah?

"Ya, janji."

Hawa sejuk mulai berkurang, kabut dan embun menghilang. Mobil sudah memasuki daerah lain yang berbeda. Daerah yang lebih panas dan membuat gerah. Penjual durian berjejer dan harumnya buah itu masuk ke mobil. Sampai di depan INS Kayu Tanam,  sekolah berhalaman luas, aku terkesiap. Di sini, betapa banyak kenang tertinggal, karena sekolah ini kerap digunakan untuk pertemuan para sastrawan.

 

Menggigit bibir kuat-kuat, ku rasakan asin. Biar saja berdarah seperti darah jiwa yang tercecer sepanjang jalan ini, kenangan yang nyeri bersama debur yang hancur, berkeping dan mati. Lalu aku melihat siluet perempuan muda, cantik , berwajah lelah, membawa perut yang membuncit, sendirian, dalam kota yang harus ditaklukkan, untuk menafkahi.

Kembali ke kota setelah tragedi di kamar yang berakhir dengan jejak jari tangan di muka, jiwa raga ku ambruk. Aku runtuh dan terpuruk. Tak terhitung tangis, lara, lara sekali. Akhirnya, berakhir di rumah sakit. Asma yang berpuluh tahun diam, kambuh. Nafas pun tak kuat dihembus, tanpa bantuan selang-selang itu. Sampai di suatu pagi yang mulai membaik

"Ibu hamil, sudah 3 bulan, sudah mulai berdetak jantungnya. Selamat," dokter muda itu menyalami dan aku serasa patung.

"Dok, aku pakai spiral, kok bisa?"

"Tuhan Maha Kuasa Bu, dia lebih tau "

Tinggal sendirian di kamar VIP ini, AC serasa mati. Panas dan meriang. Terpikir kan, anak ini harus ku buang. Aku telah kalah. Tapi naluri keibuan ku betkata: pelihara dia, sesakit apa pun jiwa raga. Kesadaran yang kemudian mengalahkan segala ego, segala keangkuhan. Akhirnya aku menekan nomor lelaki, yang telah dengan tega memberi tamparan ke wajah ku, wajah ibu anak-anaknya.

"Aku hamil, sudah 3 bulan." nada suara ku datar

"Oh, baguslah." aku tak menangkap dari suara itu reaksi hati mu.

"Pindahlah ke sini. Temani aku. Akan ku persiapkan kamar sekaligus ruang kerja untuk mu. Kubelikan semua peralatan yang kamu perlu. Komputer, kamera, print dan apa saja yang akan membantu kerja mu." begitu saja kalimat itu ke luar dari mulut ku.  Lupa sumpah untuk berpisah.

Aku menepati janji. Kamar ku buat pintu khusus dari samping, karena aku tau kebiasaannya pulang larut, agar tak menganggu anak-anak. Demikian juga dengan peralatan kerja. Bahkan kamar sengaja ku cat warna biru langit, biar sejuk di mata. Dia menepati janji. Datang. Dan aku telah melupakan perempuan yang berkirim SMS di subuh itu, melupakan tamparan itu.

Tapi di hari ketiga, ketika senja merona jingga, laki-laki itu duduk di jok motor di teras rumah. Aku yang hendak membuka pinta tertegun. Dia sedang bicara dan nama itu, nama yang telah menghancurkan ku beberapa waktu lalu, dia sebut. Aku terduduk di kursi tamu. Letih.

Lalu aku jalan memutar, ke luar dari pintu samping dan tanpa sandal agar langkah tak berbunyi, untuk bisa berdiri tegak di belakangnya tanpa dia sadar. Mendengarkan segala ceritanya dengan perempuan itu via HP.

 

"Aku juga rindu, mau pulang. Tunggu beberapa hari lagi. Gak ada duit buat ongkos. Segan minta sekarang. Dia lagi hamil," kalimat itu, seperti godam palu, memukul hancur dada ku.

"Kenapa kamu tega?" suara ku mengagetkannya. HP itu jatuh. Reflek aku sepak sekuatnya, membentur pagar dan berderai. Air mata ku jatuh.

Reaksinya adalah kesakitan ku yang luar biasa. Dia ambil tangan ku, seolah hendak membimbing, tapi dia mencengkram dengan kuat, bahkan kurasakan kuku jarinya memasuki daging tangan ku. Aku tahan sakit, tahan tangis, tahan memaki maki, anak-anak ada di dalam. Aku tak mau mereka syok.

Lalu seperti berbimbingan kami masuk kamar. Ku lirik, daging di atas jempol kiri ku terkelupas. Ada 3. Jejak kuku. Jiwa ku hilang, terbang.

Dalam kamar, sebelum dia berbicara, aku ambil uang Rp 300 ribu dari dompet. Mengambil satu HP dari lemari yang tidak aku pakai.

"Kembalilah ke kota mu, kepadanya. Ini untuk ongkos dan makan di jalan. Ini ganti HP yang hancur tadi. Masih ada travel sampai pukul 22.00 WIB nanti. Tak perlu menjelaskan apa-apa. Tak perlu pamit pada anak-anak."

Dia mengambil uang dan HP itu, kembali ke luar dari pintu samping, tak menyapa atau memanggil anak-anak yang sedang asyik nonton TV di ruang tamu. Sebelum dia hilang ditelan kelam, aku berkata letih.

"Setelah anak ini lahir, jatuhkan talak mu. Aku tidak nenuntut apa-apa. Jangan takut. Aku akan mengurus mereka semua. Kau merdeka "

Dia berlalu dan hilang bersama malam. Aku tak mau mengantarnya dengan motor. Biar saja dia jalan kaki ke jalan raya. Sekitar 1,5 kilo dari rumah ini. Rumah yang ku bangun dengan segala perjuangan.

Kepergiannya meruntuhkan segala pertahan. Remuk jiwa membuat perut ku sakit sekali. Aku serasa berputar-putar dan jatuh sebelum mencapai pintu ke luar. Terbangun, sudah di ruang serba putih. Kembali dengan selang oksigen dan infus. Dua kaki ku di naikkan tinggi.

"Bu, yang tenang. Tadi Ibu hampir saja pendarahan. Janinnya masih labil. Jangan banyak gerak." kata suster di samping ku.

"Iya. Tolong jaga janin ku, jangan sampai dia keluar," lirih ku berkata dan hanya naluri keibuan yang menuntun ku untuk mengatakan itu, aku sudah hilang rasa. Tiba-tiba rindu ku meluap, pada anak-anak, meski aku yakin dia aman dalam perlindungan Mama ku, neneknya, di rumah kami.

Aku lihat luka kuku di jari tangan ku. Sudah diberi Betadine warnanya merona orange. Aku lupa sakitnya karena jiwa ku lebih menderita.

"Hei, melamun, udah dekat. Mau makan dulu sebelum sampa rumah?" suara itu memutus kenang yang teramat pahit.

Sebelum menjawab, aku naikkan tangan kiri ke paha dan aku masih melihat bekas luka kuku di sana. Abadi hingga hari ini. Tak hilang. Jadi jejak sejarah pahit yang tetap ikut kemana aku pergi.

"Aku mau makan mie rebus." Lalu diam dan aku lunglai. **

Dari Dulu Aku Lelakimu

Berjalan berdua menyusuri hutan mangrove di hari ketiga aku sampai kampung halaman, kau kerap membuat cerita konyol dan kita ngakak, kadang terlalu kuat, membuat orang-orang melihat. Aku pun heran dengan diri, sejak kapan bisa ngakak begini, lepas, tanpa beban.

Kau pun sibuk jadi pengatur  gaya saat aku jadi foto model dadakan, karena sejak masuk tadi, entah sudah berapa banyak kau potret aku. Menatap ke bawah ke air laut yang mengalir lewat kanal bawah jembatan, aku melihat masa lalu. Saat kau dan aku pernah mengikat janji, akan saling menanti. Tapi itu dulu, 480 purnama lalu. Janji ungkai ketika tanpa kabar aku pergi.

Kau memperlihatkan hasil jepretan mu, terpampang indah, foto-foto ku, dengan senyum dan lesung pipit itu. Aku pun Lena, lupa, itu wajah siapa. Senyumnya kok natural sekali dan wajahnya berseri.

"Tak puas-puas aku memandang senyum mu. Bagaimana caranya agar senyum itu terus ada, ku nikmati dan jadi penyemangat hidup ku yang mulai menua," kau bicara dan terus memandang.

"Jadilah lelaki ku," spontan saja kalimat itu keluar dari mulut ku. Sudah terlambat untuk menariknya lagi.

"Dari dulu aku lelaki mu. Kau yang pergi meninggalkan lelaki mu. Jangan pergi lagi," dan aku menunduk, menghindari pandang mu. Perasaan campur aduk, membuat ku minta kembali ke mobil dan pergi ke tempat lain.

Tiba-tiba tape mobil kau nyalakan dan dendang Virza sayup masuk ke telinga ku.

"Datanglah bila engkau menangis

Ceritakan semua yang engkau mau

Percaya padaku, aku lelakimu

Mungkin pelukku tak sehangat senja

Ucapku tak menghapus air mata

Tapi 'ku di sini sebagai lelakimu. (lagu Virza)

Aku bisa apa? Aku harus bicara apa? Potongan-potongan kisah masih menari-nari di kepala. Aku bahkan tak bisa mencerna, bahagia atau lara, bersama berlalunya dendang Virza.

"Tetap harus tunggu 12 purnama," dan aku memukul bahu mu, kuat, menenangkan resah ku.

"Aku setia menunggu, berjanjilah kau tak pergi lagi," kata mu. Aku hanya mengangguk dan musik terus berlanjut, tak lagi ku nikmati. Bayang-bayang itu berputar-putar di kepala ku, kelam, membawa ngilu.

Aku melihat seorang wanita dengan perut buncit, mungkin hamil 8 bulan, jalan sendirian di kelam malam. Wajahnya sendu, tak ada senyum, apalagi tawa. Perempuan itu baru ke luar kantor, jalan kaki menuju pulang, tak jauh, hanya 1.000 meter arah belakang.

Sudah dinihari. Karena ada piala dunia, dia harus pulang larut. Jabatannya membuat dia baru bisa pulang setelah semua berita diperiksa untuk naik cetak. Agar besok di koran yang dia jadi salah seorang pemimpin, tidak ada salah kata.

Wajahnya tetap datar, bahkan ketika anjing melolong, sahut bersahut. Tak ada riak takut. Di jalan gang ini hanya dia sendiri. Sayup-sayup suara kentongan berbunyi, 2 kali. Ah, hari telah berganti. Perempuan itu, tentunya aku.

Masuk dari arah belakang, pelan kututup pintu rumah agar jangan berisik. Gadis kecil ku, masih 3 tahun, tiba-tiba menyerbu. Gadis kecil yang gagal jadi anak bungsu. Dia menangis, minta dipeluk dan digendong. Kakaknya sudah pada tidur.

Aku menggendongnya, mencium dan meletakkannya di atas perut yang membuncit. Biasanya, kalau pulang tak terlalu larut, ku bawa dia ke kantor. Pulang, dia sudah tertidur dalam gendongan. Kakak di atasnya berjarak 8 tahun, sehingga gadis kecil ini sedikit cengeng, banyak yang memanjakan.

"Oi bulan sagalo bintang

Bapucuk limau Manih

Oi gadih capek lah gadang

Pambujuak ibu manangih..." aku berdendang, dalam bahasa Minang dan dia mulai tenang, meletakkan kepala di bahu ku.

Tak lama gadis kecil ku tertidur dan meletakkannya di kasur. Aku pun ikut merebahkan diri, tanpa ganti baju atau membasuh diri. Janin dalam perut menendang-nendang. Sebentar lagi tentu akan jadi makhluk bumi.

'Sayang, kita mau kemana?" kau menepuk bahu ku, membuat terkejut dan kepala ku membentur kaca jendela mobil.

"Maaf-maaf. Ayo fokus, jangan melamun terus. Cari makan lagi? Atau jalan ke tempat lain? Ini udah di stasiun kereta api. Kalau mau ke laut lagi, kita parkir di sini," ucap mu.

"Ke toko baju yuk, aku mau beli kebaya. Aku cuma bawa satu, pestanya masih ada," kata ku. Ya, kepulangan ku untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan. Kemaren, sambil jalan, aku melihat kebaya cantik, kekinian, ada di patung.

Mencoba-coba kebaya modern ini tak perlu di kamar ganti karena bisa dilapisi saja baju yang dipakai. Beberapa kucoba dan akhirnya, kembali ke pilihan pertama, kebaya warna pastel.

"Cantik Ibuk pakai kebaya ini Pak. Kulit Ibuk kuning jadi serasi," kata gadis berkerudung, karyawan toko pakaian.

"Istri ku memang cantik. Ya kan?" Dan kau tersenyum, aku terkesiap. Tidak siap. Akhirnya tanpa menawar banyak, kuambil kebaya itu.

"Jangan bayarin, aku ada duit," cepat ku keluarkan Rp 550 ribu, seharga kebaya itu.

Kulihat kau tertegun dan aku merasa bersalah. Aku masih merasa tidak perlu bantuan, merasa bisa segalanya sendiri. Merasa hero.

"12 purnama menunggu aku minta lebih untuk menyiapkan diri ku bukan kamu. Sedikit pun aku tak ragu pada mu. Tapi aku ragu pada hati ku. Aku biasa merdeka, biasa memutuskan apa pun sendiri dan punya pendapatan yang kurasa cukup untuk biaya hidup. Aku merasa tak perlu bergantung. Aku ego dan keras hati. Apa yang sudah kuputuskan tak kan mau aku menariknya lagi," kataku.

"Dari dulu juga begitu. Dari gadis kan kamu memang keras kepala. Aku bukan baru mengenal mu. Tak apa. Semua akan baik-baik saja, aku tetap lelaki mu," kata mu saat jalan beriringan kembali ke mobil.**

Mungkin Kau Hadiah dari Tuhan

"Sayang, seperti biasanya, aku shalat subuh berjamaah di mesjid komplek. Setiap pergi berjalan kaki dengan warga komplek. Pagi tadi aku agak terlambat. Waktu buka pintu pagar Imam sudah membaca Al Fatihah. Aku berlari kecil untuk tidak tertinggal rakaat. Sampai di muka pintu mesjid aku tidak merasakan capek sedikit pun. Selesai shalat sampai di rumah seperti biasanya juga, aku olah raga, senam. Anehnya, ku lakukan dengan penuh semangat tinggi, tiada kurasakan lelah sedikitpun. Apakah ini yang dinamakan aura dari semangat cinta yang kembali? Semoga.."

Aku terkesiap, nanap. Ku lihat waktu masuk pesan di WA, 05.41 WIB. Tiga jam yang lalu. Aku masih di bawah selimut, karena habis subuh tadi tidur lagi. Badan ku masih meriang, demam. Entahlah, sejak bertemu lalu kembali ke kota ku, aku serasa remuk, meski senang. Gampang menangis, sesuatu yang hampir tak pernah ku lakukan. Akhirnya ambruk dan sakit. Pesan mu, kembali mengalirkan air mata.

"Mungkinkah kau hadiah dari Tuhan untuk ku?" suara hati mengiringi air mata.

Aku membiarkan pikiran mengenang kenang, juga tentang mu. Tentang janji di bawah pohon cery, di depan rumah ku, ketika purnama ditelan awan, 480 purnama lalu. Janji untuk saling setia, sampai waktunya tiba. Janji yang kemudian lenyap, hilang, tak bersisa, ditelan prahara. Janji yang harus kuungkai, karena tragedi demi tragedi. Tentang harta, tanah pusaka, kesumat, hingga karma.

"Nanti akan kuceritakan semua pada mu, aku bukan ingkar janji, tapi lari, bukan hanya dari mu juga dari keluarga, aku patah," batin ku kembali bersuara.

Memutar ulang pikir saat duduk berdua di bangku panjang, di ketinggian bukit yang nyaman dari pantulan air danau di bawahnya yang sempurna indah, aku kerap  lelah.

"Ayo makan," sambil diri mu membuka bungkus nasi Padang, di sana.

"Menghadaplah ke sini," suara mu mengangetkan jiwa yang masih resah, terombang ambing, sejak kembali hadir mu

Bangku panjang ini kau pilih karena tak ada sandaran, sehingga bisa duduk saling berhadapan. Aku melirik, sejenak, pada dirimu yang sibuk membuka bungkus nasi, kerupuk dan sayur pucuk ubi. Aku bahkan duduk menyamping, menatap ke pohon Pinus yang sebagian mulai rapuh, bukan ke diri mu.

"Aku tak suka nasi Padang."

"Gak apa. Sikit aja, ayo coba makan. Makan gulai ayam dan sayurnya aja. Nanti masuk angin. Dari tadi sayang hanya minum air putih."

Aku merasa bersalah, sebaik ini dia, sebegitu besar kasihnya, apa lagi yang aku ragu? Memutar duduk, aku mengambil nasi sedikit demi sedikit, dengan kerupuk. Satu suapan satu tegukan air, agar aku bisa menelannya. Alam bawah sadar menuntun agar aku tak mengecewakannya.

"Di mobil ada pepaya. Tadi aku petik dari belakang rumah. Nanti bisa sayang makan ya."

Aku tersedak. Terdiam dan menatapnya, nanap. Lelaki di depan ku ini, dari apa hatinya? Dia hapal semua tentang aku bahkan juga tentang buah kesukaan ku. Aku yakin dia sabar menunggu janji 12 purnama itu. Tapi aku? Yakinkah hati ku?

"Janji 12 purnama itu bukan untuk mu, tapi untuk ku. Aku butuh waktu menyembuhkan jiwa ku. Aku butuh waktu menyembuhkan raga ku. Rasa ku telah mati karena begitu banyak tragedi," suara ku mengangetkan dan lelaki itu nyaris jatuh, tiba-tiba badannya oleng di kursi kayu itu. Mungkin tak sepenuhnya mengerti.

"Rasa keperempuanan ku telah lama mati. Aku tak yakin bisa menjalani tugas sebagai istri."

"Kita sudah menua, pernikahan tentu bukan lagi seperti hendak waktu muda-muda. Bukan tentang tempat tidur saja. Aku hanya ingin menemani mu jalan pagi seperti yang selalu kau lakukan kini, tapi seorang diri. Aku ingin membantu mengambil sedikit beban mu. Aku ingin membimbing mu ke mesjid, kalau bisa selalu, lima waktu dan aku ingin mendampingi mu, bertualang, seperti yang kau suka."

"Yehaaaa...." aku berteriak, melompat dari kursi kayu dan berlari ke arah jejeran pohon Pinus. Aku berlari menghindari kau melihat rapuh ku. Aku berlari sambil membiarkan air mata jatuh. Betapa lemahnya aku kini. Selalu menangis. Tapi perempuan mana yang tak akan menangis mendengar kata-kata mu tadi? Aku selama ini percaya bahwa menuju senja tak lagi perlu memikirkan tentang rasa. Hadir mu mengkecamukkan jiwa raga.

Banyak lelaki mengulurkan cinta dan aku tak hendak menerima, karena mereka hanya mengangumi kuat ku, bukan lemah ku. Naluri ku menilai dan cinta mereka duniawi. Engkau? Sungguh berbeda. Waktu kah yang telah mengubah mu menjadi bijaksana atau cinta?

Bersandar di batang Pinus yang mulai tua, 200 meter dari kursi tadi, aku melihat kau dengan sabar membereskan bungkus nasi, memisahkan sampah dan kerupuk yang bersisa. Memasukkan minuman ke dalam tas jenjeng. Berdiri dan membuang   sampah ke tong sampah. Mencuci tangan, membersihkannya dengan tissue dan berjalan pelan, menuju aku. Begitu sabar. Cepat-cepat ku bersihkan air mata dengan ujung jilbab ungu.

Khayali kembali menganggu. Siluet perempuan hamil tua, bekerja lebih kuat untuk bisa menabung biaya persalinan, melintas begitu saja. Ke sana kemari membawa beban, agar uang gaji yang tak cukup bisa dapat tambahan dengan kerja sampingan. Memikirkan gadis kecilnya yang selalu menangis saat ditinggal kerja, hatinya poranda. Tapi kepada siapa harus bersandar?

Hingga tiba waktunya dan bayi itu lahir, tapi nyaris membuat mati ibunya. Bunyi darah dari alas plastik tempat bersalin seiring rasa sakit yang luar biasa. Ari-ari sang bayi tak ikut serta, masih dalam rahim ku.

"Maaf Bu, tahan sakit, ibu tak bisa dibius, nanti fatal,' dan ucapan dokter itu bersambung dengan rarau ku, sakit sekali. Tangannya masuk ke perut ku dan kurasa memutar-mutar rahim. Kesadaran mulai hilang.

"Ibu mu harus dioperasi, siapa bertanggung jawab? Tanda tangan kebagian administrasi," sayup ku dengar suara dokter itu dan mengembalikan sadar ku. Sulung ku belum cukup umur untuk tanda tangan.

"Aku yang tanggung jawab, aku yang tanda tangan dok. Bawa sini berkasnya. Jangan tanya apa pun dok," lirih suara ku ketika dokter itu ingin protes. Segalanya berjalan begitu saja.

"Ayo cepat, ayo cepat, HB nya sudah 60 ayo lakukan transfusi," aku masih bisa mendengar suara itu bersama suara tangisan anak sulung ku.

"Ibu yang kuat, yang kuat," dia menggenggam tangan ku.

"Tuhan, jika kau ambil nyawa ku, bagaimana anak-anak ku? Dia hanya punya aku. Izinkan aku menyelesaikan tugas ku, membesarkan mereka agar bisa menjadi hamba yang berada di jalan Mu. Jika aku harus pergi juga, biarkan mereka semua ikut bersama ku," putus asa, doa itu memenuhi hati. Air mata jatuh. Aku tak lagi paham, salah atau benarkah doa itu. Air mata ku terus jatuh.

"Jangan menangis Bu, nanti darah putihnya naik ke mata, bisa buta,," sayup ku dengar suara suster yang sedang memasukkan jarum ke nadi ku, untuk transfusi.

"Buuuu..." ku dengar rarau sulung ku, sebelum kesadaran punah dan semua kelam, hitam, aku tak merasa apa-apa lagi.**

Aku Tidak Bisa Menyusuinya

Pesan mu melemaskan seluruh jalan darah, di malam yang berhujan. Menepi di sudut sebuah ruko, membiarkan tempias menampar muka. Aku jatuh, luruh, dalam gemuruh. Kau datang dari planet mana?

"Tadi habis shalat Isya berdoa, minta semua urusan dimudahkan, jalan hidup dilapangkan. Pulang dari mesjid seperti biasa, merendam pakaian lalu secara berhati-hati bicara sama dua anak gadis, yang sudah ditinggal ibu. Batin  mau menangis," tertegun sejenak, sebelum membaca terus pesan WA mu, ketika hujan tak jua reda,  sebelum aku menembusnya.

"Pelan bicara sama mereka, kakak dan adik, papa mau bilang, kalau kakak sudah siap kuliah dan sudah dapat kerja serta adik sudah masuk kuliah, kalau papa mau nikah lagi bagaimana? Boleh?," terhenti lagi membaca, hati ku perih. Membayangkan rasa anak-anak mu. Betapa takutnya aku mereka terluka. Si kakak yang sedang menanti wisuda, si adik yang kelas akhir SMA.

Aku ingat janji ku 12 purnama, juga untuk menyiapkan dua naga. Sebelum 12 purnama tiba, satu naga juga sudah diwisuda. Naga terakhir sudah akan semester 3. Beban mu beban ku, telah sedikit jeda. Aku berhitung-hitung, seperti rumus matematika. Kita menua, menuju senja. Tetapi mereka menuju cahaya. Jiwa mereka yang harus dijaga, bukan hati kita.

Lalu terus membaca, berharap anak-anak mu menolak. Entahlah. Aku ibu dan tiba-tiba nyeri. Buncah apalah yang sedang melanda hati anak mu. Merasa bersalah, aku terus juga membaca pesan dari mu.

Kau menulis, "si kakak nenjawab: boleh, tapi tunggu kakak dapat kerja dulu. Si adik mengangguk aja sambil berkata, boleh pa. Meski begitu, batin ku tetap menangis. Kemudian si kakak bilang, carilah perempuan yang orangnya baik ya pa. Aku menganggukkan kepala sambil bilang ya nak dan langsung berjalan ke dapur, menumpahkan air  mata. Rasa bersalah pada mereka dan takut kehilangan mu," pesan mu ditutup dengan emoji tangis.

Aku runtuh. Berjalan ke arah luar dan menampung air cucuran atap dengan dua tangan. Membasuh muka. Sejenak, membiarkan air hujan membasahi badan. Rasanya dada ku panas sekali. Aku ingin menyejukkannya dengan air dari langit ini.

Tiba-tiba aku takut, takut pada jiwa ku. Takut pada ego ku. Takut pada keangkuhan ku sebagai perempuan yang tegar, menjalankan kehidupan yang timpang, bahkan dengan sedikit sangar. Aku takut nyaman ku hilang sebagai hero jika dibawah perlindungan mu. Bisakah sedikit menepi, menjadi kodratnya, tulang rusuk yang memang harus dilindungi?

Tapi cinta apa yang kau punya, sedemikian rupa ingin bersama? 480 purnama yang tak kau lupa. Meski takdir memisahkan, memberaikan janji remaja. Apa aku masih sanggup pergi? Masih sanggup lari? Tiba-tiba, kau terasa begitu indah. Entah.

"Anak baik, anak patuh. Semoga ini bukan jalan yang akan membuat mereka luka," aku membalas WA mu dengan tubuh bergetar. Aku terguncang. Anak-anak ku jauh lebih siap, mereka terbiasa luka. Anak mu? Anak yang dapat lindungan dan kasih sayang utuh dari dua orang tua. Mereka tiba-tiba yang ku cemaskan.

Ada sembilu kembali mengiris hati, darahnya kembali membasahi. Ada iri, ada nyeri. Bahagianya anak-anak mu. Sementara anak ku,  meski tidak pernah bicara dan tetap berprestasi meski pelindungnya compang, aku merasai, dalam hati mereka tetap menyimpan duka.

Melihat teman-temannya datang berdua saat menerima rapor di sekolah, melihat teman-temannya bergelayut manja di lengan bapaknya, diam-diam pastilah anak ku menginginkannya. Tapi mereka anak hebat anak kuat, tak pernah melihatkan duka. Hanya Ada tawa. Demi itu, biarlah aku kerja ekstra. Mengantar jemput mereka, menemani kemana saja, dengan tetap mengurusi kerja.

Mata ku kembali basah. Perempuan tegar yang sesungguhnya terlempar. Perempuan gagah yang sebenarnya patah. Perempuan yang meraih mimpi dengan mematikan mimpi lainnya. Perempuan yang merasa naga meski hanya Pipit senja, yang rindu dibuatkan sarang. Aku memukul kening. Coba menghilangkan segala bayang, tapi gagal.

Aku melihat diri ku terbaring di ruang ICU. Di kiri kanan ada selang infus dan darah. Di hidung selang oksigen. Semua membayang, pelan-pelan, hingga nyata. Kesadaran pertama perempuan itu adalah bayinya.

"Suster...," antara ada dan tiada suara itu.

"Jangan bergerak dulu Bu," suster itu mendekat.

"Mana bayi ku?"

"Bu, ini di RSUD. Bayi ibu tinggal di klinik bersalin. Tapi sehat. Ibu tadi pendarahannya banyak sekali, harus dibawa ke sini. Dua hari lagi ibu bisa menjalani perawatan di klinik itu lagi,, ketemu dedek bayi," kata suster.

Setelah itu yang ku ingat adalah uang. Ini biayanya tentu banyak sekali. Biaya di klinik dan biaya di rumah sakit. Aku harus cari kemana? Kantor tidak menanggung dan asuransi juga tidak ada. Aku hanya menyiapkan uang untuk persalinan normal. Memikirkan itu, kepala ku sakit sekali. Aku berdendang dalam jiwa.

"Buah hati ku, belahan jiwa....," dendang pelerai lara.

Dua hari kemudian aku dibawa kembali ke klinik. Biaya di sini sudah ditanggulangi dulu oleh klinik. Ditandu ke kamar rawat klinik, bayi itu sudah di sana. Bayi perempuan yang cantik. Rambutnya hitam, pipi putih merona, bibirnya pink dan badannya padat. Aku tak memandang lama.

"Bu, mari coba susui, beri ASI bayinya. Kami akan bantu," kata suster setelah aku di tempat tidur.

"Aku tidak bisa memberinya ASI."

"Kenapa Bu? Kami bantu. Lama-lama ASI ibu akan banyak "

"Bukan itu. Aku sudah harus mencari nafkah, mungkin sebelum usianya 1 bulan. Jadi aku tak bisa menyusuinya. Itu akan menghambat langkahku."

Tak lama, datang bidan kepala. Dengan lembut bicara pada ku, tentang keuntungan ASI untuk bayi.

"Rezeki itu bisa dicari. Kesempatan memberi ASI tak bisa diulangi. Sebaiknya susuilah dia," ucapan lembutnya  menderaikan air dari mata.

"Jika aku susui dia aku akan terikat, nafkah kakak-kakaknya terancam. Untuk mengeluarkan kami dari sini, aku juga akan meminjam. Lebih baik aku tak memberi ASI, agar fokus pada menafkahi. Biarlah bayi ini ku beri susu formula," kepala bidan itu tak bicara lagi, beranjak pergi. Tapi sempat kulihat matanya basah.

10 hari di klinik, aku lebih banyak membiarkan bayi itu yang akan jadi bungsuku, diurus suster. Aku menahan hati untuk tidak tergoda memberi ASI. Naluri ibu ku tersayat, perih. Seperti simalakama. Aku tak bisa memilih. Ibu yang baru melahirkan itu sakit, jiwa raga. Tapi dia harus berdiri, harus kuat untuk melangkah. Pelan tapi pasti, aku yakini, jalan ini suatu saat kelak, akan berbuah indah. Susah, cukup aku saja.

Dua hari menjelang pulang, aku pun menanyakan biaya.

"Total Rp 20 juta Bu, biaya bersalin di klinik, biaya operasi di rumah sakit dan obat-obat Ibu banyak sekali," ucapan itu mengeringkan segala luka, seketika.

Aku hanya ada separohnya. Emas permata juga tak punya untuk dijual. Meminjam kemana? Ke kantor, dapat separohnya. Masih kurang Rp 5 juta. Akhirnya meminjam ke beberapa teman dan aku bisa membawa bayi cantik ini pulang. Bulan depan, sudah harus mencicil hutang, artinya harus kerja ekstra.

"Maafkan ibu nak, bukan tak sayang pada mu. Tapi semua kita harus selamat. Maafkan ibu. Kau tidak akan merasakan digendong dan disayang oleh laki-laki yang akan kau panggil bapak. Tubuh mu tidak akan dapat imun dari air susu ibu. Tumbuhlah hebat. Balaskan kesumat ku dengan prestasi mu, kelak. Kau gadis ku, darah ku ada dalam darah mu. Kau akan kuat.**

Kau Luar Biasa

Baru bangun siang ini karena semalam hampir tak tidur karena menulis, aku ambil HP di samping bantal, membuka WA. Ingin melihat berita-berita yang dikirim wartawan daerah. Tapi yang pertama terbuka adalah pesan dari lelaki 12 purnama itu. Pesan dari mu, sebuah foto yang membuat terkesiap. Dingin AC kamar serasa tak terasa, tiba-tiba aku meriang. Kau memuja, selalu memuja ku, dengan banyak cara.

Foto mu lagi di belakang setir mobil dan diatasnya kau tulis lagu Admesh, lagu dengan judul Cinta Luar Biasa.

Terimalah lagu ini

Dari orang biasa

Tapi cintaku padamu luar biasa

Aku tak punya bunga

Aku tak punya harta

Yang kupunya hanyalah hati yang setia.

(reff lagu Admesh, Cinta Luar Biasa)

Perempuan mana yang tiada kan tergoda? Aku lupa tua, aku lupa senja. Bahkan dulu pun, 480 purnama lalu, kau tak seindah ini. Bukan lelaki yang romantis. Kau hanya membuktikan cinta, dengan selalu melindungi ku, dari apa saja. Bahkan untuk itu kau rela hati mu luka. Sering hati mu tersakiti oleh keluarga ku karena menganggap kau tak pantas untuk ku, kau tiada pernah menceritakannya. Kau menghindar sebentar, lalu datang lagi pada ku. Cerita utuh kudapat justru dari kawan-kawan mu, yang juga kawan ku.

Kenapa kini kau menjelma luar biasa? Belum 24  jam, begitu banyak kejutan, membuat hati terguncang. Masih bisakah aku lari? Pergi? Seperti dulu itu? Masih bisakah hati ku ragu? Angkuh rasa ku yang nyaman dalam kesendirian, pelan tapi pasti terus tergerus, pelan tapi pasti, kurasa meleleh. Ah, tiba-tiba aku jadi perempuan, butuh sandaran. Tiba-tiba jadi ingat tulang rusuk.

Semalam, usai Isya, video call dari mu masuk. Aku baru saja duduk dan memang pulang agak cepat. Takut hujan. Usai menyahuti salam mu, muncul wajah gadis cantik itu, berambut panjang diikat ke belakang dan berkaca mata, seperti bungsu ku. Aku gelagapan melihat senyum manisnya. Sungguh, aku belum siap. Dengan gugup ku ucapkan salam. Dia tersenyum, aku terenyuh.

"Ini Ibu yang Papa ceritakan semalam," ucap mu dan gadis itu malu-malu. Tiba-tiba aku ingin memeluknya. Aku takut hatinya luka. Gadis piatu itu, tiba-tiba meruntuhkan ego ku. Aku, tiada kan tega menyakitinya. Dia masih butuh peluk ibu. Senyumnya begitu tulus menyambut ku. Dan pembicaraan dengannya berakhir bersama air mata ku.

Hanya jeda beberapa menit setelah telpon ditutup, masuk lagi pesan dari mu. Serasa mati berdiri, serasa terhenti, denyutan urat nadi. Pelan kubaca pesan mu, berkali- kali.

"Aku kasih liat foto profil mu pada anak ku tadi, usai video call diri mu. Cantik..cantik, katanya sambil senyum, nampak cerianya anak ku meliat foto calon ibunya..." tulis mu.

Aku hilang kontrol, menangis dan berlari memeluk bungsu ku. Dia bengong, tidak mengerti kenapa. Dia balas memeluk, mungkin merasa kan hati ku yang gundah, dan air matanya juga jatuh. Tapi dia diam, tak bertanya.

Gadis cantik ini, gadis kuat dan hebat, berjalan di atas pecahan luka. Hanya merasakan pelukan seorang ibu, meski dulu, saat bayi, dia sedikit pun tidak mendapatkan air susu ibu. Gadis yang dibentuk oleh luka dan menjadikannya luar biasa. Gadis yang berani, kuat dan tentu saja tomboy, seperti ibunya. Gadis yang tak pernah sama sekali bertanya, dimana laki-laki yang harusnya ada, bersama dia, melindungi dan mengasihi. Wajahnya selalu tersenyum, meski tanpa lesung pipi, seperti ibunya. Dan dia tidak manja.

Beberapa hari lalu, turun dari mobil yang mengantar pulang, dia menyambut ku. Menenteng satu kardus bawaan ku, dia bertanya. "Ini chiki-chiki kempes dari Om itu ya Ma. Banyak sekali."

"Bisa buat cemilan mu sama kakak satu Minggu," jawab ku.

Dia tau itu dari mu, karena kau selalu memberikannya setiap aku singgah di kota mu. Makanan ringan kesukaan anak ku. Bungkusnya dikempesin agar muat banyak di kardus itu. Tapi tidak membuat isinya jadi rusak dan tidak layu. Anak-anak telah mengenal mu, lewat Chiki kempes itu. Hati ku bernyanyi.

Tetiba aku tersadar dari kenang. Kau, sejak menjemput ku di terminal itu, mungkin 10 hari yang lalu, betapa banyak kejutan yang telah melelehkan pelan-pelan, beku hati? Tawa dan tangis silih berganti, oleh hati yang membuncah. Tangis dan tawa yang seolah terapi, menggerus sedikit demi sedikit rasa ku. Aku ternyata tetap perempuan meski nyaris, bermetamorfosa jantan, dalam sikap, dalam derap langkah. 

Kejutan kedua tadi pagi. Masih malas-malasan dan duduk sambil membaca La Tahzan (Jangan Bersedih) karangan Dr 'Aidh ak-Qarani dan jadi buku terlaris di Timur Tengah, pesan mu kembali masuk. Pesan yang entah sudah berapa puluh kali dalam satu hari. Pesan yang selalu diakhiri dengan emoji hati. Tanda cinta.

"Tadi aku ke kebun belakang. Petik pepaya. Masak di batang, pasti manis. Aku ingin membawakannya untuk mu. Entahlah. Kau serasa sudah ada di atas rumah. Saat meletakkan pepaya di meja, aku tersadar. Kamu di kota mu. Sayang, pangkas lah purnama yang 12 itu. Jadikan 3 atau 6 saja," kata mu, sambil melampirkan foto buah pepaya yang ranum itu.

Aku tertawa, lebar. Ada bahagia merasuki hati. Lelaki ini, dari 480 purnama lalu dan aku minta menunggu 12 purnama lagi, patutkah  aku ragu? Harusnya tidak. Harusnya 3 purnama pun bisa. Dia sendiri aku sendiri, lalu, apa salahnya? Kenapa tidak segera berbagi? Tapi tidak, harus 12 purnama. Aku terbiasa berhitung-hitung dengan rumus matematika dalam hidup. 12 purnama cukup untuk menyembuhkan jiwa ku cukup untuk menyembuh kan raga ku.

Aku tak mau cepat, takut tak sempurna dan membuat mu kecewa. Waktu menelan ku hingga mati rasa. Tapi aku percaya bisa kembali, hadir mu membuat tawa dan air mata, pelan mengurai jiwa. Setidaknya, aku mulai merasa rindu. Rindu pada perjalanan yang penuh haru. Pada tawa mu yang tak pernah ngakak seperti aku. Kau bersahaja, hati-hati dan menuntun ku, sesuatu yang sudah hilang, bahkan dari mimpi ku. Kau menuntun seolah aku adalah benda amat berharga dan kau  takut benda itu rusak atau jatuh. Kau menuntun, kurasa seperti aku menuntun bungsu ku saat belajar jalan dulu. Sepenuh jiwa raga. Sepenuh cinta. Sepenuh doa.**.

Begitu Lama Kau Simpan Aku di Rumahmu

Kiriman foto mu, tentang aku, malam ini, memberikan pemahaman, samar tapi pasti, betapa hebat cinta mu. Kau juga penyimpan file cinta yang rapi. Aku percaya, sangat percaya, kau adalah suami yang setia, ayah yang baik, pekerja yang ulet. Tapi Kau susun dalam barisan teratur, tentang aku, hanya dalam jiwa. Kau ingat detil sekecil apa pun, yang aku abai dan tentunya acuh. Aku pun, dulu itu, 480 purnama lalu, tak yakin akan cinta. Kegigihan mu, selalu ada dimana aku, selalu membantu segala sulit ku, membuat kita bersama.

"Aku ingat, diri mu berdiri di tonggak jembatan, dalam hujan, pakai putih abu-abu, mulai kuyup. Aku melihat mu dari kedai orang tua ku yang posisinya lebih rendah dari jembatan. Betapa aku ingin berlari kala itu, mengantarkan pada mu payung. Tapi aku takut. Karena kau tak pernah menganggap ku. Aku, meski kita seumur, sama-sama Pisces, tapi dua kali tinggal kelas. Saat kau putih abu-abu aku masih putih dongker. Aku minder," ucap mu, beberapa putaran waktu, setelah janji 12 purnama ku sebut. Kalimat yang membalikkan ingat, coba menyusuri jalan masa lalu.

Kala itu, kau bicara datar sambil menatap ku. Tapi aku, sungguh, ingat pun tidak tentang berhujan di jembatan sepulang sekolah itu. Aku merutuki lupa itu. 480 purnama lalu, belum ada angkot lalu lalang di kota kita, hanya ada kuda bendi, tapi mahal. Pulang pergi sekolah, dengan jarak 5 Km, aku tempuh jalan kaki. Seperti yang lainnya juga. Berpanas atau berhujan, hanya hal biasa. Masa itu, seperti kata mu, kau bukan sepermainan ku. Anak SMA sesamanya dan putih dongker, SMP, sesama pula. Mana bisa kutangkap suara hati mu, kau seperti adik bagi ku.

Tak ada tinggal dalam memori ku, tentang jembatan, juga kedai kopi  di bagian hilir jembatan itu, punya orang tua mu. Aku pun hampir tak punya teman, apalagi laki-laki, karena sebagai anak perempuan satu-satunya, aku dijaga begitu ketat. Hanya boleh ke luar saat sekolah, setelah itu dikurung di rumah.

"Kau ingat ulang tahun mu ke 17 yang dirayakan? Aku ingin sekali memberi mu hadiah, seikat mawar. Tapi aku gentar, teman-teman mu yang datang putih abu-abu semua. Tapi aku tetap ingin hadir di ulang tahun mu.  Akhirnya, aku adalah orang yang bekerja, mengangkut makanan, untuk teman-teman mu. Tapi aku senang, sambil menaruh makanan aku bisa menatap mu," kau menyambung cerita itu. Aku lena.

Aku menyipitkan mata, menatap mu. Coba memutar segala ingat. Begitu banyak yang ku lupa. Tragedi demi tragedi membuat ku membiasakan diri melupakan segala perih, agar aku tak jatuh dalam putus asa, sejak masih SMA. Membunuh kisah, membunuh masa lalu adalah obat, sehingga aku tetap bertahan. Tapi diri mu begitu rapi menyimpannya. Tiba-tiba kepala ku sakit, antara ingin mengingat tapi tak ada yang bisa kuingat.

"Kau ingat, aku pernah menemui mu dulu di kota Padang? Ketika usia ku sudah lebih 30. Aku menjumpai mu sudah menggendong anak. Aku menangkap kau menderita. Aku surut berbicara. Hanya tersenyum dan berlalu. Sebenarnya waktu itu aku ingin meminta izin untuk menikah. Aku tak mungkin memiliki mu lagi. Aku sumpahi diri, kenapa harus mencari mu, kenapa harus minta izin ke kamu, padahal kau sudah milik orang lain. Akhirnya aku kembali ke kota ku, ke kota tempat ku bekerja, ke kota dimana seorang gadis setia menunggu, kota Medan. Aku menikah dan coba menutup tentang mu, tapi tak bisa. Aku jalani perkawinan dengan setia karena istri ku adalah perempuan luar biasa, menjaga dan mendampingi ku sepenuh jiwa raga," kau terus saja bercerita dan episode ini pun, entah dimana dalam memori ku, aku juga lupa.

Tapi rasa itu, tiba-tiba mengalir ke dada bersama mata ku yang mulai perih, bersama hati ku yang tiba-tiba begitu letih. Aku balas menatap mu, dalam, di bangku kayu itu dan ada desir, kenapa tidak aku labuhkan seluruh hati, seluruh hidup, menuju senja, kepada mu? Menua bersama, kenapa harus aku hindari? Rasa itu mengalir begitu saja. Tiba-tiba aku merasa amat berharga. Tiba-tiba merasa nyaman.

Lalu, malam ini, foto potongan kisah ku, kau kirim, lewat WA. Kisah teramat pahit, teramat sakit. Kisah yang nyaris merenggut nyawa gadis ku, jatuh dari pesawat latih saat sekolah pilot. Instrukturnya meninggal dan dia koma. Kisahnya dan  kisah hidup kami dimuat sebuah majalah wanita. 108 purnama lalu. Ada foto ku, foto gadis ku dan foto kami, ibu dengan tujuh naga, di majalah itu. Aku terlempar, terpental, remuk redam. Ingat kesakitan gadis ku, perjuangannya untuk hidup. Operasi-operasi yang harus dijalaninya. Perjuangannya untuk jadi pilot dengan bea siswa. Keinginannya membawa ibunya ke kehidupan yang nyaman, secara ekonomi.

"Tadi anak ku bertanya tentang sayang. Aku ambil majalah yang tersimpan rapi di lemari. Lalu sambil rebahan aku dan dia membaca ulang kisah mu. Aku tak perlu menjelaskan, betapa hebatnya kamu. Majalah itu telah mewakili mulut ku," pesan mu masuk lagi. Aku masih terlena, dalam hampa kisah lama.

Aku tak mengerti bagaimana majalah itu ada pada mu. Di rumah pun, rumah kami, tak ada lagi majalah itu. Kebiasaan membunuh kisah pahit membuat ku tak mengarsipkan majalah itu, meski amat penting. 108 purnama lalu kisah itu terbit dan selama itu kau telah menyimpannya di rumah mu. Kau jaga dengan baik, seolah itu adalah aku. Indahnya dicintai sedalam itu. Selama itu, telah ada aku, di rumah mu. Dalam wujud majalah itu. Aku tiba-tiba serasa kaku. Alur ku, telah sedemikian diatur Tuhan hingga sampai ke titik kau menunggu dan aku yakini,  ada harapan dan doa mu bersama waktu hingga aku bisa kembali di sisi mu.

Kepala ku seperti dipukul palu. Aku membayangkan mu. Lelaki baik, penuh tanggungjawab, pada istri mu pada anak mu. Jika ada aku di sudut hati mu, itu sedikit saja tentunya dan aku yakin,  kau pun tak hendak memikirkan tentang kisah kita. Sampai takdir mu berakhir perih, pedih. Kau kehilangan tulang rusuk mu, selama-lamanya.

Hampir 20 purnama setelah itu, kau kalah oleh cinta dan mencari ku. Hanya sekedar ingin bertemu. Yang kau dapati, perempuan yang lara oleh tragisnya jalan hidup itu, sendiri. Perempuan yang menembus malam sendirian, perempuan yang mengayuh biduk dengan pendayung timpang. Patah.

Aku dengan badan terasa letih didera banyak hal, dalam satu waktu, membongkar kenangan, merasakan cinta yang begitu dahsyat, menangis, tersedu-sedu. Tiba-tiba begitu ingin di dekat mu. Mendengarkan lagu indah tentang cinta. Mendengarkan keinginan mu untuk memotong 1/2 dari 12 purnama. Apa aku sanggup menolak? Aku terlempar dalam dua kurun, kepahitan dan harapan. Dipuja dan dicampakkan.

"Aku tadi cerita ke anak, betapa hebatnya kamu. Setelah membaca kisah mu, dia berkata: hebat pa. Itu tentang mu," pesan ini terus saja sambung bersambung.

"Cantik kan nak?" Aku ajuk hati anak ku.

"Cantik Pa," dan anak ku tersenyum. Aku bahagia. Dia tidak menolak mu.

"Habis itu aku Shalat Isya dan dengan sungguh-sungguh terus meminta, mudahkanlah jalan ku untuk bersama mu, menghalalkan mu."

Dan aku ambruk dalam tangis, di ujung kalimat mu. Betapa lemahnya aku sekarang, begitu mudah menangis. Mana aku yang dulu?   Aku yang menjadikan tangis sebagai pantang?

Kau berasal dari mana sehingga begitu sabar, tegar dan setia menyimpan cinta? Aku melihat diri berjalan kaki, dengan gadis kecil dalam gendongan. Mungkin 20 tahun lalu. Menempuh jarak hampir 5 kilometer, kaki ku melepuh. Aku ke Pasar Bawah dari Jalan Tuanku Tambusai, di kota ku yang keras. Ada angkot tapi tak sampai ke tempat yang kutuju. Hanya 1/2 jalan. Naik taksi uang tak cukup. Aku mencari teman yang berdagang sate di sana. Mencari pinjaman. Semua mendesak.

Uang kuliah sulung, uang sekolah adiknya, uang kos mereka hingga beli susu gadis kecil ini. Harus kucari kan dalam seketika. Pengasuh gadis kecil ini minta pulang dan gajinya harus dibayar lunas. Aku ingat betul, aku menangis. Sepanjang jalan kuciumi gadis kecil ku berulang-ulang, peluruh seluruh rasa sakit sambil berdendang sayang.

"Buah hati ku belahan jiwa, tidur lah tidur ya anak,  tidur lah tidur ya sayang...," dan dia tertidur, damainya wajahnya.

"Pinjami aku uang dulu, Rp 3 juta. Satu bulan aku bayar," kata ku setelelah bertemu sang teman. Dia jual sate di restoran bukan kaki lima, ku yakin duitnya ada.

"Baru bayar kontrak toko, gak ada," katanya.

"Berapa bisa ajalah," aku mulai putus asa.

"Begini aja. Aku bisa pinjamkan uang koperasi tapi bunganya tinggi. Untuk 40 hari bunganya 30 persen. Kalau minjam Rp 3 juta kembaliannya Rp 4,3 dengan biaya administrasi," katanya.

Aku setuju dan membawa pulang uang Rp 2,7 juta, karena biaya administrasi potong di depan. Tapi biarlah. Aku tak tau kemana harus bersandar di kota ini.  Kota yang begitu asing, begitu hiruk. Kota yang menelan segala asa. Aku terdampar di sini berharap hidup lebih baik untuk buah hati. Kesadaran untuk tidak boleh putus asa membuat ku terus tegak, berdiri dan berlari. Aku ada di jalan ku dan aku harus melaluinya, sesakit apapun itu.

Memalun segala dendam memendam segala kesumat  memulun segala benci, lalu ku buhul kuat- kuat di relung hati dan membiarkannya menjadi energi positif, agar aku bisa menerangi jalan ku sendiri.

"Wahai para naga tumbuh hebatlah semua. Jadilah bintang. Itu akan jadi penawar luka," aku berteriak, agar tetap tegak. Gadis kecil ku terkejut dan merengek. Lalu aku mendendangkan   nada-nada, timpang, fals, biarlah teriak itu menjelma lagu, mengurai segala marah. Lagu yang besertaan dengan air mata. Lagu yang melelapkan kembali gadis kecil ku.

Seandainya aku punya sayap

Terbang terbanglah aku

Kucari dunia yang lain

Untuk apa disini

Seandainya dapat kau rasakan

Kejam kejamnya dunia

Tiada lagi kehadiran

Untuk apa ku disini

Menjerit dan menangis

Pilu dan derita

Merintih dan berdoa

Dimanapun berada oh

Duniaku yang fana. (Rita Butar-butar).**

Jejak Rumah Tua

Pagi yang gersang, matahari sudah garang, di kota ku. Di dapur kecil dengan dua kaca nako tertutup rapat, aku sedang mengiris bawang putih, untu membuat nasi goreng. Aku memang lebih suka mengirisnya bukan menggeprek, agar saat dimakan terasa di mulut aromanya. Tiba-tiba HP yang ku letak di atas kaleng kerupuk bergetar dan selintas memperlihatkan foto itu, deretan pohon kelapa dan semak perdu. Aku tersedak dan tersadar dari tegun ketika mata pisau cutter yang ku gunakan mengiris bawang putih, masuk ke daging, di empu jari. Nyeri.

Aku melihat darahnya menetes ke irisan bawang merah dan putih, dalam piring kecil putih. Entahlah, aku membiarkannya saja. Lalu kuaduk dengan ujung pisau irisan bawang merah, bawang putih dan darah dari jempol ku. Indah. Warna yang indah. Aku merasakan sensasi sakit tapi lebih sakit di jiwa. Tempat itu, masih sama meski telah berlalu 480 purnama.

Jika aroma sore mulai meneduhkan bumi, 480 purnama lalu, aku suka duduk di tangga kayu, di antara pohon kelapa dan semak perdu itu. Ada rumah panggung di sana, tangganya 7. Tangga kayu yang di cat coklat tua. Rumah panggung itu sudah lama kosong karena penghuninya sudah pindah ke kota. Sesekali saja mereka datang, untuk mengambil buah kelapa.

Aku suka duduk di tangga nomor lima dan memainkan bunga ilalang yang suka ku pegang. Biasanya aku duduk di sini setelah memanjat pohon jambu biji yang berada di kebun sebelah kiri. Aku suka sekali jambu biji. Capek makan dan nongkrong di dahan jambu biji, aku melompat dan berlari, ke tangga nomor 5 itu. Aku melakukannya saat penjagaan terhadap ku longgar. Karena tiap sore ayah akan ke kedai dan itulah masa bebas ku. Ibu lebih membiarkan ku.  Gadis kecilnya, yang sedang remaja, untuk sejenak bebas dan merdeka. Aku melewati parit, melompat ke rimba rumbia  dari belakang rumah, sebelum akhirnya tiba di pohon jambu biji, milik tetangga.

"Minta jambu Bu...," teriak ku.

"Hati-hati memanjat. Kamu anak betina. Salah-salah jatuh rusak perawan mu..." teriak ibu itu dari jendela rumahnya yang membuat ku malu. Aku terlalu jantan untuk seorang remaja perempuan.

Puas makan jambu dan duduk di tangga itu, sendirian, sayup-sayup ku dengar suara seruling, merdu, mendayu. Aku tertawa dalam hati. Itu pasti kamu.

Kau mulai berdendang diiringi suara seruling yang ditiup teman mu. Aku hapal lagu mu karena selalu itu, tiap lewat di depan ku. Lagu Ebiet G Ade, penyanyi yang lagi ngetop masa itu. Biasanya, sejenak kau akan berhenti, menyandar di pokok kelapa persis di depan ku. Kita saling pandang tapi membisu. Jika sudah begitu, suara seruling akan ditiup lebih kencang oleh teman mu. Kau dan aku, entah mengapa, sama berdendang, pelan.

Lewat satu lagu, tak usai kau nyanyikan

Perlahan kau tengadahkan wajah, sibakkan rambutmu

Matamu tajam berbinar, tembusi kegelapan malam

Burung gagak pun jadi enggan terbang

Sedetik ku tertegun dalam kesendirian

Gelap, kelam membentang di depan mata

Burung-burung pipit, terbanglah menjauh

Kabarkan pada awan cerita ini

Aku lagi jatuh cinta

Pada gadis kecil yang memainkan gitar

Pada gadis kecil yang memainkan gitar (Ebiet G Ade)

Dan kita tertawa bertiga, di ujung suara yang comprang.

"Pulang? Ayo, beriringan," kau mengajak.

"Gak. Nanti ketemu ayah, kau bisa ditampar," jawab ku, dan melempar pandang ke jalan setapak dan rimba rumbia, di depan.

Aku melihat sepasang balam sahut bersahut, dari pucuk pohon petai, tumbuh subur, di antara rumbia. Aku merindu bebas, bermain dan riang bersama teman sebaya. Jatuh cinta dan saling pandang, penuh debar. Tapi yang ada takut. Beberapa kali lelaki yang coba mendekati, telah jadi sasaran kemarahan ayah.

"Ma, banyak darah...." aku tersadar dan berlari ke halaman, mengambil lidah buaya, membersihkan luka ku, membasuhnya dengan air kran dan kembali memberikan sari pati lidah  buaya agar lukanya mengering. Kembali ke dapur, membuang irisan bawang yang telah tercampur darah dan duduk, membuka HP. Hati ku buncah. Kau, lelaki siapakah, yang begitu ingat detil dan mengambil foto itu, untuk sekedar mengirimnya pada ku.

Aku membatin, kau sengaja membangkitkan kenangan, tentang masa 480 purnama, agar ingatan ku pulih sempurna dan menyambut mu, dengan segala cinta. Kau hendak menghapus ragu ku, bahwa kau memang pantas untuk ku berjalan di sisa usia, dalam genggaman mu. Ah, lelaki kekar yang dulu kerap membonceng ku jika pergi sekolah, naik sepeda mini. Kita berjanji bertemu di ujung munggu, agar ayah tak tau bahwa aku pergi dengan mu. Cinta tanpa suara tanpa kata, berjalan, begitu saja.

"Masak apa sayang?" pesan itu menganggu konsentrasi ku. Meletakkan semua yang sedang ku kerjakan, lalu duduk, membalas pesan mu.

"Untuk anak-anak nasi goreng dan udah goreng. Untuk aku sampadeh patin," balas ku.

"Ingat lagi masa lalu," jawab mu dan aku kembali linglung, masa yang mana lagi itu? Aku diam, karena yakin kau akan meneruskannya.

"Dulu waktu pestanya salah satu teman kita, kau mengambilkan sepiring nasi untuk ku dengan gulai Sampadeh ikan mas. Tapi nasinya agak banyak. Kok banyak  kali nasinya, tanya ku. Gak apa-apa mungkin kamu belum makan jawabmu. Waktu itu kamu sudah punya anak.  Kuhabiskan juga nasi itu karena dirimu yang memberikannya." Tulisan mu kembali menguras energi amnesia ku. Butuh tenaga. Aku susah sekali mengingatnya. Amnesia ku terlatih oleh waktu. Aku tak bisa mengingatnya.

Aku hanya melihat seorang gadis, belum 20 an, berlarian di jalanan, kakinya menuju terminal bus. Dia baru saja dihempaskan oleh laki-laki yang telah disepati akan jadi suaminya dan atas nama patuh, gadis itu menerimanya. Laki-laki yang kepalanya mulai botak, berusia lebih dua kali lipat dari dirinya. Tapi kaya raya. Ahli waris pedagang emas yang sukses. Dia dicarikan jodoh karena orang tua menolak pacarnya. Pilihan jatuh pada ku.

"Terima ya Nak. Dia kaya. Hidup mu akan senang," ibu membujuk dan aku mengangguk.

Kurasakan bahagia ibu saat mengantar ku menuju kota lelaki itu. Kota yang jadi perantauan keluarganya, meski kami berasal dari daerah yang sama. Gadis yang tidak menangis karena dia juga tidak memiliki pada siapa hati hendak dibagi.

"Dia tidak menginginkan aku Bu," suatu sore aku bicara pada ibu yang sedang tertawa bersama ibu lelaki itu, calon mertua ku, setelah 7 hari di rumah mereka.

"Biasa itu. Kalau kalian sudah nikah semua akan baik-baik saja," kata calon mertua yang dibalas anggukan ibu.

Aku mulai sakit dalam jiwa. Ini hari ketujuh di sini dan laki-laki itu menegur pun tidak. Aku suka melihatnya ke luar setiap sore, harum dan rapi. Melengos begitu berpapasan dengan ku. Sore ini begitu juga dan ibu bersama calon mertua ku sedang berbelanja ke pasar. Lalu dia bawa perempuan itu, ke hadapan ku.

"Ini calon istri ku, bukan kamu. Ini wanita yang kucintai. Bilang sama ibu mu, jangan berharap harta ku," laki-laki itu, 45 tahun, melempar aku yang 20 tahun belum, dalam jurang hina dina sebagai perempuan. Aku diam dan berlalu. Masuk kamar dan mengambil dompet serta mencuri sedikit uang dari tas ibu. Naluri ku menuntun, aku tak boleh dihina begini rupa. Aku pergi. Aku pun tak mengerti darimana segala kenekatan ini. Biarlah aku membuang diri.

Aku naik bus tapi kembali naluri ku menuntun, bukan bus ke kota ku. Aku naik bus tujuan Jambi, dari kota ini, kota yang melukai hati ku dengan sangat keji. Kota Kerinci. Aku tak punya apa-apa, hanya baju di badan dan yang ongkos serta makan. Otak ku tak lagi waras untuk berpikir, mengapa aku ke kota yang sama sekali tak ku ketahui, kota yang belum pernah ku jejak. Aku hanya membawa rasa sakit, aku tercampak dan dicampakkan. Aku ingin mati tapi aku tak kuasa membunuh diri.

"Maafkan aku ibu, mengecewakan mu. Tapi aku tak punya tempat mengadu. Biarlah ku bawa diri, doakan aku untuk tidak jatuh bunuh diri," aku bergumam, ketika bus berangkat, usai Magrib, membawa ku yang sungguh linu, beku, habis rasa. Aku tak tau mau melangkah kemana, tempat mana yang mau dituju. Gadis penurut itu, tiba-tiba, sepersekian menit waktu, jadi pembangkang, pemberontak. Dia diam sepanjang perjalan yang akan butuh waktu  tempuh 12 jam.**

Sobekan Kain Baju dan Amnesia ku

Belum lagi azan subuh dari mushala depan rumah ketika pesan mu masuk pagi ini. Aku juga belum tidur. Ada tulisan yang harus ku selesaikan. Kiriman foto, bulan di langit yang kelam, mulai tak penuh, tanda purnama mulai surut. Kulihat waktu, pukul 4.56 WIB. Aku pindah duduk dari meja kerja, beranjak ke kursi tamu, agar lebih nyaman menikmati membaca pesan-pesan mu.

Padahal semalam, kau masih berkirim pesan, pukul 23.50 WIB, mengabarkan baru sampai di rumah, mohon izin tidur, karena capek dari luar kota. Kau, lelaki 12 purnama, kapan bisa jeda memikirkan perempuan masa lalu mu?

"Gak bisa tidur. Ingat kamu, rindu. Aku ke luar rumah mau lihat bulan dan purnamanya mulai surut sayang," tulismu dan diakhiri emoji bahagia dan emoji cinta.

Aku paham maksudmu. Ingin purnama cepat berlalu. Ah, aku sesak, kenapa memberi janji selama itu? 12 purnama. Tapi itu untuk kebaikan semua, orang-orang tercinta kita, terkasih kita, buah hati kita. Mereka sedang diujung untuk menuju dewasa, mandiri dan mereka berhak mendapat segala yang terbaik. Ayah atau ibu sambung, pastinya tidak akan ada yang sempurna, mencintai dengan seluruh jiwa raga. Aku bingung dengan kata hati itu, apa benar demikian? Entahlah. Aku luka terbiasa luka, tak mau mereka terluka.

Tapi hati lain berkata, patutkah aku meragukan apa saja, dari mu, tentang mu, yang sedang mengulurkan tangan pada ku, agar bisa jalan bersama dan berbagi segala beban. Patutkah aku meragukan 480 purnama? Takdir, ya takdir, telah mengurak urai cinta remaja. Takdir yang kita tidak bisa meraba apalagi mengaturnya.

"Kau ingat ketika membalut luka tangan ku dengan kain sobekan baju mu, di bawah batang Cery samping rumah mu? Tangan ku robek kena pecahan piring saat ulang tahun ke 17 mu itu.  Aku masih menyimpan sampai saat ini sobekan kain baju mu itu," angan ku melayang ke saat kau bicara datar sambil menatap ku. Senyum mu mengembang. Di kota mu.

Duk. Jantung ku tiba-tiba memompa cepat sekali.  Kejutan-kejutan dari masa lalu bukti kau tak pernah melupakan ku, membuat nyaris terjatuh tubuh ku oleh kaki yang tiba-tiba lemas dan jantung berdebar aneh, kencang. Aku merutuki amnesia ku. Tak ada yang kuingat lagi. Mana mungkin, itu sudah 492 purnama lalu. Lalu, kain itu, hanya sobekan baju, untuk apa kau simpan? Aku melongo dan menatap mu dengan tidak  pikiran kosong.

"Ingat gak?" desak mu.

"Lupa...." aku melihat kecewa di wajah mu.

"Kau memang selalu melupakan aku. Dulu, pergi begitu saja, tiba-tiba kau sudah jadi istri orang," kau merunduk.

"Kau tidak tau hidup ku. Pahit. Berantakan. Tragedi itu bukan mau ku. Orang dan mungkin juga kau hanya melihat ku, berpuluh tahun, sebagai gadis pemberontak, sanggup lari dari kenyamanan hidup, tapi tak ada yang  bertanya, kenapa itu terjadi. Aku terima semua kenyataan dengan membuang diri, jauh ke rantau, agar anak-anak ku tak terhubung dengan masa lalu ibunya, yang getir," aku menunduk dan rasa sakit itu mengembalikan keakuan ku.  Marah.

"Bukan, bukan itu maksud ku. Aku hanya ingin mengatakan betapa cinta tak pernah padam pada mu, sejak masih pakai celana pendek. Aku tak mengungkit masa lalu. Kau di sini saja sudah anugrah luar biasa bagi ku," kau menepuk-nepung punggung tangan ku, di restoran soto Padang, di persimpangan lampu merah, menenangkan ku.

Pembicaraan terhenti ketika pelayan menghidangkan satu mangkok soto. Kau tak memesan karena kau telah berjanji makan malam dengan anak mu. Tapi kau menyempatkan makan soto dulu dengan ku. Karena sebentar lagi aku harus naik bus, kembali ke kota ku.

"Ayo makan. Ini sotonya enak," dan aku menyuap pelan, terganggu pikiran oleh sobekan kain itu. Kamu masih menyimpannya. Tak masuk akal ku. Gila aja.

"Hhmm, warna apa ya sobekan kain baju ku itu," sambil pelan mengunyah daging soto Padang aku bertanya, bukan butuh jawaban tapi penasaran. Laki-laki di depan ku ini menyimpan sesuatu yang sebenarnya tak berharga.

"Merah. Nanti jika mampir lagi dan sempat singgah ke rumah, aku lihatkan kain itu," tanpa hirau debur jantung ku, kau menjawab.

Itu artinya sejak 492 purnama lalu. Padahal aku hanya ingat 480 purnama saja. Dan selama itu banyak kota telah kau tinggali, berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Kemudian kau juga menikah, punya anak istri. Lalu dimana kau simpan kain yang hanya perca itu? Salah dengar kah aku? Mungkin kau mengerti jalan pikir ku.

"Setelah ikat tangan ku buka dan lukanya sembuh, kain itu ku cuci. Setelah kering aku masukan kotak plastik dan menguburnya dekat kau suka duduk, di tangga rumah panggung itu, tak jauh dari pokok kelapa," kau bercerita aku tak hendak menyela. Terus makan soto.

"Setiap pulang kampung aku selalu ke sana dan terus membuat tanda. Sampai akhirnya aku menetap di kota yang sekarang, punya rumah dan yakin tidak akan berpindah lagi, ku gali dan kotak plastik itu masih ada. Kuambil perca itu dan menyimpannya, sampai sekarang," kau nanap, menatap ku.

"Terimakasih," aku pelan menjawab.

"Untuk apa?"

"Untuk cinta mu yang tak masuk akal ku," aku mulai bercanda, mengurai rasa tak nyaman ini.

"Selalu dan selamanya," kau kembali menepuk nepuk punggung tangan ku.

"Bolehkah dikurangi yang 12 purnama itu?" Aku tersedak. Kau cemas, cepat menyodorkan air minum.

Aku telungkupkan sendok di mangkok soto, tanda makan udah selesai, masih separoh baru yang masuk ke perut ku.  Tiba-tiba aku hilang selera, kejutan tentang kain sobekan baju itu sangat menganggu hati. Lelaki ini, apakah dia diciptakan untuk menemani senja ku? Permintaan menunggu 12 purnama, tidak terlalu lama untuknya? Kepalaku sakit lagi. Kenapa hampir seluruh masa lalu hilang dari ingat ku? Amnesia yang kuciptakan sendiri agar lupa semua pahit, semua sakit, pelan-pelan diingatkan lagi. Itu butuh energi. Itu menguras energi.

"Kok udah selesai? Gak enak?"

"Asin," aku asal saja menjawab.

Tiba-tiba lelaki dari 480 purnama itu mengambil mangkok soto, membawa ke hadapannya, menyendok ke mulutnya, aku terkesiap, ternganga.

"Gak asin, ayo habiskan, aku suapkan," dan aku menolak sodoran sendok itu. Tergagap, lalu minta maaf, ketika kau terus menyendok soto itu ke mulut mu, pelan, sambil menunduk. Aku merasa bersalah. Makan soto di sini rekomendasi dari mu dan kau katakan ini soto terenak di kota mu.

Aku mau menangis. Kau pasti ingin membuktikan ucap ku, apakah soto itu benar-benar asin atau hanya kata ku. Padahal soto itu enak. Hanya saja kejutan soal kain perca membuncah dada ku, berdebar-debar dan efeknya, mematahkan selera ku.

"Maaf, sotonya gak asin. Enak kok. Tapi aku terkejut dengar cerita mu soal kain perca itu, terlalu berdebar dan aku tak bisa meneruskan makan soto," aku coba menjelaskan. Kulihat senyum mu kembali seiring kosongnya mangkok soto itu.

"Mungkin bisa sebelum 12 purnama," tiba-tiba saja kata itu terlompat dari mulut ku.

"Benar? Benar sayang?" Kau memegang tangan mu. Pelayan melirik, mungkin heran, pasangan tua seperti kita masih mesra.

"Hhmmm ..," cuma itu yang mampu kukatakan.

"Aku sabar menunggu 12 purnama. Jangan merasa bersalah. Cerita kain perca itu hanya untuk meyakinkan mu, betapa kau tak pernah hilang dari hidup ku dari hati ku," dan aku membuang pandang, ketika kau tatap, nanap.

"Udah jam tujuh, bus ku jam 8. Ayo antar," dan aku berdiri, menghilangkan kikuk.

Duduk di samping mu, di mobil mu yang akan mengantar ku ke terminal, kejutan itu tak jua berakhir.  Tiba-tiba kau hidup kan tape mobil dan lagu dari Naff, Kau Tetap Kekasihku, pelan merasuki telinga ku. Terasa indah. Seromantis inikah diri mu? Tiba-tiba aku merasa muda, remaja, bukan senja, menuju renta.

Jauh di lubuk hatiku

Masih terukir namamu

Jauh didasar jiwaku

Engkau masih kekasihku

Tak bisa ku tahan lagi angin

Untuk semua kenangan yang berlalu

Hembuskan sepi merobek hati

Meski raga ini tak lagi milikmu

Namun didalam hatiku sungguh engkau hidup

Entah sampai kapan

Kutahankan rasa cinta ini. (Naff)

Kau ikut berdendang dan aku tatap lekat, menguji hati, sejauh mana rasa ku pada mu? Aku tiba-tiba serasa menemukan kerindangan pohon di sebuah Padang pasir yang gersang. Menyejukkan.

Apa kuragu pada mu? Kau tidak sedang merayu ku. Satu Minggu bolak balik tiap hari ke tempat ku sedang mengerjakan sesuatu, 75 kilometer dari kota mu, tak sedikit pun kau menghinakan aku sebagai perempuan. Layaknya pertemuan dua orang yang sudah pernah berumah tangga, tentu bukan pertemuan seperti dua remaja. Tapi kau menjaga ku, memuja dan menghormati ku sebagai perempuan. Tidak ada ucap mu atau sentuhan mu yang mengarah kepada keinginan mu untuk melepaskan haus sebagai laki-laki yang sudah 20 purnama kehilangan istri.

"Kau hebat," tiba-tiba saja aku berucap.

"Kenapa?" tatap mu membuat ku gelagapan.

"Kau menjaga ku dengan baik."

"Tentu. Aku tak mau kehilangan mu lagi. Aku akan menunggu dengan sabar, sampai kau halal," dan hormat ku jatuh pada mu.

"Kau cantik, menarik, pintar, pasti banyak pengagum mu. Aku ini apalah. Aku hanya punya cinta dan niat, melindungi mu, berbagi beban mu dan menua bersama mu. Jangan lupa aku jika telah sampai di kota mu,"  kau membawa mobil pelan, seakan tak rela waktu terus berputar. Lalu mulut mu berdendang, pelan.

Hanya satu yang kusayangi

Tiada pengganti sampai saat ini

Hari-hari langit kelabu

Menutup hatimu serasakan mati

Bukit 'kan kudaki, laut pun kuseberangi

Agar dapat lupakan dirimu

Namun apa daya aku manusia

Gagal menghapus kenangan lama (Jamal Mirdad, Hati hancur Jadi Debu).

Lalu aku bisa apa? Masih mampu menolak semuanya? Masih ingin jadi Hero tanpa ternodai oleh lindungan seorang laki-laki? Masihkah mampu merasa hebat tanpa butuh uluran tangan? Segalanya berkecamuk

"Tunggu aku 12 purnama," lirih suara ku saat hendak melangkah naik bus. **

Tragedi Berdarah dan Malam Luka

Lelaki 12 purnama itu mengirim video dan foto perjalanannya ke kaki Merapi, sore tadi, ingin menyiapkan rumah kayu cantik, seperti impian perempuan luka, aku. "Dengan halaman penuh mawar, kenanga dan melati, harumnya mewangi, tiap pagi, ke jantung hati," puitis dan indahnya kalimat yang menyertai foto dan video itu.

Kalimat itu terus berlanjut. Membuncah jiwa. Aku juga akan menyiapkan selasar di samping rumah kayu itu, tempat kamu yang selalu purnama, selalu bercahaya, menulis. Selasar tanpa atap tapi kuteduhi dengan tanaman markisa. Daunnya lebat, merambat. Akan hijau di empat tonggak selasar dan atap. Meja mu dari batang kelapa. Akan ku tebang kelapa di rumah tua tempat kau dulu suka duduk ditangganya. Divernis dan kilapnya akan memantul ke wajah mu. Makin purnama

Tiba-tiba aku benar-benar muda, remaja dan merasa jatuh cinta. Kalimat-kalimat itu, perempuan mana yang tidak akan terpedaya, tersesat dalam cinta? Lelaki 12 purnama yang menjadikan aku purnama, cahaya kelamnya. Aku melihat sepasang burung gereja terbang ke puncak matoa di halaman rumah, membawa rumput yang mengerti. Untuk sarang. Suara mereka sahut bersahut, indah. Aku beranjak ke luar, ingin menatap lebih jelas burung gereja itu. Tapi tiada. Suara cericit mereka saja yang nyaring, seolah bernyanyi tentang keindahan cinta.

Sayup-sayup telinga ku mendengar nyanyian Noah, yang kau putar saat dalam perjalanan ke masa lalu, ke kampung masa kecil, ke kenangan tentang jalan setapak, sawah dan manggis rimba. Ya, manggis rimba, dulu kerap aku duduk di bawah pohonnya yang rimbun, usai mengambil beberapa buahnya yang ranum.  Sedikit asam di mulut tapi aku suka.

Dengar laraku

Suara hati memanggil namamu

Kar'na separuh aku

Dirimu

Ku ada di sini

Pahamilah, kau tak pernah sendiri

Kar'na aku s'lalu

Di dekatmu saat engkau terjatuh.**(Noah)

Lagu itu terus kau putar sampai kita tiba dimulut kampung dan menghentikan mobil di pinggir jalan setapak yang sudah aspal. Persis di sisi batang manggis hutan, yang ini entah sudah anak manggis yang keberapa, karena tak mungkin batang manggis hutan ini tumbuh sampai 480 purnama. Posisinya beberapa ratus meter saja dari rumah masa lalu, masa kanak.

"Kau dulu suka duduk di rumput itu, mengunyah manggis hutan yang asam.  Sendirian. Aku suka menatap mu dari jauh. Gadis cantik bermata sendu. Kau misteri. Kau tak pernah sadar aku suka ada di balik pohon mangga di seberang mu, hanya untuk menikmati wajah mu, tanpa senyum, selalu," ucap itu menyakiti jiwa, membangkitkan segala luka.

"Kau tak mengerti, tidak akan pernah mengerti, kenapa senyum ku lenyap. Bukan karena kekangan ayah, tapi karena tragedi lain. Aku tak mengerti, kenapa selalu ada tragedi," aku mulai menangis. Kau gelagapan.

Dalam tangis itu aku melihat seorang gadis, berdiri di depan kaca, mematut matut wajah sendiri. Kaca yang retak pada dua sisi tetapi masih merekam dan memantulkan wajah tanpa goresan, wajah bulat telur yang sempurna. Dia tatap dagu, tak terlalu runcing tapi sangat cukup berada di bawah hidung yang pas dan cantik diantara dua pipi, meski tak terlalu mancung.

Gadis itu tersenyum, menarik sedikit bibir kiri ke atas, membukanya sedikit  tetapi telah cukup menampakkan gigi yang tersusun rapi, indah. Senyum khas, senyum yang selalu dikatakan banyak orang sebagai lambang keangkuhan, tetapi tiada yang paham itulah senyum penuh  misteri, nyeri. Senyum yang tercipta saat masa remaja menyuratkan jalannya tidak sempurna, berbeda, oleh tragedi.

"Ini senyum penuh luka, senyum ngilu, senyum gadis yang teraniaya. Senyum yang menyembunyikan betapa jiwa membawa banyak sengsara," gadis itu bicara sendiri.

Lalu terus ke mata, mata yang sempurna meluruhkan pertahanan lawan jenis. Gadis itu menatap nanap bola matanya, yang entah mengapa berwarna pirang coklat, bukan hitam seperti kebanyakan dimiliki masyarakat desa. Mata yang seolah lindap tapi tajam ketika bersitatap. Mata yang memancarkan cahaya luka dan kesumat, tetapi juga menjadi magnit yang meruntuhkan,  yang meluruhkan. Orang orang selalu menyebutnya cantik,  cantik khas gadis desa.

"Tatap mu itu seperti tatap dari dunia lelembut, menyaru, merayu. Tapi juga seperti tatap tukang sihir, jadi jangan pernah menatap lawan jenis mu terlalu lama," kata seorang dukun, tempat dia pernah dibawa, saat tragedi di ruang ICU Rumah Sakit hampir saja merenggut nyawa seorang Co As atau calon dokter, ketika itu. Gadis itu diobati karena tiba-tiba suka berteriak sendiri. Meraung sendiri. Dianggap kesurupan. Padahal dia tak sanggup menanggung tragedi.

Di matanya dalam cermin, melintas prahara itu, prahara malam berdarah, terjadi ketika belum 16 tahun dia terlahir ke dunia ini.

Berawal kala rasa sakit di bawah perut bagian kanan  yang membuatnya meraung-raung dan dokter menyimpulkan, harus operasi malam itu juga, usus buntu ku sudah parah, bisa membusuk jika tidak diangkat. Dan gadis itu pun harus merasakan dinginnya ruang operasi, meski perih disayat pisau bedah telah dinetralisir bius total. Saat terakhir yang dia ingat hanyalah seluruh baju yang melekat dibuka dan tubuh polosnya cuma diselumuti kain bewarna biru muda. Kemudian senyap.

Entah jam ke berapa setelah kembali ke ruang ICU  tak lagi bisa dia cerna, saat antara sadar dan tiada gadis itu merasakan ada yang mengelus tubuhnya, dimulai dari ujung kaki, terus ke atas, hingga payudaranya. Gadis itu  juga seperti mendengar suara lirih berbisik di telinganya. 'Tenanglah sayang, kau tak akan kesakitan, teruslah tidur."

Tetapi dinihari yang hening pecah oleh pekik dan rarau. Kesadaran yang pelan pelan muncul, memulihkan ingatan. Dia melihat sang ayah dipegangi banyak orang dan CoAs yang tadi dia lihat dalam kamar operasi dan mereka sempat bersitatap sebelum kesadarannya hilang, kini tergelatak, mulutnya mengeluarkan darah. Tiba tiba kesadaran gadis itu kembali hilang.

Ketika waktu memberi nikmat akan hidup, gadis itu mulai pulih, duduk di kamar rumah sakit. Tapi kini jiwanyanyalah yang sakit, berdarah, darah yang akan dia bawa selamanya, sepanjang hidup.

Kabar itu bak sembilu menusuk hati, menyanyat nyayat nadi. Co As itu mengerayangi dirinya saat belum sadar betul, ketika tubuhnya cuma tertutup selimut rumah sakit. Sang ayah yang mengetahuinya memukul telak wajah sang CoAs, terjatuh dan berdarah, tapi nyawanya tak pergi.

Ada sesal, kenapa kejadian itu tak disembunyikan saja, agar jiwanya terjaga. Tapi waktu tak berpihak. Keluarga meminta dokter melakukan tes keperawanan, memastikan dia tak apa apa. Tak ada yang peduli, tak ada yang mengerti, hatinya menjerit, menangis meratap, oleh rasa malu, tercampak dan dihinakan. Tak ada yang bertanya kenapa air matanya terus menetes seusai tes itu. Tak ada yang bertanya pendapatnya, meski tubuh itu miliknya. Sungguh, gadis itu ingin mati.

"Hei, kenapa? Aku salah ucap? Maafkan ya sayang," suara lembut mu dan tepukkan di bahu ku menghilangkan semua bayang tadi.

"Ayo terus, udah terlihat itu rumah," aku menyembunyikan tangis dengan menoleh ke luar kaca mobil. Kenapa kembalinya dirimu harus mengembalikan semua ingatan ku? Betapa lama telah kusimpan tragedi rumah sakit itu dan tiba-tiba dia nyata, membayang, meruntuhkan segala ada. Aku lelah. Lelah yang patah.**

Sesayat Hati di Rumah Tiris

Perempuan luka menatap.kosong pada  air yang jatuh satu-satu ke lantai. Dia malas tegak bahkan untuk sekedar menampung titik air itu dengan ember. Dia tatap loteng, tripleknya mulai terkelupas, sebagian lagi gembung. Di luar hujan masih lebat dan sambaran kilat bersabung petir. Rumahnya tiris, seng tentu sudah banyak berlubang. Ada beberapa titik tempat air hujan jatuh dari seng, turun ke loteng dan berakhir di lantai. Keindahan rumah yang dulu telah compang camping.

"Maaaaaa....," suara bungsu memanggil seiring bunyi bukk, seperti benda jatuh. Perempuan luka terkesiap, spontan berdiri dan berlari ke arah dapur. Di depan pintu kamar mandi bungsu terduduk, dia terjatuh. Titik air hujan yang sampai ke lantai keramik membuat licin. Perempuan luka itu, aku, mengulurkan tangan dan membantu bungsu bangun.

"Sakit Ma, tadi waktu jatuh kening aku kebentur," kata bungsu sambil meringis.

Bungsu mulai menangis.

Aku sigap mengambil handuk kecil dan mengompres kening bungsu pelan, sudah mulai ada benjolan. Tentu sakit sekali. Aku gulung ujung handuk itu, membuatkannya, memasukkan ke mulut dan meniupkan nafas, laku menekannya ke kening bungsu yang ada benjolan. Panas dari hawa mulut akan membantu benjol itu kembali turun.

Saat bungsu kembali ke kamar, aku mengutuki diri, kenapa membiarkan air itu jatuh ke lantai? Bungsu menanggung akibatnya. Aku mulai menangis mendapati begitu banyak bekas titik air di atap membentuk tempat di loteng dan jatuh. Tapi entah mengapa, tadi begitu nikmat menahan perih saat mata menatap air dan telinga menangkap bunyinya. Menikmati sensasi rasa sakit yang menjalari hati. Rumah sorga ini memang suda patut direnovasi.

Sebenarnya aku sudah mulai menabung sedikit demi sedikit untuk mengganti seng dan plafon rumah ini. 20 tahun sudah sejak akad kredit. Untuk sebuah rumah perumnas tentu sudah sangat lama usia itu, tanpa di ganti atapnya. Aku sudah tanya ke tukang dan sudah dihitung. Butuh duit kalau dengan atap seng dan plafon triplek Rp13.600.000 dengan upah.

Tapi Bungsu minta kuliah ke pulau Jawa dan dia tamat di saat uang batu mulai terkumpul. Saat dia lulus dan total yang harus disediakan, bukan hanya uang kuliah, juga ongkos dan biaya kos, lumayan banyak. Maka aku melupakan atap. Biarlah dimana sampainya. Pendidikan bungsunlebih utama. Meski bocor dimana-mana, rumah ini tetap sorga.

Tiba-tiba ada pesan masuk, dari mu. Aku membacanya setelah beberapa ember ku letak di titik-titik yang bocor. Di ruang tamu, di dapur dan di kamar.

"Sayang, Merapinya tetap tak sempurna terlihat. Kakinya juga tak nampak. Mungkin dia bersedih sehingga ditutup mendung, 12 purnama itu terlalu lama. Gimana itu?" Kalimat mu membuat tawa.

"Tetap harus 12 Purnama. Selama itu aku ingin membuktikan, air mata ini bisa kering atau tidak. Bahu mu cukup kuat atau tidak. Langkah mu juga panjang atau tidak. Hanya ujian sexethana

Sejak kepergiannya yang tragis di ujung senja dari negeri yang awalnya membawa harapan, hanya satu yang  dia bawa, kekosongan. Bukan cinta apalagi harapan. Sekejap hatinya membeku, ngilu.

Seorang Pria dewasa, 45 tahun, kaya raya, telah membunuh hati gadis yang 19 tahun pun belum, ketika dengan caranya pria itu menolak perjodohan, membawa kekasih hatinya kehadapan gadis itu dan berkata: inilah istriku, sebentar lagi, bukan kamu.

Sudah lama gadis itu tak berpikir tentang sebuah bahu untuk bersandar, tidak juga diujung senja itu. Seperti kucing yang melata dijalanan, hanya naluri untuk hidup yang membuatnya bertahan. Segala cara adalah teknik untuk hidup, untuk makan, untuk tetap berpijak di tanah dan bukan terkubur di bawahnya.

Dia belajar membunuh kenangan, membunuh rumah dengan dua pokok cempaka di halaman, membunuh kampung tempat kelahiran, bersama cinta yang tertinggal didalamnya, dari segala pikiran. Hanya ini cara untuk bertahan.

Lalu kucing jalanan itu membuang diri ke dalam sebuah pelarian yang ternyata tak gampang. Diperlakukan seperti orang buangan, dicaci dan direndahkan, karena dia adalah perempuan.

Pelarian yang salah tapi harus dilakukan, kesumat telah menutup segala pikiran, hanya ada satu tujuan: melakukan perlawanan. Maka pelan-pelan kucing itu bermetamorfosis menjadi harimau, tapi masih menyimpan auman, belum mengeluarkannya.

Tuhan memberinya sebuah senjata yang ampuh agar bisa bertahan, secara moril mau pun materil dalam rimba raya hidup yang amat tragis. Kemampuan bermimpi dengan akal bukan hanya dengan hati dan akal itu menuntun jari jari untuk menuliskannya dengan indah, menjadi fiksi, cerita.

Maka gadis kampung dari rumpun rumbia itu memilih hilang dari negeri asal, tumpah darah, melalang buana di ibukota propinsi, dengan hati perih, dengan kaki melepuh, dengan gaya kumal, karena pergi hanya dengan baju di badan. Tapi terus membawa mimpi, bahwa kelak dia akan sampai pada cahaya.

Dan mimpinya yang terus dibangun menjelma tulisan indah satu persatu menghiasi halaman surat kabar, memberinya uang, dari honor. Gadis itu memulai langkah baru, dari titik nol, meski belum bisa memastikan kemana akan berlabuh.

Kesumat terus menuntun untuk tidak pulang, tidak ke kampung halaman, dimana gadis itu tau pasti, sebuah hati terus menanti, sebuah cinta dari seorang laki-laki, sebuah hati yang patah ketika dia pergi. Tragedi perjodohan membuat gadis itu pilu dan mengambil kesimpulan, tak perlu ada hati. (bersambung)

Subuh yang Riuh, Aku Luruh

"Mimpinya gak ada karena tidur gak bisa nyenyak, mikirin diri mu terus, jauh di sana, tiap hari selalu pulang malam dengan motor. Aku takut kamu kenapa napa. Jatuh atau sakit karena angin malam. Kau tetap perempuan, sayang. Aku selalu berdoa semoga dirimu tetap sehat terus dan selalu dilindungi oleh Allah SWT kemana pun pergi."

Aku tertegun, dalam lamun. Kulihat jam masuk pesan, 4.10 WIB. Aku bahkan belum tidur, masih di depan laptop. Guncangan batin, aku merasakan hari-hari yang kacau. Hadir mu, sejak janji 12 purnama itu menarik segala ingat pada tapak yang tertinggal, yang coba ku hapus bersama pahit. Pelan tapi nyata, satu-satu tapak itu membayang, muncul, menggigilkan jiwa.

Aku membunuh kenang untuk jalan tak tersangkut kisah, lalu membuat lemah dan menggerogoti alam pikir, agar aku tetap merasa kuat, tegar dan hebat dan tanpa sadar ada yang pelan hilang, kelembutan perempuan. Aku jatuh angkuh, menjantan, dalam sikap, dalam tutur.

Kini angkuh itu satu-satu runtuh oleh pesan-pesan mu, tiap jam masuk ke HP ku, memporandakan segala pertahanan, aku masih perempuan. Penolakan jadi lemah dan berubah indah dari setiap urai tutur mu, menyebabkan beberapa kerja terbengkalai dan aku harus kembali menjelma kunang-kunang, menjelajahi malam untuk menciptakan cahaya dari kepak ku, mengejar kerja hingga subuh datang, seperti  dulu-dulu.

Sejenak, lupa 12 purnama itu. Tapi hanya sejenak saja. Pesan-pesan mu seolah hadir mu, tak beranjak dari seluruh jiwa raga, mengguncang dan membuka buhul kesumat, pelan, seperti menarik benang dari dalam tepung.

Aku belum ingin membalas. Aku masih duduk, menatap foto dalam bingkai besar, tergantung indah di atas rak buku. Foto perempuan dengan lindungan tujuh naga. Semua penuh tawa, indah dan bahagia. Lalu mata beralih ke bawah kaca meja kerja, tempat foto dengan format yang sama tapi dalam kurun yang berbeda. Dan wajah perempuan itu kuyu, layu, tanpa senyum, seolah putus asa. Aku menghitung waktu dan jarak foto itu diambil, 180 purnama.

Aku mengenang kenang. Kecantikan yang letih dan nyaris punah, hanya gurat dan tatap luka. Wajah muda yang menua. Kembali ke bingkai kaca ke foto di atas rak buku, wajah itu lebih bercahaya, letihnya tak nyata, padahal sudah 180 purnama tapi lebih muda.  Senyum dengan lesung pipi itu kembali mengembang. Tujuh naga berdiri kokoh, melindunginya, sebagian sudah dengan kepak yang sempurna. Ada ragu, apa masih perlu sandaran itu?

Aku ingat ketika duduk di antara pinus dan sepoi angin laut, minum es kelapa muda dengan kau duduk, tepat dihadapan, memandang lekat dan aku tersipu. Aku mengorek daging kelapa muda dengan sendok hanya untuk menghindar dari tatap mu.

"Sini sayang."

Kau beranjak ke samping ku, pelan mengambil sendok dari tangan ku, meletakkannya di meja. Kau bawa kelapa muda itu ke tempat tadi penjual membuka sebagiannya. Memasukkan airnya ke dalam gelas yang kau minta dari penjual dan membelah dua kelapa. Berbalik ke arah ku, lalu mengorek isi kelapa dengan sendok tadi, mencampurkannya dengan air kelapa dalam gelas.

"Udah, ayo makan...," kau kembali duduk di depan ku setelah menggeser gelas itu kehadapannku. Aku diam dalam gemuruh kecamuk hati. Kau siapa? Diturunkan darimana?

Belum habis dari pana, kulihat kau membuka HP lalu pelan, syair-syair itu memenuhi telinga ku. Kau putar lagu Yovieb dan Nuno, Kau Laksana Surga.

 Dirimu laksana surgaku

Tempat 'ku mencurahkan

Segala rasa cinta suci

Yang tulus di dalam batinku

Tiada yang mampu gantikan

Titahmu di hatiku

Menyejukkan seluruh jiwa

Melebur ke dasar sukmaku

Haruskah kuberpasrah

Hadapi semua ini?

Mencoba memulainya

Kembali dengan harap pasti

Namun kadang raguku

Mengusik damai hati

Membawa kebimbangan

Dengan arah tak pasti. (Lagu laksana Surgaku/Yovie dan Nuno).

Aku bisa apa? Masih merasa hero?

Dalam tercenung, pesan mu masuk lagi.  "Semoga hati mu bersih dan secantik diri mu dan benar dengan tulus mencintai ku, janji 12 purnama itu kunanti," dan kau melampirkan foto ku, yang tersenyum, seolah dunia tanpa beban.

Hanya beberapa detik jeda, masuk lagi pesan itu. "Shalat subuh ya sayang, biar mukanya tambah cantik dan senyum mu tambah menawan. Kutunggu halal mu agar bisa ku bimbing menuju mesjid, saat pagi masih berkabut dan menggigilkan badan, di kaki Merapi itu." Seperti biasa ada emoji hati akhirnya.

Aku menangis, sungguh-sungguh menangis. Mengingatkan ku tentang subuh, meluruh segala riuh. Kau, bukan lagi duniawi, kau menyentuh relung terdalam makna hidup yang hakiki. Kau mengajak ku, seolah ingin berkata, fana memang nyata tapi baqa sungguh ada. Aku bisa menolak lelaki seperti mu karena ingin tetap dianggap kuat? Karena ingin hero ku tak ternoda? Bahwa aku semua selalu bisa? Aku runtuh.

"Jika mati nanti aku hanya ingin saat ustadz melepas ku dia berkata: telah pergi seorang ibu meninggalkan tujuh naga..."  tiba-tiba aku nyeri. Aku pernah menuliskan kata itu, dalam catatan ku. Kata dari penolakan terhadap segala cinta yang coba disodorkan pada ku, cinta lelaki yang hanya melihat senyum ku tanpa peduli tangis ku. Cinta yang menopang di kuat ku bukan menopang lemah ku. Kau, tiba-tiba terasa begitu berbeda. Lalu siluet itu muncul lagi.

Seorang perempuan, masih 240 purnama usia, tak berpikir tentang sebuah bahu untuk bersandar, tidak juga diujung senja itu, ketika lelah dia bersandar di tembok bangunan yang sebagian runtuh, di pantai dengan ombak yang menghempas keras. Seperti kucing yang melata di jalanan, hanya naluri untuk hidup membuatnya bertahan. Segala cara adalah teknik untuk hidup, untuk makan, untuk tetap berpijak di tanah dan bukan terkubur di bawahnya.

Dia belajar membunuh kenangan, membunuh rumah dengan dua pokok cempaka di halaman, membunuh kampung tempat kelahiran, bersama cinta yang tertinggal didalamnya, dari segala pikiran. Hanya ini cara untuk bertahan.

Lalu kucing jalanan itu membuang diri ke dalam sebuah pelarian yang ternyata tak gampang. Diperlakukan seperti orang buangan, dicaci dan direndahkan, karena dia adalah perempuan. Gadis yang lari dari perjodohan.

Pelarian yang salah tapi harus dilakukan, kesumat telah menutup segala pikiran, hanya ada satu tujuan: melakukan perlawanan. Maka pelan-pelan kucing itu bermetamorfosis menjadi harimau, tapi masih menyimpan auman.

Tetapi Tuhan, ya gadis itu begitu percaya Tuhan bersamanya, Tuhan yang memberinya sebuah senjata agar bisa bertahan, secara moril mau pun materil dalam rimba raya hidup yang amat tragis. Kemampuan bermimpi dengan akal bukan hanya dengan hati dan akal itu menuntun jari-jari untuk menuliskannya dengan indah, menjadi fiksi, cerita.

Maka gadis kampung dari rumpun rumbia itu memilih hilang dari negeri asal, tumpah darah, melalang buana di ibukota propinsi, dengan hati perih, dengan kaki melepuh, dengan gaya kumal, karena pergi hanya dengan baju di badan. Tapi terus membawa mimpi, bahwa kelak dia akan sampai pada cahaya.

Dan mimpinya yang terus dibangun menjelma tulisan indah satu persatu menghiasi halaman surat kabar, memberinya uang, dari honor. Gadis itu memulai langkah baru, dari titik nol, meski belum bisa memastikan kemana akan berlabuh.

Kesumatnya terus menuntun untuk tidak pulang, tidak ke kampung halaman, dimana gadis itu tau pasti, sebuah hati terus menanti, sebuah cinta dari seorang laki-laki, sebuah hati yang patah ketika dia pergi. Tragedi perjodohan membuat gadis itu pilu dan mengambil kesimpulan, tak perlu ada hati.

Suara azan dari mushala depan rumah memutus lagi kenang itu. Kau, lelaki yang patah itu, 480 purnama lalu, kenapa kini ada dalam jalan ku? Untuk apa hadir mu? Aku berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Ingin membasuh kecamuk bersama air wudhuk .**

Di Persimpangan Dilema

Perempuan luka menatap.kosong pada  air yang jatuh satu-satu, ke lantai. Dia malas tegak bahkan untuk sekedar menampung titik air itu dengan ember. Dia tatap loteng, tripleknya mulai terkelupas, sebagian lagi gembung. Di luar hujan masih lebat dan sambaran kilat bersabung petir. Rumahnya tiris, seng tentu sudah banyak berlubang. Ada beberapa titik tempat air hujan jatuh dari seng, turun ke loteng dan berakhir di lantai. Keindahan rumah yang dulu, kini telah compang camping.

"Maaaaaa....," suara bungsu memanggil seiring bunyi brukk, seperti benda jatuh. Perempuan luka terkesiap, spontan berdiri dan berlari ke arah dapur. Di depan pintu kamar mandi bungsu terduduk, dia terjatuh. Titik air hujan yang sampai ke lantai keramik membuat licin. Perempuan luka itu, aku, mengulurkan tangan dan membantu bungsu bangun.

"Sakit Ma, tadi waktu jatuh kening aku kebentur," kata bungsu sambil meringis.

Bungsu mulai menangis.

Aku sigap mengambil handuk kecil dan mengompres kening bungsu pelan, sudah mulai ada benjolan. Tentu sakit sekali. Aku gulung ujung handuk itu, membuatkannya, memasukkan ke mulut dan meniupkan nafas, lalu menekannya ke kening bungsu yang ada benjolan. Panas dari hawa mulut akan membantu benjol itu kembali turun. Di kampung ku namanya di damak.

Saat bungsu kembali ke kamar, aku mengutuki diri, kenapa membiarkan air itu jatuh ke lantai? Bungsu menanggung akibatnya. Aku mulai menangis mendapati begitu banyak bekas titik air di atap membentuk tempat di loteng dan jatuh. Tapi entah mengapa, tadi begitu nikmat menahan perih saat mata menatap air dan telinga menangkap bunyinya. Menikmati sensasi rasa sakit yang menjalari hati. Rumah sorga ini memang sudah patut direnovasi.

Sebenarnya aku sudah mulai menabung sedikit demi sedikit untuk mengganti seng dan plafon rumah. 20 tahun sudah sejak akad kredit. Untuk sebuah rumah perumnas tentu sudah sangat lama usia itu, tanpa diganti atapnya. Aku sudah tanya ke tukang dan sudah dihitung. Butuh duit kalau dengan atap seng dan plafon triplek Rp13.600.000 dengan upah.

 

Tapi Bungsu minta kuliah ke pulau Jawa dan dia tamat di saat uang itu mulai terkumpul. Saat dia lulus dan total yang harus disediakan, bukan hanya uang kuliah, juga beli laptop baru, ongkos dan biaya kos, lumayan banyak. Maka aku melupakan atap. Biarlah dimana sampainya. Pendidikan bungsu lebih utama. Meski bocor dimana-mana, rumah ini tetap sorga.

Tiba-tiba ada pesan masuk, dari mu. Aku membacanya setelah beberapa ember ku letak di titik-titik yang bocor. Di ruang tamu, di dapur dan di kamar.

"Sayang, Merapinya tetap tak sempurna terlihat. Kakinya juga tak nampak. Mungkin dia bersedih sehingga ditutup mendung, 12 purnama itu terlalu lama. Gimana itu?" Kalimat mu kembali membuat tawa.

"Tetap harus 12 Purnama. Selama itu aku ingin membuktikan, air mata ini bisa kering atau tidak. Bahu mu cukup kuat atau tidak. Langkah mu cukup panjang atau tidak," tiba-tiba saja kalimat itu meluncur dan terkirim. Lama jeda, mungkin ada kaget di sana.

Hujan masih turun dan tiba tiba dari layar televisi muncul Terry membawakan laju Di Persimpangan Dilema. Lagu yang menerpa dinding hati, membawa kenang, jauh pergi, melampaui ribuan hari.

Telah banyak yang kuberi

Sejak dulu lagi

Pengorbanan tiada pernah jemu

Hanyalah Tuhan saja

Bisa menentukan semua

Kesabaran daku menantimu

O-o-o-oh ...

Kutetap memaafkan

Dan berdoa kau kembali

Sebelum diri melangkah pergi. (Terry)

Perempuan itu ingat 36 purnama yang nyaris membuatnya mati, jatuh bangun mempertahankan cinta, agar tak berakhir nyeri. Pesan-pesan yang tanpa sengaja dia lihat, kiriman salam dari perempuan lain yang tanpa sadar dia dengar. Dia bertahan, tetap bertahan, meminta pelan, lirih, agar laki-laki itu tidak tergoda.

Suatu hari, dia ingat, lebaran haji, tahun ketiga sejak pertama kali pesan itu dia baca, handphone laki-laki itu tidak berhenti berdering, berkali-kali, tapi dia tidak mengangkatnya. Sekilas aku melihat nama yang tertera di sana, An, itu saja. Ini perempuan yang kerap menulis pesan.

"Siapa dia?"

"Itu Ani, penjaga pustaka Rumah Bung Hatta Bukittinggi."

"Kenapa tak diangkat?"

"Aku minjam bukunya, belum dikembalikan, malas."

"Oh .." dan dia berlalu, handphone itu tetinggal di kasur, di kamar.

Lalu berbunyi lagi dan aku pun mengangkatnya tanpa bersuara. Mendengar saja.

"Ud, kok gak diangkat? Selamat lebaran ya. Masih di kampung dia?"

Kami memang pulang untuk berlebaran haji, ke kampung kelahiran ku. Dengan anak-anak, aku rental mobil dari Pekanbaru, menjemputnya di kotanya. Meski enggan akhirnya dia ikut juga. Usai shalat Ied, saat itulah handphone itu berdering terus. Aku masih memegang HP itu dan mendengarkan di telinga, saat dia masuk.

"Kenapa diangkat..." dan laki-laki itu dengan kemarahan luar biasa merebut HP dan melemparkannya ke dinding. Sebagian pecahannya mengenai wajah ku. Dia meracau. Cara lelaki menutup salah. Untung anak-anak sedang di dapur dan tak mendengar apa-apa. Lalu laki-laki itu pergi, tanpa pamit. Hingga malam tak kembali. Aku sadar, dia tentu kembali ke kotanya ke tempat perempuan tadi.

"Yukkk...beresin barang-barang. Kita balik Pekanbaru," kata ku pada anak-anak dan mereka tidak membantah. Rencana satu Minggu hanya jadi satu hari.

Meski melalui kotanya saat hendak ke Pekanbaru, aku tak lagi hendak mampir. Upaya ku, daya ku, mempertahankan biduk ini tidak akan berhasil. Aku tak menangis dan mengalihkan perjalanan kami ke kota wisata lainnya, karena mobil sudah aku rental satu minggu.

Aku ingat lima bulan lalu dapat SMS dari temannya yang juga teman ku. Teman yang sudah mengetahui perempuan itu dan selalu meminta ku sabar, karena katanya, lelaki biasa mendua. Tapi kali ini pesannya beda.

"Itu bapak anak-anak mu selalu boncengan dengan perempuan itu. Kemaren kulihat dia bawa perempuan itu ke rumahnya," pesan singkat yang membunuh ku.

"Pakai Vega warna putih merah?"

"Iya.."

Motor itu baru tiga bulan dia ambil dengan aku membayar DP dan angsurannya. Motor yang dia katakan untuk mempermudah mencari kerja, mencari uang, demi anak-anak. Motor itu memang atas namanya. Tapi aku yang transfer tiap bulan ke leasingnya.

Sejak itu aku tak lagi transfer dan tiga bulan kemudian motor itu ditarik. Dia mengamuk, tapi apa peduli ku? Hanya saja dia kembali baik saat kaca matanya pecah dan dia tidak bisa melihat tanpa kaca mata karena minusnya sudah 7. Aku pun mengirim uang agar dia bisa beli kacamata ganti.

"Maaaa..bocornya besar," suara gadis ku membuyarkan segala lamunan. Aku mengambil kain pel dan ember lagi, membersihkan air di lantai. Dalam hati pelan berdoa, agar hujan ini berakhir. Saat membersihkan lantai, seperti aksara, genangan air itu membentuk kata

malam ini

sajak perempuan luka

tidak membelah laut

tidak merengkuh gunung

tidak menentang badai

sajak membelah hatinya

sepotong untuk malam

yang berhujan

darah hati itu kering,

telah dia teguk

bersama musik dari air mata

lalu dia berlari..

bernyanyi..

diantara sunyi

menikmati nyeri

tanpa hati....***

Elang Rimba, Episode yang Terlupa

Perempuan luka, seperti biasa, bangun kesiangan. Selalu begitu, karena habis subuh baru matanya bisa terpejam. Malam adalah teman yang setia sekaligus teman yang menuba, membuncah segala resah. Malam memeluk nyerinya dalam hening, sunyi yang hakiki. Berteman malam adalah cara membasuh luka, imsomnianya pelan membangkitkan amnesia dan  melupakan pahit masa lalu adalah terapi agar jiwa tidak rapuh.

"Amnesia dapat terjadi karena hal-hal di luar penyakit yang mendasari, meliputi penuaan, stres, atau kurang tidur," suatu waktu tulisan itu terbaca ketika rasa sakit membunuh kinerja. Dan tulisan itu menginspirasi untuk menjadikan  malam sahabat abadi. Satu persatu kenangan pahit berlalu, lupa, menguap.

Perempuan luka, aku, bangun agak riang. Semalam kepala sakit sekali setelah hampir 2 jam video call dengan lelaki 12 purnama. Lelaki itu satu persatu mengeja, membuka, kenangan lama, yang sungguh, sudah aku lupa. Aku sama sekali tak bisa mengingatnya.

"Maaf, aku lupa."

"Pikirkan pelan-pelan, resapi pelan-pelan, nanti akan ingat. Aku cerita lagi ya. Ayo, ikuti dengan hati mu, supaya ingat," lelaki 12 purnama itu terus bicara.

"Kamu ingat apa tanda bahwa aku sudah lewat di depan rumah mu jika magrib sudah berlalu? Lalu tak lama kamu akan ke luar rumah dan pergi ke rumah sebelah dan kita bicara sambil berdiri, di bawah pohon belimbing."

"Sumpah, gak ingattttt...," aku mulai frustasi.

"Aku lewat sambil membawa tongkat besi, jika sudah persis di depan rumah mu tongkat itu akan kupukulkan ke jalan tiga kali, itu kode aku sudah lewat," kata mu.

"Jalannya masih setapak, masih tanah, mana bisa bunyi," aku ingin meyakinkan itu tidak benar bukan karena aku lupa.

"Kan ada batu kerikil, meski jalan tanah.  Setelah memukulkan tongkat besi, aku akan berbelok ke kiri ke jalan antara rumah mu dan rumah tetangga. Terus ke sudut dapur, tempat belimbing tumbuh subur dan daunnya rimbun. Tak lama kau akan datang. Menyusul. Kau anak pingitan dan tak bisa kemana-mana. Satu-satunya tempat yang bisa kau diizinkan pergi sendiri ya ke rumah tetangga itu. Anak gadisnya juga seusia diri mu. Itulah cara kita bertemu. Kau seolah-olah ingin ke rumah sebelah, padahal kau menyusul ku. Kita bicara dalam cahaya purnama. Pertemuan itu kita lakukan saat purnama. Belum ada listrik. Kampung Kita gulita. Kita bersuluh purnama."

Panjang lebar penjelasan mu dan aku, entah mengapa, tetap saja lupa. Aku merutuk dalam hati, kok aku benar-benar jadi amnesia? Lupa semua? Itu pastilah pertemuan romantis, di bawah purnama, bersama orang tercinta, tapi kok aku juga lupa?

"Maaf, aku sungguh tak ingat."

"Mungkin karena cinta mu tak kuat. Cinta ku kuat. Bagi ku kau ada di belahan jiwa. Sejak 492 lalu, bukan 480 seperti kata mu. Tragedi memisahkan cinta ku dan kita harus tetap hidup dengan melupakan hati yang patah." Kau terus bicara.

Tiba-tiba, entah kepencet apa, video call itu mati dan dari HP ku terdengar nyanyian Air Supply, Goodbye. Nyanyian indah yang mengiris kalbu. Suara indah, merdu mendayu tapi mengalirkan ngilu. Nyanyian yang memutus tentang mu. Memunculkan siluet lain, lelaki yang diam-diam setia mengawal jalan ku, dari jauh. Tapi laki-laki itu akan segera datang mengulurkan tangan, begitu aku jatuh. Lelaki yang mengalirkan aroma cinta, tapi harus kubunuh.

Goodbye

Ibcan see the pain living in your eyes

And I know how hard you try

You deserve to have so much more

I can feel your heart and I sympathize

And I'll never criticize

All you've ever meant to my life

I don't want to let you down

I don't want to lead you on

I don't want to hold you back

From where you might belong

You would never ask me why

My heart is so disguised

I just can't live a lie anymore

I would rather hurt myself

Than to ever make you cry

There's nothing left to say but goodbye. (Air Supply)

"Aku tidak bisa hidup dalam kebohongan

Aku lebih suka menyakiti diriku sendiri

Daripada membuatmu menangis." Bait ini berkali-kali menghajar gendang telingaku dan aku tergugu, tersedu, ada rindu yang menyatu.

Membayang wajah itu, wajah lelaki yang sudah  156 purnama selalu ada untuk ku. Siluetnya muncul begitu saja. Lelaki pencinta rimba, penakluk gunung,  urakan, penuh ambisi, sedikit kasar tapi begitu lembut jika sudah serius memecahkan masalah ku.

Lelaki yang sudah mengawal anak-anak ku, saat kesulitan, baik urusan administrasi atau pun materi. Lelaki yang tak pernah merayu tapi perlindungannya, sikapnya, tindakannya,  adalah cinta. Lelaki yang sempat menggetarkan ruang kosong sepotong hati yang terus bersahabat dengan malam.

"Aku mencintai ibu tujuh naga," suatu kali iseng ku bertanya, setelah dia dengan susah payah mengawal urusan salah satu gadis ku, mengapa dia selalu begitu, pada ku.

Aku, terdongak, kaget. Usia telah membuat ku arif, lelaki ini hatinya untuk ku. Tapi akal sehat membuat aku berpura-pura tidak tau.

"Soal apakah kita akan bisa bersama atau tidak, serahkan pada takdir, pada Tuhan," lelaki urakan itu melankolis sekali, terasa begitu romantis.

"Jangan bohongi hati mu," dia terus bertutur. Lalu aku jatuh dalam tangis.

"Cinta hanyalah soal rasa, hidup soal nyata. Cinta tidak butuh logika tapi hidup adalah logika. Cinta adalah apa kata saya tapi hidup adalah apa kata orang. Maka aku harus membunuh hati.

Hidup ku adalah kenyataan pada pilihan logika dan pada apa kata orang. Cinta tak harus memenangkan tapi menenangkan," pelan aku menjawab.

"Soal kau janda? Aku juga duda," dia keras kepala.

"Karena aku sudah terlalu tua untuk mu. Kau bahkan lebih kecil dari adik bungsuku. 11 tahun jarak diantara kita. Itu adalah neraka jika kita bersama. Masyarakat akan mencap ku sebagai perempuan gatal. Jadilah adik yang baik saja untuk ku."

"Jika jalan seiring kau masih sepadan kok untuk ku," dan aku melarikan tatapan, takut luruh, takut runtuh. Dia selalu menyebut ku dengan kagum, ibu tujuh naga.

"Itu karena kau terlalu cepat menua," aku coba tersenyum.

"Khadijah juga lebih tua 15 tahun dari Rasulullah SAW. "

"Itu tidak bisa disamakan. Sama sekali tidak bisa disamakan."

Lalu Elang Rimba itu menatap ku nanap, mengalirkan magma yang membuncah jiwa. Tapi terbiasa selamat karena berpikir rasional, aku menghindari tatapan itu.

"Tidak ada yang tersisa untuk dikatakan selain selamat tinggal (There's nothing left to say but goodbye)," aku mendendangkan lagu goodbye itu, berdiri dari kursi kafe, menatap sejenak ke kedalaman mata Elang Rimba dan beranjak. Membunuh rindu yang tiba-tiba mengaliri kalbu **

Nyanyi Nyeri Relung Jiwa

Begitu membuka laman media sosial siang ini, perempuan luka tertegun. Yang pertama muncul foto wajahnya, sebagian ditutup emoji cinta. Foto yang di-posting lelaki 12 purnama di linimasanya sendiri. Foto dengan caption indah. Lelaki itu begitu membanggakannya.

Perempuan luka mulai runtuh, luruh. Hatinya berbisik: mungkin memang tak butuh sandaran tapi hamparan, yang akan membawa pada jalan menuju senja, entah akan berapa puluh purnama atau entah akan berapa ratus purnama, dengan keabadian kisah. Kisah mereka. Lelaki 12 purnama dan perempuan luka

Kisah itu mungkin akan membuatnya keluar dari angkuh tempat bersembunyi, dengan bernyanyi, karena genggam tangan laki-laki 12 purnama itu memberinya ruang agar saat pergi abadi ada ucapan pengiring, pelepas jasad menuju rumah abadi: perempuan hebat ini pergi meninggalkan tujuh naga dan satu suami.

Perempuan luka tersedak, tersentak. Lamunan itu terbang melewati garis langit. Dia ingat percakapannya dengan lelaki 12 purnama, duda yang dipisahkan oleh maut dengan sang istri. Lelaki 12 purnama yang cukup punya segala untuk diperebutkan wanita. Tetapi pilihan jatuh pada perempuan luka. Apa masih berkalkulasi dengan angka-angka?

"Aku tidak akan merebut mu dari anak-anakmu. Mereka tetap pemilik utama. Aku hanya ingin sedikit mengambil posisi, memberikan kasih kepada ibu mereka. Berbagi beban yang sudah disandang bahunya terlalu lama. Aku hanya berharap bisa sedikit membahagiakan ibu tujuh naga, atas nama cinta. Apa itu salah?'

Perempuan luka menatap sekilas laki-laki yang sedang berjalan disampingnya, di atas hamparan pasir indah pantai di kampung halaman, suatu senja usai janji 12 purnama diucapkan. Bahkan dia terlihat kecil di samping laki-laki ini. Lelaki dengan tinggi mungkin 175 Cm lebih, memiliki bidang bahu kokoh dan badan padat, tanpa perut yang membuncit, membuktikan dia rajin olahraga. Rapi, dengan kemeja dan celana yang wanginya dibawa angin ke penciuman perempuan luka. Dia tergelak.

"Kenapa?'

"Kok aku kecil kali ya, dekat mu."

"Dari dulu juga begitu. Dulu lebih kecil lagi. Tinggi mu kan cuma 156. Waktu gadis berat mu cuma 48. Pas kecilnya dekat ku. Rambut mu yang selalu dipotong yongen karena tipis, membuat mu kayak anak-anak selalu." Lelaki itu melirik dan tersenyum. Perempuan luka tertegak, menghentikan langkah.

"Kau ingat semua."

"Karena aku cinta."

"Kamu ingat gak saat menjemur padi di depan sekolah SD. Mungkin masih pakai putih merah. Lalu kita berkejaran dan saling bersembunyi di tiang bangunan sekolah dengan beberapa teman lain."

"Gila. Mana kuingat. Tapi itu pasti bukan cinta."

"Aku rasa juga begitu. Kita masih SD, mungkin kamu kelas 6. Aku karena tinggal kelas, masih di bawah mu. Tapi aku suka saja main dengan mu. Padahal rumah ku tidak berdekatan dengan rumah mu. Mungkin alam bawah sadar saja menggiring ku bahwa tiba saatnya, kau yang aku cinta."

Perempuan luka itu, aku, menggerutu. Laki-laki ini selalu saja membuatnya sakit kepala, memaksa mengingat kenangan yang dia telah lupa. Kelas 6 SD, umurnya mungkin baru 12 tahun. Itu 552 purnama sudah berlalu.

"Maaf, aku lupa semua. Cara ku membunuh luka adalah dengan melupakan segala pahit dan pelan tapi pasti dia menggerus ingat ku, aku lupa. Sungguh,' dan dengan sedikit membungkukkan badan aku tangkupkan dua tangan, sebagai tanda minta maaf.

"Tak apa. Jangan serius kali. Oh ya, kamu ingat apa kado ku waktu ulang tahun mu ke 17?"

"Manalah kuingat "

"Sandal. Agar bisa selalu kamu pakai dan ingat terus samaku. Meski kamu belum pacar ku tapi hati ku sudah jatuh padamu "

Bruukkk. Sesuatu serasa menimpa dada. Nyeri. Ini mimpi atau nyata? Ada laki-laki yang sedemikian menyimpan cinta dan menyimpan segala kenang? Bahkan jika laki-laki ini tidak mencarinya kembali, perempuan luka juga sudah lupa. Perempuan yang takut mengingat masa lalu karena itu akan membuat tragedi dan kisah pahit bermunculan. Itu akan membuat patah dan nelangsa. Lebih baik melupakan.

"Bagaimana? Bisa dikorting 12 purnama jadi setengahnya? Percayalah, tidak akan ada yang berubah, jika kau merasa berat. Seperti tadi kukatakan, kau tetap milik anak mu."

"Gak ngerti."

"Aku menyadari, kita berlainan kota dan kamu masih punya kerja di kotamu, masih punya anak yang dalam asuhan. Aku demikian juga. Jika memang kamu menerima uluran cintaku, sementara kita tetap di kota masing-masing, hingga purnama ke 12 itu. Tapi kamu sudah halal bagiku untuk aku bisa datang dan mendampingi mu di akhir pekan. Bolehkan?"

"Entahlah.." perempuan itu mulai bimbang.

"Setelah 12 purnama, tinggallah bersamaku, di kaki Merapi seperti inginmu. Tapi kamu sudah milikku sebelum itu."

"Enggak ah. Tetap 12 purnama." Keras kepala perempuan itu mulai menguasainya. Dia merasa diatur dan dia tidak suka.

"Ya sudah, aku tunggu 12 purnama. Udah jauh nih jalan. Ayo minum kelapa muda."

Laki-laki 12 purnama meraih tangannya, mengajak berbalik arah ke tempat mereka datang semula. Tegak sebentar dan menghidupkan musik dari HP, mengalunkan melodi lirih. Lagu dari Padi, Rapuh, mendesirkan hati perempuan luka. Lelaki ini, apakah jawaban dari doa-doa?

"Kularut luruh dalam keheningan hatimu

Jatuh bersama derasnya tetes airmata

Kau benamkan wajahmu yang berteduhkan duka

Melagukan kepedihan di dalam jiwamu

Tak pernah terpikirkan olehku

Untuk tinggalkan engkau seperti ini

Tak terbayangkan jikaku beranjak pergi

Betapa hancur dan harunya hidupmu

Sebenarnya ku tak ingin berada disini

Di tempat jauh yang sepi memisahkan kita

Kuberharap semuanya pasti akan berbeda

Meski tak mungkin menumbuhkan jiwa itu lagi." (Rapuh-Padi)

Pikiran perempuan luka kembali berkelana, sedikit demi sedikit memunculkan Kisa lama. Selalu membuat sakit kepala. Sambil jalan bersisian di pasir yang lembut, hatinya menjerit lagi. Bayangan rarau di malam kelam membuncah ingat. Tragedi itu sudah dimulai ketika masih sangat kanak-kanak.

Malam baru saja turun, bahkan azan Magrib berlalu belum lagi seperanjakkan duduk. Tapi gulita sudah begitu pekat menyungkup wajah desa, oleh ketiadaan lampu penerang yang bernama lampu jalan. Modernisasi memang belum sampai ke sini ke desa permai yang bernama Kultup ini. Hanya sesekali ada kelip lindap dari rimbunan semak di kiri kanana jalan setapak, kuning dan licin jika hujan.

Itulah cahaya sayap kunang-kunang, meski lindap mampu menerangi jalannya sendiri. Tetapi anak-anak akan lari dan bersembunyi jika melihat cahaya ini, karena secara turun temurun diceritakan bahwa cahaya kunang-kunang itu adalah cahaya kuku orang yang sudah meninggal dan mereka mencari kanak-kanak yang berkeliaran jika matahari telah tidur.

Senyap membuhulkan ketakutan menjadi ngeri, sehingga sepi oleh malam dan dedaunan dari cabang cabang pohon manggis hutan atau pinang, menyempurnakan suasana desa seperti mati. Bahkan gigilan anjing yang tercebur ke rawa dan susah payah menggapai tepi sawah, terdengar nyata, keras dan menyanyat hati. Lalu sahut bersaut dengan anjing lainnya, lolong yang sambung bersambung, menyempurnakan malam sebagai sebuah ketakutan. Meski sesekali ada cahaya dari suluh daun kelapa pertanda pemuda yang meronda mulai menuju ‘lapau’ kopi, tempat mereka berkumpul dan bercerita.

Desa ini terletak beberapa kilometer saja dari ujung lidah air laut, tempat para nelayan dan petani tinggal secara bersama, adalah desa yang damai. Jika tak malam, pastilah kicauan burung atau cericitan anak tupai sahut bersahut, dari lambaian daun kelapa yang memenuhi desa. Desa yang menyembunyikan kecantikan beberapa gadisnya, desa yang meniadakan kesumat oleh ketenangannya.

Tapi malam ini beda. Gelap yang menyungkup, dingin yang merasuk oleh hujan yang hendak turun, tiba-tiba pecah oleh sorak, oleh pekik, pekik perempuan yang melolong panjang, menyampaikan sumpah serapah dan caci maki.....

Sejenak saja, raraunya hilang berganti isak, pelan tapi memilukan. Perempuan itu mendekap kedua lututnya dan menyembunyikan wajah dibalik rambut panjang yang terjuntai hingga ke tanah. Perempuan itu adalah ibu.

Sesosok tubuh mungil, menggigil, tersandar ke batang pohon nangka, terletak di sudut kanan halaman rumah. Matanya nanap melihat ke sosok yang memangka lutut, lalu ganti berganti melihat cahaya api. Giginya gemeretuk, entah karena dingin atau takut.

Bocah perempuan berwajah bulat dengan dua mata mencorong indah dan bibirnya, ya bibirnya yang seolah tersenyum sinis, meninggalkan kesan angkuh. Posisinya membuat leluasa untuk mencatat diam-diam, dalam.jiwa, apa yang sedang menimpa ibu yang tadi melolong panjang.

Hening kembali pecah, ketika tiba-tiba dari atas rumah terdengar suara saling hardik, kemudian suara tangan beradu dengan meja. Lalu ada sosok-sosok berlarian turun dengan cepat, pergi menghilang ke dalam kelam. Terakhir seorang laki-laki keluar berkacak pinggang.

“Tidak ada yang berhak mengusir keluarga saya dari sini atau kita saling menghabisi. Pulang saja kalian,” kata laki-laki itu, Ayah.

Lalu dengan sigap tangannya memangku ibu yang sedang memangku lutut dan secara bersamaan mata ayah menangkap bocah perempuan kecil yang tersandar kecut, aku.

“Sini nak, ayo naik, tak apa-apa, segalanya sudah selesai,” ujar  ayah, sambil dengan sigap membimbing tangan ku. Kami menaiki tangga yang berjumlah tujuh undakan dan ayah menghempaskan pintu dengan sangat keras.

Di atas rumah, ayah, ibu dan aku, duduk mengelilingi lampu teplok, sumber penerang. Ayah mengambilkan segelas air putih untuk ibu dan menyuruh meminumnya beberapa teguk lalu menyuruh aku minum juga.

“Tak apa-apa, tak apa-apa, semua telah berlalu, jangan cemas, sini,” kata Ayah sambil memelukku.

Malam terus menggulita. Tak sepi di rumah ini, isak satu-satu masih terdengar dari ruang tengah. Aku bergelung bersama seekor kucing jantan muda dwi warna, putih abu-abu, di sudut meja kayu, tempat aku meletakan beberapa ranting kayu dan dedaunan, untuk permainan jika matahari sudah terang dan masuk ke rumah dalam bentuk cahaya.

Tersendak oleh suara hentakan di atap pertanda seekor musang sedang lewat dan melompat, aku mencuri pandang dari sudut mata ke tikar pandan yang sedepa ada dihadapan, tempat tadi  ibu duduk dan sesunggukan. Tikar itu sudah kosong. Aku, insting saja, merapatkan telinga ke lantai dan  mendengar seperti bisikan, pelan-pelan, dari kamar.

“Kita harus pergi..,” itu suara ibu.

“Kemana? Kita tak punya apa-apa, kita di sini saja, jangan takut, tak akan ada lagi yang berani mengusik kita, nyawa pun aku berikan untuk kenyamanan kalian,” itu suara ayah.

Aku dalam kekecilan otak tak paham apa-apa. Tapi kata per kata yang ditangkap telinga bisa dia eja secara jelas, dalam hati dan jiwa, sebelum rarau panjang sang ibu mengusik malam, beberapa waktu tadi.

“Untuk apa kau pertahankan pernikahanmu? Anak-anak mu lihat, melarat. Sebaiknya kalian berpisah, jelas pula kau tanggungan keluarga,” suara seorang laki-laki terdengar penuh tekanan. Dari balik gorden kamar depan, aku bisa melihat, yang bicara laki-laki dengan kepala penuh uban, tinggi besar dan giginya ompong.

“Saya tidak mau, dia ayah anak-anak saya. Kami sudah punya 3 anak,” suara ibu pelan dan aku melihat ibunya hanya berani menantap ke bawah, ke kaki meja.

“Kalau begitu kalian pindah saja,” seorang perempuan gemuk, tapi cantik, secantik wajah ibu, terdengar bicara. “Ada tuh si Alek yang mau dengan kau, hartanya banyak,” timpalnya lagi.

“Kakak jahat, kalau kakak yang disuruh pisah bagaimana?” jawab ibu.

“Suami ku kan kaya, mana mungkin aku disuruh pisah, rumah ini, rumah di depan, sama sebuah heller penggiling padi, itu kan suamiku yang bangun,” jawab si gemuk, aku memanggilnya Ibuk.

“Kau keras kepala, hidup menyusahkan keluarga, makan minum dari hasil sawah ladang keluarga, tapi kau patuh juga sama suamimu yang tak berguna itu,” laki-laki pertama tadi kembali menimpali.

Tiba-tiba aku melihat ibu tegak, matanya nyala dan berkacak pinggang, mulai meracau tak jelas, sambil menunjuk-nunjuk orang dihadapannya, ada sekitar 4 orang. Diperlakukan seperti itu, laki-laki kedua, berbadan tegap, tinggi dan berkopiah, juga tegak, sambil menggebrak meja.

“Kau benar-benar tak tahu diuntung, wajahmu saja yang cantik, hati mu pekak. Sekarang turun kau dari rumah ini, suruh suami mu membawa kau dan anak-anak mu pergi, jangan jejak rumah ini lagi,” kata laki-laki itu sambil menunjuk-nunjuk wajah ibu.

Saat itulah ibu merarau panjang, menyepak meja hingga lampu teplok jatuh dan lari ke halaman rumah sambil meraung-raung. Aku ikut pelan-pelan, menyatukan badan dengan dinding papan, agar tak terlihat oleh mereka dan duduk di bawah batang nangka.

Tak jelas wajah ibu tapi rarauannya sangat terasa, mengusik jiwa dan batin aku yang bingung, yang linglung, oleh takut yang tiba-tiba menyergap, takut ibu kenapa-napa. Sampai akhirnya ayah datang dan membawa naik ke atas rumah.***

Tragedi Lara yang Membunuh Jiwa

Pagi tadi membuka pesan whatshapp, pertama muncul adalah pesan lelaki 12 purnama. Diawali dengan kalimat yang sama. "Sudah bangun sayang? Ayo, shalat subuh."

Kulirik waktu masuk pesan,  5.10 WIB dan aku baru membukanya 4 jam kemudian, lewat pukul 9.00 WIB. Dan sepanjang rentang waktu itu lelaki itu setia menunggu jawab, tak pernah ingin menganggu, misalnya dengan menelpon. Itu yang aku suka. Dia selalu menjaga kenyamanan privasiku.

"Ada purnama di atas Merapi sayang. Cuaca cerah, secerah hatiku karena Adamu. Semoga dirimu sehat-sehat di sana ." Lalu ada foto Merapi saat matahari masih malu-malu ingin keluar dari baliknya. Foto yang cantik.

"Mana pula itu purnama. Setengah pun belum. Purnama lama lagi. Tanggal 20 baru muncul penuh," aku menjawab dan mengirim emoji ngakak.

"Kenapa begitu jeli menghitungnya? Waduh. Aku mau purnama itu cepat saja, seminggu sekali."

"Aku mau mandi dulu," menjawab begitu aku menghindari percakapan soal purnama yang dikurangi. Hatiku menulis sajak, antara resah dan nyeri.

"Dimana langit menyimpan engkau hingga kurun berbilang tahun

tak kujumpai

ataukah pada luka yang digarami mengaburkan pandang

meneruka jejak dalam tatihan jalan yang timpang

mengapa engkau datang."

Sejenak aku membayangkan segala yang telah lalu. Dari banyak yang aku lupa sebagian tetap saja muncul, nyata.  Juga membayangkan wajah laki-laki 12 purnama, yang dulu suka membonceng ku naik sepeda. Lelaki yang akan melakukan dengan segera apa yang aku pinta. Misalnya, memanjat batang "kapunduang" yang lebih besar dari pohon kelapa, karena aku ingin buahnya.

Ah, ini hanya soal mengembalikan rasa yang dulu ada, kenapa aku harus seragu ini? Kenapa harus berjanji begitu lama? 12 purnama, 365 hari, 12 bulan. Padahal tak ada penghalang diantara kami.

"Sayang ingat gak waktu aku pingsan di samping rumahmu? Padahal gak pingsan, hanya pura-pura saja supaya kamu datang," suatu kali laki-laki 12 purnama kembali membangunkan ingatan. Aku, seperti biasa, kembali lupa.

"Kapan? Kenapa? Gak ingat sikit pun," aku jujur menjawab.

"Waktu masih putih abu-abu itu. Karena orang tuamu tak suka kita dekat lalu  kamu mengikutinya dan mengirim surat putus. Berhari-hari aku tak bisa menjumpai mu, meski tiap hari lewat depan rumahmu. Aku putus asa," jawabnya.

"Hmm, juga gak ingat itu, soal surat apalagi," kepalaku mulai berdenyut, tanda dia berpikir keras tapi tak dapat jawaban.

"Aku dan dua temanku dapat ide. Kami lewat rumahmu dan tetap belok kiri menuju pohon belimbing. Sebelum sampai sana aku pura-pura jatuh lalu pingsan dan temanku akan berteriak, pasti kamu keluar."

"Oh, lalu?"

"Perkiraan kami benar. Aku pingsan dan temanku berteriak. Lalu kamu keluar rumah dan mendatangi. Tapi ayahmu mengikuti. Kamu hanya bertanya kenapa dia? Lalu pergi. Ayahmu menyuruh teman menggotong aku. Membawa pergi. Aksi kami gagal. Temanku terpaksa menggotong aku sampai agak jauh dari pandangan ayahmu,  baru diturunkan, mereka ngomel karena badanku cukup berat," lancarnya cerita itu. Aku ngakak, tapi hanya sejenak.

Aku lupa peristiwa itu, tapi aku tak lupa peristiwa lain yang menyebabkan aku begitu ketat dijaga. Aku kehilangan masa kecil yang ceria, kehilangan masa remaja yang harusnya bahagia. Semua penuh tangis dan air mata. Pelan, satu-satu membayang.

Gerimis baru saja usai. Tanah basah. Titik air masih terlihat di ujung daun ilalang, juga bunga kembang sepatu yang banyak di halaman rumah, di sudut kanan, dekat jalan setapak, jalan dimana orang-orang lalu lalang. Burung-burung mulai kerkicau dan sepasang anjing sedang bergurau, saling mengaum, berlarian dan kemudian diam. Ini hari kedelapan setelah peristiwa malam yang menggemparkan, saat ibu meraung dan merarau. Saat kami diusir dari rumah itu.

Aku turun ke tanah, membuat garis-garis dengan pecahan porselen. Ketika garis-garis tersebut akhirnya saling tersambung membentuk kotak-kotak, aku menatap dan tersenyum, menyadari garis-garis tersebut lurus dan tepat. Aku hendak main ‘sedapak’ meski hanya sendirian. Lalu aku pun mulai melompat-lompat di kotak-kotak itu, sambil memindah-mindahkan pecahan porselen tadi, dari satu kotak ke kotak lainnya. Kadang aku bergumam, seolah-olah tidak sendirian. Kadang aku tertawa, serasa menjadi pemenang dari permainan tunggal tersebut.

Meski membelakangi jalan, telinga kecil ku mendengar riangnya tawa kanak-kanak perempuan. Secara refleks aku menoleh dan melihat tiga kanak-kanak sebaya sedang berjalan pelan, tangan mereka memegang ubi jalar yang sudah direbus. Mereka tertegun sejenak melihat ke arah ku.

“Hallo teman-teman, main sedapak yukk…” aku melambai ke arah mereka. Tapi mereka saling berpandangan dan serentak menggeleng.

“Kami mau pulang, kata Tek Ipot kami harus terus jalan pulang, gak boleh mampir..” salah seorang dari anak tadi menjawab, dia terlihat lebih besar, dengan rambut sebahu yang kaku dan kakinya terlihat hitam-hitam, bekas korengan.

“Kami dilarang dekat-dekat kamu, kata mamak gak boleh,” lanjut yang lain.

“Kenapa?” polos aku bertanya.

“Ibu mu kata mamak ku mulai gila..” yang paling pendek diantara ketiganya menjawab, tanpa merasa berdosa, kepolosan kanak-kanak, yang mulutnya bercuap apa saja yang dia dengarkan.

Duarrr…parrr..deegg. aku terhenyak, dalam jiwa, meski masih tertegak. Mataku nanap, tapi mulut kelu, tak bisa menjawab. Teligaku masih mendengar cekikikan tiga bocah tadi sebelum hilang di kerumanan batang bunga sirantan. Aku tercenung, menatapi pecahan porselen yang ada di tangan kiri. Kata-kata itu seperti dengingan lebah, bernyanyi-nyanyi sumbang di gendang telinga.

“Kata mamakku ibumu mulai gila’ kalimat yang membuat aku tertikam, meski dia tak paham. Ada air mata jatuh dan aku pun meraung.

“Hei ada apa, mengapa kamu menangis,” kata ayah, sambil menghampiri dan meninggalkan daun kelapa kering yang sedang dia sisir dari kayunya. Daun kelapa yang akan membuat tungku bisa nyala dan kayunya menjadi alat untuk memasak di dapur.

“Kata mereka, mamaknya bilang Ibu mulai gila…” aku tersedu-sedu, sehingga tak melihat wajah ayah yang menegang dan giginya gemeretuk.

“Ya sudah, ayo naik,” ayah membopong badan kecil ku dan membawa menaiki tangga, untuk sampai ke atas rumah. Pertama kali aku menghitung tangga dari batu itu, jumlahnya sembilan, bukan tujuh, dari tanah hingga paling atas. Ayah menurunkan ku di tangga dapur, tempat Ibu sedang mengukur kelapa.

“Keluargamu memang tak bisa didiamkan lagi. Kurang ajar semua, jahanam,” suara ayah menggelegar di telinga ku, ibu terhenti tangannya dari mengukur kelapa.

“Ada apalagi ayah? Biarkan saja mereka,” kata Ibu.

“Anak mereka saja bisa bilang kalau kau gila,” ujar ayah.

Ibu tertunduk dan aku melihat airmata menetes dari wajahnya. Ayah diam, aku bungkam. Aku sejenak bisa mencerna, aku salah kata, harusnya tak menyampaikan ke ayah ucapan teman tadi, masalahnya jadi panjang, jadi rumit. Tapi sudah terlanjur. Aku menunduk dan meringkuk, menyudut ke bagian atas tangga dan bersandar di tonggak pintu.

Ada sesal masuk ke hati, mengapa tak pandai menyimpan kata yang akan membangkitkan amarah ayah. Tapi pada sisi lain hati ku bingung, aku hanya paham sedikit saja dari masalah ini, tapi tak mampu mengurainya.

Tiba-tiba ayah mencabut golok yang terselip di dinding tadir, dekat jendela kecil di atas tungku dapur. Sejenak dia sudah hilang, seperti terbang. Ibu tegak dan berlari menyusul. Aku bengong, tapi berdiri dan diam-diam berlari di belakang ibu. Melewati kebun ubi, melewati kebun talas dan terlihat ayah berhenti di depan sebuah rumah semi permanen, berwarna kuning.

“Ooiiii kalian yang di atas rumah, turun ke halaman, hadapi aku, aku bunuh kalian semua. Jangan ganggu keluargaku, kalian dengar itu? Jangan ganggu keluargaku,” ayah berteriak-teriak, sampai kain sarungnya lepas.

Rumah itu tertutup rapat dan aku  melihat dari jauh, di kolong rumah, bersembunyi di balik potongan pelepah rumbia, teman yang mengatakan ibu gila, duduk, diam, seperti patung. Sekilas, dia juga menatap ku. Matanya menyorotkan kemarahan. Aku undur, berbalik dan berjalan pelan, terus arah ke semak ubi, makin ke dalam dan sampai diperbatasan hutan. Ada pohon saga, dipenuhi perdu, pandan berduri. Di rumput, aku melihat buah saga merah-merah bertebaran, tapi tak berniat memungut, seperti biasa. Hati ku kacau.

Aku duduk di pokok sebuah pinang dan menyandarkan kepala ke batang yang licin itu. Semak dan rimba menyembunyikan panas dan menyuburkan angin, sehingga aku merasa nyaman dan mengantuk. Tapi kepala berputar-putar, mendengar lengkingan suara ayah yang membawa parang dan ibu yang memekik-mekik, menyuruh ayah pulang. Semua berbaur dan pelan mata ku kabur, aku tertidur.

“Hei bangun, ayo bangun…” sebuah tangan mengoyang-goyang badan ku dan aku pun membuka mata.

“Oh, iya Pak Etek,” Aku melihat lelaki paruh baya yang membangunkan. Lelaki itu menjunjung rumput di kepala yang dimasukan ke dalam daun kelapa yang sudah dianyam membentuk tong. Dia merungkuk sedikit, menarik tangan ku dan melepaskannya ketika aku sudah sempurna berdiri.

“Pulang sana, nanti ayah mu mencari, kau ini mataharinya, pulang ya???’

“Iya Pak etek,” dan aku pelan berjalan, meunuju arah datang, ke jalan setapak, sebelum hilang dirimbunan pokok ubi.

Pelan-pelan masuk rumah dari pintu belakang yang terbuat dari pelepah rumbia yang disusun, aku tak menemukan ayah, hanya ada ibu yang sedang menangis, sambil memeluk Kinantan, adik laki-laki paling kecil, masih berusia 6 bulan. Kinantan sedang menyusu dan tak terganggu dengan tangisan ibu. Pelan, aku melihat ibu membelai rambut Kinantan. Pelan Ibu berkata lirih; cepatlah besar Nantan, bangkitkanlah batang terandam. Jaga ibu dan kakak perempuanmu.

Aku mencari-cari dengan sudut mata adik satunya lagi, si anak tengah, Surai. Tapi aku tak menjumpai anak laki-laki 3 tahun itu, telinga ku mendengar teriakan-teriakan Surai, rupanya dia lagi main kelereng di halaman samping dengan teman sebaya. Surai tak sedikit pun merasa apa yang aku rasa.

Aku ingat, saat malam pengusiran ibu, Surai dan Kinantan sudah tidur, pulas, di kamar tengah. Aku masih bangun, karena biasanya aku baru bisa tidur jika sudah dibacakan dongeng oleh ayah.

Malam itu memang belum waktunya ayah membacakan dongeng tentang Malin Kundang, Rambun Pamenan, Pinyaram tujuh atau pun Rajo Angek Garang. Cerita-cerita yang kulahap  dengan tenang dan aku hapal satu per satu, tetapi selalu tak pernah bosan, meski setiap hari diceritakan.

Ayah bercerita di kamarku, kamar besar, 4x4, dindingnya dari papan, tersusun rapi. Ada gambar-gambar tergantung di dindingnya, dari gambar wanita cantik hingga pemandangan. Lemari besar, tiga pintu, berdiri kokoh dan satu cermin antik, oval, juga tertempel erat di dinding.

Tempat tidur ku adalah tempat tidur besi, kokoh, dengan tonggak-tonggak penuh ukiran, berkelambu putih dan gelang-gelang yang terdapat di pagar tempat tidur tersebut akan berbunyi setiap aku naik ke atasnya. Di dinding lampu teplok dengan kaca setengah pecah, jadi cahaya jika malam datang. ***/bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak Laki-Laki Ibu (Cerpen Luzi Diamana)

Rohingya, Kenapa Tak Kau Beri Mereka Maut Mu?

PALUNG KESUMAT